Selasa, 28 Oktober 2025 di Universitas Pancasakti Tegal tampak ramai para seniman, budayawan, sastrawan, akademisi dan mahasiswa menghadiri bincang buku ‘Rahasia Tanda’ karya Enthieh Mudakir yang diterbitkan oleh Penerbit Hyang Pustaka. Kegiatan ini bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda dan sekaligus menyambut bulan bahasa yang sering diperingati di bulan oktober.
Acara bincang buku ini menghadirkan tokoh penting Prof. Dr. Taufiqulloh, M.Hum., Rektor Universitas Pancasakti Tegal. Nana Sastrawan, seorang penyair dan dosen. Hadir pula Abu Ma’mur MF sebagai pembicara dan Atmo Tan Sidik dengan dimoderatori oleh Ida Fitriyati.
Diskusi buku ini dibuka dengan pembacaan puisi-puisi yang berada di buku ‘Rahasia Tanda’ oleh Lutfi AN dan beberapa penyair Tegal.
Prof. Dr. Taufiqulloh, M.Hum memaparkan pandangannya tentang buku ‘Rahasia Tanda’ bahwa bahasa dalam puisi-puisi Enthieh bukan sekadar alat ungkap, tetapi jembatan antara dunia lahir dan batin. Puisi menjadi ruang meditasi eksistensial, tempat manusia menanyakan asal dan arah hidupnya. Sementara Abu Ma’mur menyingung persoalan ‘diksi’, kesederhanaan kata yang digunakan Enthieh bukan malah mengurangi kedalaman makna, melainkan menjadi lebih dalam dimaknai.
Nana Sastrawan memulai pembicaraannya dari pengalaman mengawal puisi-puisi Enthieh hingga menjadi buku, bagaimana ia memilih dan memilah puisi-puisi yang disodorkan Enthieh ketika ia ingin menerbitkan puisi-puisinya, hingga pada akhirnya Nana Sastrawan pun memilih ‘Rahasia Tanda’ sebagai judul utama buku puisi Enthieh Mudakir. Tidak hanya itu, Nana Sastrawan menyoroti puisi-puisi yang lahir dari tangan Enthieh sebagai bahasa pikir, bahasa simbol dan bahasa ekspresi sehingga puisi-puisi Enthieh menjadi multitafsir.
Setelah sesi diskusi yang hangat, acara ditutup oleh Dyanindra Sri Kumara selaku pembawa acara dengan foto bersama dan makan siang. (red/29/10/25)

