Ahmad Soleh Penyair kelahiran Cirebon ini mempunyai gaya tutur yang terduga kekinian dalam setiap cara ungkap di Puisi puisinya, sebut saja ada kata: Cuan, Cetar, Tol, dan Ponsel. Pada puisi puisi besutan Penyair yang sekaligus mengaku sebagai Pengrajin Puisi, juga terjejak adanya semangat milenial yang cenderung lugas, dan apa adanya.
Tidak perlu bersanjung kata: “Mau terserah, tidak mau ya tidak apa apa“. Begitulah aroma puisi puisinya kali ini, dipertegas dengan adanya tukilan tanda kurung di bait puisinya, semisal pada kalimat:
/mempersilakan mobil lain (yang berpapasan) untuk menanjak/. Tukilan tanda kurung di dalam bait puisi bisa jadi dapat dipersepsi bahwa Si Penyair memang sedang bereksperimen dalam menggali cara ungkap: logika, rasa, karsa maupun imajinasi dalam berpuisi. Pantas saja, jika Penyair ini mengaku sebagai Si Pengrajin Puisi. (redaksi).
Perjalanan Pulang
Sehabis liburan
sudah biasa bila badan
merasa kelelahan
dan kepayahan
apalagi esok Senin
mikirnya saja
bikin badan ringsek
pikiran pun renyek
mengingat
tugas-tugas menumpuk
di meja kerja
padahal honornya tak seberapa
mesti menyambi usaha
menggembala kata
demi hidup yang hidup
ya, hidup yang hidup
menggembala kata
adalah beternak pikiran
mengasuh perasaan
menggugah harapan
bukan begitu?
bila suatu saat
mendapatkan cuan
itu bukanlah keberuntungan
anggap saja tuhan sedang barahan
tentu, senang bukan kepalang
sujud syukur
jangan lanjut mendengkur
sebab perjalanan pulang
paling palung
adalah ke dasar
renung.
Depok, September 2021
Buah Tangan
Mobil yang kami tumpangi berangkat pukul sepuluh pagi
perjalanan lancar melewati turunan agak terjal
sesekali mobil kami berhenti
mempersilakan mobil lain (yang berpapasan)
untuk menanjak
jalanannya memang sempit,
lagi berbatu, dan licin bila hujan
jendela sengaja kami buka
itung-itung menabung udara segar
yang tentu amat mahal dan tak diobral di kota
di kota (tempat kami jalani hidup)
udara bercampur debu dan asap
sekali hisap napas sudah pengap
mesti menyalakan penjernih udara
yang harganya amat tinggi
memang udara jadi terasa segar
tetapi dompetku gemetar
bayar tagihan listrik yang cetar
perjalanan tertahan sejenak
di lapak oleh-oleh kami habiskan uang
beberapa kilo ubi bakar
beberapa kotak kue moci
(kue bulat berisi kacang manis)
dan beberapa bungkus rujak mangga
(yang asam sekali rasanya)
kami borong, sampai-sampai kantong bolong
sesampai di pintu tol
kami bayarkan sejumlah uang kepada “negara”
yang dengan sigap membangun tol di mana-mana
sambil menggusur tanah di mana-mana
sat set,
dengan lekas kami tiba di pintu rumah
mengetuk gelisah yang kemarin ditinggal liburan
oh benar, kangen itu hanya isapan jempol
sebab pekerjaan yang bertumpuk
membuatku (juga kamu) terlampau sibuk
dan kita kerap asyik-masyuk
ke dalam ponsel cerdas itu
perihal buah tangan yang kami borong tadi
tentu ada hal yang tak bisa kaubeli
ya, kubawakan sejumlah puisi
bacalah, bacalah sepenuh hati
tapi jangan diambil hati.
Depok, September 2021
Ahmad Soleh, pengrajin puisi kelahiran Cirebon 24 Februari 1991. Alumnus Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia Uhamka, Jakarta, ini gemar menulis puisi sejak duduk di bangku aliyah di sebuah madrasah aliyah swasta di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Puisi-puisi Soleh pernah terbit di berbagai media, seperti Republika, MadrasahDigital.co, Gagas.ID, GhirahBelajar.com, dan Rahma.ID. Beberapa puisi sudah terbit menjadi buku. Di antaranya kumpulan puisi Untuk Mak Eha (Penerbit Camar, 2015), Hujan Ibu Kota (2018), dan Aku Ingin Menjadi Rumah Buatmu (2019). Buku kumpulan puisi terbarunya, yaitu Memutus Wabah Pilu Menyemai Benih Rindu (2020).
