Oleh Kek Atek
1. Sekilas Tentang Penyair Darmanto Jatman
Perihal Penyair Darmanto Jatman dapat ditelusuri di berbagai sumber informasi, satu diantaranya adalah Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Di dalam lamannya menyatakan bahwa [1]: Darmanto Jatman terlahir dengan nama Soedarmanto, lahir di Jakarta, 16 Agustus 1942, dari pasangan Lasinem dan Jatman.
Pendidikan Darmanto dimulai dari Sekolah Dasar di Klitren Lor. Lulus SMA III B Padmanaba, bagian Ilmu Pasti Alam, Yogyakarta, melanjutkan pendidikan ke Falkutas Psikologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta tamat tahun 1968.
Setelah itu berlanjut belajar ke Basic Humanities di East West Center Universitas Hawaii, Honolulu, Amerika Serikat (1972 – 1973). Selanjutnya, berhasil meraih gelar sarjana utama (S-2) Progam Pascasarjana Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada, tahun 1985.
Darmanto bekerja menjadi dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Diponegoro, Semarang. Di samping itu sebagai seorang ilmuwan dan budayawan, Darmanto juga pernah mengajar di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta.
Darmanto menerbitkan kumpulan Sajak-Sajak Putih (1965) bersama Jajak MD dan Dharmadi Sosropuro, serta menerbitkan Sajak Ungu bersama A. Makmur Makka (1966). Pada tahun 1980-an Darmanto diundang untuk membacakan puisi-puisinya di forum-forum internasional, antara lain Festival Puisi Adelaide, Autralia (1980) dan International Poetry Reading di Rotterdam, Negeri Belanda (1983).
Karya-karya Darmanto, antara lain: Sajak-Sajak Manifes (1968), Bangsat (1975), Ki Blaka Suta Bla Bla (1980), Karto Iyo Bilang Mboten (1981), Sang Darmanto (1982), Golf untuk Rakyat (1995), Isteri (1997), dan Sori Gusti (2002). Beberapa puisi Darmanto juga dimuat dalam buku antologi, antara lain Laut Biru Langit Biru (1977, ed. Ajip Rosidi), Tugu (1986, ed. Linus suryadi Ag.), dan Horison Sastra Indonesia I Kitab Puisi (2002, ed. Taufiq Ismail dkk.).
Beberapa puisInya juga sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing, antara lain dalam bahasa Inggris, Belanda, Jerman, dan Jepang. Harry Aveling menerjemahkan puisi-puisi Darmanto ke dalam bahasa Inggris bersama puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri dan Abdul Hadi W.M. dalam Arjuna in Meditation (1976).
Pada usianya yang ke-60 tahun, Darmanto mendapat penghargaan dari Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, dalam rangka Bulan Bahasa dan Sastra 2002, bersama dengan Gus Tf (dari Sumatra Barat), dan Joko Pinurbo (dari Yogyakarta). Pada tahun itu juga ia mendapatkan anugerah The SEA Write Award 2002 dari Putra Mahkota Thailand Maha Vajiralongkom atas buku kumpulan puisinya Isteri. Tentu masih banyak prestasi yang telah diraihnya.
Pada kesempatan ini, satu puisinya yang menarik perhatian penulis, ketika membacanya di laman Sepenuhnya – © 2026 Sepenuhnya. All rights reserved .Laman tersebut memuat Puisi karya Penyair Darmanto Jatman yang berjudul /MEMANDANG PADANG ALANG-ALANG PADA SUATU MALAM/. Adapun puisi lengkapnya seperti di bawah ini [2].
Memandang Padang Alang-Alang Pada Suatu Malam
Tiada kusaksikan sesuatu
Waktu aku menatap jauh kepadamu
Angin membunyikan suara tak tentu
Meraba bibirku:
Ia seolah bisikan
Ia seolah nyanyi
Sebab aku tak boleh berdusta
Maka kubilang padamu:
Ia hanyalah angin yang menyentuh bibirku belaka
(Wah. Aku sudah cemas
Kalau-kalau aku bilang itu peri
Padahal sekadar ilalang yang berayun
Sentuh-menyentuh pucuk ke pucuk).
Namun daripada kita diam
Ayo kita nyanyikan bukan dusta dari nenek moyang kita
Sir sir pong dele gosong
Sir sir pong dele gosong
Tentu bukan dusta
Sebab sebagai kata mereka:
Itulah milik kita yang sah
Yang telah diuji dan diasah oleh sejarah.
