Sinematografi

Film dan Teguh Karya

Teguh Karya
Jangan Lupa Di Rate Ya!
Tinggal Pilih Bintang Saja!

PROSES KREATIF TEGUH KARYA

Dalam suatu diskusi film, tanggal 2 November 1990. Setelah pemutaran filmnya “November 1828”, Teguh Karya berkata: “Sampai saat ini, saya tetap berusaha mendudukkan film sejajar dengan teater. Itu adalah harga sebuah karya kesenian. Dalam berbagai kesempatan, saya selalu mengemukakan, bahwa saya mau bikin fim, kalau nilai budayanya tinggi, kalau nilai sosialnya berguna bagi orang banyak, dan nilai ekonominya memadai serta tidak merugikan pemodal. Dan ternyata, dari dulu juga selalu demikian, mungkin karena bawaan saya memang begitu. Dagang melulu saya tidak mau, berfungsi sosial saja, juga saya tidak mau. Film itu harus punya kelengkapan tentang nilai-nilai budayanya, nilai-nilai sosialnya, dan tentu nilai ekonominya.”

Dalam sejarah perfilman Indonesia Teguh Karya adalah sineas yang paling banyak meraih penghargaan piala Citra (54 piala Citra dari 13 film yang dibikinnya. 6 di antaranya penghargaan sebagai Sutradara Terbaik).
Film “November 1828” dibuat (difilmkan) berdasarkan surat laporan Ten Hove kepada Gubernur Jenderal De Cook, tentang bagaimana dia dipukul habis oleh pasukan Pangeran Diponegoro, di sebuah desa kecil.

Meskipun film ini berlatar perjuangan Pangeran Diponegoro, namun sebenarnya Teguh Karya ingin bicara tentang kekinian, tentang masyarakat Indonesia sekarang melalui budaya Jawa. Ini tersirat melalui perdebatan tokoh-tokoh, baik yang pro dan yang kontra pada De Bosch, ucapan-ucapan kopral Dirun, maupun ketika Sentot berkata kepada seorang Ibu: “Mudah-mudahan kejadian ini tidak terjadi lagi, mudah-mudahan di masa-masa yang akan datang kita punya lebih kebijakan, lebih bijaksana …”


Ia sangat bangga bisa menggarap film ini, karena bisa bekerja berdasarkan kebudayaan Jawa dengan jalan pikiran orang-orang saat ini. Dan kebetulan film ini dibuat dengan mengambil lokasi atau mengambil cirinya di daerah Jawa Tengah. Maka dramaturgi yang dipakai sebenarnya ada juga dalam ketoprak, yang juga ada dalam Wayang Kulit. Kalau kita perhatikan dengan teliti, yang jahat pada umumnya ada di sebelah kiri, begitu juga sebaliknya. Dan itu adalah dramaturgi Jawa, seperti juga peranan kedua kopral, sama saja, dia juga adalah punakawan dalam dramaturgi Jawa. Dia bisa lucu, tapi membawa isi. “Dramaturgi yang ada di negeri ini, ingin sekali saya jadikan panutan!” Tegasnya.

Menurut Teguh Karya film “November 1828” ceritanya fiksi. De Bosch, tokoh yang ada dalam film tidak pernah disebut-sebut dalam surat Ten Hove. Pasar yang ada dalam film juga dibikin, matinya beberapa tokoh di dalam film juga buatan. Temboknya dibuat dari triplex. Semuanya buatan. Film bukanlah imitasi tentang hidup, tetapi sumber ilhamnya dari sana.

Ketelitian Teguh Karya dalam membuat film dipujikan banyak orang. Misalnya, kostum untuk film “November 1828”, ia minta dikirimkan dari Belanda. Persiapan film tersebut bersadarkan suatu riset yang mendalam, agar berguna bagi pertumbuhan dan berkembangan film-film di negeri ini, di masa mendatang. Itu sebabnya, selama shooting berlangsung Teguh minta didampingi oleh beberapa ahli sejarah dan sejumlah antropolog yang cukup terpercaya, cukup punya keotentikan.

