Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Kritik Sastra » Sajak Suara dan Kutukan Wiji Thukul
    Kritik Sastra

    Sajak Suara dan Kutukan Wiji Thukul

    29 Desember 2019Tidak ada komentar10 Mins Read932 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Sajak Suara dan Kutukan Wiji Thukul
    Nana Sastrawan
     

    Sesungguhnya suara itu tidak bisa diredam
    Mulut bisa dibungkam
    Namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang
    dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku
     
    Suara-suara itu tak bisa dipenjarakan
    Di sana bersemayam kemerdekaan
    Apabila engkau memaksa diam
    Aku siapkan untukmu : pemberontakan!
     
    Sesungguhnya suara itu bukan perampok
    yang merayakan hartamu
    Ia ingin bicara
    Mengapa kau kokang senjata
    dan gemetar ketika suara-suara itu menuntut keadilan?
     
    Sesungguhnya suara itu akan menjadi kata
    Ia yang mengajari aku untuk bertanya
    dan pada akhirnya tidak bisa tidak
    engkau harus menjawabnya
    Apabila engkau tetap bertahan
    Aku akan memburumu seperti kutukan

    Itulah puisi Wiji Thukul seorang penyair yang keras menyuarakan ketidakadilan pada masa orde baru. Sebenarnya, ada banyak penyair yang bersuara lantang kepada pemerintah selain Wiji Thukul. Seperti WS Rendra (sekadar menyebut satu nama) Dia juga pernah dipenjara dan konon katanya, rumor yang berkembang di antara seniman Rendra diasingkan ke luar negeri dengan diberikan beasiswa sekolah di sana agar tidak selalu mengkritisi pemerintah, namun setelah pulang dari luar negeri, Amerika, Rendra semakin keras menyuarakan kebenaran.

    Namun, di antara penyair pada zaman itu, Wiji Thukul bisa dibilang fenomenal dan misterius, selain puisi-puisinya yang blak-blakan, lugas dan tegas, tidak terlalu bertele-tele dengan metafora dan gaya bahasa lainnya. Kisah kehidupan Wiji Thukul pun begitu misterius.

    [iklan]

    Mari kita simak sejenak, siapakah penyair Wiji Thukul. Dia bernama asli Wiji Widodo. Lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 26 Agustus 1963. Dia dikenal aktivis Hak Asasi Manusia berkebangsaan Indonesia. Thukul merupakan satu di antara tokoh yang ikut melawan penindasan rezim Orde Baru. Dia anak pertama dari tiga bersaudara. Dia lahir dari keluarga Katolik dengan keadaan ekonomi sederhana. Ayahnya adalah seorang penarik becak, sementara ibunya terkadang menjual ayam bumbu untuk membantu perekonomian keluarga.

    Thukul Mulai menulis puisi sejak Sekolah Dasar, dan tertarik pada dunia teater ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Bersama kelompok Teater Jagat. Dia pernah ngamen puisi keluar masuk kampung dan kota. Sempat pula menyambung hidupnya dengan berjualan koran, jadi calo karcis bioskop, dan menjadi tukang pelitur di sebuah perusahaan mebel. Pada Oktober 1989, Thukul menikah dengan istrinya Siti Dyah Sujirah alias Sipon. Tak lama semenjak pernikahannya, Pasangan Thukul-Sipon dikaruniai anak pertama bernama Fitri Nganthi Wani, kemudian pada tanggal 22 Desember 1993 anak kedua mereka lahir yang diberi nama Fajar Merah.

    Thukul pernah bersekolah di SMP Negeri 8 Solo dan melanjutkan pendidikannya hingga kelas dua di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia jurusan tari. Thukul memutuskan untuk berhenti sekolah karena kesulitan keuangan. Meskipun hidup sulit, dia aktif menyelenggarakan kegiatan teater dan melukis dengan anak-anak kampung Kalangan, tempat dia dan anak istrinya tinggal.

