Oleh Utina
(Mahasiswa ISIF Cirebon)
Siti Nurbaya seorang gadis minangkabau yang hidup dalam lingkungan adat yang kuat, ia menjalani hubungan cinta dengan Samsul Bahri seorang terpelajar. Namun, kebahagiaan mereka terhalang oleh persoalan ekonomi dan struktur sosial.
Adat yang dimaksud aturan atau kebiasaan masyarakat minangkabau yang kuat dan harus ditaati.
Melalui kisah tragis tokoh Siti Nurbaya, pengarang menggambarkan bagaimana adat yang kaku dapat mengekang kebebasan individu, terutama perempuan.
Tidak semua adat harus diikuti secara mutlak, terutama jika sudah merugikan manusia. Adat seharusnya bersifat fleksibel dan mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, agar tetap memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.
Novel Siti Nurbaya pun mengingatkan bahwa nilai kemanusiaan dan keadilan harus lebih diutamakan daripada sekadar mempertahankan tradisi.
Tidak semua adat lahir untuk menyakiti manusia. Banyak tradisi yang tumbuh dari niat untuk menjaga kehormatan, kebersamaan dan nilai keluarga.
Namun, sejarah juga memperlihatkan bahwa adat dapat berubah menjadi tekanan sosial ketika manusia mematuhinya secara berlebihan tanpa mempertimbangkan rasa keadilan.
Novel Siti Nurbaya karya Marah Rusli yang terbit pada awal abad ke-20 itu sering dipahami sekadar kisah cinta tragis antara Siti Nurbaya dan Samsul Bahri. Padahal, dibalik kisah percintaan tersebut, Marah Rusli sedang menyampaikan kritik besar terhadap adat dan struktur sosial masyarakat pada zamannya.
Ia memperlihatkan bagaimana adat tidak lagi, menjadi pedoman dalm hidup, melainkan berubah menjadi alat yang menekan kebebasan individu, terutama perempuan.
Siti Nurbaya bukan hanya tokoh dalam cerita lama. Ia adalah gambaran banyak orang yang hidupnya ditentukan oleh tuntutan keluarga, pandangan masyarakat, dan tekanan sosial. Yang menarik, persoalan itu ternyata belum benar-benar hilang hingga sekarang.
Dalam novel tersebut, Siti Nurbaya dipaksa menikah oleh Datuk Maringgih demi menyelamatkan ayahnya yang hendak dipenjara karena tidak bisa membayar hutang. Ia mengorbankan cintanya kepada Samsul Bahri demi menjaga keluarganya. Pada bagian ini, ia berkata:
“Jangan dipenjarakan ayahku! Biarlah aku jadi istri Datuk Maringgih!”. (Siti Nurbaya, halaman. 139)
Peristiwa tersebut menggambarkan pengorbanan Siti Nurbaya yang rela mengorbankan cinta dan kebahagiaan pribadinya demi menyelamatkan ayahnya dari lilitan hutang serta menjaga kehormatan keluarganya.
Dan Kalimat itu menyimpan penderitaan yang besar bagi Siti Nurbaya, dirinya sadar bahwa sedang kehilangan kebahagiaan, tetapi ia merasa tidak mempunyai pilihan yang lain.
Dalam masyarakat yang sangat menjujungjung adat, anak prempuan dituntut untuk patuh kepada keluarga, bahkan ketika keputusan itu menghancurkan hidupnya sendiri.
Disinilah kritik Marah Rusli terasa tajam. Ia mempertanyakan adat yang terlalu menekan manusia. Pengarang seolah ingin bertanya: Apakah tradisi masih layak dipertahankan jika membuat seseorang menderita?
Pertanyaan itu ternyata masih relavan sampai hari ini.
Masyarakat modern memang tidak lagi hidup dalam suasana adat seketat dalam zaman Siti Nurbaya. Pendidikan berkembang, perempuan mempunyai kesempatan lebih luas, dan kebebasan individu lebih dihargai. Namun, tekanan sosial tetap ada, hanya bentuknya saja yang berbeda.
