Cerbung

Menggambar Bintang: Kisah Seorang Anak Suku Asmat (8)

Jangan Lupa Di Rate Ya!
Tinggal Pilih Bintang Saja!

Bab VIII

Fransis dan Bintang Terang Di Musim Karaka

Dewi Linggasari

Malam benderang di bawah purnama bulan dalam sinar batu berlian, pun ribuan bintang berserakan seakan batu permata di atas sehelai kain beludru maha hitam. Waktu yang sempurna untuk memancing karaka—kepiting menjelang hari Minggu, aku tak harus mengerjakan tugas, atau cepat menyelinap ke dalam bilik supaya esok bisa bangun pagi. Aku akan melewatkan sepanjang malam di bawah purnama, memancing karaka sebanyak banyaknya, maka esok tak seorang pun di rumah akan kelaparan. Tak terlalu jauh pada jarak terukur, terdengar suara anak-anak menyanyi, cahaya cerlang rembulan membangkitkan kegembiraan pada diri bocah-bocah untuk selalu bersama, bersuka ria. Tak terdengar sumpah serapah dari orang-orang yang bertengkar atau mabuk di jalanan. Kali ini aku berhak malam nan damai di tanah kelahiran, bernaung di bawah cahaya bulan yang abadi saat gelap menyergap.

Apakah aku akan mampu meninggalkan kampung yang jauh ini dengan segala kenangan atasnya?

“Tewerauta.” tiba-tiba bayangan Fransis berkelebat mendekat, seakan telah tahu, bahwa pada saat yang sama aku akan berada di tempat ini, di atas sungai, di dekat rumah.

“Dapat banyak karaka?” tanpa meminta persetujuan Fransis duduk, semula aku tak memperhatikan, tetapi ketika menoleh aku melihat citra roman muka tak biasa.

“Lumayan untuk lauk esok,” aku menjawab singkat.

Darahku tersirap ketika tiba-tiba tangan kekar Fransis menggenggam erat tanganku, aneh aku tak hendak melepaskan, aku tak merasa pula geram atau ketakutan. Aku bahkan merasa nyaman, berapa lama aku pernah mengenal Fransis? Mungkin seumur hidupku.

“Tewerauta …. Maukah engkau menunggu?” suara Fransis terdengar berat, dalam, dan bersunguh-sungguh. Ia tidak sedang bermain-main.

“Menunggu?” rasa heran menyergap. Mengapa aku harus menunggu?

“Besok dengan kapal aku akan ke Timika terus ke Jayapura mengikuti tes polisi. Maukah engkau menunggu hingga pendidikan dan ikatan dinas selesai, kemudian aku akan melamarmu?” suara Fransis bergetar, ia sedang memberanikan diri.

Aku tergagap, jantungku seakan henti berdetak, aku tak pernah menduga kata-kata ini, tetapi tak kuasa menolak. Aku tak memiliki alasan menolak, apa yang kurang dalam diri Fransis? Bukan saja aku telah mengenal seumur hidup, tetapi aku tak pernah meragukan kebaikan serta tanggung jawabnya. Ia tahu aku anak seorang kepala suku, hal itu berarti ia tak berhak bertindak sesuka hati, bahkan andai ia bisa.

“Maukah engkau menunggu?” genggaman Fransis semakin erat, aku dapat merasakan dua hal sekaligus, ketakutan serta harapan. Dapatkah aku mengabaikan?

Kata-kataku tertahan di tenggorokan, aku bahkan tak mampu menjawab, mengapa tiba-tiba Fransis meminta kesanggupan, selama ini ia tak pernah mengatakan apa-apa. Atau, bertahun sudah sepasang mataku buta adanya. Ketika menoleh dalam jarak teramat dekat—satu hembusan napas, sepasang mata kami saling bertatatapan. Aku tidak sedang terseret ke dalam sepasang danau kembar sedalam lautan yang dingin dan menenggelamkan. Aku melihat telaga sejernih kaca, ketika ikan-ikan riang berenang di dalamnya. Kata-kata kembali tertelan di tenggorokan, aliran darah tiba-tiba berpacu seakan gemuruh air terjun.

“Tewerauta ….” Fransis tak pernah memanggilku dengan Magda seperti kawan-kawan di sekolah, ia tahu bagaimana harus memangil anak gadis kepala suku, ia tinggal terlalu dekat dengan lingkunganku.

