Cerbung

Menggambar Bintang : Kisah Seorang Anak Suku Asmat (7)

Jangan Lupa Di Rate Ya!
Tinggal Pilih Bintang Saja!

Bab VII

Gadis Dusun Sagu

Dewi Linggasari

“Magda, besok pagi tanggal merah ke rumah ya! Kita orang ada mau bakar-bakar.” suara lembut Ibu Guru Ambar nyaris mengejutkanku dari arah belakang.

“Ajak Nurul juga!” Senyum ibu guru teramat tulus, tak seorang pun mampu menolaknya.

“Dengan senang hati Ibu.” tak dapat aku menahan diri untuk tidak tersenyum, acara makan bersama ikan bakar selalu menyenangkan. Aku tak tahu mengapa ibu guru harus menyelenggarakan acara bakar-bakar, tak perlu bertanya, tapi pasti menghadirinya.

Maka pagi hari pada tanggal  merah itu kami telah melebur dalam kegembiraan kelompok kecil, beberapa orang guru, Fransis, Nurul juga Diana, dan seorang siswa yang belum lama kukenal, Yodi bersama-sama memotong-motong ikan dan ayam, membumbuinya dengan rempah-rempah. Fransis  demikian gesit  menyalakan kayu bakar, kemudian membakar ikan serta ayam dibantu Yodi. Diana memasak nasi serta menyiapkan lalapan, aku membantu ibu guru menggerus sambal, menyiapkan minuman dingin serta seperangkat perlengkapan makan.


Akhirnya semuanya siap, secara mengejutkan beberapa orang guru tiba-tiba hadir dengan kue tart berhias indah dan lilin bertuliskan angka 48 pada sebuah piring lebar. Kiranya Ibu Guru Ambar tengah merayakan ulang tahun yang ke 48, suasana menjadi meriah dengan lagu selamat ulang tahun serta tepuk tangan. Ketika Ibu Guru Ambar meniup lilin kemudian memotong kue, sepasang matanya tampak berkaca-kaca. Aku tersadar, tak ada tampak suami ibu guru juga anak-anaknya, dimana anggota keluarga yang lain? Kami yang hadir pada hari ini 27 Agustus adalah anggota keluarga Ibu Guru Ambar. Raut wajah Ibu Guru Ambar tiba-tiba menjadi sendu, sedemikian sendu, sehingga hatiku tiba-tiba bergetar dasyat, air mata nyaris tergenang. Di balik senyum serta kelembutan, setiap pribadi kiranya menyimpan misteri.

Acara makan-makan berlangsung dengan hangat, nasi panas, ikan serta ayam lalapan, dengan sambal pedas serta minuman dingin dalam suasana kekeluargaan sungguh nikmat tanpa dapat disangkal. Aku tengah meneguk minuman dingin ketika tanpa sadar menoleh pada sepasang mata yang menatap sedemikian dekat. Sepasang mata Yodi, pelajar baru pindahan dari Merauke, menyertai orang tuanya dalam rangka tugas pemerintahan dan kini menjadi salah satu pelajar SMA, dan kini tengah menatap pada jarak dekat seakan ingin menjenguk isi yang paling dalam. Atau, lebih tepatnya ingin menelan segala yang aku miliki. Bulu kudukku meremang, antara terkejut, gentar, dan ketakutan. Beberapa saat waktu seakan terhenti, aku merasa terlempar ke peta yang sungguh jauh, bukan lagi berada di tempat berpijak, tempat makan bersama pada ulang tahun Ibu Guru Ambar.

“Kau cantik sekali Magda,” suara Yodi berbisik seakan angin dingin berkesiur dari tempat yang paling beku.

Sejenak aku menatap sepasang matanya, tenggorokanku tercekat, bola mata itu seakan danau kembar sedalam lautan yang memanggil sekaligus menenggelamkan. Perasaan gamang serta aneh menghantam sedemikian kencang, aku tahu, tanpa pertimbangan yang kuat, tubuhku pasti terseret, tenggelam, lalu hilang menuju entah. Yodi berperawakan tegap, dengan kulit agak terang dan rambut digunting pendek seakan pasukan perang. Aneh, mengapa ada seorang berkulit terang, berambut ikal yang menyatakan aku cantik?

“Kau dengar kata-kataku?” suara Yodi kembali berbisik, perlahan, tetapi pasti.

Lidahku membeku tanpa sepatah kata. Yodi memang masih sekitar tiga bulan menjadi pelajar baru di sekolah ini, tetapi betapa sering ia tertangkap mencuri pandang. Aku tak tahu arti tatapan itu, tak perlu tahu, tapi kali ini aku harus tahu. Yodi menginginkan sesuatu dari seorang laki-laki terhadap seorang perempuan, tanpa persetujuan. Tiba-tiba aku merasa tersudut pada dinding yang sangat dingin dan kelam, tanpa mampu bertindak apa-apa, andai aku tak mampu mengatakan “tidak”. Nasi yang tertelan tiba-tiba terasa sekam, perlahan kurentangkan jarak, sengaja kupetik sehelai daun jeruk di teras ibu guru untuk menghalau amis dari telapak tangan.

