Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Setengah Hari di Bulan Agustus
    Puisi

    Setengah Hari di Bulan Agustus

    15 Agustus 2021Updated:15 Agustus 20211 Komentar3 Mins Read74 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Kegelisahan mikro pada seorang penyair dapat mengungkapkan sesuatu yang makro. Itulah mengapa puisi menjadi sesuatu yang penting untuk dimaknai ketika membacanya. Ada semacam dan penyair yang baik selalu menuangkan gagasan, atau perasaannya melalui diksi yang estetik, rapi dan berkarakter. Semua itu, terasa pada puisi-puisi yang tayang kali ini. Selamat membaca. (redaksi).

    Puisi yang Lahir dari Penyambutan

    agustus merayakan sepi
    di sebuah mata bening
    melepaskan kepura-puraan
    yang lebih sempurna dari riwayat kota

    banyak jiwa berteduh pada nasib
    sambil membaca ritual penyambutan

    orang-orang berduyun menjual bendera
    menaruh keringat dalam kedamaian

    tiada yang dapat terangkai
    dari kerinduan atas penyambutan
    selain puisi yang dipandang sayu
    lewat luka-luka pada bumi

    detak jantung berhenti
    sebelum puisi menjadi nyawa
    bagi yang pergi melewati sebuah nama
    pada kota asmara penuh bunga

    baitnya adalah serangkaian tanya
    orang-orang pinggiran yang pasrah
    dengan kebimbingan atas petaka
    bersama mantra dalam doa
    dibaca pada lamunan-lamunan sakral

    agustus; ada penyambutan
    yang belum sempurna
    setelah kedatangan tamu tak diundang
    menaburkan kematian pada bumi
    sebelum pujangga menyelesaikan puisinya

    Bekasi, 14 Agustus 2020

    Agustus: Sampai ke Kota Rantau

    perjalanan menyisakan sebuah purnama
    dipersembahkan pada kekaguman agustus

    jantung menerjemahkan luka dan sepi
    lewat sudut kota penuh kegelisahan

    pada akhirnya sampai pada perantauan
    dengan hasrat yang berkilau di mata

    hanya saja ada tikungan terjal
    membelenggu napas dengan rahasia

    ada gemuruh air mata di setiap langkah
    merangkai riwayat agustus dalam pilu

    oh, atas nama kota
    yang disinggahi rasa rindu

    cinta melahirkan kepasrahan
    ketika tanah tak berdamai dengan kabar

    oh, kota di negeriku hanyalah mata
    tempat merahasiakan kuasa petaka

    membiarkan jantung berlapis kemarau
    yang gersang di tanah perantauan

    amboi, agustus telah menamai kemerdekaan
    dalam cerita yang diriwayatkan keanehan

    Bekasi, 15 Agustus 2020

    Setengah Hari di Bulan Agustus

    matahari jatuh di jantungmu
    merekam seluruh sunyi antara luka
    membendung kebebasan kota
    yang membelah matahari di agustus
    ada perayaan kemerdekaan setangah hari
    dalam rahasia riwayat bunga
    saat ditabur pada pusara pahlawan
    setelah mewariskan negeri dengan darah,
    dengan tulang, dengan air mata di tanah gersang
    –cinta menjadi harap pada setiap jiwa

    Bekasi, 16 Agustus 2020

    Sirah Tersirat dalam Surat Agustus di Perantauan

    ada slogan kematian di tanah perantauan
    terabadikan dalam perayaan agustus

    kita ini masih mengibarkan bendera
    ketika rakyat tertindih tanda tanya;
    siapa di balik bara yang berkobar
    dan terkadang menghilangkan arah
    pada jalan yang ramai huru-hara
    dalam perayaan kemerdekaan negeri?

    padahal, tanah ini masih belum
    merdeka dari kecemasan tubuh
    sejarah–ketika dibacakan sirah pahlawan
    ada yang berpiuh pada celoteh
    di dunianya sendiri
    saat agustus hanya merayakan kemerdekaan
    di atas nasib orang-orang
    di jantung yang lelah

    mereka hanya mempunyai tangis
    tanpa belaian kenikmatan
    di seluruh tubuh yang didera
    kegaduhan dalam nada kota
    di antara kegelisahan sebelum pulang

    setelah puisi ini selesai dengan ceracau
    seperti nyanyian awal kemarau
    dengan suara yang parau

    ai, masih saja agustus menyebarkan
    surat-surat kemerdekaan dikibarkan
    pada bendera yang melupakan kecemasan
    saat kota mesti tunduk pada derita
    dan hanya mampu bergumam di petaka

    ai, derita kami, bahagia mereka

    Bekasi, 21 Agustus 2020

    LY. Misnoto, seorang perantau lahir di Pulau Giliraja, Sumenep yang saat ini tinggal di Kota Bekasi. Mulai menulis puisi ketika aktif di Sanggar Aksara dan Forum Intelektual Santri (FITRI) di PP. Nurul Islam, Karangcempaka, Bluto, Sumenep. Buku antologi puisi tunggalnya berjudul Memori Juli (Vista, 2018) dan Mayang (Kali Pustaka, 2019).

    penyair madura puisi agustus puisi kemerdekaan
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleLianna dan Bunga Kaca Piring
    Next Article Mencari Rumah

    Postingan Terkait

    Menakar Aroma Surealisme Puisi Penyair D. Zawawi Imron “Sungai Kecil”

    19 Mei 2026

    Puisi-Puisi Wyaz Ibn Sinentang

    10 Mei 2026

    Puisi-Puisi Alfiansyah Bayu Wardhana

    12 April 2026

    1 Komentar

    1. Nandautama on 26 Agustus 2021 5:50 am

      Saya menyukai sastra dan karya karyanya

      Reply
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Kebersamaan dalam Keberagaman Agama dan Budaya dari Novel Hujan Bulan Juni

    2 Juni 202611 Views

    Makna Takdir dan Kesabaran dari Novel Jodoh pasti Bertemu

    1 Juni 202623 Views

    Perjuangan Perempuan dalam Mempertahankan Martabat dan Haknya Ditengah Penindasan Sistematis dalam Novel Entrok

    31 Mei 20265 Views

    Menakar Aroma Surealisme Puisi Penyair D. Zawawi Imron “Sungai Kecil”

    19 Mei 202666 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (88)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (81)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (190)
    • Sains (51)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (167)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (99)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.