Aku masih kehilangan kata-kata, sebagai jawaban kusandarkan kepala di pundaknya. Fransis menghela napas panjang, ia tahu jawaban itu. Napasku seakan terhenti, aku ingin waktu membeku, memberi peluang tanpa batas supaya aku dapat  menyandarkan kepala ke bahu yang kekar untuk selama-lamanya. Akan tetapi, jarum jam terus berdetak pada hitungan pasti, tak dapat diputar undur, angin semakin dingin. Di atas bayangan talam bulan masih menggantung pada gemerlap cahaya yang membangkitkan khayalan.

“Engkau bersedia menunggu?” kurasakan tangan Fransis memeluk punggungku, waktu seakan membawaku terbang menuju langit penghabisan.

Sebagai jawaban kucium lembut pipi Fransis.

“Ya, saya akan menunggu.”

Malam menukik pada suhu yang paling dingin, embun pertama telah gugur, hening malam yang dalam serta sesekali suara satwa liar. Bintang-bintang tampak lebih terang berpijar, dan kunang-kunang itu adalah lembut cahaya yang menggenapi nuansa. Aku tak pernah ingin melepaskan diri dari pelukan Fransis, aku ingin bersama selamanya. Aku terlupa, bahwa waktu dapat lebih cepat bergerak seakan terbang, karena cemas akan kehilangan.

“Tewerautaa! Pulang sudahoooo….. su mau pagi ini!” adalah suara bapa, aku tahu bapa tak perlu mengulang panggilan untuk yang kedua kalinya. Apa yang akan terjadi, bila aku tetap membiarkan diri bersandar pada pundak Fransis. Bapa masih meneruskan keinginan mama supaya aku menjadi ibu guru. Waktu untuk memancing karaka sudah habis, demikian saat-saat paling mengesankan bersama Fransis, demikian cepat berlalu.

“Bapa telah memanggil pulang, pulanglah. Besok kapal jam 10.00, bila engkau bersedia ke dermaga.” Fransis melepaskan tangan dari bahuku, sekilas ia memberikan ciuman kemudian melangkah tanpa pernah  kembali berpaling.

Di tempat berdiri aku terpaku seakan ukiran kayu, sulit menyadari segala yang baru terjadi. Tak pernah kusangka setelah seumur hidup perkenalan Fransis akan meminta kesanggupan menunggu dengan cara paling terhormat. Hanya sesaat, karena waktu tak pernah bersedia menanti, bahkan memintanya berjalan kembali ke rumah tanpa menoleh, esok akan membawanya pergi jauh—amat jauh dengan kapal putih. Aku akan mengenang malam mengesankan ini seumur hidup dalam susah dan senang, dalam harapan dan keputusasaan.

“Tewerauta!” suara bapa kembali memanggil.

“Iya Bapa …. Saya pulang,” tergesa kukemasi ember yang telah penuh karaka, pancing, serta helai kain yang mulai tua.

Ketika melangkah kembali ke rumah berupa perasaan menghantam seakan badai, kebahagiaan ini melambung sedemikian tinggi, seakan hendak mencapai cahaya purnama di langit malam. Aku mendapatkan permintaan dari orang yang tepat untuk hidup bersama suatu waktu, selamanya. Aku berhak bangga sekaligus bahagia untuk hal ini. Aku merasa amat  kuat dan tersanjung. Akan tetapi, pada jarak yang tidak terlalu lama, bahkan teramat dekat Fransis berpamit, menuju masa depan, pada tempat yang sangat jauh dan belum pernah sekali pun kukunjungi. Benarkah ia akan kembali? Benarkah ia akan menepati janji?

Kini aku harus menyadari arti ketakutan, arti kehilangan. Pertemanan selama ini dengan Fransis telah membawa pada suatu pengertian, aku benar tak sendiri dan sangat berarti bagi orang lain. Ketika akhirnya Fransis meminta kepastian, aku tergagap kemudian harus melepaskan kepergian pada hitungan waktu yang terlalu singkat. Kapan lagi akan bertemu? Mungkinkah memancing karaka pada malam bulan purnama tak akan pernah terulang?