    Pada tahun 1992 dia ikut demontrasi memprotes pencemaran lingkungan oleh pabrik tekstil PT Sariwarna Pada 1994, terjadi aksi petani di Ngawi, Jawa Timur. Thukul yang memimpin massa dan melakukan orasi ditangkap serta dipukuli militer. Tahun 1995 mengalami cedera mata kanan karena dibenturkan pada mobil oleh aparat sewaktu ikut dalam aksi protes karyawan PT Sritex. Tahun-tahun berikutnya Thukul aktif di Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (Jakker) yang merupakan salah satu organisasi sayap Partai Rakyat Demokratik (PRD).

    Thukul mengupas kehidupan rakyat kecil yang hidup dibawah kepemimpinan otoriter pada masa Orde Baru melalui puisinya. Rasa-rasa pahit kemiskinan dan penderitaan terasa begitu pilu terurai melalui untaian kata yang Thukul tulis. Bagi dia puisi adalah media yang mampu menyampaikan permasalahan rakyat kecil dan juga bagi kaum tertindas di masa Orde Baru. Semenjak itu, Thukul kerap kali dituding sebagai dalang demonstrasi, puisi-puisinya dicurigai sebagai penggerak rakyat kecil melakukan protes.

    Itulah puisi-puisi Wiji Thukul yang lahir dari kecemasan akan kepincangan-kepincangan dalam realitas hidup sehari-hari. Sutardji Calzoum Bachri mengatakan di dalam buku ‘Isyarat’ (2007. Hlm 80) bahwa setiap orang yang berkecimpung dalam dunia puisi tahu bahwa puisi adalah suatu dunia tersendiri, yang kadang dalam bentuk ekstrem atau ideal adalah dunia hasil imajinasi yang tidak berhubungan dengan realitas. Walaupun sumber ilhamnya dari suatu realitas, ia tidak harus merujuk pada realitas yang mengilhami. Namun tidak pula bisa dimungkiri bahwa ada puisi yang sedikit banyak bisa pula merujuk pada realitas yang mengilhami, misalnya, sering pada sajak-sajak yang penuh dengan kadar protes sosial itu. Ya, puisi-puisi Wiji Thukul sangat konsisten terhadap perkara sosial yang berkembang di masyarakat, bahkan kehidupan yang serba tidak adil dan kemiskinan dialami olehnya sendiri.

    Kerusuhan pada Mei 1998 pun meledak. Peristiwa itu telah menyeret beberapa nama aktivis ke dalam daftar pencarian aparat Kopassus yang sering disebut Tim Mawar. Di antara para aktivis itu adalah aktivis dari Partai Rakyat Demokratik, Partai Demokrasi Indonesia, Partai Persatuan Pembangunan, Jakker, pengusaha, mahasiswa, dan pelajar yang dinyatakan tidak sejalan dengan rezim. Semenjak bulan Juli 1996, Thukul sudah berpindah-pindah keluar masuk daerah dari kota satu ke kota yang lain untuk bersembunyi dari kejaran aparat. Dalam pelariannya itu Thukul tetap menulis puisi-puisi pro-demokrasi yang salah satu di antaranya seperti di bawah ini.

    (1)

    Para jendral marah-marah.

    Pagi itu kemarahannya disiarkan oleh televisi. Tapi aku tidur. Istriku yang menonton. Istriku kaget. Sebab seorang letnan jendral menyeret-nyeret namaku. Dengan tergopoh-gopoh selimutku ditarik-tariknya, Dengan mata masih lengket aku bertanya: mengapa? Hanya beberapa patah kata ke luar dari mulutnya: ”Namamu di televisi …..” Kalimat itu terus dia ulang seperti otomatis.

    Aku tidur lagi dan ketika bangun wajah jendral itu sudah lenyap dari televisi. Karena acara sudah diganti. Aku lalu mandi. Aku hanya ganti baju. Celananya tidak. Aku memang lebih sering ganti baju ketimbang celana.

