Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Tradisi » Tradisi dan Riwayat Ketupat
    Tradisi

    Tradisi dan Riwayat Ketupat

    25 April 2024Tidak ada komentar4 Mins Read15 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Ketupat
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Puncak dari Puasa Ramadhan adalah Idul Fitri yang kita kenal dengan Lebaran. Setelah sebulan lamanya menahan lapar dan haus, di hari Idul Fitri atau Lebaran inilah kita senang-senang bersama keluarga dan sanak family. Baju baru, makan enak-enak dsb. Di masyarakat Indonesia, di kampung dan di kota,  Ada dua hal yang wajib harus ada dalam menyambut lebaran ini. Yang pertama adalah THR (Tunjangan Hari Raya) atau hadian berupa uang, pakaian, dan macam-macam lainnya yang tujuannya menyenangkan.

    Mendekati lebaran, salah satu hal yang pasti selalu disiapkan adalah ketupat. Ketupat adalah makanan spesial Lebaran yang pertama kali diperkenalkan pertama kali oleh salah seorang dari Walisongo, yaitu Sunan Kalijaga. Pada waktu itu Sunan Kalijaga memperkenalkan ketupat pertama kali dalam rangka untuk berdakwah menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa yang ketika itu sulit di-Islamkan oleh karena masyarakat Jawa sudah punya sistem kepercayaan sendiri yang dikenal sebagai Kejawen.

    Ketupat yang terbuat dari beras dan dibungkus dengan anyaman daun kelapa muda itu pertama kali muncul di Tanah Jawa sejak abad ke-15, pada masa pemerintahan Kerajaan Demak.

    Dalam menyebarkan agama Islam, Sunan Kalijaga menggunakan pendekatan budaya. Ketupat merupakan salah satunya yang dipilih karena dianggap bisa dekat dengan kebudayaan masyarakat Jawa saat itu.

    Berkat ketupat, penyebaran agama Islam pun akhirnya bisa diterima luas, banyak yang pada akhirnya memeluk agama Islam.

    Filosofi dan makna ketupat begitu dalam. Mulai dari penggunaan daun kelapa muda sebagai bungkusnya saja sudah menggetarkan hati. Daun kelapa muda yang dalam bahasa Jawa disebut Janur merupakan akronim dari Jannah Nur atau ‘Cahaya Surga’. Tak hanya,  Janur juga sering dianggap akronim dari Jatining Nur, yang dalam bahasa Jawa memiliki arti ‘hati nurani’. Filosofinya, saat lebaran, kita harus membersihkan hati dari segala macam hal negatif sehingga bisa kembali ke fitri, kembali suci dengan saling memaafkan.

    Selain itu, pembuatan ketupat yang harus dianyam dengan rumit itu juga punya makna tersendiri. Kerumitan anyaman ketupat menggambarkan keragaman masyarakat Jawa yang harus dilekatkan dengan tali silaturahmi. Sementara itu, beras dimaknai sebagai nafsu duniawi.

    Bentuk segi empat ketupat yang begitu khas menggambarkan prinsip “kiblat papat, limo pancer (empat arah, satu pusat)”, yang memiliki makna “ke mana pun manusia melangkah, pasti akan kembali pada Allah”.

    Bentuknya yang punya empat sudut itu juga melambangkan empat macam nafsu dasar manusia, yaitu: amarah (emosi), lawamah (lapar dan haus), sufiah (nafsu memiliki sesuatu yang indah), dan muthmainah (memaksa diri). Keempat nafsu dasar ini dikendalikan saat puasa. Dengan memakan ketupat saat lebaran, seseorang sudah dianggap mampu menahan nafsunya.

    Secara keseluruhan, makna ketupat adalah nafsu dunia yang dibungkus dengan hati nurani.

    Sejak disebarkan oleh Sunan Kalijaga, tradisi membuat ketupat saat lebaran pun terus dilakukan hingga saat ini. Bahkan tak hanya masyarakat Jawa saja yang membuat ketupat, tetapi juga masyarakat di luar Jawa.