Hingga langit terang mataku nyaris tak dapat terpejam, pada langit-langit bilik selalu tampak wajah Fransis. Aku terlambat mengenali arti segala sikap serta tatapan matanya, aku bahkan tak menyadari betapa nyaman selalu dengan kehadirannya. Kini Fransis berpamit dengan sebuah permintaan sekaligus janji untuk datang melamar, janji yang indah dan pasti kutunggu hingga akhir waktu. Hanya sesaat setelah mata memejam, aku tergesa bangun, aku hanya memiliki sisa waktu dengan Fransis hingga kapal masuk, selebihnya akan  menunggu dalam waktu yang amat panjang serta tak pernah tahu dimana ujungnya.

Misa Hari Minggu kuikuti dengan tergesa, aku masih dalam pakaian ibadah serta noken berisi Al Kitab kala datang ke rumah Fransis kemudian berjalan ke tambatan perahu bersama anggota keluarga yang lain kemundian menumpang long boat. Aku tak perlu merasa bersalah ketika menggandeng tangan Fransis, demikian pula ketika duduk merapat di sebelahnya. Suatu sikap yang membuat siapa pun mengerti, kami telah bersiap bagi hari perkawinan itu. Suatu hari yang aku bahkan belum mampu melihat, kecuali harapan  yang sangat jauh.

Dermaga dipenuhi ratusan, bahkan mungkin ribuan manusia, tukang pikul, pedagang, penumpang, dan pengantar, yang lebih banyak adalah pengantar. Matahari mulai menyengat, sungguh berbeda dengan sinar purnama kala aku hanya duduk berdua dengan Fransis, tetapi apa peduli. Selama Fransis di samping panas api pun tak berarti apa-apa. Aku masih memiliki kesempatan terakhir untuk selalu bersama Fransis,  ketika kapal putih stom dari kejauhan dengan suara keras membelah seluruh kehidupan di sekitarnya. Aliran darahku seakan membeku, waktu kembali melayang bersama jadwal pelayaran kapal, aku harus tahu arti tak berdaya. Suatu perasaan tak ingin kehilangan, tetapi harus, kali ini aku tak mampu membendung air mata. Setelah keberangkatan ini, masihkah aku bisa duduk berdua, menyandarkan kepala di bahu Fransis di bawah bulan purnama? Ketika bintang-bintang dan lembut sinar kunang-kunang ramai pula bertebaran.

Beberapa saat setelah kapal sandar, maka penumpang bersama segala rupa barang berdesak-desakan turun. Suasana hiruk pikuk nyaris tak terkendali, aku mulai kehilangan waktu. Ketika jarum jam sampai pada detik terakhir untuk kebersamaanku dengan Fransis, air mata gugur, isak tangis pecah, kujatuhkan diriku ke pelukan Fransis. Kini aku benar-benar terjebak pada rasa takut teramat dalam, teramat ragu untuk bisa kembali melepaskan. Wajah Fransis sayu menahan air mata, ketika melambai kemudian berdesakan menaiki tangga kapal bersama seorang anggota Polres Asmat yang bertugas mengawal hingga ke tempat tujuan. Rasa hampa menyergap ketika kapal kembali stom sebagai tanda keberangkatan, aku masih terpaku tanpa daya ketika kapal berputar menuju muara kemudian perlahan bergerak melawan riak ombak, membawa Fransis semakin menjauh. Tanganku yang pendek tak akan dapat menggapai—tak akan pernah dapat. Sampai kapal jauh di muara aku masih berdiri, tetapi tiba-tiba cuaca berubah dengan cepat, terik segera gelap karena  mendung, perlahan gerimis jatuh bagai cucuran air mata peri yang mengisak, karena duka hati. Aku mulai merasa tubuhku menggigil, kesempatan pertama harus kembali ke rumah untuk menyepi di dalam bilik setelah itu aku dapat menumpahkan seluruh rasa kehilangan, harapan, dan keputusasaan.

Oh Fransis ….

Setelah keberangkatan itu aku melalui hari-hari dengan hampa, segalanya berjalan lambat dan menakutkan untuk sebuah kabar. Ketika kabar dari Fransis tak juga datang, diam-diam aku menangis pada sudut bilik yang gelap, tetapi sampai berapa lama air mata ini harus mengucur? Ujian semester di ambang pintu, aku harus lebih sering bertandang ke rumah Ibu Guru Ambar untuk belajar soal-soal. Ibu Guru terus memberikan gambaran yang jelas tentang Yogya, ia tidak sedang berpura-pura ketika memintaku untuk pergi kuliah ke sana, ia telah mempersiapkan segalanya. Apakah aku harus undur diri? Jawaban dari suara hati adalah, “tidak”. Hal itu aku benar harus mempersiapkan diri untuk suatu masa pendidikan tinggi yang panjang pada peta yang sangat jauh dan tak mudah kumengerti, tetapi harus.