Memang dari segi tehnis penyutradaraan, Teguh menghadapi beberapa kendala. Antara lain, bagaimana menyutradarai kuda. Karena kuda fokusnya tidak pernah tepat, tidak tahu bagaimana berhenti, dan lain-lain.
Teguh Karya tidak menganggap film “November 1828” sebagai film perang, karena pada dasarnya ia tidak membuat film perang. Menurutnya, sebagai film perang “November 1828” kekecilan, sebab perang itu hanya 5 tahun. Dan Pangeran Diponegoro berperang hanya karena tanahnya dipotong oleh Belanda untuk membangun jalan.
Pada permulaan film, digambarkan sedikit tentang Sapit Urang atau Capitan Udang. Bagaimana Sentot yang baru berumur delapanbelas tahun, tetapi sudah mampu membuat strategi mengurung pasukan Belanda dengan Sapit Urang. Nah, ini data, bukan fiktif.

Berdasarkan fakta sejarah, Sentot adalah ahli strategi dan perang yang ulung. Tanpa Sentot, Pangeran Diponegoro hanya punya sikap nasionalis. Tahun 1830, Sentot di buang ke Minangkabau. Dan ia minta syarat harus diberi pasukan sebesar seribu orang dan itu dipenuhi oleh Belanda. Ketika perang Padri meletus, ia juga ikut berperang, akibatnya ia dibuang lagi ke Bengkulu. Sentot adalah tokoh yang berulang kali dibuang ke berbagai tempat. Peranan dan strateginya memang luar biasa.

Musik film ini dibikin berdasarkan nada-nada yang diberikan oleh stalaknit di gua-gua. Bunyinya seperti gamelan. Itu sebabnya, kita akan mendengar bunyi-bunyian yang minimalis dalam film. Membuat film bagi Teguh Karya adalah sebuah sumbangsih untuk turut mencerdaskan bangsa. Sebagaimana juga film-filmnya yang lain. Semua mengandung unsur-unsur kekinian (nilai-nilai moral, sosial dll). Kita bisa mengidentifikasi tokoh-tokoh dalam film Teguh Karya dengan tokoh-tokoh pada masyarakat sekarang. Yang membuat dia selalu gelisah adalah pikiran-pikiran ‘apa yang harus dibikin’? Baginya seniman harus senantiasa gelisah. Dan berkeyakinan bahwa karya yang akan datang, itulah yang terbaik. Ini menunjukkan kerendah-hatian seorang seniman. Sikap rendah-hati ini nampak pada caranya memperlakukan tamu. Teguh menganggap semua tamunya bukan sebagai tamu, tetapi sebagai teman-teman yang baru pertama kali bertemu.

Kalau kita lihat secara keseluruhan, film-film Teguh Karya pada umumnya lebih banyak berbicara tentang nilai-nilai kemanusiaan. Yang terpenting baginya, di ufuk mana pun kita berada, kaidah-kaidah sinematografi, sekali pun yang umum sifatnya, harus kita gunakan dalam film kita.

Dalam pembuatan film “November 1828”, untuk adegan peperangan Teguh memerlukan waktu 13 hari. Dari pukul tujuh pagi hingga pukul tujuh malam. Setelah itu, selama seminggu ia lumpuh, tidak bisa jalan, karena berdiri terus. Baginya, film “November 1828” ini adalah sebuah peringatan kerja.

Membuat film, bagi Teguh Karya susah sekali. Persiapannya pun susah. Lem untuk jenggot pemainnya saja bisa tiga liter, jenggotnya sendiri bisa tiga kilo. Kudanya empat puluh ekor, tiga mati. Dua pemain tertembak punggungnya, untung tidak tembus, dan seterusnya. Jadi tidak benar kalau ada orang yang bilang, bahwa membuat film itu gampang!

FILM MILIK BERSAMA

SIKAP IDEAL. Tidak dapat diingkari bahwa tatanan masyarakat akan membentuk tatanan sikap para sineasnya. Hal ini menurut Teguh Karya penting dalam memandang film sebagai suatu masyarakat tertentu. Di Negara-negara berkembang di mana Hollywood pada masa-masa lampau menjadi pola tatanan pembuatan film di mana-mana, sedikit demi sedikit memudar, karena adanya kesadaran bahwa Hollywood hanya akan ada dalam sebuah tatanan masyarakat di mana berbagai kemapanan memungkinkan kelahirannya. Masyarakat yang sedang tumbuh, baik di bidang politik, ekonomi, sosial, dan budayanya, memerlukan pemikiran yang seyogyanya berbeda. Yaitu, sebuah tatanan yang melahirkan film-film yang tepat cipta bagi keperluan keadaan secara jujur, yang selaras dengan keakuratan kondisi tatanan masyarakat itu sendiri. Buktinya, dari berbagai kepentingan seperti ini, di mana film dan penataan tiba-tiba jelas menjadi suatu upacara bersama-sama masyarakatnya, daripada film hanya sebagai karya sinematografi yang semata-mata hasilnya cuma menjadi barang tontonan semata.