    Demikianlah sejarah dan makna ketupat sampai akhirnya bisa menjadi makanan khas ketika lebaran di Indonesia.

    Berikut ini adalah cara sederhana mengolah ketupat. Nggak usah bingung gimana caranya membuat ketupat sendiri, ribet. Beli saja di pasar ada yang jual kulit ketupat yang sudah jadi. Perhatikan baik-baik:

    1. Pilih beras berkualitas
      Faktor terpenting yang wajib kamu perhatikan dalam membuat ketupat adalah bahan yang akan kamu pilih. Agar ketupat memiliki tekstur empuk, pilihlah beras yang berkualitas seperti jenis Pandan Wangi, Rojolele, atau jenis yang lain lagi Tips Mudah Membuat Ketupat Lebaran. Pastikan terlebih dahulu beras bersih dari gabah dan sudah dicuci hingga air beras tidak keruh. Lalu, rendam beras dengan air dingin selama satu jam. Untuk menambah tekstur kenyal, kamu bisa tambahkan sedikit kapur sirih.
    2. Gunakan anyaman daun kelapa muda
      Pilihlah anyaman ketupat yang berwarna hijau cerah atau daun kelapa muda sebab hal ini akan membuat beras tidak tumpah saat berada dalam proses masak. Selain itu, daun muda juga tidak akan mudah rusak dan patah ketika direbus bersama beras. Ketupat yang dihasilkan daun kelapa muda pun akan lebih terasa empuk dan tahan lama. Jangan lupa, pastikan anyaman janur cukup rapat agar beras tidak tumpah
    3. Perhatikan isi ketupat dan air saat merebus
      Kamu bisa isi ⅔ bagian ketupat dengan beras pulen. Beras pulen biasanya akan mengembang dengan sempurna sehingga jangan terlalu penuh menaruh beras ke dalam ketupat. Saat memasak, tuang air panas hingga seluruh air merendam ketupat dan masak selama 2-3 jam. Jika air berkurang, tambahkan air panas lagi secukupnya. Untuk lebih mudah, kamu bisa menggunakan panci bertekanan atau pressure cooker agar ketupat lebih cepat matang.
    4. Siram ketupat dengan air dingin
      Ketika selesai dimasak, siram ketupat dengan air dingin agar lendir yang menempel pada daun dapat tersingkir. Teknik menyiram ketupat dengan air dingin juga dapat membuat ketupat tahan lama.
    5. Cara menyimpan ketupat
      Cara lain agar ketupat dapat bertahan lama adalah dengan menggantungkannya di tempat yang terbuka dan berangin. Hal ini bertujuan agar sisa air rebusan lebih cepat hilang.

    Selain itu, kamu juga bisa menyimpannya di kulkas dan dibungkus dengan plastik. Hangatkan kembali dengan cara dikukus. (AY)

    kuliner nusantara Makanan Tradisi Indonesia
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleLebaran di Pantai Pulau Merah
    Next Article Pikaco Wangkelang, Tempat Ngopi di Tepi Sungai

    Postingan Terkait

    Tradisi Potong Jari, Papua

    17 Mei 2024

    Perayaan Cap Go Meh

    7 Maret 2024

    Falsafah Lakon Bima Suci dan Arjuna Wiwaha

    27 Januari 2024
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Burung dan Masjid—Dunia Alam dan Dunia Ibadah

    9 Desember 20252 Views

    Puisi yang Segar untuk Mesin-Mesin Lapar

    3 Desember 202514 Views

    Ketika Bahasa Tegal Hampir Padam, Sastra Tegalan Menyalakan Api

    2 Desember 202510 Views

    Jika Cinta Datang: Tunduk dan Menyerahlah

    1 Desember 202510 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (206)
    • Bisnis (7)
    • Buku (83)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (158)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (77)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (187)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (22)
    • Sosial Politik (29)
    • Sosialita (142)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.