Rumah ibu guru amat mungil dengan teras samping yang cukup lebar untuk acara makan bersama, tangga menuju kolam dengan air cokelat susu, pohon-pohon bakau yang rindang serta aneka tanaman hias di dalam pot bunga yang ditata indah. Bulu kudukku kembali meremang ketika terasa tangan kekar menggenggam lenganku yang rapuh. Kali ini Yodi tak mengatakan apa-apa, tetapi aku sungguh merasa gamang dengan binar pada bola matanya. Aku ingin berlari sejauh mungkin, tetapi genggaman tangan Yodi sedemikian keras.

“Magda, kue ulang tahun masih banyak. Ayo!” suara Ibu Guru Ambar menyelematkanku, ada alasan untuk  membebaskan diri dari kehadiran Yodi serta keinginannya yang tak bisa kumengerti.

Black forest itu sungguh nikmat, aku makan bunuh—makan sekenyang-kenyangnya, hingga tiba saatnya untuk membersihkan seluruh perlengkapan makan yang kotor, membersihkan seluruh ruangan, maka keadaan rumah kembali seperti sediakala. Aku masih menyibukkan diri membersihkan lantai ketika seluruh tamu berpamitan. Seluruh kesibukan hari ini benar menyebabkan lelah, sehingga tanpa sadar aku berbaring di depan TV, di atas karpet, memejamkan mata beberapa tabuh dan terjaga ketika suasana rumah sudah sunyi. Ibu Guru Ambar tengah berbaring di dalam kamar, ibu guru sengaja membiarkanku tertidur, ia tahu aku lelah dengan semuanya.

Sekilas aku menatap pada deretan buku, tanpa sadar kuraih satu judul, Burn Alive—sebuah kisah  nyata tentang kekerasan pada perempuan di Tepi Barat, Palestina. Kisah yang teramat dasyat dalam rangkaian bahasa sastra yang indah dan tak dapat lagi dikritisi. Adalah seorang gadis gembala domba yang jatuh cinta kepada pemuda tetangga, ketika langkah itu terlalu jauh hingga terjadi kehamilan di luar pernikahan. Si gadis harus menanggung aib, dibakar hidup-hidup pihak keluarga, karena dinyatakan berdosa. Sementara sang pemuda bebas, meneruskan pendidikan, mengejar cita-cita. Suatu kehidupan dalam budaya patriakal, adat isti adat yang menyudutkan perempuan, menyeretnya pada suatu tempat yang sungguh kelam tanpa pertolongan. Aku tak tahu berapa lama duduk membaca menyusuri kalimat demi kalimat hingga tiba-tiba suara Ibu Guru Ambar terdengar mengejutkan.

“Kisah nyata yang ditulis dengan hebat dan layak dibaca.”

“Ibu mohon maaf, saya membaca tanpa ijin.” suaraku tergagap, aku telah menghaki satu judul buku tanpa ijin pemiliknya.

“Bacalah, buku memang untuk dibaca. Engkau boleh datang ke rumah ini setiap waktu untuk membaca, engkau siswi yang pintar. Jangan sia-siakan waktu, nanti saya akan membantu supaya engkau dapat pula kuliah di Yogya dengan beasiswa.” Ibu Guru Ambar duduk santai di atas kursi, suasana rumah sunyi hanya tinggal kami berdua.

“Tapi, mohon maaf. Ibu tinggal sendiri?” aku memberanikan diri bertanya. Beberapa tabuh berlalu sebelum akhirnya Ibu Guru Ambar menjawab.

“Tara, ibu punya anak sudah kuliah di Yogya, Bapak sudah lama berpulang. Kenangan itu terlalu indah, tak mungkin aku mengganti dengan kenangan lain.” wajah Ibu Guru Ambar berubah sendu, sepasang matanya yang nyaris menjadi kubangan danau menatap deretan foto yang terpajang pada dinding rumah.

Hatiku teriris, foto itu dipenuhi kenangan saat Ibu Guru masih tinggal bertiga dengan suami serta Tara, Ibu Guru tak hendak menggantikan kenangan itu dengan foto yang lain. Hari lalu benar telah berlalu, akan tetapi kenangan abadi menyatu dalam ingatan, tak tergantikan, dengan akibat Ibu Guru memilih seorang diri tanpa kehadiran sesiapa.

Suasana berubah tanpa terkendali, kulihat sunyi yang teramat dalam pada sepasang bola mata yang indah itu. Diam-diam aku merasakan kehilangan yang sama, tiba-tiba pusaran arus seakan menyeretku ke dalam makam mama dan adik kecil di samping rumah yang semakin kelam. Betapa dekat jarak antara kehidupan dan  kematian, betapa tipis batas antara fana dan keabadian. Manusia hanya pelaku.