Film yang bisa menjadi kebersamaan ini, ditandai dengan adanya kebersamaan persoalan dan isi yang juga milik dan persoalan masyarakat. Di mana seorang sineas dan masyarakat berusaha menjawab dan mempertanyakan berbagai tantangan-tantangan baru yang membuat mereka memiliki ketabahan-ketabahan dan harapan di dalam menjalankan kehidupan lebih lanjut.

Film-film seperti ini akan jelas membawa sikap jujur tentang sesuatu masyarakat. Di mana oleh karena mereka inilah seorang sineas menjadi wakil yang bisa menguraikan kepentingan persoalan dan spiritual mereka. Dari tangan sineas seperti inilah lahir film-film yang fungsi sosial dan fungsi budayanya menjadi kepentingan masyarakat, sehingga fungsi ekonomi film tinggallah berpulang pada bekal tanggung-jawab seseorang pada orang lain untuk tidak dirugikan secara finansial sebagai etik peredaran uang atas nama ketrampilan dan dagang. Sehingga, peranan fisik sebagai sarana dan peranan spiritual sebagai panggilan, berbaur menjadi manifestasi film yang berkepribadian suatu bangsa.

FUNGSI SOSIAL FILM. Perkataan lainnya adalah film yang berguna bagi masyarakat, yang tidak perlu mempunyai arti propaganda, bombastis, dan verbal dalam mencapai tujuan. Hal ini perlu digaris-bawahi, karena perkataan ‘berguna’ ini masih diberi arti penilaian yang salah; seperti suatu gagasan yang menakutkan, baik oleh para pemodal film di satu pihak, maupun para seniman di lain pihak.

‘Berguna’ di dalam hal ini jelas tidak dapat ditawar dan dilepaskan kaitannya dari karya sebuah film yang di dalam unsur-unsurnya bukan saja tehnologi, tapi terlebih lagi tidak bisa dipisah-pisahkan dari kaitan berbagai kesenian yang menjadi satu di dalamnya. Di mana ‘pesan’ menjadi dangkal jika dia tercipta sebagai propaganda, bombas, dan verbal.

‘Berguna’ di dalam hal ini karena pemodal dan pembuat film terlihat bersama masyarakat di dalam mencari jawaban berbagai kemajuan yang mereka harapkan. Yang bersama-sama bisa membuka cakrawala baru di hari-hari mereka saat ini dan saat yang akan datang.

Hanya dengan rasa kebersamaan, kenyataan dan harapan ini sebuah film akan lebih dekat dengan masyarakatnya, di mana sebuah film bisa di tunggu-tunggu mereka untuk mendapatkan berbagai jawaban. Kalau saat ini masih banyak film di sekeliling kita yang tidak berfungsi sosial seperti yang diharapkan, barangkali karena belum melihat wawasan ini sebagai salah satu kemungkinan yang efektif sebagai media komunikasi baru.

FUNGSI BUDAYA FILM. Di antara banyak orang film, perkataan ‘Budaya’ saat ini disinonimkan dengan kesenian, sehingga akibatnya para pemodal film takut. Karena, menjajakan kesenian hanya memerlukan orang-orang yang mencintai kesenian. Ini jelas sudah salah tanggap. Di Indonesia, kami kenal sebuah kata yang patut dipatuhi dalam membuat film, yaitu Kultural-Edukatif yang fungsinya kurang lebih bersamaan. Ini pun menimbulkan salah tanggap. Padahal yang diharapkan dari perkataan budaya ini sangat sederhana. Yaitu, karena kita mempunyai budaya, yang membedakan kita dengan budaya suatu bangsa lain, yang mempunyai kebudayaannya sendiri.
Apa arti sebuah ‘jalan pikiran’, yang khas, khusus milik kita yang bahkan mungkin tidak dimiliki oleh asal negeri di mana pengetahuan film itu datang. Budaya yang bahkan menjadi ciri kepribadian bangsa dari mana film itu dibuat, kebanggaan tersendiri andaikata memang bangga sebagai anak negerinya.