Tapi dimana Fransis?

Beberapa bulan kemudian, Julian, adik laki-laki Fransis tergesa datang dengan HP di tangan, “Fransis mau bicara!”

Aku tergagap, berapa lama sudah harus menunggu untuk datang hari ini, “Halo …. Fransis …. Apa kabar?” suaraku nyaris menjerit.

“Baik. Baru terima kabar kelulusan. Besok saya akan memulai hari pendidikan.” suara Fransis terdengar bangga, ia tak dapat menyembunyikan kegembiraan.

“Selamat …. Selamat …. Berapa lama?”

“Satu tahun.”

“Lama juga, tapi engkau sehat-sehat saja?”

“Saya sehat, latihan fisik setiap hari, kepala botak. Mungkin engkau tak mengenal saya lagi kalau ketemu,” ada nada rindu teramat dalam suara itu.

“Tak mungkin saya tak mengenal Fransis, jadi selama satu tahun engkau terkurung di tempat pendidikan?”

“Ya, demikianlah calon polisi. Tapi engkau masih bersedia menunggu?”

“Mengapa masih bertanya?”

“Tapi Tewe, saya tidak bisa berlama-lama, ada panggilan. Daaaa ….. sampai jumpa!” sambungan HP padam tiba-tiba. Aku terpaku, demikian ketatnya pendidikan itu, sehingga bicara via seluler juga sangat dibatasi waktu.

Aku seakan terlambung sedemikian tinggi ke langit biru, kemudian terhempas kuat-kuat dengan perasaan hampa. HP kuserahkan kembali kepada Julian, aku terlupa untuk mengucap terima kasih, pikiranku kembali melayang pada malam bulan purnama ketika menyandarkan kepala di bahu Fransis. Bahu itu kini demikian jauh tak terjangkau, bahkan suaranya menjadi amat mahal serta mustahil untuk didengar. Kapan lagi aku akan mendengar suara itu?

Jauh di dalam hati aku mengeluh, bila tahun berikut aku benar harus ke Yogya atas saran Ibu Guru Ambar, apakah aku masih dapat memancing karaka bersama Fransis di bawah bulan terang? Tiba-tiba keraguan menghantam sedemikian hebat, tak ada pilihan kecuali  menekan ragu untuk jangka waktu yang tak ada batasnya, atau sampai waktu benar membuktikannya.

Berikutnya aku membenamkan diri untuk persiapan ujian semester, mengikuti keinginan  Ibu Guru Ambar untuk belajar lebih keras pada hari aktif dan bersantai pada Sabtu sore, hari Minggu atau libur. Aku sudah berketatapan untuk meneruskan kuliah ke Yogya, hal itu berarti aku akan berada pada jarak semakin jauh dari Papua dan Fransis. Entah kapan akan terjadi pertemuan itu, aku mulai ragu. Kutekan keraguan sedemikian kuat, menjadi kesakitan, bahkan keputusasaan, tak seorang pun tahu di mana jalan hidup ini berujung.

“Magda! Saya tunggu besok di rumah untuk bakar ikan, sorenya jalan santai. Ajak Nurul juga!” suara Ibu Guru Ambar sepulang pelajaran.

“Baik Ibu,” acara bakar-bakar ikan serta jalan sore adalah hiburan segar di ujung jauh ini, aku dapat melupakan segala cemas serta rasa gamang, melupakan bahwa kebersamaan dengan ibu guru selalu dibatasi waktu. Pada akhirnya segalanya hanya tinggal kenangan, sekali pun tak terpisah dari ingatan, tetapi sulit kembali terulang.

Keesokan hari setelah misa pagi hari, aku bergegas berjalan kaki menuju ke rumah Ibu Guru, mujur Hengki dan Marius kelebihan hasil tangkapan, maka aku dapat menjinjing seekor ikan kakap berukuran besar yang masih segar. Sepasang mata Ibu Guru membelalak lebar melihat ikan dalam genggaman.

“Besar sekali, ikan segar lagi.”

