Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Kritik Sastra » Menggali Pesan Moral dan Spiritual dalam Puisi “Makrifat Burung Ababil” Karya Nana Sastrawan
    Kritik Sastra

    Menggali Pesan Moral dan Spiritual dalam Puisi “Makrifat Burung Ababil” Karya Nana Sastrawan

    28 Januari 2025Updated:28 Januari 2025Tidak ada komentar5 Mins Read14 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Oleh Muflihah

    Mahasiswa Institut Studi Islam Fahmina

    Sebuah puisi karya Nana Sastrawan yang berjudul “Makrifat Burung Ababil” mengangkat kembali peristiwa penyerangan Ka’bah oleh pasukan bergajah yang dipimpin oleh Abrahah dan hancurnya pasukan bergajah oleh burung Ababil. Peristiwa ini sangat penting dalam sejarah Islam, disebutkan pula dalam teks puisi bahwa peristiwa ini adalah sebagai catatan sejarah yang nyata. Nana Sastrawan mencoba mengenalkan kembali peristiwa ini dalam bentuk puisi yang penuh makna.

    Melalui artikel ini, saya akan membahas puisi tersebut secara mendalam seperti pesan moral dan spiritual apa saja yang terkandung dalam puisi ini, makna dan hikmah dibalik peristiwa ini. Pertama, mari sama-sama membaca puisi “Makrifat Burung Ababil”

    Nana Sastrawan
    Makrifat Burung Ababil

    Kau saksikan ribuan tentara bergerak di tengah gurun pasir
    debu-debu menggumpal, mengudara, menutup cahaya
    langit menjadi hitam seperti wajah-wajah yang muram
    pada masa itu, abrahah duduk di atas gajah
    membawa amarah pada ka’bah

    batu-batu gurun bergetar
    gunung-gunung gemetar
    disaksikan tubuh dari tanah
    disaksikan ruh dalam darah
    yang lahir dan yang batin
    menatap dingin

    kau saksikan tangan-tangan ibrahim dan ismail
    menjelma batu-batu, dari zaman ke zaman sebagai penanda
    tuhan yang satu bukan tuhan yang batu
    tuhan yang mengutus ababil
    sebagai catatan sejarah yang nyata
    meski berjuta-juta usia lahir dari tahun ke peradaban
    ababil telah membawa zikir menuju keabadian

    burung-burung bersayap malaikat
    terbang melayang menggemakan tasbih
    paruh-paruh menggigit bara dari batu
    batu-batu api berseru memasuki mata seribu tentara
    berjatuhan dari langit, segala terbakar, tanah yang berpijar
    gajah-gajah terguling menuju ke asal
    batu-batu api menimpa hingga gurun menyala-nyala
    kau saksikan ketamakan roboh, terpental ke ruang rahasia
    diikat oleh waktu sebagai riwayat menuju makrifat

    apa yang dapat kau baca pada peristiwa ini
    pertemuan atau perpisahan
    sementara perjalanan masih terus melangkah
    membawa pada muasal
    seperti ababil lenyap
    meninggalkan gurun yang hangus
    itulah hikmah bagi yang berpikir
    untuk seluruh makhluk yang berzikir

    Pada bait pertama, puisi tersebut menggambarkan bagaimana kondisi saat penyerangan pasukan bergajah. “Suasana yang mencekam dan tegang saat ribuan tentara bergerak di tengah gurun pasir, Abrahah yang duduk di atas gajah membawa amarah pada Ka‘bah”.  Melihatkan betapa sombong nya dan merasa gagah nya Abrahah ketika duduk di atas gajah.

    Mengingat kembali cerita yang tidak asing ditelinga kita tentunya, penyerangan pasukan bergajah yang dipimpin oleh Abrahah beralasan karena, Abrahah dan para pemimpin Abessinia iri terhadap penduduk makkah dan Ka‘bah yang selalu ramai di kunjungi oleh berbagai umat. Dari perasaan iri dengki ini lah yang membuat Abrahah nekat untuk melakukan penyerangan pasukan bergajah terhadap penduduk makkah dan menghancurkan Ka‘bah.

    Namun, penyerangan ini digagalkan oleh burung-burung Ababil yang di utus oleh Allah SWT. Tuhan mengutus burung ababil untuk menghancurkan pasukan bergajah itu, penghancuran pasukan bergajah ini membuktikan bahwa tuhan yang maha Esa penguasa alam semesta “tuhan yang satu bukan tuhan yang batu”, sepenggal kata ini menunjukkan bahwa hanya ada satu tuhan yang maha esa, kepercayaan terhadap banyak nya tuhan (dewa dewi) seperti berhala, arca, patung dll, tidak dibenarkan dalam puisi. Lalu bukankah ka’bah juga hanya batu besar yang di bangun oleh tangan nabi Ibrahim dan Ismail?