Makin majemuknya kebudayaan suatu bangsa adalah merupakan kekayaan yang berlimpah-limpah bagi khasanah filmnya. Sebagai kenyataan, semua ini belum digarap. Kita mendengar berbagai macam kekhawatiran itu akan ada, jika diberi pendekatan barunya di dalam pendekatan nilai fungsi sosial yang dicanangkan di atas. Sehingga muncul sebuah daya tarik baru yang akurat dan relevan bagi zaman saat ini.

FUNGSI EKONOMI FILM. Hanya sebuah film yang memikat sebagai tontonan orang, sehingga karena pemodalan kembali dan mendapatkan untung. Memikat sebagai tontonan, sebuah kalimat besar yang telah banyak dijalankan orang dengan berbagai cara. Mulai dari judul, tema cerita, penggarapan, eksploitasi macam-macam, reklame, dan iklan-iklan besar. Pendek kata segala jurusan telah dijajaki dengan tanpa mendapat jawaban yang pasti perihal laku dan tidaknya sebuah film.

Seperti halnya komoditi lain, juga film memiliki komoditinya sendiri. Tapi kalau sutradara bertanya, bagaimana cara membuat film yang laku, jawabnya adalah; seberapa jauh sutradara itu mengenal masyarakatnya? Seberapa besar persepsi sutradara itu dalam menghidupi dirinya sebagai anak negeri yang berkewajiban mencintainya. Di atas kedua gabungan itu dia akan tahu apa yang terbaik yang bisa dia berikan kepada masyarakat dan negerinya yang sudah dia kenal betul. Bakat, ilmu, dan wawasan yang telah dimiliki akan tetap menopangnya di dalam menjalankan intelektualitasnya sebagai seorang pembuat film di negeri ini. Pada umumnya film yang dibuat lewat kesadaran semacam ini terasa dekat dengan negeri dan masyarakat di mana seorang pembuat film berfungsi menjadi teman seperjalanan mereka. Fungsi ekonomi akan mengikutinya dari belakang.

FILM KITA, MEDIA YANG RAPUH

Ini adalah percakapan wartawan Variasi dengan Teguh Karya di rumahnya: Menurut Anda apa yang paling penting untuk menjadi sineas yang baik? Saya kira yang paling penting ia harus mencintai negerinya. Sehingga kebudayaan bangsanya bukan saja diketahui, tapi juga dimilikinya. Itulah, saya kira, modal terbesar yang harus dimiliki seorang sineas sebelum ia menguasai peralatan serta tehnis sinematografi, sebelum itu dijadikan media.

Apa kritik operasional yang bisa Anda berikan kepada para sineas kita?

Media film yang saya kenal adalah media yang rapuh. Sebuah media yang kalau mau kita gunakan bisa memuliakan sesuatu, tetapi juga menghinakan sesuatu. Sebab menurut saya, tema apa pun baik untuk kita garap ke dalam film. Persoalannya tinggal lagi dengan kebudayaan apa itu mau kita dekati. Kita mau jadikan dia mulia atau mau kita jadikan barang yang hina.

Dari dunia film, karya-karya siapa yang Anda kagumi?

Tidak ada. termasuk karya saya, tidak saya kagumi. Tapi saya hormati. Saya tidak bisa mengukur diri saya pada orang lain, demikian juga sebaliknya. Saya pikir jalan keluarnya adalah menghormati dengan berbagai harapan. (Ibnu Zain/Variasi,No01/Th XII/ 1984)

IBUNDA ENAM FILM BERCITRA

Wawancara dengan majalah Matra berlangsung setelah selesai pengambilan gambar film “Pacar Ketinggalan kereta”.