“Marius dan Hengki pulang menjaring, ini rejeki hari ini,” tanpa meminta persetujuan aku menuju rumah bagian belakang untuk membersihkan ikan, mengucurinya dengan jeruk asam, membubuhinya dengan garam serta royco, dan lada bubuk. Kemudian menyalakan api tungku, setelah menjadi bara ikan akan dibakar hingga matang serta menebarkan aroma menakjubkan.

“Halo sayang,” tiba-tiba Yodi telah berdiri di samping meraih pinggangku dengan santai, seolah ia memang berhak untuk berlaku seperti itu. Ia tidak pernah tahu apa yang telah terjadi antara aku dengan Fransis, ia tak perlu tahu dan tak berhak untuk tahu dengan akibat ia teramat yakin meraih pinggangku tanpa rasa bersalah.

“Ehem.”

Terdengar suara Nurul berdehem, kerlingan sepasang matanya sungguh nakal serta membuat dada sesak. Nurul pun tak pernah tahu apa yang terjadi antara aku dan Fransis, betapa kerinduan ini membuatku seakan mati. Ia hanya tahu Yodi selalu mencari kesempatan mendekat, mendekat untuk suatu hari yang belum tentu akan tiba.

“Oh kiranya ada yang sakit batuk. Maka minumlah komix.” Yodi tetap tenang seperti biasanya, aku tak tahu mengapa ia masih juga berniat mendekat, meski aku tak pernah menanggapi, bahkan memasang muka “bunuh” muka seram.

“Ha ha ha ….” Nurul tergelak, suaranya lepas, memenuhi seisi rumah, ia tak peduli bahwa ia tengah berada di rumah Ibu Guru, bukan rumah pribadi.

Sekilas tampak Ibu Guru Ambar merasa geli melihat ulah siswa siswi, ia sama sekali tidak terganggu dengan suara tawa lepas yang bergaung pada seisi ruangan. Ia maklum akan sikap anak pelajar di luar jam sekolah. Kebebasan serupa kegembiraan tanpa batas. Nurul kembali membantu Ibu Guru Ambar memasak nasi, sambal, lalapan serta sirup dingin, Yodi membantuku menyalakan bara, membakar ikan, melumurinya dengan kecap serta minyak goreng. Udara segera penuh dengan aroma yang menerbitkan selera. Dari dalam ruangan terdengar denting piano Richard Clayderman, Ibu Guru penggemar musik klasik. Sebagai  penyerta aku mulai terlena dibuatnya, suara itu demikian merdu, sejenak aku bahkan terlupa pada posisi mana sebenarnya berdiri. Hingga akhirnya semua hidangan siap dan perut benar terasa lapar.

Entah apa yang sesungguhnya dibicarakan, tetapi Yodi tiba-tiba akrab dengan Nurul, keduanya tampak seakan dua sahabat tak terpisahkan, saling menyayangi. Aku hanya berdua dengan Ibu Guru Ambar menghadap meja mungil dengan masing-masing piring penuh hidangan lezat serta segelas sirup dingin.

“Engkau sudah benar bersiap ke Yogya untuk masa depan yang lebih baik?” Ibu Guru membuka pembicaraan.

“Kira-kira demikian Ibu,” jawabku singkat, Ibu Guru tampak lega, ia telah berhasil membangun keberanian seseorang untuk pergi jauh dalam rangka pendidikan tingga sekaligus kesetaraam gender.

“Ibu sedang mempersiapkan engkau punya beasiswa serta kemudahan untuk belajar di universitas negeri. Berdoalah, upaya itu terkabul,” ucapan Ibu Guru Ambar sungguh-sungguh.

“Jangan membuat Mama kecewa, engkau bisa menjadi lebih dari seorang Ibu Guru, dan hal itu akan mengubah seluruh hidup. Jangan ragu, jangan takut. Bila Nurul tidak menyertai, Ibu Guru akan mengantarmu ke Yogya, sekalian mengunjungi Tara.” Ibu Guru Ambar mengunyah makanan dengan nikmat, seolah seluruh beban hidup hanyalah desiran angin nan lembut, tak perlu dipersoalkan.

“Bicarakan dengan mama dan papa tentang rencana ini, mintalah doa restu supaya semua berjalan lancar,” Ibu Guru meneguk minuman dingin, kemudian menyeka mulutnya yang basah. Ia sungguh menikmati hidangan ini.

“Baik Ibu.”