    Setelah menjemur handuk aku ke dapur. Seperti biasa mertuaku yang setahun lalu ditinggal mati suaminya itu, telah meletakkan gelas berisi teh manis. Seperti biasanya ia meletakkan di sudut meja kayu panjang itu, dalam posisi yang gampang diambil.

    Istriku sudah mandi pula. Ketika berpapasan denganku kembali kalimat itu meluncur. ”Namamu di televisi….” ternyata istriku jauh lebih cepat mengendus bagaimana kekejaman kemanusiaan itu dari pada aku.

    Yosep Adi Prasetyo alias Stanley, mantan anggota Komnas HAM menulis artikel di Jurnal Dinitas yang diterbitkan Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam). Jurnal Volume VIII No. 1 Tahun 2012 itu memuat tulisan Stanley berjudul “Puisi Pelarian Wiji Thukul”. Stanley mendapatkan kumpulan puisi Wiji Thukul saat Thukul menjadi buron.

    Stanley menuliskan pengalamannya bertemu dengan Wiji Thukul: Saya bertemu dengan Wiji Thukul beberapa kali. Saya mendapatkan kumpulan puisi ini saat-saat terakhir kali sebelum dia memutuskan untuk pindah ke luar kota, mengingat Jakarta dinilainya sudah tidak aman. Kepada Stanley, Wiji Thukul mengatakan: Tolong ini kamu pegang. Siapa tahu suatu saat ada gunanya.

    Kumpulan puisi ini total berjumlah 27 puisi yang sebagian besar belum ada judulnya. Jumlah puisi adalah perkiraan Stanley, karena bisa jadi larik-larik pusi itu memiliki judul sendiri. Puisi tersebut ditulis dengan pensil di atas kertas surat putih bergaris sebanyak 13 halaman bolak-balik.

    Dalam tulisannya, Stanley menyebut tulisan ini dibuat setelah Wiji Thukul menempuh perjalanan Solo, Salatiga, dan Jakarta dengan menumpang truk dan berpindah-pindah bis. Sebagian tulisan diberi catatan tanggal penulisan, sebagian tidak. Namun dari catatan yang ada bisa diperkirakan bahwa puisi ini ditulis antara tanggal 10 sampai 15 Agustus 1996, saat Thukul menjadi buronan pasca Peristiwa 27 Juli 1996.

    Kita pun dapat menemukan peristiwa pelarian itu pada satu di antara puisi Wiji Thukul, misalnya pada Puisi di bawah ini.

    (2)

    aku diburu pemerintahku sendiri
    layaknya aku ini penderita penyakit
    berbahaya
     
    aku sekarang buron
    tapi jadi buron pemerintah yang lalim
    bukanlah cacat
    pun seandainya aku dijebloskan
    ke dalam penjaranya
     
    aku sekarang terlentang
    di belakang bak truk
    yang melaju kencang
    berbantal tas
    dan punggung tangan
     
    kuhisap dalam-dalam
    segarnya udara malam
    langit amat jernih
    oleh jutaan bintang
     
    sungguh
    baru malam ini
    begitu merdeka paru-paruku
     
    malam sangat jernih
    sejernih pikiranku
    walau penguasa hendak mengeruhkan
    tapi siapa mampu mengusik
    ketenangan bintang-bintang?

    Puisi-Puisi Wiji Thukul ini dapat menjadi jejak melacak keberadaan Wiji Thukul yang hingga kini belum kembali. Ya, Nama Wiji Thukul disebut sebagai satu di antara orang yang dicari pemerintah Soeharto yang menuding Partai Rakyat Demokratik sebagai dalang Peristiwa 27 Juli 1996. Wiji Thukul aktif di Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jakker), organ gerakan Partai Rakyat Demokratik.