“Saya ingin orang mengenang Usmar Ismail,” katanya ketika ditanya mengapa dia membuat film yang disebut komedi musical itu. “Mungkin tak banyak yang tahu, bahwa film musikal “Tiga Dara” yang pernah sukses pada tahun 1950-an sebagai box office dibintangi Indriati Iskak, Mieke Wijaya dan Chitra Dewi itu, dibuat Usmar Ismail untuk memenuhi ‘selera penonton’, yang saat itu tergila-gila pada film India”.

Dalam banyak film Anda, seperti Di Balik Kelambu, Doea Tanda Mata, dan Ibunda, tokoh-tokoh wanita muncul dengan amat kuatnya. Bagaimana pandangan Anda sebetulnya tentang wanita?

Saya merasa dalam banyak hal perempuan lebih kuat dari laki-laki. Bukan soal fisiknya. Saya setuju sekali dengan nama perempuan. Dia memang seorang empu. Kadang-kadang dia nampak lemah lembut, tapi di balik itu dia memiliki kekuatan…

Perempuan seperti apa yang ideal bagi Anda?

Yang bisa saya respek, yang menimbulkan rasa hormat pada diri saya, sesuai dengan namanya: “Per-empu-an”. Menurut saya, perempuan saat ini belum seluruhnya mengembangkan kemampuannya. Mungkin karena banyak pantangan-pantangan, norma-norma, yang masih mengikat mereka. Menurut pandangan saya, di Indonesia gerakan emansipasi wanita itu tidak perlu. Secara berkelakar saja ya, ‘kan kita nggak pernah menyebut ‘bapak pertiwi’ tapi ‘ibu pertiwi’, ‘ibu kota’, ‘ibu jari’, ‘induk semang’… kok masih sangsi terhadap perempuannya. Cuma ke-empu-an itu belum maksimal diekspos, dan itulah tantangan bagi perempuan saat ini.

Anda ‘kan belum beristri, bagaimana cara Anda menghayati hubungan laki-laki/ perempuan, suami/ istri ke dalam film Anda?

Di samping pengalaman fisik, saya banyak sekali mengalami pengalaman batin. Saya saat ini bisa menjadi Tuti Indra Malaon, saya bisa menjadi Niniek L. Karim … barangkali itulah perlunya roman-roman besar … pengalaman orang lain…

Apa arti piala Citra buat Anda?

Saya mau memberi arti bagi Festival Film Indonesia (FFI) dulu. Buat saya perbedaan festival film di negeri ini, dan festival yang diadakan dalam berbagai forum adalah, bahwa semua film yang dibuat selama setahun itu harus ditayangkan di depan juri. Dengan begitu festival bisa menjadi barometer perkembangan film kita setiap tahun. Perkembangan dunia film bisa dicatat. Tidak penting siapa yang menang. Dengan notasi susunan dewan jurinya. Sebab nilai sebuah film festival rasanya tidak bisa dilepaskan dari komposisi dewan juri.

Tema-tema dalam film kita, kok rasanya miskin sekali. Bagaimana penjelasan Anda?

Film bukan lagi semata-mata tontonan, tetapi merupakan upacara tentang kehidupan yang kita miliki bersama. Tapi sekarang ini banyak film kita di dasarkan pada kasus, yang bukan merupakan pengalaman bersama. Misalnya, peristiwa Arie Hanggara adalah sebuah kasus dari banyak problema kehidupan berkeluarga. Tapi, mimpi orang kecil untuk bisa mencapai kehidupan yang layak dan bisa menikmati makanan bergizi seperti yang ditayangkan televisi, perjuangan seorang ibu yang harus menyekolahkan anak-anaknya … masalah seperti itu buat saya bukan kasus, tapi merupakan pergumulan hidup kita sehari-hari. Namun, masalah bayi tabung, buat saya adalah kasus.

Tapi, bukankah untuk mengemukakan suatu masalah kita memerlukan sebuah peristiwa atau tokoh – sebuah kasus – kemudian mengangkatnya menjadi sesuatu yang lebih universal, yang lebih mempunyai makna bagi orang lain? Saya setuju itu. Bisa saja kita menggarap Arie hanggara, bisa menjadi peringatan buat orang tua yang lain. saya setuju, bahwa kanker payudara sebaiknya sedini mungkin ditanggulangi. Tapi, digarap dengan selera yang bagaimana? Ada dua kemungkinan dari dunia film ini, dia bisa menjadi suatu yang mulia, dia juga bisa menjadi suatu yang vulgar. Kamasutra bisa bicara tentang seni bersenggama, kok nggak cabul?