“Besok akan ada tes masuk ke perguruan tinggi melalui penelusuran minat dan bakat. Jangan lewatkan dan tetap berharap yang terbaik.” Ibu Guru Ambar menganggukkan kepala, memberikan keyakinan.

Kali ini aku benar-benar mengerti untuk tidak mengatakan, “tidak” atau aku tak akan pernah sampai pada hari esok serta kesetaraan gender. Aku harus tahu arti kesungguhan hati, keyakinan serta masa depan. Ibu Guru Ambar sudah bekerja keras untuk hal ini. Adakah aku memiliki cukup alasan untuk menyia-nyiakan? Pastinya tidak.

Seperti biasanya aku kembali mengemasi perlengkapan makan yang kotor, mencucinya di westafel, menjungkirnya di rak piring. Nurul membersihkan lantai, sementara Yodi tampak membantu Ibu Guru memotong dahan pohon yang terlalu tinggi serta menyiangi tanaman. Setelah itu aku mencari tempat yang aman dari jangkauan Yodi untuk membaca buku saku tentang Yogya serta beberapa brosur tentang kota yang sama.

Sore hari kami jalan santai bertiga, akan tetapi menjadi riuh, karena bertemu dengan guru serta siswa yang lain dari sekolah yang sama. Maka aku selalu bisa memasang jarak dengan Yodi, menikmati kebersamaan yang dalam pada situasi berbeda dengan jam sekolah. Aku harus mengerti, bahwa betapa pun seorang mencintai tanah kelahiran, ia harus rela meninggalkan jauh di seberang lautan demi masa depan. Bukankah selalu hadir suatu waktu untuk kembali dan bersama lagi? Dedaunan tampak lebih hijau, demikian juga aneka warna bunga yang mekar pada halaman rumah. Langit biru tanpa batas, awan seputih kapas, adapun wajah-wajah yang berpapasan kemudian melambai adalah kesahajaan yang menyapa hingga ke relung hati terdalam.

“Ada apa sebenarnya antara engkau dengan Yodi?” Nurul berbisik, kerlingan matanya masih nakal dan  menjemukan.

“Tidak, ia belum tahu bila di dusun sagu seorang Teweraut adalah anak gadis kepala suku,” aku sungguh sebal dengan pertanyaan itu. Akan tetapi, Nurul sungguh menikmati canda ria bersumber dari kenakalan Yodi mendekatiku.

“Kamu cantik sih, maka banyak yang tergila-gila, ha ha ha ….” Suara gelak tawa kembali bergema seakan menggetarkan dedaunan, suasana menjadi riuh. Nurul tak pernah mau menyadari, betapa wajahku menjadi sangat jemu. Betapa aku merindukan Fransis, sedang apa ia sekarang? Adakah ia tengah bersiteguh di aral rintang, mendapat hukuman serta ganjaran, karena kelalaian? Bayangan itu sungguh jauh tak bertepi, aku harus tahu betapa menakutkan kehilangan. Sampai kapan harus menunggu? Kapan akan datang suatu hari untuk bertemu?

Pikiranku mengawang terlalu jauh, aku tak peduli ketika berulang kali Yodi mencuri pandang, ia tak pernah menyerah, dan aku lebih senang berpura-pura tidak pernah tahu. Aku telah menyerahkan seluruh hatiku kepada Fransis, bukan Yodi, si pengganggu yang selalu mendapatkan celah waktu untuk melirik dan mendekat. Di sepanjang jalan hingga kembali ke rumah yang terbayang pada wajahku adalah senyum manis Fransis, kerinduan ternyata menyakitkan. Aku tak pernah tahu sampai batas mana bisa mempertahankan.

Usai jalan sore, matahari padam dengan amat cepat, cahaya kekuningan dalam sekejap berubah menjadi temaram, memudar, memucat. Kami saling melambai untuk bertemu kembali esok hari, aku melangkah seakan terpuruk pada kesendirian yang teramat dalam tanpa dasar. Ingin rasanya aku terbang ke Jayapura, memeluk Fransis, menyatakan betapa aku merindukannya dan tak seorang pun mampu mengobati kerinduan itu kecuali sang kekasih hati. Aku membersihkan diri dengan cerpat tanpa sepatah kata hingga gelap tiba.