Tiada kudengar sesuatu
Waktu aku menilingkan telingaku kepadamu
Angsa-angsa berbaris di bawah bulan
Mendongak-dongakkan kepala secara serempak:
Seolah menjerit
Seolah menari
Namun
Sebab aku tak boleh berdusta
Maka kubilang padamu:
Mereka tentu tidak minta keajaiban
Dari terang bulan menuju ke hujan
(Wah. Sulaiman
Wah. Anglingdarma)
Sungguh
Tiada kudengar
Tiada kusaksikan
Riuh rendah
Karnaval topeng-topeng
(Namun toh terasa
gemuruh yang menyesak
gemerlap yang me…….
Haii!
Siapa yang paling bodoh
Copot topengmu!
Buka suaramu!
Dan tiba-tiba:
Wah!
Tuhan tersipu-sipu di muka kita
Tapi
Siapakah Dia?
2. Memanjat Tebing Tebing Puisi Apa Adanya
Membaca dan memaknai Puisi yang berjudul /MEMANDANG PADANG ALANG-ALANG PADA SUATU MALAM/, besutan Penyair Darmanto Jatman, serasa memanjat tebing diksi penuh misteri yang tidak menyediakan tangga landai. Hampir semuanya beraroma tanjakan batu kata yang tajam, celah pijakan makna yang sempit, dan jurang jemurang kegelisahan yang dalam, sesekali kadang ada rasa takut kecemplung, dan tidak akan kembali pulang.
Dalam suasana kejiwaan seperti itulah Penulis sebagai Penikmat puisi menelusuri: makna, rasa, dan logika dari puisi karya Penyair Darmanto Jatman, ini. Selanjutnya mari bersama sama memanjat tebing puisi, setahap demi setahap sambil melahap etape misteri puisi.
Untuk memudahkan menandai sampai dimana etape misteri puisinya, sudah ditelusuri di tebing tebing kata di bagian mana, maka puisi tersebut diberi nomor pada setiap bait dan barisnya, seperti di bawah ini.
Memandang Padang Alang-Alang Pada Suatu Malam
1/.
Tiada kusaksikan sesuatu (1)
Waktu aku menatap jauh kepadamu (2)
Angin membunyikan suara tak tentu (3)
Meraba bibirku: (4)
Ia seolah bisikan (5)
Ia seolah nyanyi (6)
2/.
Sebab aku tak boleh berdusta (1)
Maka kubilang padamu: (2)
Ia hanyalah angin yang menyentuh bibirku belaka (3)
(Wah. Aku sudah cemas (4)
Kalau-kalau aku bilang itu peri (5)
Padahal sekadar ilalang yang berayun (6)
Sentuh-menyentuh pucuk ke pucuk). (7)
3/.
Namun daripada kita diam (1)
Ayo kita nyanyikan bukan dusta dari nenek moyang kita (2)
Sir sir pong dele gosong (3)
Sir sir pong dele gosong (4)
4/.
Tentu bukan dusta (1)
Sebab sebagai kata mereka:(2)
Itulah milik kita yang sah (3)
Yang telah diuji dan diasah oleh sejarah.(4)
5/.
Tiada kudengar sesuatu (1)
Waktu aku menilingkan telingaku kepadamu (2)
Angsa-angsa berbaris di bawah bulan (3)
Mendongak-dongakkan kepala secara serempak: (4)
Seolah menjerit (5)
Seolah menari (6)
6/.
Namun (1)
Sebab aku tak boleh berdusta (2)
Maka kubilang padamu: (3)
Mereka tentu tidak minta keajaiban (4)
Dari terang bulan menuju ke hujan (5)
(Wah. Sulaiman (6)
Wah. Anglingdarma)(7)
7/.
Sungguh (1)
Tiada kudengar (2)
Tiada kusaksikan (3)
Riuh rendah (4)
Karnaval topeng-topeng (5)
(Namun toh terasa (6)
gemuruh yang menyesak (7)
gemerlap yang me……. (8)
8/.
Haii! (1)
Siapa yang paling bodoh (2)
Copot topengmu! (3)
Buka suaramu! (4)
9/.