Lho kok dulu Anda pernah sekolah teologi?

Untuk menyenangkan orang tua … he he he. Andaikata saya di teologi, saya akan menjadi pendeta yang jago. Tapi, kalau ada syarat saya mesti menjadi suri teladan, wah … nggak bisa … saya nol. Saya nggak mau orang lain hidup seperti kehidupan saya yang kurang teratur ini. Saya nggak perlu diteladani.

Ah, masak nggak ada dalam diri Anda yang bisa diteladani?

Mungkin keuletan saya, semangat saya untuk belajar terus … saya pengen banyak orang memilikinya. Juga kecintaan saya pada negeri ini, yang kadang-kadang dinilai berlebihan.

Anda sepertinya memisahkan diri dari keluarga?

Nggak, nggak, ada yang menarik dari keluarga saya. Pada ulang tahun perkawinan keluarga saya yang kelima puluh, ibu saya pidato. Dia bilang, bahwa jika Tuhan memanggil, tugasnya sudah kelar. Seringkali dia bilang begitu. Ia juga meminta maaf kepada anak-anak. Lucu. Waktu pulang kita semua berkumpul di rumah, saya tanya kenapa kalau saya nggak pulang dia nggak memidatoi saya? Ada jawabannya yang menarik. Waktu bayi, kamu milik kami. Waktu SD, kamu milik guru kamu, teman-teman kamu … waktu kamu masuk pramuka … milik teman-teman kamu di gereja, milik gereja.

Nah, pada saat kamu masuk di teater, tiba-tiba kamu milik panggung, milik teater itu sendiri, milik orang-orang yang menghargai teater. Di film lebih gila lagi. Jadi kamu ini hanya sebagian kecil saja dari hidupku. Dan saya gembira sekali, kok mereka bisa punya pikiran seperti itu. Artinya, mereka sampai pada gok, seperti kata orang Batak. Saya tumbuh dalam lingkungan yang seperti itu. Matra, Juni 1989.

KITA HARUS MARATON MENGEJAR NILAI BARU

Dunia film kita memang sedang babak belur. Tetapi, jika ditarik ke ‘garis personal’ Teguh Karya tentulah seorang ‘maestro’ film. Ia adalah salah seorang sutradara film terbaik yang dimiliki Indonesia. Sejak kiprahnya dalam dunia film, pada awal tahun 1970-an, ia telah mendapat 54 piala Citra dan 1 Best Award, Asia Pacific Film Festival (Melalui Doea Tanda Mata) dari 13 film yang dibuatnya. Rekor ini jelas tidak tertandingi oleh siapa pun.
Ia memang seniman film yang dikenal sangat teliti, ‘perfect’, dalam menggarap karya-karyanya. Maka, film-film Teguh pada umumnya menjadi monumental. Dan, setiap kali berbicara tentang dunia perfilman–yang babak belur –Teguh tak pernah mencari kambing hitam. Ia selalu berbicara bahwa orang film-lah yang harus membangunkannya kembali:

Masalah perfilman kita telah masuk GBHN, bagaimana pendapat Anda dan sikap apa yang diperlukan?

Yang jelas insan-insan film kita tidak bisa berdiri sendiri-sendiri, tetapi harus saling berkaitan. Sebab, ini akan menjadi pekerjaan raksasa, yang memerlukan sikap mental yang berbeda, atau sebut saja perubahan attitude. Dan sudah pasti film harus disesuaikan dengan berbagai kepentingan pembangunan dalam arti umum. Tetapi, satu hal yang rasa-rasanya harus jelas, bahwa film adalah sebuah bahasa yang mempunyai kekuatan sendiri untuk merasakan berbagai fungsi. Kalau yang namanya fungsi pendidikan dalam film, tentu tidak sama dengan guru yang mengajar di muka kelas. Dia bisa menjadi penerangan, tetapi bukan juru penerang. Bahasanya sudah pasti berbeda.

Bagaimana dengan sebuah pendapat bahwa film kita sudah tercerabut dari akar budayanya?