Sementara waktu melesat demikian cepat seakan terbang, sinar matahari roboh menjadi cahaya kekuningan yang membias pada warna hijau daun. Kurasakan hening yang ganjil dan tak biasa. Ketika akhirnya berpamit aku masih dalam satu keinginan untuk kembali ke tempat yang sama, membaca buku dan berbincang-bincang, ada suasana nyaman. Sosok tegar serta lembut Ibu Guru Ambar memberikan rasa nyaman, seorang yang dapat berbagi serta bersahabat tanpa membedakan suku, ras, agama, dan golongan.

Minggu berikutnya aku menyediakan diri mengunjungi Ibu Guru Ambar, suasana rumah lebih hening dari hari-hari biasa. Tak ada acara bakar-bakar, tak ada kue ulang tahun, tak ada kehadiran tamu, hanya aku dan Ibu Guru.

“Magda, saya kira engkau tidak bersedia datang lagi.” Ibu Guru masih dalam keramahan yang sama, tangan yang hangat itu menggandengku ke almari buku. “Hanya dengan membaca wawasan dan pengertian akan terbuka. Dan ingatkah situasi kita sebagai perempuan, bila perempuan tidak berdaya upaya, bersaing positif dengan laki-laki, kita tidak akan pernah mencapai kesetaraan gender. Sudah engkau baca sendiri kasus yang terjadi di Tepi Barat, budaya patrikhal, kesepakatan bersama tidak tertulis yang menempatkan perempuan sebagai korban. Perempuan akan tetap bernasib malang bila tidak membela dirinya sendiri.”

Kata-kata Ibu Guru Ambar menyebabkan aku terdiam, selama ini tak seorang pun mengajakku berbicara tentang gender, tentang nasib malang perempuan. Akan tetapi, betapa aku telah melihat pada kehidupan di seputar kampung. Kekerasan yang terjadi, karena perkawinan dini, satu keluarga muda tanpa pekerjaan tetap dengan anak-anak yang lahir setiap tahun dan beberapa di antaranya meninggal, karena ispa, malaria serta diare. Pada beberapa kasus perempuan bahkan mengalami cacat permanen serta kematian di tangan suami. Tanpa sadar aku menghela napas panjang, mengakui kebenaran kata-kata Ibu Guru Ambar.

Tiba-tiba bahkan terlintas bayangan Yodi, seorang pelajar yang bahkan belum lama kukenal, akan tetapi telah memiliki keinginan demikian kuat untuk terus mendekat, dengan suatu dorongan untuk menguasai serta menimbulkan rasa takut. Kini aku mengerti, mengapa Yodi harus berperilaku seperti itu, ia merasa berhak berlaku sesuka hati terhadap seorang pelajar putri, karena ia adalah seorang laki-laki. Ia tidak perlu meminta persetujuan, ia bahkan bisa berlaku apa saja, bila sang perempuan tidak berkehendak menyatakan “tidak”.

“Masih ada waktu mempersiapkan diri untuk pendidikan yang lebih tinggi. Ibu akan membantumu mendapatkan beasiswa ke Yogya, pendidikan serta kemampuan kerja seorang sarjana akan mengubah takdir manusia. Kuliah mungkin sekitar lima tahun, akan tetapi akan membangun karakter menjadi lebih baik,” kata-kata Ibu Guru demikian mantab.

“Saya belum pernah ke Yogya Ibu.” ada cemas menyusup sedemikian dalam yang membangkitkan rasa takut. Bagaimana aku seorang gadis dari dusun sagu akan dapat menyelesaikan pendidikan tinggi di Yogya, di kota yang amat jauh, berjam-jam melayang di dalam burung besi, dengan kehidupan serta adat isti adat yang asing.

“Yogya dikuasai anak muda, tempat belajar, mahasiswa Papua, Maluku serta NTT banyak. Tak ada yang harus engkau cemaskan, tak ada pula yang harus engkau takutkan. Yakinlah bahwa engkau akan menyelesaikan pendidikan di kota itu dan pendidikan itu pasti akan selesai. Sekarang, manfaatkan waktumu untuk membaca, buku ini bisa dibaca di rumah ini, bisa pula dibawa pulang ke rumah, mata pelajaran di sekolah amat terbatas, tak bisa sebagai jaminan untuk memahami seluruh kehidupan, kecuali kita membaca dan membaca. Ada majalah tentang Yogya, bacalah …. “ Ibu Guru mengulurkan sehelai majalah, tak lama kemudian aku telah tenggelam di dalamnya.

Yogyakarta, nyaris tiga abad peradaban yang semula dibangun Sultan Agung, Panembahan Senopati dan seluruh keturunan hingga kini atas pemberian lahan dari Sultan Demak, dengan Keraton sebagai pusat lingkaran konsentris. Lahan subur di seputar Gunung Merapi, Pantai Selatan, Prambanan, Borobudur sebagai situs sejarah serta Universitas Gadjah Mada, kehidupan bersahaja di sekitarnya memberi harapan bagi sekalian kawula muda untuk memiliki kehidupan yang lebih baik.

