Nisa adalah santri baru di Pondok Pesantren Al-Ikhlas. Usianya baru lima belas tahun, dan ia masih merindukan kasur busa serta kipas angin. Kehidupan di asrama yang ramai, dengan lantai semen dingin dan udara pengap, adalah tantangan besar baginya. Di pesantren, satu hal yang paling sering hilang atau tertukar adalah sandal jepit.
Pagi itu, setelah salat subuh berjamaah di musala, Nisa bergegas menuju tempat wudu. Air keran yang dingin menyegarkan wajahnya yang masih mengantuk. Selesai berwudu, ia mencari sepasang sandalnya yang berwarna merah muda.
Nisa menggeser tumpukan sandal di rak, lalu menengok ke bawah bangku. Kosong. Sandal pinknya hilang.
“Aduh, ke mana lagi sih?” gumam Nisa kesal. Ini sudah ketiga kalinya sandalnya hilang dalam dua minggu. Padahal, ia sudah menulis namanya di tali sandal dengan spidol permanen.
Ia terpaksa mengambil sandal butut milik seorang senior yang tampaknya sudah tak terpakai, ukurannya kebesaran dan sering membuat Nisa terjatuh.
“Hei, Nisa!”
Terdengar panggilan tegas dari ustazah Aisyah, pengurus keamanan yang bertugas mengawasi ketertiban. Wajah ustazah Aisyah selalu tampak tenang.
“Ya, Ustazah?”
“Kenapa kamu memakai sandal bukan milikmu? Dan kenapa sandalku yang lain berserakan di depan tangga? Itu area wudu, bukan tempat penyimpanan umum!”
Ustazah Aisyah menunjuk tumpukan sandal yang berserakan karena ulah Nisa saat mencari sandalnya yang hilang. Nisa menunduk, malu.
“Maaf, Ustazah. Sandal saya hilang lagi. Saya kesal, jadi saya…”
Ustazah Aisyah menghela napas, kemudian ustazah Aisyah memberi hukuman kepada Nisa. “Baik. Hukumannya ringan. Hari ini kamu bersihkan semua area penyimpanan sandal di tiga tempat wudu, termasuk membersihkan lumut yang ada di lantai.”
Nisa menelan ludah. Kemudian Nisa melaksanakan perintah ustazah Aisyah.
“Siap, Ustazah.”
Sepulang sekolah, Nisa mengambil sikat, sabun, dan ember. Dengan hati yang berat dan sedikit jengkel, ia mulai menyikat lantai di area wudu.
“Kenapa sih harus sesulit ini? Cuma sandal hilang saja, kenapa harus repot-repot sikat lumut?” gerutu Nisa dalam hati sambil menyikat keras-keras.
Ia merasa bahwa aturan pesantren ini terlalu berlebihan. Bukankah belajar agama, seharusnya tentang kesabaran dan kebaikan, bukan sandal dan kebersihan lantai?
Saat sedang menyikat di tempat wudu belakang, ia menemukan sesuatu. Terselip di sudut tembok, ada sepasang sandal jepit yang sangat bersih. Sandal itu tampak biasa, yang terbuat dari karet, tetapi letaknya sangat rapi, disisipkan ke tembok.
Nisa mengenalinya. Itu adalah sandal yang selalu dipakai Ustazah Aisyah. Sandal itu tidak pernah terlihat di rak umum, selalu ada di tempat yang tersembunyi dan rapi.
Rasa penasaran mengalahkan rasa lelahnya. Saat ia selesai dengan hukumannya, ia melihat Ustazah Aisyah sedang duduk di saung, sambil membaca kitab kuning. Nisa memberanikan diri mendekat.
“Ustazah, maaf mengganggu. Saya mau bertanya tentang sandal Ustazah.”
Ustazah Aisyah menutup kitabnya, menatap Nisa dengan senyum kecil yang jarang terlihat.
“Tentu, Nisa. Tentang sandal bututku bukan?”
“Saya lihat, sandal Ustazah selalu ada di tempat yang sama, tersembunyi, dan selalu bersih. Bagaimana Ustazah bisa mempertahankannya? Soalnya Sandal saya selalu hilang atau tertukar,” tanya Nisa.