Jika dahulu perempuan disuruh menikah untuk menjaga nama baik keluarga, sekarang banyak orang menikah karena tekanan usia, status sosial, dan tuntutan lingkungan.
Pertanyaan seperti “kapan menikah?”’, “kerjanya apa?”, atau “pasangannya siapa?”, sering terdengar biasa, tetapi sebenarnya dapat menjadi tekanan psikologis.
Masyarakat modern sering merasa lebih bebas dibanding generasi yang sebelumnya. Namun, kebebasan itu kadang hanya berubah bentuk. Dulu tekanan datang dari adat kampung, dan sekarang tekanan datang dari lingkungan sosial dan media digital.
Media sosial misalnya, telah menjadi ruang baru bagi penilaian masyarakat.
Kehidupan seseorang mudah dihakimi oleh publik. Banyak orang merasa harus terlihat lebih sukses, bahagia, dan sempurna demi memenuhi setandar sosial yang dibangun masyarakat internet. Dalam kondisi tertentu, situasi ini tidak jauh berbeda dari tekanan adat di masa lalu.
Karena perempuan masih menjadi kelompok yang paling sering menerima tekanan tersebut. Sampai sekarang perempuan masih dituntut menjadi “baik” menurut standar masyarakat.
Mereka diharapkan patuh, menjaga nama keluarga, tidak terlalu bebas, dan mampu memenuhi harapan sosial tertentu. Ketika melanggar standar itu, masyarakat sering memberi penilaian negatif.
Hal yang berubah hanyalah cara masyarakat mengontrol individu. Jika dahulu kontrol dilakukan melalui adat dan tokoh masyarakat, sekarang kontrol itu dapat muncul melalui komentar publik, budaya viral, dan opini media sosial.
Novel Siti Nurbaya juga memperlihatkan bagaimana kekuasan ekonomi dapat mempengaruhi kehidupan manusia. Datuk Maringgih memakai kekayaannya untuk mengendalikan keluarga Siti Nurbaya. Kekayaan membuatnya memiliki kuasa atas hidup orang lain.
Dalam percakapannya, Datuk Maringgih menunjukan rasa benci dan ambisinya terhadap Baginda Sulaiman. Ia berusaha mencari cara untuk menjatuhkan Baginda Sulaiman dengan memanfaatkan kesulitan ekonomi yang sedang dialaminya. Datuk Maringgih menganggap keadaan tersebut sebagai kesempatan untuk memperoleh keuntungan sekaligus melancarkan rencananya. Sikap ini memperlihatkan karakter Datuk Mringgih yang licik, tamak, dan tidak segan untuk merugikan orang lain demi tercapai tujuannya.
Melalui percakapannya dengan Pendekar Lima, Datuk Mringgih tampak berusaha menyusun rencana untuk menjatuhkan Baginda Sulaiman.
“Perkara toko Bombai itu, bagaimana?” tanya Pendekar Lima
Rupanya ia sangat rajin hendak bekerja, karena mengenangkan uang dua ratus rupiah tadi.
“Perkara itu nantilah; aku hendak mencari muslihat yang baik dahulu. Sekarang ini ada perkara lain, yang hendak kukatakan kepadamu.”
“Perkara apa engku?” tanya pendekar lima.
“Aku sesungguhnya tiada senang melihat pernigaan Baginda Sulaiman makin hari makin bertambah maju, sehingga berani ia bersaing dengan aku. Oleh sebab itu hendaklah ia dijatuhkan.
“Akan tetapi bagaimanakah akal kita? Karena barang-barangnya bukan sedikit, tak dapat diangkat dalam sehari atau dua hari. Dan diambil separohnya pun, tiadalah dirasainya,” kata Pendekar Lima.