“Teruslah membaca, ibu ke pasar sebentar.” tanpa menunggu jawaban Ibu Guru menempatkan diri di atas motor listrik, menekan gas, maka kendaraan roda dua itu secara ajaib meluncur menuju arah pasar, meninggalkan suasana hening di dalam rumah, karena benar kini aku cuma seorang diri.

“Magda.”

Tiba-tiba keheningan ini terpecah oleh suara Yodi, seperti siluman pemuda ini telah berdiri tepat di hadapku, raut wajahnya penuh kesombongan seolah berwenang mengatur seluruh hidupku. Di tangan Yodi ada bibit tanaman, ia tak peduli dengan bibit tanaman itu, tatapannya nanar, seakan berkobar lidah api pada sepasang bola matanya yang seram.

“Saya bawa bibit tanaman untuk Ibu Guru.”

“Ibu Guru ada ke pasar, sebentar kembali.”

“Kamu sendiri?” langkah Yodi mendekat, tak berapa lama aku merasakan dekapan kuat yang tak dapat kulawan, napas itu memburu, sesaat bibirnya menyentuh bibirku. Aku tak merasakan apa-apa, kecuali kemarahan, waktu yang tiba-tiba membeku, dan geram, karena tak berdaya menyelamatkan diri sendiri. Masih ada sisa tenaga untuk melayangkan tangan, dan…

Plak!

Wajah Yodi mendadak memucat, ia tak pernah menyangka seorang gadis dari dusun sagu akan memiliki keberanian menampar pipi, karena kelancangannya. “”Kalau masih mau satu tamparan untuk kau punya pipi kiri?” aku masih memiliki keberanian untuk itu. Kutatap lekat-lekat sepasang mata Yodi, kubahasan penolakan, agaknya ia tidak menyerah. Yodi tak hendak mengerti arti penolakan, yang ada ialah kemenangan atas seorang gadis. Kali ini ia mencengkeram pundakku, setengah membenturkan ke dinding, tak ada lagi jarak.

“Tak seorang pun menolakku, tak seorang pun!” suara itu mendesis seakan ular yang marah, diam-diam bulu kudukku meremang. Aku tak akan pernah tahu apa yang mesti terjadi setelah itu, bila Nurul tidak tiba-tiba datang, bersuara sebelum melihat apa yang tengah terjadi.

“Selamat sore!”

Yodi segera melepaskan cengkeraman pada pundak, aku hanya mematung, tak mampu mengucap sepatah kata ketika Nurul nampak dengan bibit tanaman pula. Rupanya keduanya memenuhi permintaan Ibu Guru Ambar untuk bibit tanaman yang berbeda, Ibu Guru gemar mengoleksi aneka jenis tanaman yang kini menghias indah teras samping serta depan rumah. Menatap hijau daun serta aneka warna bunga memang menenangkan, akan tetapi mengalami kekerasan di antara rupa tanaman hias, sungguh menyedihkan.

“Ah, kalian selalu berdua.” Nurul tersenyum nakal, ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi,  tak perlu tahu, dan tak pernah tahu, bahwa kedatangannya menyelamatkanku.

“Ibu Guru Ambar dimana? Saya ada bawa bibit jeruk purut.” Nurul mencari-cari pot yang kosong, tanpa persetujuan Ibu Guru segera menanam bibit jeruk itu, menyiramnya dengan air kemudian menempatkan pada salah satu sudut.

“Ibu Guru ada ke pasar, sebentar kembali,” jawabku singkat.

“O ya, buku Namaku Teweraut tulisan Ibu Ani Sekarningsih sudah selesai saya baca. Kedua tokoh akhirnya meninggal.” Suara Nurul sendu seakan terlarut dalam suasana berkabung yang tak akan pernah berakhir, karya sastra memang berkuasa mempengaruhi emosi pembaca.

“Saya mau baca Anne Frank.” Tanpa kembali bersuara Nurul segera melangkah menuju ke dalam rumah, menempatkan diri di depan rak buku, mencari-cari satu judul kemudian berbaring di atas kursi panjang, membaca. Ia berlaku seakan tengah tinggal di dalam rumahnya.

Sementara Yodi masih menatapku dengan sepasang mata dibakar api kemudian melangkah geram, tak pernah menoleh lagi. Aku tahu ia tak akan pernah menyerah, tak akan pernah memaafkanku. Diam-diam aku dihantui rasa gamang, suatu perasaan yang dapat menyebabkan binasa, karena harus menanggung tekanan atas kemauan seseorang yang tak akan pernah dapat kupenuhi. Kuhempaskan diri di atas kursi, kiranya bukan hanya Marius dan Hengki yang menggangguku di rumah, kini Yodi melakukan hal yang lebih menakutkan di lingkungan sekolah. Di mana pun tempat kiranya perempuan selalu ditempatkan sebagai korban, kecuali yang bersangkutan berusaha melawan.

Dan aku, Teweraut selalu memiliki alasan untuk melawan.

