MARBOT YANG KYAI ATAU KYAI YANG MARBOT:
REFLEKSI DALAM CERPEN “REQUIEM BURUNG GEREJA”
Muhamad Arya Wibawa
(Mahasiswa Institut Studi Islam Fahmina)
Berbicara zaman sekarang, kita tahu bahwa agama sering terlihat begitu menonjol di permukaan. Tetapi mirisnya, tidak selalu diiringi dengan sikap yang benar-benar mencerminkan ajarannya. Begitu banyak orang menggunakan simbol agama hanya sebagai penampilan luar atau bahkan untuk kepentingan pribadi semata. Cerpen “Requiem Burung Gereja” karya Nana Sastrawan yang dimuat di Kompas (klik link di sini https://www.kompas.id/artikel/requiem-burung-gereja) terasa menyentuh karena memperlihatkan bahwa gelar keagamaan tidak disertai akhlak hanya akan membuat agama kehilangan maknanya.
Sebagai pembaca, saya merasa cerita ini sangat relevan dengan keadaan sekarang. Dimana banyak orang yang terlihat alim dan dihormati, tetapi justru lupa bahwa esensi dari agama adalah kasih sayang dan keikhlasan, bukan kedudukan atau kekuasaan. Banyak orang keliru dalam beragama. Agama yang seharusnya dipandang sebagai petunjuk agar tidak tersesat, kini malah benar-benar terjadi menyesatkan. Bukan agamanya yang salah, tapi orangnya. Mungkin tidak sedikit orang menilai agama hanya berisikan ritual-ritual negatif yang tidak memiliki makna. Padahal, agama yang benar-benar agama yaitu menuntun bukan menyesatkan. Menebar kebaikan bukan keburukan. Banyak oknum pemuka agama menyalahgunakan atas nama agama. Cerpen ini seperti tamparan keras dengan cara lembut namun sangat berpengaruh. Beragama bukan hanya berbicara tentang simbol-simbol, tapi bagaimana perasaan, pikiran serta tindakan dapat menghidupi ajaran yang diyakini.
Cerpen ini bercerita tentang seorang marbot tua yang setiap hari merawat masjid dengan penuh kesabaran dan ketulusan. “Marbot mengambil sapu dari pojok masjid lalu dia menyapu, dari ujung dalam masjid hingga ujung luar. Dia telah menekuni pekerjaan ini setengah dari usianya yang sekarang sudah tidak muda lagi.”[1] Kalimat ini menunjukkan kesederhanaan sekaligus keteguhan hati marbot dalam menjaga kesucian rumah ibadah.
Suatu hari, ketika kyai memerintahkannya untuk menangkap burung-burung gereja yang bersarang di atap masjid karena akan ada kunjungan calon gubernur. Namun, marbot menolak karena baginya burung-burung itu tidak mengganggu siapa pun. Burung gereja tentram tanpa mengusik, malah justru memberikan suasana menjadi lebih hidup karena kicauannya. Merasa perintahnya tidak dilaksanakan, kyai geram dan terjadilah percakapan yang menyebabkan marbot tersebut dipecat.
“Saya tak sanggup untuk menangkap burung gereja itu Pak Kyai.”
“Tapi ini perintah!”
“Jika saya telah dianggap melawan perintah Pak Kyai, silakan pecat saya sebagai penjaga sekaligus pembersih masjid ini.”
“Ya sudah. Kau kupecat!”
Bagi saya, marbot dalam cerpen ini bukan hanya penjaga masjid, tapi sosok yang benar-benar memahami makna iman. Ia berani kehilangan pekerjaannya demi mempertahankan apa yang dianggapnya benar—tak goyah sedikit pun atau bahkan runtuh. Keberaniannya bukan karena ingin melawan, tapi karena dalam hatinya sudah tertanam dengan nilai kepedulian serta kasih sayang. Marbot seperti mewakili sosok agama yang sejati—sederhana, tulus, tanpa pamrih dan tidak mengeluh.
Setelah marbot pergi, kyai dan para santrinya justru melanjutkan aksinya dengan menangkap dan memasak burung-burung gereja itu. Bagian ini menjadi simbol betapa manusia bisa kehilangan belas kasih ketika hatinya dikuasai ambisi yang mengakibatkan sifat kemanusiaannya hilang. Gambaran ini sangat menggores keadaan dan menjadi tanda kematian nurani dalam diri kyai.
Burung gereja dalam cerpen ini terasa seperti lambang jiwa yang polos dan suci. Ia tak tahu apa-apa namun malah mendapat perlakuan yang tak pantas. Ia hidup sederhana, tapi justru menjadi korban kekerasan dan kerakusan manusia. Saya melihat burung-burung itu sebagai cermin dari makhluk kecil yang sering diabaikan, ditindas, padahal mereka juga bagian dari ciptaan Tuhan.
Secara religius, cerpen ini menggambarkan sudut pandang tajam antara kesederhanaan iman dan kemunafikan religius. Marbot menjadi lambang keikhlasan seorang hamba, sementara kyai justru memperlihatkan ketimpangan akhlak di balik gelar keagamaannya. Ia lebih sibuk menjaga materi serta kekuasaan dibanding menjaga nilai kasih sayang yang diajarkan Islam.
