Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Melankolia Hujan dan Musik Bisu
    Puisi

    Melankolia Hujan dan Musik Bisu

    10 Juni 2019Updated:13 November 2019Tidak ada komentar2 Mins Read51 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Setiap puisi memiliki proses penciptaan yang berbeda-beda dari pengalaman penyairnya. Itulah mengapa puisi bisa dikatakan karya sastra yang komplek. Kedekatan puisi dan pengalaman penyairnya itu menjadi setiap larik dalam puisi terasa romantis, sendu, sepi, tajam, keras bahkan dingin. Seperti membaca puisi-puisi Titis Nariyah, setiap lariknya seolah tengah mendeskripsikan gejolak batinnya. Puisi-puisinya hidup dalam setiap orang ketika selesai membacanya, seolah apa yang dituliskan oleh Titis adalah pengalaman setiap manusia, khususnya perempuan dalam mengenal kehidupan dan cinta. (Redaksi)

    [iklan]

    Puisi-Puisi Titis Nariyah

    Melankolia Hujan Dan Musik Bisu

    Padahal aku sudah nyaman
    berdansa di bawah rinai hujan
    yang sejuk aroma tubuhmu
    jika saja kutak kunjung sadar
    pelangimu bukan lagi aku

    Senda guaraumu serupa musik
    dari piringan hitam
    yang pelan-pelan sekali kusentuhkan
    pada stylus
    lalu kuputar berulang-ulang
    ;kini sengau

    Aku betah berlama-lama
    menyusuri jejak hutan teduh matamu
    terbenam di sana selama-lamanya
    ;terjerat

    Di luar hujan
    mendera jatuh
    banyak namun diam
    seperti percakapan-percakapan kita
    yang mirip simposium
    tanpa menuai kata mafhum

    Kakiku berhenti berdansa

    Gramofon tak lagi bersuara
    di hutan terlalu terik
    aku berangkat dari semua sia-sia
    tanpa mengoyak kata-kata

    Seseorang Yang Kujabat Tangannya  Dua Kali

    Pertama
    bertemu, berjabat tangan, kau menyeringai
    Lalu aku mengernyit mirip orang mengadu ingat
    ; lucu

    Sudah kusimpan satu kalimat sejak itu
    sorot matamu jenaka, mulutmu lapar kata-kata

    Perjalanan dimulai
    kau tak sekalipun bicara tentang akumu
    pun akuku

    kita seperti sepasang sepatu yang keliru
    tetap berjalan meski agak malu-malu
    aku jelas ingin berkata-kata
    tapi rangkaian kalimat menguap entah kemana
    mungkin jadi kabut

    Terakhir
    kita berpisah di tepi jalan
    tempat kau hendak makan
    kembali berjabat tangan
    mungkin (tidak) akan terjadi pertemuan kembali

    Aku pulang
    tanpa sadar  namamu telah tertapa rapi di sisi hati
    mampus aku dimaki-maki sepi!

    Nyala Terang

    Kepalaku pernah menyala seterang itu
    Senyumku pernah selebar mulut badut berhidung merah
    Sebelum satu kata darimu mewujud jelaga
    Mengerak dalam dada

    Nanti jika kita bertemu kembali
    Aku sudah berangkat dari luka sebab kausayat
    Tapi, kau tidak akan kuhapus dari puisi
    Sebab kenangmu  adalah bangku ruang kelas
    Yang sengaja kucoret-coret agar membekas

    Pelajaran yang jelas tak ingin kuulang

    TITIS NARIYAH, lahir di Pekalongan. Selain  hobi membaca, penulis juga gemar menekuni dunia pementasan. Bisa ditemui di Instagram @titis_n atau titisnariyah@gmail.com.

    Puisi Puisi Cinta puisi rindu Puisi Romantis puisi sepi
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleLima Tips Membuat Film Cinematic ala Film Festival
    Next Article Jibril yang Jatuh dari Langit Enambelas

    Postingan Terkait

    Puisi-Puisi Amanda Amalia Putri

    30 November 2025

    Puisi-Puisi Riki Utomo

    21 September 2025

    Puisi-Puisi Kang Thohir

    7 September 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Burung dan Masjid—Dunia Alam dan Dunia Ibadah

    9 Desember 20252 Views

    Puisi yang Segar untuk Mesin-Mesin Lapar

    3 Desember 202514 Views

    Ketika Bahasa Tegal Hampir Padam, Sastra Tegalan Menyalakan Api

    2 Desember 202510 Views

    Jika Cinta Datang: Tunduk dan Menyerahlah

    1 Desember 202510 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (206)
    • Bisnis (7)
    • Buku (83)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (158)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (77)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (187)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (22)
    • Sosial Politik (29)
    • Sosialita (142)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.