Oleh Aldi Anugrah Saputra Mahasiswa Institut Studi Islam Fahmina Di banyak masjid kecil di kampung-kampung, sering kita mendengar dua suara yang bersahutan: suara azan yang menggema…
Browsing: Nana Sastrawan
MARBOT YANG KYAI ATAU KYAI YANG MARBOT: REFLEKSI DALAM CERPEN “REQUIEM BURUNG GEREJA” Muhamad Arya Wibawa (Mahasiswa Institut Studi Islam Fahmina) Berbicara zaman sekarang, kita tahu…
Selasa, 28 Oktober 2025 di Universitas Pancasakti Tegal tampak ramai para seniman, budayawan, sastrawan, akademisi dan mahasiswa menghadiri bincang buku ‘Rahasia Tanda’ karya Enthieh Mudakir yang…
Oleh Nana Sastrawan Sebelum menjadi pejabat publik, baik di lembaga di eksekutif, legislatif, maupun yudikatif, banyak tokoh dikenal ramah, peduli, dan jadi pembela terdepan ketidakadilan. Mereka…
Oleh Muflihah Mahasiswa Institut Studi Islam Fahmina Sebuah puisi karya Nana Sastrawan yang berjudul “Makrifat Burung Ababil” mengangkat kembali peristiwa penyerangan Ka’bah oleh pasukan bergajah yang…
BATU MALIN jika aku durhaka, menjadi batu adalah sengsara jika aku kaya, menjadi durhaka adalah siksa usahlah mencari dermaga perahu bergantung pada laut pada arah angin…
Oleh Sukma Aulia Rohman Mahasiswa Institute Studi Islam Fahmina Manusia diciptakan oleh tuhan dengan penuh keberagaman. Baik keragaman gender, sifat, ras, suku, serta kepribadian. Keragaman hal…
PARADOKS NANA SASTRAWAN Maman S. Mahayana (Kritikus Sastra, Dosen FIB Universitas Indonesia) Autentisitas! Itulah yang kerap ditegakkan seniman sejati. Bukan besar kepala alias sombong. Tetapi kesannya…
Kedalaman makna puisi tidak seharusnya dibangun dengan kalimat-kalimat rumit dalam bait puisi. Tidak pula dengan metafora yang ikatan teks dan konteknya sangat gelap. Sebab, puisi memang…
Menulis puisi yang estetik, syarat makna, padat dan lugas tidak mudah diterapkan oleh penyair. Ya, seperti yang diketahui umum bahwa puisi biasanya terbentur dengan metafora, pemilihan…