Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Kritik Sastra » Hai Maha Wai Rida K Liamsi : Mengungkap Nama yang Tersembunyi
    Kritik Sastra

    Hai Maha Wai Rida K Liamsi : Mengungkap Nama yang Tersembunyi

    4 Maret 2023Tidak ada komentar8 Mins Read2 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Hai Maha Wai Rida K Liamsi : Mengungkap Nama yang Tersembunyi

    Oleh Ahmadun Yosi Herfanda, pemred Litera

    Buku kumpulan puisi Hai Maha Wai  karya Rida K. Liamsi (Salmah Publishing, 2022) diberi pengantar panjang yang sangat filosofis oleh Prof. Yusmar Yusuf. Meskipun kagum dengan pengantar yang begitu dalam dan luas,  saya takkan masuk ke “jebakan filsafat” yang dibuka Prof. Yusmar. Biarlah itu menjadi bagian Prof. Abdul Hadi WM, yang sama-sama guru besar filsafat untuk berdialog dengannya. Saya akan memasuki Hai Maha Wai melalui jalan lain yang lebih gamblang bagi apresian.

    Pertama saya juga kagum pada Rida K Liamsi yang secara kreatif-imajinatif menemukan kata “wai” untuk digunakan menjadi “Maha Wai” guna mengikat semua sajaknya, dengan berbagai kemungkinan pergeseran maknanya. “Wai” adalah kosa kata Melayu-Indonesia yang sudah jarang dipakai kecuali untuk nama sungai dalam bahasa Lampung: Wai Sekampung, Wai Tulangbawang, Wai Suputih, Wai Mesuji, dan Wai Kambas.

    Tentu bukan “sungai” yang dimaksud Rida dalam frasa puitik “Hai Maha Wai”. Kosa kata “wai” juga ada dalam Bahasa Thailand, China, dan Hawai. Ada perubahan makna kata “wai” yang cukup menarik. Jika diawali dengan kata “mei” menjadi “mei wai” bisa berarti: kau tidak dapat pergi begitu saja. Maknanya, seseorang terikat secara spiritual oleh sesuatu yang dicinta, yang selalu dirindu. Manurut KBBI daring, “wai” juga berarti kata seru untuk menyatakan terkejut, terheran-heran, meminta perhatian. “Wai anakku jangan lupa pesan ayahmu.” Ada makna spiritual pada kalimat sederhana itu.

    Padanan kata “wai” adalah “wahai”, yang menurut Wiktionary berarti kata seru untuk menarik perhatian, memanggil, memperingatkan, bertanya-tanya karena ada sesuatu yang luar biasa. “Wahai ayah apa yang harus kita lakukan sekarang?” Pada kalimat sederhana itu terkandung sesuatu yang luar biasa, sesuatu yang harus segera diselesaikan. Sepertinya puisi-puisi Rida bertumpu pada makna spiritual itu. Ada sesuatu yang luar biasa, sehingga Rida memakai frasa puitik “hai maha wai’”.

    Kata “wai” atau “Hai Maha Wai” dimanfaatkan Rida K. Liamsi tidak sekadar untuk judul kumpulan sajaknya, Hai Maha Wai (Ratna Ayu Budiarti, ed.), tapi juga pengikat atau pembingkai semua puisi dalam buku kumpulan sajak tersebut. Semua  sajaknya diberi sub judul Hai Maha Wai, dan sebagian besar puisinya juga diawali dengan frasa puitik “Hai Maha Wai”.

    Apa yang dimaksudkan Rida dengan frasa puitik itu? Jika “hai” adalah kata seru untuk menarik perhatian, maka yang diseru untuk memberi perhatian adalah “Maha Wai”. Kita lihat, Rida menggunakan dua kata seru, “hai” dan “wai” dalam frasa puitik “Hai Maha Wai.”

    Siapakah yang diseru atau dipanggil “Maha Wai” oleh Rida dan mengawali serta mebingkai semua sajaknya? Dengan membaca puisi pertama dalam buku ini, yang diberi judul “Hai Maha Wai (1): Percakapan Setelah Tahajud”, bait pertama dan kedua, kita sudah bisa tahu dengan gamblang siapa yang dimaksud “Maha Wai” itu:

    Hai Maha Wai (1)

    : Percakapan Setelah Tahajud

    Hai Maha Wai
    Pinjamkan aku
    Satu huruf dari tujuh yang tak ada
    Dalam Al-Fatihah-Mu
    Untuk menjadi sesuatu dalam puisiku
     
    Beri aku Tsa
    Biar dia menjadi safari
    Lambang kepedihan dan keterasinganku
    Sebagai mahluk yang terdampar di dunia
    Sendiri dengan segala kelapaanku
    Mengembara seperti seekor kedidi
    Mencari jalan pulang
    Memanggul sesal dan dosa-dosa

    Kita yakin benar bahwa yang punya Al-Fatihah adalah Allah, Tuhan yang Maha Esa. Dalam puisi ini Rida menyampaikan maksudnya untuk meminjam satu huruf yang tak ada dalam Al-Fatihah untuk menjadi sesuatu dalam puisinya. Rupanya saat menulis puisi itu Rida kehabisan tema, atau kehabisan sesuatu (something) untuk dikembangkan jadi puisi.