“Bukan aku suruh engkau mencuri barang-barangnya, karena akan berapakah yang akan terbawa olehmu? Aku bukan bodoh. Aku tahu akal yang lebih baik, yaitu gudang-gudang dan toko-tokonya harus dibakar, perahu yang membawa barang-barangnya dari painan harus ditenggelamkan dan orang-orang disana dibujuk , supaya jangan mau berkerja dengan dia lagi; sekalian pohon kelapanya di Ujung Karang haruslah diobati, biar busuk dan tak berbuah.” Kata Datuk Maringgih dengan suara keras, serta memukul-mukul telapak tangan kirinya dengan tangan kanannya, yang dikepalkannya, karena geram. (Datuk Maringgih Dan Panglima Lima halaman:106-107).
Peristiwa ini menunjukan bagaimana keserakahan dan ambisi dapat mendorong seseorang untuk merugikan orang lain demi memperoleh keuntungan. Sikap Datuk Maringgih mencerminkan penyalahgunaan kekuasaan dan pengaruh yang dimilikinya untuk menekan pihak yang lebih lemah.
Selain itu, peristiwa tersebut juga menjadi kritik sosial terhadap perilaku para pemilik modal yang memanfaatkan kesulitan orang lain demi kepentingan pribadi.
Persoalan ini juga masih mudah ditemukan sekarang. Dalam banyak kasus, status ekonomi masih menjadi ukuran pertama dalam hubungan sosial maupun pernikahan, tidak sedikit orang yang diniilai layak atau tidak layak berdasarkan pekerjaan, penghasilan, dan latar belakang keluarganya.
Jika dulu seseorang dihormati karena gelar dan adat, sekarang penghormatan sering diberikan berdasarkan materi dan popularitas.
Karena itu, Siti Nurbaya sebenarnya bukan sekadar cerita lama tentang cinta yang gagal. Novel ini adalah kritik terhadap masyarakat yang terlalu sibuk menjaga aturan sampai lupa menjaga perasaan manusia.
Tradisi harus tetap berpihak pada kemanusiaan dan keadilan, adat seharusnya menjadi pedoman hidup yang membantu manusia agar hidup lebih baik, bukan alat yang menghilangkan kebebasan dan kebahagian seseorang.
Pandangan ini juga sejalan dengan penilain Islam yang menempatkan manusia sebagai mahluk yang memiliki martabat dan hak untuk dihormati. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Tidak halal bagi kamu mewarisi perempuan dengan jalan paksa, dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, kecuali apabila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka [maka bersabarlah] karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya”. (QS. An-Nisa:19).
Peristiwa ketika Siti Nurbaya menerima pernikahan dengan Datuk Maringgih demi menyelamatkan ayahnya menunjukan keterbatasan kebebasan dalam menentukan pilihan hidup. Keputusan tersebut diambil bukan karena keinginanya sendiri, melainkan karena tekanan keadaan yang menepatkannya dalam posisi yang sangat sulit. Hal ini pun berkaitan dengan surah An-nisa Ayat 19 yang menegaskan pentingnya memperlakukan perempuan dengan baik dan tidak memaksakan kehendak kepada mereka.
Ayat tesebut juga memperlihatkan bahwa hubungan antar manusia harus dibangun diatas keadilan dan penghormatan, bukan paksaan dan tekanan sosial. Artinya, adat tetap penting selama tidak merugikan manusia dan tidak bertentangan dengan nilai kemanusiaan.
Pada akhirnya, kisah Siti Nurbaya mengajarkan bahwa masyarakat perlu belajar membedakan antara menjaga tradisi dan mempertahankan tekanan sosial. Tidak semua yang diwariskan masa lalu harus dipertahankan tanpa kritik. Tradisi perlu berkembang mengikuti zaman agar tetap relavan dan manusiawi.
Sebab, ketika adat lebih dipentingkan dari pada kebahagiaan manusia, maka yang lahir bukan lagi kebijaksanaan, melainkan penderitaan.
