Oleh Atik Bintoro
Sekilas Penyair Hartojo Andangdjaya
Menurut laman Wikipedia [1] bahwa Hartojo Andangdjaja seorang sastrawan Indonesia angkatan 1966, yang hidup tahun 1933 s/d 1990. Kariernya berawal menjadi penulis lepas. Kemudian menulis karya-karya sastra dalam bentuk fiksi dan kritik sastra. Hartojo Andangdjaja lahir dan tumbuh di Solo, Jawa Tengah. Pendidikan terakhirnya adalah Muallimin Muhammadiyah Solo, kemudian hari berganti nama menjadi Sekolah Guru Muhammadiyah Solo, sejajar dengan PGSLP (Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama), jurusan Bahasa Indonesia, tahun 1953. Ia pernah menjadi guru SLTP Negeri Pasaman, Sumatera Barat. Selain itu, ia juga menjadi tenaga honorer di SMA Negeri Simpang Empat, Pasaman, Sumatera Barat (1957–1962).
Beberapa puisinya pernah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing dan terbit di Amerika Serikat dan Jepang. Satu-satunya buku kumpulan puisi tunggal yang dimilikinya adalah Buku Puisi (1973) yang memuat sebanyak 36 sajak, dan atas prakarsa Ajip Rosidi. S diterbitkan oleh Dunia Pustaka Jaya.
Satu di antara karya esainya bertajuk Pola-Pola Pantun Dalam Persajakan Modern (dimuat dalam majalah Sastra Nomor 6 Tahun II, 1962, hlm. 31–34), dan memenangkan hadiah dari majalah Sastra asuhan H.B. Jassin. Selain sebagai penulis puisi dan esai, ia pernah menjadi redaktur beberapa majalah antara lain Merpati (Solo, 1948), Tjitra (Solo, 1952–1954), Si Kuntjung (Jakarta, 1962–1964), Madyantara (Solo, 1974), dan Relung Pustaka (Solo, 1970-an).
Sebagai seorang penyair, ia telah menghasilkan ratusan puisi. Bahkan sejumlah puisi karyanya pernah pula menghiasi beberapa buku antologi, antara lain:
- Simponi Puisi (Solo, 1954, antologi puisi bersama DS. Moeljanto)
- Manifestasi (antologi puisi bersama Taufiq Ismail, Goenawan Mohamad, dan lain-lain, 1963)
- Angkatan 66: Prosa dan Puisi (susunan H,B. Jassin, 1968)
- Laut Biru Langit Biru (susunan Ajip Rosidi, 1977)
- Tonggak 2: Antologi Puisi Indonesia Modern (susunan Linus Suryadi A.G., 1987)
- Dari Fansuri ke Handyani (susunan Taufiq Ismail dkk, 2001)
- Horison Sastra Indonesia 1 Kitab Puisi (susunan Taufiq Ismail dkk, 2002).
Satu di antara puisi karya Penyair Hartojo Andangdjaja, terdapat di laman jendelasastra.com. Puisi ini segera dinikmati oleh penulis sebagai Penikmat sastra: dari logika, makna, dan rasa. Puisi tersebut ada di bawah ini [2].

Menikmati Puisi Penyair Hartojo Andangdjaya
Sebagai langkah awal agar memudahkan penelusuran aroma, dan rasa nikmatnya, maka di Puisi diberikan nomor urut baris maupun baitnya, seperti di bawah ini.
DARI SEORANG GURU KEPADA MURID-MURIDNYA
1/.
Adakah yang kupunya, anak-anakku (1)
selain buku-buku dan sedikit ilmu (2)
sumber pengabdianku kepadamu. (3)
Kalau hari Minggu kau datang ke rumahku (4)
aku takut, anak-anakku (5)
kursi-kursi tua yang di sana (6)
dan meja tulis sederhana (7)
dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya (8)
semua padamu akan bercerita (9)
tentang hidupku di rumah tangga (10)
2/.