Langkahku masih enggan ketika menuju rak buku untuk memeriksa beberapa judul, memilih yang terbaik kemudian membuka lembar demi lembar untuk menyelami kehidupan di dalamnya. Kali ini aku gagal mengeja kata demi kata, yang terbayang wajah Yodi, wajah yang diliputi kesumat dendam. Aku tak pernah menginginkan hubungan seperti ini, seorang anak gadis kepala suku berhak memilih dengan laki-laki mana mesti berbagi, aku tak akan pernah berbagi dengan Yodi, sehebat apa pun kepandaiannya di dalam kelas. Mestinya ia meminta persetujuan, bukan memaksakan kehendak. Suatu saat ia akan tahu kehendaknya memiliki batas. Ia pasti akan tahu.

Aku hanya membalik-balik majalah serta koran yang sudah lewat tanggal, nyaris tak ada koran baru di tempat ini, karena faktor transportasi. Isi kepala seakan serupa badai, ingin menjauh dari tatapan mata Yodi yang membangkitkan rasa cemas, seolah aku bukanlah apa-apa, kecuali seorang gadis dusun yang harus menuruti kemauannya. Yodi tidak tahu, tidak mau tahu, bahwa aku tidak seperti itu. Kini aku tahu arti rasa geram sekaligus tak berdaya.

“Nanti engkau mau meneruskan kemana Magda, Ibu Guru pernah sampaikan mau mencarikan beasiswa supaya engkau bisa kuliah di Yogya? Engkau bersedia, kalau benar kita akan selalu bersama. Aku juga mau ke Yogya.” Kata-kata Nurul demikian polos, seakan ia enggan berpisah selama masa-masa pendidikan yang panjang. Perlukah aku ragu-ragu dengan setiap kata-katanya?

“Ibu Guru menyarankan demikian, tetapi entahlah. Beasiswa bukan perkara mudah, selama hidup aku bahkan belum pernah ke Yogya.” Beban lain menekan isi kepala, bagaimana aku bisa  mendapatkan beasiswa ke Universitas Gadjah Mada? Seorang gadis dusun sagu  yang besar di bevak, selalu dikelahi saudara laki-laki, tanpa mama kandung?

“Yogya dikuasai mahasiswa, segala kebutuhan hidup menjadi murah untuk memenuhi kebutuhan anak kos. Ada banyak situs wisata budaya, wisata alam serta sejarah, kita tidak akan pernah kehabisan tujuan untuk jalan-jalan. Buku-buku dan majalah mudah didapat, nenek di Yogya, nanti saya tinggal di rumahnya. Kalau benar ke Yogya, engkau bisa juga tinggal di rumah sampai menemukan tempat yang engkau senang. Setiap libur engkau bisa berkunjung dan tinggal di rumah.” Nurul terus berkicau, seolah yakin bahwa kami akan menjadi bagian pasti dari kehidupan kota itu.

“Aku akan mendaftar ke dua tempat, UGM dan UII salah satunya harus tembus. Mama bilang harus kuliah, bekerja baru menikah, tidak boleh pacar-pacaran, hanya mengganggu saja.” Nurul selalu lepas bicara seolah dalam hidup tak pernah ada yang menekan atau menyakiti hati. “O ya, bagaimana dengan Yodi? Ehem …..” Nurul tersenyum nakal. “Kiranya ada yang jatuh cinta …. Ha ha ha ….” Nurul tergelak, suaranya memenuhi seisi ruangan. Diam-diam wajahku merah padam.

“Yodi tampan juga, juara kelas, Dan berkeras mengejarmu.” Nurul kembali menekuni catatan harian Anne Frank, rasa ingin tahu gadis ini terlalu tinggi. Juara kelas benar secara tiba-tiba dipegang Yodi, tetapi Nurul dapat bertindak lebih cepat, gesit, bertanggung jawab, juga pintar tersenyum nakal.

Kali ini aku tak menanggapi pembicaraan Nurul, ia tak tahu isi hatiku, betapa kehadiran Yodi menyebabkan pikiranku gamang. Tak bisa kubayangkan andai dengan tololnya aku merasa nyaman dengan kehadiran itu, Yodi akan berbuat apa saja, dan akhirnya aku tak akan pernah dapat memaafkan kesalahannya. Satu hal yang dapat kulakukan adalah melupakan.

“Hello cewek-cewek. Baca apa sekarang?” suara Ibu Guru mengejutkan, pada genggaman tangannya adalah seekor ikan kakap serta sayur mayur. Ibu Guru Ambar hendak memasak, tiba-tiba aku kehilangan minat baca,  akan lebih baik bila aku membantunya memasak dari pada mendengar kata-kata nakal Nurul tentang Yodi.

“Ibu, mari saya bantu!” dengan cekatan kuraih ikan kakap di tangan Ibu Guru, kubawa ke arah belakang untuk kubersihkan.

“Ibu guru  mau masak apa ikan ini?”

“Mau dibakar.”