    Meskipun Ka’bah terbuat dari batu, ia bukanlah Tuhan itu sendiri. Ka’bah hanyalah simbol persatuan umat Muslim dan arah kiblat dalam beribadah, tetapi yang disembah tetaplah Tuhan yang satu, bukan batunya itu sendiri.

    Meski berjuta-juta usia lahir dari tahun ke peradaban, ababil telah membawa zikir menuju keabadian. Meskipun peristiwa ini sudah berjuta-juta tahun lamanya, akan tetapi peristiwa ini sampai sekarang masih perlu kita kenalkan ke anak-anak sebagai pengingat atas kekuasaan dan kebesaran Tuhan YME.

    Terbukti dalam Al-Qur’an, surah Al-fiil, yang menceritakan peristiwa bagaimana Allah melindungi Ka’bah dari serangan pasukan gajah yang dipimpin oleh Abrahah, Allah mengirimkan sebuah makhluk kecil berupa Burung dan mengalahkan sebuah gajah yang besar dan kuat.

    Kisah ini mengajarkan kita bahwa  Allah dapat melakukan apa pun yang dikehendaki-Nya, bahkan dengan cara yang tidak terduga oleh manusia. Kisah ini juga menegaskan bahwa hanya Allah yang berhak disembah dan diandalkan, karena hanya Dia yang memiliki kekuasaan yang mutlak dan abadi.

    Kau saksikan ketamakan roboh, terpental ke ruang rahasia. pada baris puisi ini sudah dapat simpulkan bahwa sebuah ketamakan atau kesombongan sebesar apapun itu pasti akan hancur dan gagal. Seperti abrahah yang tamak dan sombong dalam aksi nya merobohkan Ka’bah yang berhasil di gagalkan oleh tuhan.

    Kesombongan dalam diri kita semua patut dihilangkan, karena akan ada dampak negatif bahkan penyebab kehancuran biasanya karena sombong. Peristiwa ini harusnya menjadi pelajaran berharga mengenai kesombongan, bagaimana abrahah hancur karena adanya sifat sombong dan tamak dalam dirinya.

    Pada bait terakhir puisi ini, menggambarkan siklus kehidupan yaitu pertemuan atau perpisahan setelah peristiwa abrahah dan burung ababil perjalanan tetap terus berlanjut, entah itu sebuah pertemuan atau perpisahan namun waktu terus berputar, tidak peduli apa yang terjadi kita hanya fokus kepada perubahan dan pengalaman yang baru. Lenyapnya ababil setelah bertugas menghancurkan ka’bah sebagai tanda kekuasaan tuhan dan menjadi sinyal sebagai selesainya peristiwa tersebut, dan kita tetap melanjutkan kehidupan selanjutnya.

    Kesimpulannya, puisi ini mengajak kita mengingat dan mengenalkan kembali peristiwa burung Ababil dengan bahasa dan gaya yang penuh imajinatif.

    Mengambil semua hikmah dan pelajaran terjadinya peristiwa ini, memberitahu kita supaya tidak sombong dan iri seperti abrahah, karena kesombongan dapat menghancurkan semuanya, mengajarkan kita bahwa kekuasaan tuhan tidak dapat tertandingi sebesar apapun persiapan abrahah jika tuhan berkehendak maka akan hancur dalam sekejap. Kisah Abrahah menjadi pengingat abadi bahwa kesombongan, sebesar apapun kekuasaan yang menyertainya, pasti akan menemui kehancuran.

    Kisah ini memang sudah lama bahkan berjuta-juta tahun, namun sejarah burung ababil sebagai pengingat untuk semua manusia, tentang kekuasaan Allah SWT, kesombongan dan selalu tawakal. Kita dapat mengambil semua hikmah yang terdapat dalam kisah ini, sebagai jalan untuk memperkuat iman kita terhadap Tuhan YME dan menjadi pengingat dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

    Tonton pembacaan puisinya di sini https://www.youtube.com/watch?v=XkvULNc4aOM

    Nana Sastrawan puisi islami sastrawan indonesia
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleJejak yang Tak Terhapus
    Next Article Fenomena Pasar Kaget

    Postingan Terkait

    Harga Sebuah Kicauan: Sebuah Narasi Narsisme Antroposentris

    18 April 2026

    Diksi Unik di Puisi Emha Ainun Nadjib “Doa Terampun Ampun”

    12 Desember 2025

    Burung dan Masjid—Dunia Alam dan Dunia Ibadah

    9 Desember 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Kolam Renang “Bukit Lumpang” Menjadi Destinasi Warga Lokal

    27 April 20269 Views

    Situs Ziarah KH. Abdul Hanan Babakan Ciwaringin Cirebon

    27 April 20266 Views

    Healing Murah Meriah di Pantai Kejawanan: Wajah Baru, Vibes Makin Seru!

    24 April 202612 Views

    Wisata Waterpark Tiga Bintang Firdaus Indramayu

    24 April 20267 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (79)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (189)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (162)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.