Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Puisi “Ruang” Mh. Dzulkarnain
    Puisi

    Puisi “Ruang” Mh. Dzulkarnain

    5 September 2023Tidak ada komentar5 Mins Read12 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Penyair Madura
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Dzulkarnain merupakan nama pena dari Noer Moch Yoga Zulkarnain. Mahasiswa Prodi Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Gunung Djati, Bandung. Pemuda kelahiran Sumenep Madura. Demikian penyair memperkenalkan diri sebagai penggurit Puisi di laman Puisi-Puisi MH. Dzulkarnain – Mbludus.com. Di laman ini ada empat judul puisinya berhasil tayang, yaitu : PADA SETIAP SEKON , SEPOTONG MIMPI YANG TERTINGGAL, KUPADAKU, dan RUANG.

    Pada kesempatan kali ini, Puisi yang berjudul KUPADAKU, Penulis akan menikmati dari sisi memindai pesan pesan tersembunyi di dalamnya. Adapun puisi yang dimaksud adalah seperti di bawah ini.

    KUPADAKU

    1/
    Pulanglah aku…
    pulanglah,
    di sana ada ruang
    untuk aku raungkan
    setelah beberapa lama
    sunyi mengunjungi
    waktu-waktu yang terparkir rapi

    2/
    Mandilah aku…
    mandilah,
    sebab banyak kata
    yang memperkosa
    tubuhmu yang tabah
    maka bilaslah dengan mantra

    3/
    Sujudlah aku…
    sujudlah,
    ada yang Wujud sifatnya
    tiada ia selain Ia
    karena-Nya
    setiap yang lahir akan ke hilir
    kepada-Nya
    segala yang datang akan pulang

    4/
    Makanlah aku…
    makanlah,
    jangan biarkan
    waktu hidup kelaparan
    banyak menu di meja makan
    yang perlu disayang

    5/
    Minumlah aku…
    minumlah,
    ada dahaga
    di setiap celah-celah tubuhnya
    ia meraba ke sekujur rasa;
    ah, segar telah tiba

    6/
    Bersyukurlah aku…
    bersyukurlah,
    ada yang Maha Kasih
    yang harus setia aku puji
    tiap hari tiap kali
    di mana aroma sorga mendatangi

    7/
    Berdoalah aku…
    berdoalah,
    demi masa dan segalanya
    yang terkurung di kamar distopia
    tak tau jalan untuk keluar
    hanya kembang-kembang cerita
    yang hampir pudar

    8/
    Aminlah aku…
    aminlah,
    segala yang semoga tumpah
    di atas sajadah
    dengan seruan dan pujaan
    yang sukar meredah
    tanpa titik atau koma

    9/
    Bacalah aku…
    bacalah,
    bait-bait ini bermunculan
    dari kesunyian yang tersunyi
    di mana cuma ada tembakau
    dan kepulan asap yang penuh galau
    menari-nari di kepala; ah, risau

    10/
    Berpuisilah aku…
    berpuisilah,
    sebelum Israfil dan Izrail
    membuat aku menggigil
    di tiap-tiap ibadah yang terlupa,
    maka sebelum itu pula, akuilah aku sebagai puisi yang baqa setelah-Nya

    Bandung, 2023

    Mari kita nikmati bait ke satu:

    /1/
    /Pulanglah aku…
    pulanglah,
    di sana ada ruang
    untuk aku raungkan
    setelah beberapa lama
    sunyi mengunjungi
    waktu-waktu yang terparkir rapi/

    Di bait ke satu di atas berpotensi bisa kita nikmati kata perkata, rasa per-rasa, dan logika yang ikut serta. Ada semacam kegamangan Penyair untuk : terus bertahan di kawasan perantauan, atau bagaimana?.

    Di ungkapan bait ini tak begitu jelas perantauan seperti apa, apakah dalam arti sesungguhnya di tanah rantau atau kah perantauan dalam pengertian pengembaraan pikir, rasa, atau pun karya, yang penting ada seruan untuk pulang bagi tokoh aku lirik. Pulang ke mana, juga tidak ada tanda tanda penjelas yang bisa dipindai untuk menelurusi misteri seruan pulang. Namun demikian Sang Penyair memberikan semacam kata kunci untuk apa, seruan pulang disampaikan, tidak lain karena /di sana ada ruang/,  /untuk aku raungkan/.