“Baik Bu.”

Ikan cukup dibersihkan, disayat pada kiri kanan kulitnya, dikucuri jeruk untuk menghilangkan amis, dibubuhi garam, kecap serta lada halus. Kemudian kunyalakan api tungku, sementara Ibu Guru menanak nasi serta memetik kangkung cabut untuk ditumis. Demikianlah menu makan sehari-hari di wilayah ini.

“Ada kumpulan soal-soal ujian di almari, engkau harus mulai membaca sebelum ujian benar tiba. Tidak perlu lagi belajar teori,” Ibu Guru membuka pembicaraan. “Ada satu jalur seleksi berdasarkan minat dan kemampuan, mendaftarlah ke Universitas Gadjah Mada jurusan Bahasa. Engkau berbakat untuk itu. Persoalan biaya, nanti ibu carikan beasiswa, yang penting sekarang dan esok manfaatkan waktumu untuk belajar,” suara Ibu Guru tanpa ragu sedikit pun.

“Mengapa Ibu bersungguh-sungguh supaya saya bisa kuliah?”

“Pendidikan mengubah takdir manusia, atau engkau sudah merasa cukup dengan ijazah SMA? Menjadi pegawai golongan dua dan entah bagaimana nasibmu kelak. Nasib perempuan di tangan perempuan itu sendiri, bukan di tangan suami. Bila dulu Ibu Guru tidak kuliah dan sekarang Tara punya papa meninggal, bagaimana nasib anak yang kulahirkan? Atau, kita menikah tanpa bekal kemampuan kerja, tanpa power dan pihak laki-laki bertindak sekehendak hati, karena mengira dirinya memiliki lebih banyak dari pada perempuan. Selagi masih ada waktu, selamatkan hidupmu. Saya sudah putuskan menetap di tempat ini, berharap akan ada seorang perempuan Asmat yang benar-benar kuat dan mampu menyelamatakan seluruh hidup, mampu menjadi panutan.”

Tahun ini aku pada semester genap kelas sebelas, masih ada satu tahun mempersiapkan diri mengikuti petunjuk Ibu Guru. Kutatap wajah lembut Ibu Guru, wajah yang menyembunyikan kecerdasan serta niat baik untuk selalu berbagi tanpa membedakan suku, ras, agama, dan golongan. Kini aku mematung di antara dua keinginan yang membingungkan, memenuhi keinginan Ibu Guru meneruskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi–-sekaligus memenuhi panggilan hati terdalam serta bersitegang melampaui hal-hal baru yang belum pernah dapat terbayangkan. Mampukah Teweraut menembus seleksi ke Perguruan Tinggi terbaik, melampaui proses panjang di dalamnya hingga sampai pada hari mengenakan toga? Tanpa sadar aku menarik napas panjang, memejamkan mata, kemudian kembali membersihkan ikan.

“Tak usah cemas, tak usah bimbang, engkau tidak sendiri. Ibu Guru bisa menyertai ke Yogya sambil menjenguk Tara, Nurul juga rencana ke Yogya. Kita akan tetap bersama pada tempat yang berbeda, satu hal, yakinlah dengan keinginanmu. Tanpa keinginan kita tidak akan pernah mencapai apa-apa,” Tangan Ibu Guru dengan cekatan menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, ia selalu yakin dengan setiap gerak laku dan kata-kata. Perlahan aku mulai menyadari kebenaran kata-kata seorang Ibu Guru, aku kembali teringat keinginan keras mama supaya aku menjadi Ibu Guru, kiranya seorang guru bertugas membangun karakter setiap siswa tanpa harus membedakannya. Aku tahu apa yang harus kulakukan dalam waktu kurang lebih dua belas bulan ke depan, mempersiapkan diri bagi pendidikan tinggi. Satu hal yang bahkan bapa tak pernah mampu memikirkan, aku harus memikirkan sendiri tanpa kehadiran mama, juga Jan yang kini bertugas di tempat yang sungguh jauh. Bila tak kumanfaatkan kesempatan ini, maka aku akan kehilangan untuk selama-lamanya.

“Bila libur, bahkan setiap hari pintu rumah ini terbuka, bacalah buku atau bacaan apapun yang ada, ikuti berita, supaya kita bisa menjadi bagian setiap perubahan.” Ibu Guru masih tetap berucap, aku diam mendengarkan hingga seluruh hidangan makan siang ini selesai tertata di atas meja.

“Ayo kita makan di teras saja,” Ibu Guru membentangkan tikar di teras samping, kami telah mengambil nasi serta lauk pauk serta segelas air dingin, kemudian duduk di teras sambal mengunyah makanan.

“O ya, tadi Yodi datang membawa bibit tanaman kemudian pulang,” kutunjukkan anggrek macan di sudut teras. Anggrek itu akan mekar di  bawah hujan sepanjang tahun dengan warna yang langka, dasar hijau serta corak cokelat tanpa bentuk.