Ustadzah Aisyah tersenyum. Ia menunjuk ke sepasang sandal Nisa yang kebesaran (sandal pinjaman) dan sandalnya sendiri yang tertata rapi di samping pintu.
“Jadi begini, Nisa. Di pesantren, sandal itu adalah pelajaran pertama tentang menjaga diri dan harta. Kita hidup bersama ratusan orang. Jika kamu tidak peduli pada benda sekecil dan semurah sandalmu, kamu akan mudah ceroboh terhadap hal-hal yang lebih besar, contohnya seperti menjaga waktu salat atau menjaga kebersihan hatimu. Saat kamu meletakkan sandalmu secara acak setelah wudu, kamu tidak hanya menghilangkan barangmu, tetapi kamu juga mengganggu ketertiban orang lain. Sandal yang berserakan membuat orang tersandung. Itu artinya kamu menyebabkan dhoror (kerugian) kecil pada sesama.”
Nisa mulai memahami. Ia ingat betapa ia kesal saat sandal orang lain menghalangi jalannya.
“Lagipula,” lanjut Ustazah Aisyah, “dalam Islam mengajarkan, sesuatu yang hilang dari tempatnya, maka ia telah hilang. Jika kamu meletakkan sandal di tempat yang semestinya, tidak ada yang berani mengambilnya, karena itu adalah hak milik yang dihormati. Saya tahu hukuman membersihkan lantai membuatmu kesal,” kata Ustazah Aisyah lembut.
“Tapi, itu bukan hanya tentang lumut di lantai, Nak. Itu tentang membersihkan kekesalan di hatimu. Karena saat kamu fokus pada sikat dan sabun, kamu melupakan kekesalanmu. Setelahnya, hatimu bersih, dan kamu bisa menerima pelajaran dengan baik. Intinya, Nisa, jika kamu bisa disiplin dan hati-hati dalam menjaga satu pasang sandalmu, kamu akan menjadi orang yang disiplin dan hati-hati dalam menjaga menjaga amanah yang lebih besar, seperti hafalanmu atau tanggung jawabmu kelak di masyarakat.”
Malam harinya, setelah pelajaran sorogan (setoran hafalan), Nisa kembali ke kobong. Biasanya ia akan langsung rebahan, memikirkan betapa membosankan hidup ini. Namun kali ini, ia mengambil kain lap dan mulai membersihkan sudut- sudut kobongnya sendiri.
Ia mulai merapikan buku-buku teman-temannya yang berserakan, menumpuk sarung-sarung kotor di keranjang yang seharusnya, dan melipat selimutnya sendiri dengan rapi. Ia tidak merasa terpaksa. Ia merasa… damai.
Saat ia sedang merapikan rak di dekat pintu, ia menemukan sesuatu yang membuatnya tersenyum. Sandal merah mudanya, yang ia pikir sudah hilang selamanya, terselip di bawah tumpukan karung bekas. Ternyata hanya terselip, bukan hilang.
Nisa mengambil sandalnya, membersihkannya, dan meletakkannya tepat di bawah ranjangnya, menghadap ke arah kiblat kebiasaan baru yang ia lihat dilakukan oleh santri senior.
Ia menyadari, masalahnya bukanlah sandal yang hilang, tetapi perhatian yang hilang. Selama ini, ia melihat pesantren sebagai kumpulan aturan yang membelenggu. Kini, ia mulai melihatnya sebagai sekolah kepribadian, tempat setiap detail kecil—bahkan sepasang sandal jepit—dirancang untuk melatih jiwanya menjadi lebih kuat dan lebih tertib.
Malam itu, saat lampu kobong dipadamkan, Nisa tertidur nyenyak di atas kasur. Dinginnya malam tidak lagi mengganggunya, dan ia sudah siap menyambut dentuman kentongan pukul 03.00 pagi. Ia tahu, di balik setiap aturan yang kaku, ada hikmah yang menunggu untuk ditemukan. Dan ia, seorang santri baru, yang baru saja memulai perjalanan menemukan hikmah itu, selangkah demi selangkah, dengan sandalnya yang kini ia jaga sepenuh hati.
Sri Kartini adalah mahasiswa Institut Studi Islam Fahmina.