    Sepertinya Penyair berusaha memainkan kata ruang dan raung untuk mendapatkan efek ledakan makna yang sulit diterka meskipun bukan berarti tak bisa diprediksi apa yang terkandung makna, dan rasa di dalamnya. Bentuk ruang beraturan dan atau pun ruang tidak beraturan, pada umumnya terlahir karena adanya dimensi yang dibatasi oleh luas alas dan tinggi, hanya ada sedikit beda, yaitu cara menghitung isi ruang, misalnya ruang berbentuk : kotak,  kubus, bola, kerucut, limas, tabung, atau pun prisma.  Dalam hal ini, Penyair tidak memilih ungkapan ruang seperti apa yang bisa /untuk aku raungkan/. 

    Apanya yang akan diraungkan: ruang-nya kah?, atau apanya ?, atau ruang hanya dimanfaatkan sebagai lokasi meraungkan pikir, rasa atau yang lain, belum ditemukan secara pasti. Keliahatannya yang penting bisa timbul suara meraung, sebab /setelah beberapa lama/, /sunyi mengunjungi/, /waktu-waktu yang terparkir rapi/.

    Di tiga baris terakhir dari bait pertama ini, Penyair memainkan ungkapan metafora yang berpotensi bisa dimaknai serupa rasa kangen yang mendalam untuk pulang, waktu pun dipandang bisa berparkir rapi. Padahal sejatinya waktu tak pernah berhenti, walau hanya satu detik saja. Waktu terus bergulir menjelajahi dunia bersama umat manusia, beserta isi alam di dalamnya, termasuk sang Penyair. Begitulah kira kira, satu diantara suasana kejiwaan rasa, makna maupun logika di bait pertama.

    Mari kita lanjutkan di bait ke dua.

    /2/
    /Mandilah aku…
    mandilah,
    sebab banyak kata
    yang memperkosa
    tubuhmu yang tabah
    maka bilaslah dengan mantra/

    Pola ungkap di bait ke /2/ ini tidak terlalu berbeda dengan pola di bait pertama, yakni cenderung patah patah, dan diawali dengan seruan untuk melakukan suatu kegiatan.

    Jika di bait /1/, seruan itu adalah :

    /Pulanglah aku…
    pulanglah,/

    Di bait /2/ berupa:

     /Mandilah aku…
    mandilah,/

    Seperti di bait /1/, di bait /2/ pun juga memberikan jawaban atas seruan /mandilah aku…/, /mandilah/. Jawabannya ada di baris ke tiga, empat, lima, dan enam di bait /2/.

    Pola tuang ungkapan Sang Penyair di Puisi yang berjudul /KUPADAKU / di atas, dari bait /1/ sampai dengan /10/ mempunyai kemiripan yang cenderung rutin, nyaris tanpa alur naik turun dari bait ke bait.

    Hanya di bait /1/ saja yang berpotensi timbul kesan ledakan makna dan rasa, yakni antara seruan dan tujuan. Setelah pola tuang ini juga diterapkan pada bait bait berikutnya, maka berpotensi menjadi semacam arus harmoni yang bisa langsung diprediksi tentang gelombang misteri rasa, makna, dan logika pada setiap bait berikutnya, meskipun tentu kandungan tersembunyi masih sangat beragam yang bisa dipindai lanjut, bahkan mungkin Sang Penyair pun terheran heran: “kok bisa lahir puisi semacam ini ya…”

    Selamat berkarya, teruslah berpuisi.

    Penulis : Kek Atek

    Penggemar Puisi, tinggal di Rumpin, Kab. Bogor, Jawa Barat,  Indonesia

     

    apresiasi puisi penyair madura Puisi Cinta
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticlePuisi-Puisi Okki Siolemba
    Next Article Puisi-Puisi Faidi Rizal Alief

    Postingan Terkait

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 2025

    Puisi-Puisi Amanda Amalia Putri

    30 November 2025

    Puisi-Puisi Riki Utomo

    21 September 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Zaman Apokaliptik

    4 Januari 202686 Views

    Kisah Seorang Polisi di Republik Mimpi

    21 Desember 202540 Views

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 202543 Views

    Perbandingan Film Animal Farm (1954) dan Animal Farm (1999): Kajian Adaptasi dan Alih Wahana

    18 Desember 202528 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (206)
    • Bisnis (7)
    • Buku (83)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (78)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (188)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (142)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.