Malam ini benar tak segelap tinta, dari langit sebelah timur sinar bulan memancar cemerlang, bintang-bintang riang bertebaran seakan bersinar di atas sehelai kain beludru berwarna hitam. Aku kembali terseret pada suasana malam itu, malam ketika Fransis meminta kesediaanku menunggu kemudian berpamit pergi—berpamit pergi seakan tak akan pernah kembali. Benarkah?

Kuraih pancing, ember serta umpan. Aku hendak membenamkan diri ke dalam nostalgia yang berasa hampa, tak terelakkan betapa pun aku ingin menghentikan semuanya. Kiranya kewenangan manusia amat terbatas bahkan untuk sekedar bertemu. Kali ini aku merasa teramat kecil, jauh, dan tak berdaya, yang bisa aku lakukan adalah duduk persis di atas papan jembatan di dekat rumah, di atas kali untuk memancing karaka. Aku tak merasa susah atau senang ketika kail berhasil mendapatkan hasil tangkapan, aku hanya mematung memandang seisi kampung yang tampak temaram di bawah sinar rembulan.

“Tewerauta. Ada yang risau di kau punya hati?” tiba-tiba bapa telah duduk di sampingku, tepat di tempat Fransis pernah duduk, memintaku menunggu kemudian berpamit pergi.

Mulutku terkunci, aku tak tahu apa yang harus kukatakan, lidahku kelu. Kudengar bapa menghela napas panjang, seakan ia tahu segala yang gundah di ulu hati. Bapa seorang tua yang telah cukup kenyang dengan asam garam kehidupan. Ia telah ditinggalkan mama, telah mendapatkan pula pengganti, akan tetapi apa bedanya? Bayangan mama tak pernah menghilang dari ingatan, sering aku melihat bapa terduduk di depan makam mama, wajahnya muram. Ia menyembunyikan kesedihan teramat dalam pada sepasang matanya yang menua, untuk hal yang satu ini aku tak pernah berdaya menghiburnya.

“Bila memang jodoh, Fransis pasti pulang kembali untuk engkau. Bila tidak, akan ada cerita lain, ada yang mengatur, tak usah engkau sesali,” suara bapa berat.

Diam.

Malam merangkak mendorong bayangan talam rembulan di ketinggian. Sampai kapan aku akan menyembunyikan kegundahan hati, bukankah aku sudah tak sanggup lagi? Kurasakan tangan bapa merangkul pundak, angin berhembus dingin, bintang-bintang seakan menjauh, lesap dalam hampa. Aku tak berdaya ketika sepasang mataku berembun lalu gugur seakan gerimis, pipiku basah. Semula hanya gerimis, tetapi akhirnya tangis ini pecah seakan air bah, berubah menjadu genangan danau. Bapa membiarkan aku menumpahkan kesedihan, rupanya ia tahu, menangis selalu mengurangi beban hidup.

“Berat terpisah jarak dan mungkin  kehilangan, akan tetapi engkau harus memenuhi pesan Mama, menjadi ibu guru,” suara bapa serak, wajahnya sendu. Ia tak pernah benar sanggup ditinggalkan Mama, tak seorang pun mampu menggantikan tempat di hatinya. Tidak juga seorang perempuan bersahaja yang kini bersedia menjadi istrinya.

“Saya mengerti Bapa, saya akan menjadi lebih dari Ibu Guru, lebih dari sekadar pesan Mama,” aku masih bersandar di bahu bapa, tak mampu lagi menyembunyikan kerapuhan, karena sesungguhnya manusia adalah bagian baku dari rapuh.

Sekali lagi bapa menghela napas panjang, aku tahu kasih sayang bapa tanpa batas, terlebih setelah kepergian mama. Bapa akan melepas anak perempuan pergi jauh dengan amat berat, karena jarak yang meregang pada satu tempat yang belum pernah dan mungkin tak akan pernah dapat dikunjungi. Bapa tahu pula kerinduanku akan Fransis yang tak juga terobati –menjadi dewasa ternyata tak mudah, harus bersiap menghadapi segala kemungkinan dan kesulitan yang paling buruk sekalipun.

Aku tak tahu hingga berapa lama terduduk di atas jembatan, di bawah cahaya bulan, hingga malam sampai pada saat yang paling dingin, embun yang pertama gugur. Ember telah penuh dengan karaka dan sinak, sepasang mata seakan digayuti lempeng besi. Aku harus menyudahi malam ini untuk tidur dan kesibukan esok hari. Kami bergandengan tangan kembali ke rumah panggung yang semakin lapuk dan tua, meninggalkan lenggang suasana jembatan papan. Wajah Fransis tetap mengapung di langit-langit bilik ketika aku berbaring, semakin lama semakin mengabur hingga akhirnya aku pulas tertidur.