Ah, tentang ini tak pernah aku bercerita (1)
depan kelas, sedang menatap wajah-wajahmu remaja (2)
horison yang selalu biru bagiku (3)
karena kutahu, anak-anakku (4)
engkau terlalu muda (5)
engkau terlalu bersih dari dosa (6)
untuk mengenal ini semua (7)
Puisi “Dari Seorang Guru Kepada Murid-muridnya” karya Hartojo Andangjaya di atas terdiri dari dua bait, dengan jumlah baris berbeda untuk masing masing bait. Puisi ini dibuka oleh baris (1) di bait 1/. Baris pembuka Puisi ini serasa ada semacam aroma gaya evokasi, yakni berupa ungkapan pengalaman yang hadir secara nyata. Sehingga pembaca berpotensi larut menikmati, mulai dari: gambaran, citra, dan kepekaan yang jelas. Gaya puisi ini mampu melahirkan respons reflektif bagi pembaca, seperti rasa: takjub, pertanyaan, atau pemahaman terhadap diksi puisi [3].
Diksi bergaya evokasi di bait 1/ boleh dibilang sebagai keberhasilan penyair dalam memotret sisi humanis yang luhur di dunia pendidikan dalam wujud puisi. Seolah Sang Penyair tiada perlu merakit makna dengan berbingkai pindai kata-kata penuh metafora. Cukup cespleng apa adanya kata. Kesederhanaan sajaknya bisa menggambarkan bagaimana seorang pendidik dibiarkan: berjuang, bekerja keras, berpikir cerdas, dan menjaga emosi sehari hari; semua dilakukan sendiri, tanpa teman seperjuangan, dan tanpa pembelaan yang berarti dari siapa pun. Jika terlanjur terjadi sedikit kesalahan, seperti berita media yang sudah sudah, bisa berujung aduan ke kantor polisi, dari sesiapa yang merasa dirugikan atas tindakan seorang guru. Padahal semua usahanya itu dilakukan ihlas mengabdi sebagai guru, agar kelak akan lahir orang orang hebat sebagai para pemimpin bangsa.
Di bait 1/ dari baris (1) sampai dengan baris ke (10) ada semacam kelu seorang guru, bukan pada giat belajar mengajarnya. Tentu sebagai insan pendidik pembelajar, hal ini sudah menjadi tanggung jawabnya setiap hari, tetapi justru lebih kepada adanya kekawatiran bahwa kehidupan sesungguhnya di rumah tangga dari seorang guru. Tiada lagi bisa mempersembahkan berbagi gembira pada murid muridnya. Apalagi jika suatu saat sang murid bertandang ke rumah guru. Sang murid tidak akan pernah menemukan harta benda gurunya, kecuali hanya sebening kecil telaga ilmu, cahaya kelapangan rasadan makna luhur di tengah perabotan usang di dalam rumah, yang tiada berganti yang baru, sebagaimana dalam sajak: /kursi-kursi tua yang di sana (6), dan meja tulis sederhana (7), dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya (8)/.
Di sisi lain puisi ini juga memiliki struktur estetik, dan kedalaman rasa yang diungkapkan dengan cara sederhana dalam bingkai nuansa evokatif. Hal ini terasa aromanya sejak di bait 1/ semacam diksi: “kursi-kursi tua”, “meja tulis sederhana”, dan “jendela yang tak pernah diganti kainnya” adalah bentuk personifikasi yang magis, getir menyayat pikir. Benda-benda mati tersebut dipilih secara cermat untuk “bercerita” secara visual tentang kemiskinan materi, tanpa harus mengeluh verbal. Selain itu, repetisi kata sapaan “anak-anakku” menciptakan diksi yang intim, mengubah relasi formal institusional menjadi ikatan batin yang personal dan penuh kasih sayang. Sehingga nilai estetikanya semakin nampak pada ungkapan [5]: ritma yang terasa enak dibaca, isi yang relatif sederhana namun mendalam, dan bahasa kata yang mudah dimengerti.
Kabar baiknya, kisah kelu suasana perabotan rumah guru, tidak pernah dibawa ke dalam kelas.
Hal ini terungkap di awal bait 2/ seperti ungkapan: /Ah, tentang ini tak pernah aku bercerita (1) depan kelas, sedang menatap wajah-wajahmu remaja (2)/. Semua nuansa getir ini dimasukkan di dalam relung yang sunyi di kedalaman hati. Sepi tanpa publikasi sudut sudut trenyuh rumah sang guru. Justru dari suasana seperti ini, Sang Penyair yang sekali gus berprofesi sebagai guru sebagaimana yang dikisahkan dalam riwayat hidupnya; mampu melahirkan bait-bait senyap bertenaga dahsyat lahir batin di puisi. Betapa tidak, Puisi ini menyampaikan tentang makna batin, yang meliputi [4]: Ide sentral suasana kebatinan seorang guru, Sikap atau ekspresi emosional penyair terhadap objek yang dikemukakan dalam puisi, Potensi sikap penyair yang lugas terhadap pembaca, Prediksi suasana kejiwaan pembaca dan atau penikmat puisi, dan sisipan kandungan pesan penyair kepada pembaca.