“Ehem ….” Nurul kembali berdehem kemudian tersenyum nakal, matanya mengerling penuh arti. Aku pura-pura membuang pandang, Nurul tak tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Sementara ia tak perlu tahu.

“Oh, anggrek macan!“ sepasang mata Ibu Guru Ambar membelalak lebar, telah lama ia mengharap puspa langka mekar di halaman rumah. Pemberian bibit dari Yodi sungguh suatu hal yang sangat berharga, Ibu Guru tidak tahu kejadian saat bibit anggrek macan itu diberikan. Ia pun tidak perlu tahu.

Kami terus makan dengan lahap hingga perut menjadi sesak, mengemasi seluruh perlengkapan makan yang kotor kemudian kembali membaca buku. Kudapatkan catatan Ibu Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang, buku sejarah yang memuat awal mula bangkitnya kesetaraan gender di wilayah Nusantara. Satu proses panjang yang belum dapat seluruhnya dicapai lapisan perempuan Indonesia, termasuk di wilayah tempatku menetap.

Kebiasaan berkunjung ke rumah Ibu Guru Ambar menjadi bagian tetap tak terpisahkan, bahkan akhirnya berkembang menjadi jalan santai di pagi atau sore hari. Olah raga amat penting, demikian pendapat Ibu Guru, aku, Nurul kadang-kadang Fransis menyertai. Aku tak pernah mengharapkan kehadiran Yodi, akan tetapi ketika sore ini juara kelas itu menyertai, aku tak berdaya. Ia juga siswa kesayangan Ibu Guru Ambar, karena kepintarannya. Kehadiran Yodi memancing senyum nakal di bibir Nurul, ia mengerling, mengira kebersamaan Yodi adalah suatu hal yang menggetarkan hati.

Aku membuang pandang, memasang jarak antara Yodi, lebih mendekat ke Fransis. Kami mulai melangkah berkeliling di sepanjang jalan komposit, jalan papan jembatan perlahan ditinggalkan, karena terlalu cepat lapuk serta tidak bisa menampung lalu lintas yang semakin padat. Ketika dengan keangkuhan Yodi menatap, mengharap hatiku luluh, dengan sengaja kugandeng tangan Fransis. Sesaat dapat kutangkap menyala pijar api pada sepasang mata Yodi, ia berharap aku menjauh dari Fransis, ia tidak memiliki cukup perbendaharaan kata, tak berdaya. Kali ini kunikmati kemenangan ini, seorang anak kepala suku berhak memilih tangan siapa yang dapat digandeng, karena alasan menjauh dari Yodi kupilih Fransis. Sejenak dapat kutangkap Nurul melirik, mengerutkan kening, ia kesulitan memahami apa yang sebenarnya terjadi antara kami bertiga. Aku sengaja bungkam, kubiarkan Nurul terjebak tanda tanya, suatu saat ia akan menyadari kesalahannya.

Ada pun sinar mentari mulai condong keemasan jatuh pada hijau daun pohon bakau yang bertumbuh pada kiri kanan jalan. Setiap kali berpapasan kami nyaris melambai, “Daaa…..” suasana menjadi hangat. Kota Agats adalah kehidupan bersahaja, setiap orang hampir mengenal antara satu dengan yang lain, melangkah di sepanjang jalan bukan berarti seorang diri.

“O ya, Nurul jurusan apa yang akan engkau pilih nanti?” Ibu Guru Ambar membuka pembicaraan.

“Hukum, saya ingin menjadi pengacara,” jawaban Nurul yakin.

“Kalau saya akan mengambil jurusan pertanian,” Yodi menjawab sebelum mendapatkan pertanyaan.

“Fransis mau kemana setelah ini?” Ibu Guru mengalihkan pertanyaan.

“Saya ingin menjadi polisi,” suara Fransis terdengar bangga, aku belum juga melepaskan genggaman tangan.

“Kalau Magda?”

“Entahlah, membayangkan tinggal di Yogya rasanya mustahil, saya hanya seorang anak dusun sagu,” kulepaskan genggaman tangan pada Fransis, pikiranku menjadi gamang, setahun ke depan, mampukah aku meninggalkan tempat yang kecil dan jauh ini. Dapatkah aku melupakan segala kesahajaan tempat aku bermula menjadi manusia hingga mengenal Ibu Guru Ambar yang memberi saran meninggalkan dusun sagu, terbang ke tempat jauh untuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi untuk suatu masa di hari depan? Untuk suatu kesetaraan bagi gender?

“Kalau Magda pantasnya pilih jurusan seni budaya, khusus tarian adat ….” Fransis mulai mengejek dengan senyum nakal.

“Saya tak pandai menari,” kucoba menyangkal.

“Engkau luar biasa dalam goyang adat sampai terlupa dengan perhiasan yang berserakan di atas lumpur!” Fransis terkekeh, ia membuatku tersipu, wajahku memerah.

“Atau jurusan Ewer Timika menumpang kapal perintis!” sepasang mata Fransis tampak mengerjab, senyumnya semakin nakal. Aku menjadi gemas, kucubit pinggangnya hingga ia mengaduh kesakitan tanpa berani melawan.