Sayangilah yang di bumi, niscaya yang di langit akan menyayangi kalian. Demikianlah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyabdakan, berikut haditsnya:
الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمْ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاء
“Para penyayang akan disayangi oleh ar-Rahmaan (Allah). Sayangilah yang ada di bumi, niscaya yang ada di langit akan menyayangi kalian” (H.R atTirmidzi dari Abdullah bin ‘Amr).[2]
Sikap marbot yang menolak menyakiti burung-burung kecil menunjukkan pemahaman mendalam mengenai kasih sayang dalam Islam. Dari segi penampilan, Marbot mungkin bisa dikatakan jauh lebih tidak menarik dibandingkan kyai. Tapi di sini, sungguh terlihat keistimewaan seseorang sebenarnya tidak bisa dinilai hanya melalui penampilan, melainkan dari cara bertindak dalam memperlakukan makhluk Tuhan. Karena bisa dilihat dari cerpen ini sebagaimana kyai, meski ia berilmu dan dihormati, justru kehilangan ruh keagamaan karena tidak lagi menempatkan belas kasih sebagai dasar tindakan.
Saya merasa cerpen ini menegur kita agar jangan hanya sibuk memperindah tampilan luar saja, tapi melupakan kebersihan hati yang ada di dalam diri. Banyak orang hari ini tampak religius di permukaan, tetapi mudah merendahkan orang lain, marah, atau bahkan menindas atas nama agama. Cerpen ini seolah mengingatkan bahwa ilmu tanpa akhlak hanya akan menjauhkan manusia dari Tuhan.
Nilai religius yang dihadirkan lewat tokoh marbot bukan hanya tentang kesalehan ritual, tetapi juga kesalehan sosial dan ekologis—kesadaran bahwa semua makhluk berhak atas kasih sayang dan perlindungan. Di tengah dunia yang sibuk dengan pencitraan dan status, marbot hadir sebagai contoh kecil dari iman yang hidup.
Cerpen ini juga menyampaikan kritik moral terhadap mereka yang memakai agama sebagai alat kekuasaan. Kyai dalam cerita bukan lagi sosok panutan, melainkan cermin dari kemunafikan yang tumbuh dalam keagamaan ketika kekuasaan lebih diutamakan daripada keikhlasan. Kesucian hanya tampak dari luar saja, tapi sebenarnya yang dilakukan hanya pembohongan. Memang bersih secara fisik, tetapi ternoda secara moral.
Cerpen ini menampar dengan halus—menjadi manusia sejati bukan tentang mengedepankan penampilan, tapi tentang bagaimana menjaga hati agar tetap bersih.
Ada hadist berbunyi:
عَنْ يَزِيدَ بْنِ الْأَصَمِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
« إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ »
Dari Yazid bin Al-Ashom, dari Abu Hurairah, dia berkata:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat shuroh (bentuk; wajah) kalian dan harta kalian, akan tetapi Dia melihat hati kalian dan amal (perbuatan) kalian”.[3]
Marbot mungkin tidak punya ilmu tinggi, tapi ia punya hati yang hidup. Ia menjaga ciptaan Tuhan tanpa berharap imbalan. Mahkluk Tuhan berhak mendapatkan kehidupan. Jangan saling menyakiti sesama makhluk Tuhan. Dari dia, kita belajar bahwa yang paling religius kadang bukan yang paling pandai berbicara tentang agama, atau menarik dalam berpenampilan, melainkan yang paling peduli dengan disertai aksi dalam memperlakukan makhluk lain.
Melalui “Requiem Burung Gereja” Nana Sastrawan mengajak pembaca merenungkan bahwa agama tanpa akhlak hanyalah kulit tanpa isi. Sosok kyai dalam cerpen ini memperlihatkan dengan sangat jelas bagaimana kekuasaan dapat mengikis nilai religius, sementara marbot mengingatkan bahwa ketulusan adalah wujud iman yang sesungguhnya. Cerpen ini menjadi peringatan agar manusia tidak menjadikan agama sebagai alat pencitraan, tetapi sebagai jalan untuk menebarkan kasih sayang dan keadilan dalam kehidupan.
Saya sebagai pembaca berefleksi, saya merasa kisah ini seperti doa yang pelan, hening tapi dalam, dan tentunya mengajak kita berpikir untuk melakukan perubahan yang mashlahat untuk semua. Ia menegur dengan lembut, mengingatkan kita bahwa sesungguhnya iman sejati tidak diukur dari gelar, tapi dari bagaimana cara kita menjalani kehidupan. Mungkin lewat kisah sederhana ini, kita diingatkan kembali bahwa menjadi beriman bukan soal penampilan, tapi tentang sejauh mana hati kita hidup untuk selalu berbuat kebaikan kepada sesama makhluk Tuhan.
Setelah membaca cerpen ini, saya jadi berpikir jangan-jangan Marbot itulah sosok Kyai yang sebenarnya?
[1] Kompas.id – “Requiem Burung Gereja” oleh Nana Sastrawan (20 Juli 2019): https://www.kompas.id/artikel/requiem-burung-gereja
[2] Al I’tishom – Sayangilah yang di Bumi, Niscaya yang di Langit Akan Menyayangi Kalian: https://itishom.org/blog/artikel/hadits/sayangilah-yang-di-bumi-niscaya-yang-di-langit-akan-menyayangi-kalian
[3] Pondok Pesantren Ibnu Abbas As Salafy, Masaran – Sragen Jawa Tengah: https://binabbas.org/blog/alloh-melihat-hati-mu-dan-perbuatan-mu/