Dan tiba-tiba: (1)
Wah! (2)
Tuhan tersipu-sipu di muka kita (3)
Tapi (4)
Siapakah Dia? (5)
Tebing tebing kata puisi di atas, terbagi menjadi 9 bait, masing masing terdiri dari beberapa baris, jumlah barisnya berbeda beda. Sembilan bait ini, serasa bagai etape misteri yang menawarkan banyak tanjakan bagi pendaki: makna, rasa, dan logika puisi. Sejak mulai di awal pendakian, seolah penikmat puisi dipaksa berpijak pada sesuatu yang sangat kongkret namun sulit untuk digapai secara nyata. Meskipun di hadapkan adanya realitas melalui diksi puisi [2]. Tentang hal ini, penikmat bisa mengacu pada diksi sebagai berikut: Bait 1/,baris (1) dan (2): /Tiada kusaksikan sesuatu/(1), dan /Waktu aku menatap jauh kepadamu/ (2). Dari kedua baris ini, Penyair memunculkan tokoh lirik: /ku/ dan /mu/. Setelah itu Penyair memunculkan tokoh lirik /Ia/ di baris (5) dan (6). Bagaimana hubungan antar tokoh lirik ini, meskipun menggunakan diksi yang terkesan sangat nyata, namun misterinya terasa menanjak untuk dikuliti, karena sepertinya masih perlu perjalanan lanjut, Lebih lebih ada potensi makna polisemi di baris (4), (5), dan (6). Polisemi adalah satu kata yang berpotensi mempunyai makna ganda, yaitu makna apa adanya, dan makna metafora [4], misalnya pada baris (3), yaitu: /Angin membunyikan suara tak tentu (3)/.
Ada yang bilang bahwa Penyair memang mempunyai kebebasan dalam mengungkapkan rasa, makna, dan logika ke dalam diksi yang dipilihnya menjadi Puisi, dan Puisi pun juga mempunyai bahasanya sendiri[5]. Di sisi lain, penikmat puisi juga bisa berbeda dengan Penyair kreator puisi, misalnya dari sisi mana, penikmat puisi: memotret, memaknai, dan menikmati puisi [6], dan terserah si penikmat puisi.
Oleh karena itu, sebagai langkah kompromi, antara prediksi apa sejatinya yang dimaksud oleh Penyair di dalam puisi karyanya, dan apa juga yang berhasil diendus aroma puisi oleh sang penikmat, ada jalan tengah yakni menelusuri jejak penelaah terdahulu yang tersimpan di pustaka di: Artikel Jurnal, Buku, atau Sumber lain yang relatif bisa dipercaya. Kemudian sang penikmat puisi, memprediksi sendiri, kita kira apa saja yang belum disampaikan oleh penelaah, maupun penikmat terdahulu. Sehingga memperoleh kenikmatan yang segar ala diri sendiri dari jiwa bebas sang penikmat puisi.
Kembali pada bait 1/., dapat dirasakan bahwa bisa di maknai bahwa Penyair memulai dengan apa adanya mengungkapkan fenomena alam sesuai dengan apa adanya, tidak mengubahnya menjadi ungkapan metafora berlebihan, misalnya diksi /Angin/ dimaknainya sebagaimana angin pada umumnya, bukan metafora dari bisikan hati, dan diksi /ilalang/ juga bukan lambang dari tarian pikir dan rasa.
Seolah Penyair tidak hendak menjebak diri dan rasanya dalam bungkus kata kata puitis yang berlebihan, dan cenderung segalanya dipandang sebagai fenomena biasa biasa saja. Ungkapannya pun biasa biasa saja, serupa alam semesta apa adanya.
3. Tebing Tebing Diksi Tersisipi Makna Batin Puisi
Ungkapan biasa biasa saja dengan bahasa apa adanya, disampaikan Penyair dari bait 1/., dilanjutkan ke bait 2/., dalam ungkapan di baris (1): /Sebab aku tak boleh berdusta (1)/. Bait 2/, baris (1) ini patut diduga sebagai pernyataan apa adanya yang diungkapkan dalam baris puisi. Gaya ungkap seperti ini terus berlanjut, sampai pada bait 3/. Di bait 3/., baris (3) dengan terbuka Sang Penyair mengutip lirik dolanan nyanyian bocah Nusantara bernuansa bahasa Jawa, yaitu: /Sir sir pong dele gosong (3)/. Versi lain ada yang menggunakan lirik /dele kopong/ bukan /dele gosong/. Entahlah versi aslinya yang mana, Penikmat puisi tak hendak menelusuri lebih lanjut. Dalam lagu dolanan (Permainan anak anak) ini ada nuansa ajakan menuju moral yang baik pada anak anak usia balita sampai dengan remaja. Khususnya, bagi generasi kelahiran 1960-an di Jawa Timur, maupun di Jawa Tengah, pada umumnya akrab dengan lagu dolanan ini, menghunjam kuat di-ingatan kolektif mereka. Yang jelas konon katanya tembang dolanan ini, aslinya berjudul Cublak Cublak Suweng karya Sunan Giri, satu diantara Wali Songo [6]. Sedangkan kalimat /Sir sir pong dele gosong/ merupakan satu diantara kalimat baris dari lagu dolanan tersebut.