    Seperti diketahui bahwa orde baru adalah era di mana kebebasan berpendapat seolah hanya angan belaka. Pada era ini orang harus tunduk pada pemerintah. Perlu dicatat, rezim Orde Baru sensitif terhadap kritik secara umum. Kepemimpinan zaman itu dianggap otoriter dan mematikan semangat demokrasi. Wiji thukul adalah cerita penting dalam sejarah Orde Baru yang tak patut diabaikan. Sastrawan dan aktivis yang melawan penindasan rezim Orde Baru.

    Sekitar tahun 1998 jejaknya tak lagi diketahui. Hingga kemudian hilang tak tentu rimba hingga hari ini. Wiji Thukul tidak pernah melakukan tindak pidana korupsi maupun represi di NKRI ini, melainkan advokasi melalui puisi. Namun, hak hidupnya dibuat mati. Dia telah menjadi korban praktik penghilangan orang. Lewat jalan panjang dan berdarah, Wiji Thukul mendobrak pintu kebebasan berbicara. Sosok Thukul telah menghilang, tapi bara api pada kata-katanya tak kunjung padam. Thukul adalah simbol dari betapa mahal harga yang harus dibayar dari perjuangan merebut demokrasi.

    Lalu, sebegitu hebatnya kah puisi hingga seorang Wiji Thukul mesti hilang hingga sekarang? Apa fungsi dan peranan puisi dalam kehidupan bangsa ini? Bukankah puisi sebagai hasil cipta penyair hang sering dianggap hanya hayalan dan angan-angan? Sejumlah pertanyaan itu kerap muncul pada masyarakat awam, bahkan juga dari aparat pemerintah kita yang coba mempertanyakan peranan dan kontribusi puisi dalam kehidupan bangsa.

    Maman S Mahayana dalam buku ‘Jalan Puisi, Dari Nusantara Ke Negeri Poci’ (Kompas. 2016. Hlm 130) menuliskan bahwa Puisi bukanlah sambal goreng yang selepas kita menguyahnya, kita dapat langsung merasakan pedasnya. Puisi juga bukan benda-benda fungsional yang kasat mata. Ia sebuah produk budaya yang dihasilkan lewat olah kreativitas dengan bahasa sebagai mediumnya. Dengan begitu, fungsi puisi lebih menyangkut pada perkara menanamkan nilai-nilai, menyentuh kepekaan hati nurani, dan coba membangun spiritualitas dan kesadaran dalam memandang problem manusia dan kemanusiaan. Oleh karena itu, peranan dan kontribusinya, tidak wujud sebagai produk yang kasat mata, benda-benda konkret, atau sesuatu yang langsung dapat dirasakan manfaatnya, melainkan serangkaian ajakan permusuhan terhadap segala kebrengsekan dan pemihakan terhadap mereka yang teraniaya. Ajakan pemihakan dan permusuhan itu melekat sedikit demi sedikit, menempel menjadi kesadaran, bahkan filosofi yang lalu menjelma menjadi prilaku, sikap hidup, dan tata nilai. Segalanya berlangsung tidak sekali jadi: simsalabim, adakadabra, jadi maka jadilah, melainkan melalui proses panjang, merayap, dan meresap secara kontinu dan berkelanjutan.

    Puisi yang menyatakan sikap perlawanan juga telah dilakukan oleh para penyair kepada sikap penindasan dan ketidakadilan. Beberapa penyair yang tercatat memiliki sikap perlawanan melalui puisi ini dijabarkan oleh Maman S Mahayana pada satu di antara tulisannya di buku Jalan Puisi, Dari Nusantara Ke Negeri Poci. Tulisannya diberi judul ‘Puisi Perlawanan: Puisi yang melahirkan Indonesia’. Para penyair itu seperti K.H Ahmad Ar-Rifai, seorang ulama besar pendiri Pesantren Kalisalak di Batang, Jawa Tengah. Teuku Iskandar, mencatat sejumlah syair yang hasil penelitiannya dengan judul ‘Kesusasteraan Klasik Melayu Sepanjang Abad’ (1996. Hlm 454), yang dikatakannya sebagai syair sejarah yang mengisahkan semangat patriotisme dalam peperangan melawan Belanda. Ibrahim Alfian dalam buku ‘Sastra Perang: Sebuah Pembicaraan Mengenai Hikayat Perang Sabil (Balai Pustaka. 1992. Hlm 2) di situ Hikayat Perang Sabil ditulis dan dinyanyikan tidak hanya untuk mengobarkan semangat perang melawan Belanda atau bangsa asing, tetapi juga untuk memperkuat keimanan tentang tuntutan atau kewajiban berjihad.

