Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Cerbung » Mbah Samin Ngoceh (1)
    Cerbung

    Mbah Samin Ngoceh (1)

    7 Oktober 2021Updated:1 November 20211 Komentar3 Mins Read43 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Sejak awal percakapan, Mbah Samin sudah megap-megap menahan emosi. Ingin rasanya ia meremas-remas mulut Si Fulan yang asal mangap itu, seperti meremas kerupuk, krues… krues… huh ! remek dah lo! Benar-benar keterlaluan. Agama dia bilang seperti candu, Tuhan menjadi produsennya, Nabi dan Rasul sebagai distributor, dan umat manusia adalah konsumen yang siang malam mabuk surga dan neraka. Nauzubilah min dzalik, amit-amit jabang bayi. Ini orang pasti otaknya setengah mateng. Belum pernah kelilipan sendal anak muda ini. Ngomong koq sembarangan.

    Mbah Samin menyulut sebatang rokok untuk meredam geramnya. Si Fulan yang duduk di hadapannya itu memandang ke atas sembari berkata: “Sampai detik ini saya belum yakin kalau Tuhan itu ada. Setiap kali saya bertanya, baik itu kepada Pastur, Pendeta, Kyai, Ustad, Biksu, Rohaniawan, Profesor, dsb, dsb. Tidak pernah ada jawaban yang dapat membuat saya yakin bahwa…”

    “Boleh aku tahu, apa pertanyaanmu?”
    “Mbah yakin akan bisa menjawab?”
    “Keluarkan saja.”

    Si Fulan seperti ragu-ragu. Profesor saja nggak bisa menjawab pertanyaannya, apa lagi hanya seorang Mbah Samin. Sekolahnya saja di bawah pohon bambu. Bisa apa dia?
    “Baiklah, ada tiga pertanyaan yang kalau Mbah bisa jawab dengan baik, saya akan…”
    “Pertanyaan pertama.” Mbah Samin tak sabar lagi.
    “Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukkan pada saya seperti apa wujud Tuhan itu.”
    “Yang kedua?”
    “Seperti apakah yang dinamakan Takdir itu?”
    “Ketiga.”
    “Kalau memang benar setan itu diciptakan dari api, mengapa ia dimasukkan ke dalam neraka yang juga terbuat dari api. Tentu saja ia tidak akan merasa sakit.”

    Mbah Samin berdiri, mematikan rokoknya ke asbak, lalu menghampiri Si Fulan. Matanya menatap tajam.

    “Kamu sudah siap menerima jawaban?” Suara Mbah Samin terdengar datar, dingin dan ketus. Fulan mengangguk.
    “Ijinkan aku menampar pipimu, anak muda.”
    “Maksud Mbah Samin…”

    Klepok! Klepok!
    Dua tamparan yang cukup keras mendarat di pipi kiri dan kanan. Si Fulan tentu saja kaget dan heran. Sambil meringis menahan sakit, ia bertanya.
    “Mbah Samin marah?”
    “He he… Saya tidak marah. Tapi itulah jawaban atas tiga pertanyaanmu.”
    “Bagaimana bisa begitu, Mbah? Saya tidak mengerti maksudnya”

    Sambil mengelus pipi si Fulan, Mbah Samin bertanya.
    “Bagaimana rasanya tamparan saya?”
    “Ya sakit lah”
    “He he… Sakit? Jadi kamu percaya kalau sakit itu ada?”

    Si Fulan mengangguk. Mbah Samin tersenyum.
    “Sekarang tunjukkan pada saya seperti apa wujudnya sakit yang kamu rasakan itu”
    “E… nganu, Mbah. Saya… saya nggak tau, Mbah,” jawab Fulan sambil menggeleng.
    “Itulah jawaban yang pertama. Selagi kita masih hidup di dunia, kita hanya bisa merasakan keberadaan Tuhan namun tidak akan pernah bisa untuk melihat wujudNya.”

    Fulan manggut-manggut. Mbah Samin melanjutkan penjelasannya.
    “Apakah tadi malam kamu bermimpi ditampar oleh saya?”
    Fulan menggeleng.
    “Apakah sebelum kamu datang ke sini telah terpikir olehmu kalau akan menerima tamparan dari saya?”
    “Sama sekali tidak.”
    “Itulah yang dinamakan takdir.”

    Fulan manggut-manggut lagi. Mbah Samin menyodorkan telapak tangannya ke dekat wajah Si Fulan.

    “Terbuat dari apa telapak tangan saya ini?”
    “Dari kulit,” jawab Fulan agak gemetar. Takut kalau ditampar lagi.
    “Terbuat dari apa pipimu?”
    ”Kulit juga.” Fulan bertambah takut.
    “Bagaimana rasanya tamparan saya tadi?”
    “Sakit sekali Mbah.”
    “Itulah jawaban ketiga untuk pertanyaamu. Meskipun setan terbuat dari api dan Neraka juga terbuat dari api, jika Tuhan berkehendak maka Neraka bisa menjadi tempat yang menyakitkan bagi Setan.”

    Fulan kembali manggut-manggut. Hatinya bertekuk lutut.  Pelan-pelan dia berdiri, lalu ngeloyor pergi tanpa permisi lagi.  Mbah Samin mengiringi kepergian si Fulan dengan tersenyum. Dalam hati dia berkata: “Makanya punya otak jangan taruh di dengkul. Dipatok ayam jadi bego lu seumur-umur. He he he…”

    ***
    Dapoer Sastra Tjisaoek, medio des 2020.

    Ocehan berikutnya: https://mbludus.com/mbah-samin-ngoceh-2/

     

    cerita asal gobleg cerita komedi komedi Samin
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticlePerjalanan Pulang
    Next Article Tradisi Tumpeng Sewu

    Postingan Terkait

    Ban Ben Bun : Kisah Santri Uthun Meraih Impian (3)

    5 September 2022

    Ban Ben Bun : Kisah Santri Uthun Meraih Impian (2)

    19 Juni 2022

    Mbah Samin Ngoceh (6)

    2 Februari 2022

    1 Komentar

    1. Pingback: Mbah Samin Ngoceh (2) - Mbludus.com

    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Puisintaksis dan Manusia Algoritma: Ketika Peluncuran Buku Menjadi Peristiwa Ontologis

    21 Februari 202687 Views

    Buku Sang Nabi

    9 Februari 202614 Views

    Hak Tubuh Istirahat

    26 Januari 202613 Views

    Zaman Apokaliptik

    4 Januari 202695 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (207)
    • Bisnis (7)
    • Buku (84)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (78)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (188)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (143)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.