Keesokan hari dan seterusnya adalah masa yang melelahkan, karena aku kembali terjebak pada kesibukan belajar, menghadapi ujian praktek dan ujian akhir, mengikuti saran Ibu Guru Ambar untuk mengikuti tes di perguruan tinggi via undangan serta aplikasi untuk mendapatkan beasiswa. Segalanya berjalan apa adanya seperti air yang jatuh, seperti sungai yang mengalir, tak seorang tahu apa  yang akan terjadi esok hingga hari itu tiba dan segalanya benar terjadi, dan aku menjadi bagian dari kejadian itu.

“Magda!” suara Ibu Guru Ambar memanggil.

“Saya Ibu.” kujawab cepat.

“Kabar baik,” senyum Ibu Guru Ambar mengembang, mengundang harapan dan kegembiraan, tanpa diminta untuk yang kedua kali, aku pun tersenyum, sejenak melupakan kerinduan akan Fransis.

“Lihatlah ke papan pengumuman!” Ibu Guru membimbingku menuju papan pengumuman kemudian sepasang mataku terbelalak lebar hingga mengucurkan gerimis.

“Engkau berhasil diterima di universitas via undangan, bersiaplah berangkat. Beasiswa sudah siap.” Ibu Guru Ambar mengulurkan sehelai amplop cokelat.

Kali ini sepasang mataku nyaris meloncat dari kelopak, suatu keberuntungan serta kesempatan emas yang nyaris sulit didapat, kini tergenggam di tangan. Kupeluk Ibu Guru Ambar erat-erat, air mataku tergenang.

“Terima kasih Ibu ….”

Langkahku seakan terbang ketika kembali ke rumah untuk memeluk bapa dengan air mata berderai, “Bapa, saya pasti memenuhi pesan Mama, saya diterima di universitas Yogya dengan beasiswa pula!” lama saya terisak dalam pelukan bapa, rasa gembira meluap menjadi tangisan. Hingga akhirnya saya tersadar, bahwa kebersamaan dengan bapa di dusun sagu telah selesai hanya  tersisa hitungan hari. Setelah itu tak seorang pun tahu apa yang akan terjadi, kecuali mesti bertindak mengikuti kata hati dengan satu keyakinan aku tak boleh undur, tak boleh menyerah, langkah telah sejauh ini.

Bapa hanya mengganguk-angguk, sepasang matanya berkaca-kaca, ia tahu arti pelukan itu. Anaknya, Teweraut akan menempuh takdir hidup berbeda dari anak dusun sagu yang lain, meninggalkan kampung halaman, menuju peta sangat jauh yang tak akan dapat dikunjungi seorang kepala suku sekali pun, kecuali mukjizat. Setelah keberangkatan itu, kapan temu akan terjadi? Entahlah ….

Di depan pintu Marius dan Hengki menatapku dengan aneh, tak ada lagi tingkah lagi mengejek menyakitkan, karena aku hanya seorang anak perempuan yang akan selalu kalah berkelahi dan cengeng. Kekuatan seorang perempuan bukan fisik, bukan otot, tetapi  kemampuannya berprestasi dan bersikap baik. Aku telah membuktikan untuk itu, Hengki dan Marius kini hanya mampu berdiam tanpa sepatah kata. Tatapan dua pasang mata itu telah menyampaikan cukup kekalahannya, wajah kelam itu bahkan menunduk—menunduk. Wajah penjaring yang tergesa kawin muda menuruti keinginan diri dan tidak akan pernah membekali diri dengan selembar ijazah untuk hari esok yang lebih baik. Aneh, aku tak ingin bersorak. Aku pun diam tanpa sepatah kata, tak ada yang perlu dibicarakan dengan Marius atau Hengki.

Sekilas terbayang kembali kenakalan dua orang saudara di dalam bevak, diam-diam darahku kembali mendidih. Aku perlu waktu yang sangat panjang untuk meredakan amarah sekaligus memaafkan, meski kebersamaan dengan saudara sekandung hanya menyisakan hitungan jari. Kemudian tak seorang pun tahu apa yang akan terjadi.

Bersambung ….

Leave a Comment