Potensi suasana kejiwaan penyair, dan sisipan pesan ke pembaca tersebut, sepertinya bisa meliputi cita-cita masa depan bagi muridnya yang terbentang luas bagai /Horison Biru/. Suasana kejiwaan ini diungkapkannya di dalam bait 2/, baris (3), yaitu:
/horison yang selalu biru bagiku (3)/.
Terhadap cita-cita murid yang terbentang luas ini, Sang Guru merasa wajib menjaganya, agar suatu saat akan mewujud nyata, diraih sukses oleh sang murid sebagai pemilik cita cita.
Oleh karena, meski ada kegetiran dalam kehidupan nyata seorang guru, Guru pun tidak harus melibatkan muridnya, meski hanya melihat: kursi-kursi tua, meja tulis sederhana, dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya. Cukuplah murid-muridnya tahu bahwa Sang Guru ihlas membersamai murid-murid sebagai insan pembelajar, apalagi murid-murid masih sangat belia.
Kata guru dalam puisinya, di bait 2/, baris (4) sampai dengan (7): /karena kutahu, anak-anakku (4), engkau terlalu muda (5), engkau terlalu bersih dari dosa (6), untuk mengenal ini semua (7)/.
Ketika pengembaraan penikmatan puisi dari bait 1/ sampai di bait 2/, terasa adanya logika ironi semacam sindiran halus [6], bagi para pihak yang merasa bertanggung jawab pada keberlangsungan pendidikan anak bangsa. Sebaiknya tanggung jawabnya ini bisa dimulai dengan menghargai guru sebagai insan pembelajar, pelaku utama mengajar sekaligus mendidik murid-murid harapan masa depan bangsa. Jangan sampai penghargaan, semisal berupa gaji guru terlalu kecil, sehingga hanya menyisakan: /kursi-kursi tua, meja tulis sederhana, dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya/ di sepanjang sisa hidup sang Guru. Meskipun demikian, ternyata sang Guru senantiasa bergembira bersama murid-murid semuanya, di dalam maupun di luar kelas, semua diemban erat tugas sucinya.
Selamat berpuisi dan teruslah berpuisi!
Daftar Pustaka
- Wikipedia, Engsiklopedia bebas, Hartojo Andangdaja https://id.wikipedia.org/wiki/Hartojo_Andangdaja
- —, 2014, Puisi-Puisi Hartojo Andangjaya, Jendela Sastra, https://www.jendelasastra.com/dapursastra/dapur-jendela-sastra/lain-lain/puisi-puisi-hartojo-andangjaya
- Joakim Öhlen, 2003, vocation of Meaning Through Poetic Condensation of Narratives in Empirical Phenomenological Inquiry Into Human Suffering, Sage Journals https://doi.org/10.1177/1049732302250694
- Rio Dirman, La Ode Syukur, dan La Ode Balawa, Analisis Strukturpuisi dalam kumpulan Puisi “Aku Ini Binatang Jalang” Karya Chairil Anwar, Jurnal BASTRA (Bahasa dan Sastra), Vol. 4 No. 2, Edisi April 2019/e-ISSN: 2503-3875/, http://ojs.uho.ac.id/index.php/BASTRA.
- Ruli Andayani, Indra Mardiyana, 2025, Estetika Pertentangan dalam Puisi-Puisi Balai Pustaka, Indonesia: Jurnal Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, 6 (1) Februari 2025, ISSN: 2722-2349 (cetak), ISSN: 2720-9377(daring) https://ojs.unm.ac.id/Indonesia.
- Hendra Kasmi, 2025, Kajian Ironi Dalam Antologi Puisi Negeri di Atas Kabut Karya Sulaiman Juned, Jurnal Metamorfosa, Vol 4 No 2 (2016), https://garuda.kemdiktisaintek.go.id/documents/detail/1710868.
Penulis: Atik Bintoro atau sering dikenal sebagai Kek Atek
Penikmat Puisi tinggal di Rumpin, Kab. Bogor, Jawa Barat, Indonesia.
Pegiat Komunitas Dapoer Sastra Tjisaoek