Saya beri contoh, apakah menjemput pacar dengan menggunakan helicopter itu cara berfikir orang Indonesia? Jelas bukan. Jalan pikiran macam apa yang bisa sampai ke situ? Barangkali jalan pikiran membuat hiburan semata-mata di mana para pemain lebih merupakan alat dagang daripada dia seorang aktor-aktris. Karena itu, rasanya kita nggak bisa terus begini. Tapi sebaliknya, kita kok nggak bisa hanya terus ngomong. Kita perlu bukti sebagai kenyataan bahwa ada perubahan yang terjadi. Dan ini memerlukan suatu perubahan nilai dan mental yang dikaitkan dengan UU dan GBHN. Nah, ini mengacu kepada kebebasan yang bertanggung-jawab.

Berkaitan dengan masuknya film dalam GBHN merupakan kerja raksasa, lalu menurut Anda awalnya harus dibangun dari mana atau action-nya bagaimana?

Memerlukan garda-garda terdepan. Sebab kalau cuma digerakkan satu orang saja, jelas tidak akan terangkat. Anda ketahui, bahwa meskipun bahasa film ini sama karena keterikatannya pada sinematografi, tapi coraknya ‘kan berbeda-beda. Bisa tragedi, melodrama, komedi, hiburan dan juga falsafah atau sesuatu yang serius. Kalau kita bedah sedikit yang namanya film itu. di dalamnya ada cerita, pasti sangat berkaitan dengan kesusastraan. Film itu ada gambar dan bentuknya, pasti ada kaitannya dengan seni rupa. Di samping itu film ada konfliknya, pasti ada kaitannya dengan seni drama. Geraknya berkaitan dengan tari, iramanya pasti berkaitan dengan seni musik.

Nah, di samping keterkaitan dengan berbagai bidang itu, ada juga keterkaitan cultural, etnis dan antropologi, historis dan budaya setempat, sebagai ilmu pelengkap lainnya. Tetapi ada raksasa lain di sampingnya, yaitu tehnologi canggih. Namun demikian, kita tidak bisa hanya mengkaitkan film dengan tehnik canggih saja, kesenian saja.

Jadi, masing-masingnya harus bergabung sama besar. Masalahnya, seberapa jauh kita punya keinginan memiliki keseluruhan ini sebagai film. Ada gambar bagus, tetapi filmnya tidak menyentuh. Ini sebetulnya yang harus digarap.

Lalu, siapa sebenarnya yang harus memulai menggarap menjadi garda-garda ini? Pasti adalah organisasi perfilman itu sendiri. Kita punya KFT, PPFI, Parfi dan sebagainya. ini yang harus mulai, sebab itu adalah garda terdepannya.

Melihat faktor sumber daya manusia yang memimpin organisasi-organisasi perfilman sekarang ini, apakah mereka punya potensi untuk menjadi garda terdepan itu?

Kenapa nggak. Sekarang ini persoalannya yang punya batu mulia tinggal mengasah, yang sudah punya sepatu pas disemir lagi, yang punya sepatu kekecilan atau kebesaran di paskan lagi. Kita isi bakat dengan ilmu dan wawasan … ya, wawasan nusantaralah muluknya.

Dalam membuat film, kita sudah tidak bisa lagi menggambarkan orang kaya dengan rumah bagus dan mobil bagus, atau pakaian putih dengan dengan stateskop adalah dokter. Kita sudah tidak bisa seperti itu lagi dalam memandang manusia secara keseluruhan. Sebab, manusia tidak semudah itu. Artinya, perlu wawasan dalam menata manusia dalam film Indonesia.

Ada yang menyatakan bahwa kondisi krisis sekarang ini bisa menjadi awal kebangkitan dunia film kita. Dan agaknya kebangkitan itu harus ditempuh dengan konsep pembinaan film yang menuju ke industrialisasi film…

Saya menganggapnya memang yang paling ‘haram jadah’ dari dunia film adalah bisa industri dan bisa juga karya seni. Yang mau ke arah industri, diperlukan berbagai ketrampilan. Contoh, MacGyver, itu cuma ketrampilan, tetapi laku keras. Bisa saja ‘kan. Tetapi jangan dilupakan sisi lainnya. Saya juga tidak setuju kalau film yang kita tonton ‘nyureng’ terus. Saya juga tidak setuju kalau film-film yang lahir cuma bikin bodoh orang.