Pengembaraan penikmat puisi dengan pendekatan bagai panjat tebing kata kata ini, selayaknya pemanjat tebing dalam menikmati setahap demi setahap panjatannya. Yang bisa menguarkan kenikmatan sensasi, bukan hanya bebatuan sebagai pijakan, tetapi juga rasa degup adrenalin yang semakin kencang, mana kala melihat dasar tebing yang mulai menjauh, dan tampak curam, di tambah suasana kiri kanan yang mulai terlihat indah mempesona untuk dinikmati dari ketinggian di tahapan satu ke tahapan tebing berikutnya.
Begitu juga diksi apa adanya dari Puisi guritan Penyair Danarto Jatman ini, akan mulai tampak misterinya tatkala penikmat mengawali masuk di bait 5/., di baris (1) yang tertulis /Tiada kudengar sesuatu (1)/ dengan segala argumentasinya di baris (2) sampai dengan baris (6). Pelahan tapi pasti yang tadinya terkesan diksi apa adanya berhasil mengubah cara pandang penikmat puisi menjadi tidak lagi menikmati diksi puisi murni apa adanya, tetapi ternyata memunculkan adanya potensi makna batin di bait ke 6/., sampai dengan bait 9/.
Puisi memang pada umumnya punya makna apa adanya, dan makna batin di setiap diksinya [7]. Di masing masing baris dari bait bait tersebut terasa mengisyaratkan misteri melalui diksi, misalnya diksi: /Peri, Sulaiman, Anglingdarma, Karnaval topeng-topeng, Tuhan/. Diksi diksi ini, berpotensi kuat mengandung makna batin lebih dominan dari pada makna apa adanya. Ternyata, oh ternyata, sepertinya Sang Penyair pun tak sanggup berlama lama bersama kosa kata apa adanya, dan kembali memilih diksi yang masih mengandung misteri. Tentang makna batin yang penuh misteri ini, selanjutnya, Penulis serahkan penikmatannya pada Penikmat berikutnya. Silakan.
Selamat berpuisi: Penyair, Penikmat Puisi, dan yang bukan keduanya.
Daftar Pustaka
- Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah,https://dapobas.kemendikdasmen.go.id/home?show=isidata&id=1244
- © 2026 Sepenuhnya. All rights reserved. https://www.sepenuhnya.com/p/puisi-karya-darmanto-jatman.html
- Arif Kurniawan, Dra. Y ayah Chanaf i ah,M .Hum, Drs.A mri l Canrhas, M .S., 2024, Realisme Magis dalam Antologi BerhalaKarya Danarto, JURNAL ILMIAH KORPUVol. No. 2, 202ISSN (online): 2614-6614, https://doi.org/10.33369/jik.v8i2.27943
- Sri Syahputri, Tasya Amelia Saragi, SaniHutabarat, Erika Cyntia P. Silitonga, Mieke Angelika Siburian, PutriAlicyaZafira, AtikaWasilahSipayung, 2025, nalisis Makna Ganda Menggunakan Pendekatan Semiotik Saussure dalam Mengkritik Cerpen Pantura Karya Danarto, eSience Humanity Journal Volume 5 Number May 2025, DOI: https://doi.org/10.37296/esci.v5i2.271
- Dra, Henilia, M.Hum, 2021, PENYIMPANGAN BAHASA DALAM SEBUAH PUISI, Jurnal Insitusi Politeknik Ganesha Medan, Juripol, Volume 4, Nomor 2, September 2021
- Hanindita Basmatulhan, 2022, “Lagu Cublak Cublak Suweng: Asal, Lirik, dan Maknanya”, detikedu https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6215084/lagu-cublak-cublak-suweng-asal-lirik-dan-maknanya.
- Ririn Aminatun Sholikah, Nada Anggun Rahmadani, Aliya Nikmatul Fitri, 2026, Makna Konotatif dan Denotatif dalam Puisi Sutan Takdir Alisjahbana “Kepada Kaum Mistik” Kajian Semantik, NirmalaBasa: Jurnal Bahasa, Sastra, Pembelajaran, dan Pengajaran, UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, Volume 1, 2026.
Penulis: Kek Atek atau Kakek Atek, biasa dikenal juga sebagai Atik Bintoro. Penikmat Puisi tinggal di Rumpin, Bogor, Jawa Barat – Indonesia. Pegiat Komunitas Dapoer Sastra Tjisaoek.