    Perlawanan-perlawanan melalui puisi juga hadir pada masa pra kemerdekaan bangsa Indonesia. Puisi sebagai bentuk penyadaran dilakukan oleh Muhamad Yamin, Sanusi Pane, dan Mohammad Hatta di majalah Jong Sumatra, yang diterbitkan antara 1920-1921. Muhammad Yamin menulis puisi berjudul ‘Tanah Air’ dan ‘Bahasa, Bangsa’ menyusul kemudian Sanusi Pane berjudul ‘Tanah Airku’ dan Mohammad Hatta berjudul ‘Beranta Indra’. Setelah itu, Muhammad Yamin pun menulis puisi berjudul ‘Indonesia Tumpah Darahku’ menjelang Kongres Pemuda yang menghasilkan Sumpah Pemuda tahun 1928. Indonesia yang dibayangkan itu, sesungguhnya tercermin pada teks lagu ‘Indonesia Raya’ karya WR Rudolf Supratman. Pasca Kemerdekaan lahirlah puisi-puisi perjuangan dan perlawanan dari Chairil Anwar.

    Melihat sejarah perlawanan menggunakan puisi itu, patutlah Wiji Thukul kita hormati setinggi-tinggi, dia berada di tengah-tengah rakyat yang tertindas oleh penguasa meski harus kehilangan kebahagiaan dalam dirinya, bahkan hingga saat ini peristiwa hilangnya Wiji Thukul tak pernah bisa diungkap mesti telah berganti-ganti rezim. Tetapi, cita-cita besar Wiji Thukul untuk demokrasi telah terwujud walaupun ketidakadilan masih ditemukan di setiap daerah di Indonesia. Akan tetapi, di setiap ketidakadilan, penindasan dan kesewenang-wenangan oleh penguasa, di situ pula kutukan Wiji Thukul hadir dengan wujud yang lain yang berani tampil dan bersuara lantang dengan satu kata: Lawan!

    2019

    Hak Asas ham Orde Baru Orde Reformasi penyair widji thukul Wiji Thukul
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleLelaki Tanpa Nama
    Next Article Ngadulag – Nabuh Beduk

    Postingan Terkait

    Menakar Aroma Surealisme Puisi Penyair D. Zawawi Imron “Sungai Kecil”

    19 Mei 2026

    Menikmati Panjat Tebing Puisi Penyair Darmanto Jatman “Memandang Padang Alang-Alang Pada Suatu Malam”

    9 Mei 2026

    Harga Sebuah Kicauan: Sebuah Narasi Narsisme Antroposentris

    18 April 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Menakar Aroma Surealisme Puisi Penyair D. Zawawi Imron “Sungai Kecil”

    19 Mei 202643 Views

    Revolusi Kue Modern di Era Digital: dari Dapur Rumahan Menjadi Industri Kreatif Bernilai Jutaan

    18 Mei 202612 Views

    Puisi-Puisi Wyaz Ibn Sinentang

    10 Mei 202631 Views

    Dari Desa Gandoang untuk Dunia: Menjaga Makna Budaya dalam Tradisi Ngasa

    9 Mei 202613 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (81)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (190)
    • Sains (51)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (167)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (99)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.