Jadi, sebenarnya apa yang paling diperlukan sekarang ini?

Pertama adalah kesadaran akan hal yang saya sebutkan tadi. Sebab dengan kesadaran kita untuk lebih banyak tahu. Kalau kita sudah tahu, kita akan menghargai, kita akan mencintai. Dan kalau kita sudah mencintai maka kita akan merasa memiliki. Sebab, film adalah bagian dari kerja tehnik dan kesenian sebagai daya ungkap budaya. Kalau budaya itu sudah kita kuasai, maka sebenarnya budaya itu sudah tidak ada lagi, sudah menjadi milik kita. Contoh, seni itu bagi orang Bali tidak ada lagi, karena hal itu sudah menjadi bagian dari hidupnya.

Bagaimana meletakkan peran pemerintah sebagai Pembina perfilman Indonesia. Posisi yang bagaimana yang diharapkan?

Saya pernah bertanya pada orang-orang di bidang garmen dan kayu lapis, walau pun ini bidang lain, tetapi sangat berkaitan erat. Yang saya tanyakan, yang mereka garap mutu tekstilnya dulu atau proteksi dulu dari pemerintah.

Mereka katakan dari sisi mutu tekstilnya dulu. Demikian pula dengan kayu lapis. Menurut saya, karena tugas pemerintah terlalu banyak, tidak semua hal harus dikerjakan pemerintah, tetapi kesadaran dari masyarakatnya memegang peranan penting. Contoh paling sederhana, mau disubsidi kek, nggak kek, wayang orang toh jalan terus. Begitu juga sanggar saya.

Artinya dalam kondisi seperti ini pemerintah tidak bisa dipersalahkan?

Menurut saya, kalau ini kebudayaan Cina, maka Im dan Yang-nya tidak seimbang, atau plus-minusnya tidak ketemu, sehingga tidak bisa menghasilkan daya baru. Maka Im dan Yang-nya perlu diseimbangkan dulu. Pemerintah inginnya begini, respon orang film maunya lain. atau sebaliknya. Nah, ini mesti didudukkan dulu. Banyak orang bilang film kita jadi begini lantaran banyak larangan bikin ini, bikin itu. Apa betul itu ada dalam UU? Nggak ada tuh. Itu cuma ketakutan sendiri saja. Persoalannya adalah mengapa kamu takut kalau menyampaikan di atas budaya bangsa ini? Kalau kaki kita terinjak, bangsa kita akan bilang, “Bagaimana, mas, kalau kakinya dipindahkan?”

Jadi, persoalannya tinggal bagaimana kita menguasai di atas budaya mana kita tinggal, kalau ada film yang menggambarkan di tengah jalan orang berpacaran lalu cium-ciuman terus mereka bilang, “Aku cinta padamu,” menurut saya sudah tidak Indonesia sama sekali. Sebab, di Indonesia tidak begitu. Film-film pertama saya dulu ada gitu-gituan, kalau sekarang saya lihat, saya malu sendiri, kenapa saya dulu ikut-ikutan. Ha … ha … ha ….

Kalau mendengar penjelasan Anda, bisa dibilang film kita sekarang kembali ke zaman sebelum Usmar Ismail, yang sarat dengan tiru-meniru?

Pada zaman pak Usmar, jiplak-menjiplak pun masih ada, bahkan sampai sekarang. Itu sebabnya saya tidak mau bicara banyak soal ini, karena saya mengerti sejarah film. Saya tidak menanggapilah, sebab ada orang yang lebih maju dari jamannya, ada yang pas dengan jamannya, tetapi banyak pula yang ketinggalan zamannya.

Dari yang terakhir Anda sebutkan itukah kondisi film kita menjadi seperti ini?

Rasa-rasanya kita memang harus maraton untuk mengejar berbagai berbagai nilai baru dalam film, atau harus mencari jalan pintas yang rasional, dan bukan emosional. (9 Mei 1993).

Tulisan ini diambil dari WAG sastra semesta yang diposting oleh Jose Rizal Manua. Dipublikasikan untuk media pembelajaran, dan mengenal tokoh Teguh Karya dalam dunia perfilman Indonesia.

Leave a Comment