“Magda cocoknya menjadi pramugari kapal perintis,” Yodi menyeringai, kata-katanya nyaris sinis, juga tatapan mata itu, aku pura-pura tak mendengar. Jauh di dalam hati kurasakan kebersamaan yang memberikan rasa damai sekaligus cemas, karena tak ada suasana yang benar-benar abadi. Setelah lulus Fransis akan pergi mengikuti pendidikan kepolisian, Nurul ke Yogya, Yodi mungkin ke Jayapura. Ibu Guru Ambar akan tetap bersiteguh sebagai pendidik, mengantar siswa siswi menjadi manusia, bukan sekedar mendapatkan ijazah. Kebersamaan ini akan berakhir, hanya lekat dalam ingatan.

Akhirnya kami berhenti pada suatu tempat teduh untuk melepas lelah sambal meneguk air, jalan santai benar menyehatkan. Kuluruskan kaki, Fransis tampak melatih diri dengan berlari kecil, Ibu Guru Ambar dan Nurul sibuk selfi memuat foto jalan santai hari ini di Facebook. Maka Yodi kembali mendekat, masih dengan kesombongan yang sama.

“Aku mau ke Jayapura, kuliah di Uncen. Lebih baik kita pergi ke tempat yang sama, ke mana pun pergi saya akan menyertai,” kata-kata Yodi teramat manis, mewakili segala ungkapan cinta. Aneh, hatiku tak bergeming, aku bahkan tak pernah berminat menatap sepasang matanya yang teramat dekat.

“Saya tidak tahu mau kemana?” kutinggalkan Yodi seorang diri, aku benar enggan dekat dengan juara kelas itu. Ia pernah mencuri sebuah ciuman yang membangkitkan geram, dan aku  masih tetap geram untuk jangka waktu yang panjang. Tak seorang pun berhak mencuri ciuman dari seorang anak gadis kepala suku. Kiranya Yodi belum benar mengerti siapa aku.

Udara cerah dan segar, sinar matahari memberi segala pengharapan serta kesan yang tak akan pernah lesap dalam ingatan, pada jarak dekat maupun terukur hijau daun seindah kemilau batu zamrud. Akan tetapi, pikiranku gamang, membayangkan kehidupan di tempat jauh yang belum pernah kukunjungi, bahkan dalam mimpi sekali pun. Yogyakarta?

“Tak usah cemas, segala sesuatu hanya perlu persiapan mental. Tetaplah memiliki keinginan, keinginan untuk jenjang yang lebih tinggi, keinginan untuk pekerjaan serta jaminan hidup yang lebih baik serta melihat dunia luar. Kehidupan akan menjadi seperti yang kita inginkan. Atau, engkau mau selamanya terkurung di dusun sagu?” Ibu Guru Ambar agaknya memahami kegamangan ini, tangannya yang lembut namun kuat menggenggam telapak tanganku, kami jalan bergandengan seakan ibu dan anak dengan warna kulit serta model rambut berbeda.

Diam.

Tak sepatah kata terucap, benarkah aku ingin terkurung di dusun sagu, mendayung ci  ke bevak, mereguk sepuas-puasnya keindahan Sungai Fambrep bersama hijau daun, kabut embun, suara satwa liar serta merdu ricik air yang mengalir dari hulu ke muara. Dan berakhir di rumah gaba-gaba, atau terbang jauh meninggalkan bevak, beradaptasi dengan kehidupan baru, mencapai prestasi yang belum pernah terbayangkan. Syaratnya hanya ‘ingin’. Ingin meraih gelar sarjana beserta segala kemampuan yang menyertai dan masa depan yang jauh lebih baik.

“Masih ada cukup waktu untuk berpikir, engkau tidak perlu menjawab sekarang.” Ibu Guru Ambar selalu bijak, ia dapat memahami isi hati orang lain dari raut wajah yang suram dan bimbang.

Kami terus melangkah dalam suasana yang redup menjelang temaram, matahari seakan bola raksasa berwarna jingga yang terus menggelincir di batas cakrawala dan berniat tenggelam ke dasar samudera, lalu gelap menyergap. Kecuali sinar bulan dan bintang menggantikan, maka langit akan lebih hitam dari tinta. Angin dingin akan membekukan udara, maka segalanya akan berpulang menuju diam tanpa kata.

“Sabtu dan Minggu sore kita jalan lagi, kumpul di rumah Ibu Guru, tidak perlu pemberitahuan ulang. Okey?” kami duduk sebentar melepas lelah sebelum akhirnya berpamit. Yodi dan Nurul naik sepeda kembali ke rumah masing-masing. Aku dan Fransis berjalan kaki dalam arah berbeda, kami saling melambai sebagai salam perpisahan.

Di atas langit temaram.

Bersambung ke link ini https://mbludus.com/menggambar-bintang-kisah-seorang-anak-suku-asmat-8/

Leave a Comment