    Perlu ada sesuatu dalam puisi. Tanpa susuatu puisi takkan ada maknanya, hanya akan jadi permainan kata-kata belaka. Dalam istilah Randra, puisi hanya akan jadi renda-renda. Lalu, Rida meminta tsa untuk menjadi safari, lambang kepedihan dan keterasingan.

    Nama yang Tersembunyi

    Jika kita simak seluruh isi buku itu, sebagian besar puisi Rida, terutama yang diawali dengan frasa puitik “Hai Maha Wai”, ditujukan kepada Allah. Barangkali, ini persoalannya, kenapa Rida menyebat Allah sebagai “Maha Wai”. Bukankah Allah sudah mengabarkan bahwa ada 99 nama untuk mengenal diri-Nya, 99 Asmaul Husna. Saya mencari panggilan “wai” pada 99 nama itu. Namun, tidak menemukannya.

    Nama Allah memang tidak hanya 99, seperti yang tersebut dalam Alquran dan dikabarkan kepada hamba-hambanya. Ada nama-nama yang Maha Hebat dan masih tersembunyi. Karena, sesungguhnya nama Allah tidak terhingga sekaligus tidak terbilang, tidak mungkin dibatasi oleh angka-angka.

    Dalam kitab Tafsir Istirobadi  dijelaskan, “Sesungguhnya Allah memiliki 4000 nama. Dimana 1000 nama hanya Allah yang mengetahui, kemudian nama yang ke 1000 selanjutnya hanya Allah dan para malaikat yang mengetahui, selanjutnya nama yang 1000 di lauhul mahfudz, yang 300 dalam kitab taurot, yang 300 dalam kitab injil lalu yang 300 ada di kitab zabur dan yang 100 dalam kitab Alquran. Dimana dari 100 asma Allah dalam Al-Qur’an hanya 99 yang dzohir sedangkan yang 1 asma Allah samar yaitu ismul a’dzom. Hanya para Nabi dan Rasul yang mengetahuinya.”

    Kemudian, dalam Tafsir Ruhul Ma’ani (jus IX hlm 191) Imam Al-Alusi menjelaskan, bahwa para ulama sepakat boleh menyebutkan nama-nama dan sifat bagi Allah (yang masih tersembunyi itu) selama tidak dilarang oleh syari’at dan memiliki arti jelas memuji Allah swt, serta tidak ada kemungkinan merendahkan-Nya.

    Penyair Rida K. Liamsi menemukan salah satu nama yang tersembunyi itu, yaitu “Maha Wai”, sebagai Zat yang “Maha Mengejutkan”, tempat mempertanyakan segala suatu yang luar biasa, sekaligus mengikat dirinya untuk selalu mencintai dan merindukan-Nya.

    Sederhana dan Religius

    Jika disimak seluruhnya, ada beberapa puisi, sebagian kecil dari puisi yang dimuat dalam buku ini, yang tidak diawali dengan frasa puitik “Hai Maha Wai”, tapi tetap diberi sub judul “Wai Maha Wai” yang menyatukan dengan semua puisi dalam buku ini, misalnya “Wai Maha Wai (2): Beri Aku Sajadah” berikut ini:

    Hai Maha Wai (2)

    : Beri Aku Sajadah 

    Sosok compang-camping
    Dari masa laluku
    Bertabik di pintu
    : Beri aku sajadah
    Lalu terdengar isak tangis
    Seperti puisi yang dibacakan di malam
    Yang kehilangan detak jarumnya

    (Bait pertama)

    Puisi-puisi dalam Hai Maha Wai sebenarnya cukup gamblang dan relatif mudah ditebak maknanya. Tidak ada makna yang disembunyikan dalam majas yang pelik, atau dalam simbolisasi yang rumit. Majasnya sederhana, dengan metafor yang gampang diungkap maknanya.

    Kutipan penggalan puisi “Hai Maha Wai (1): Percakan Setelah Tahajud” dan “Hai Maha Wai (2): Beri Aku Sajadah”, kiranya cukup mewakili kesederhanaan ungkapan-ungkapan sajak Rida dalam buku ini. Maknanya kadang jadi berlapis karena dibungkus dengan frasa puitik “hai maha wai”. Coba kita simak puisi “Hai Maha Wai (7): Apakah Cinta Masih Dipercaya” berikut ini:

    Hai Maha Wai (7)

    : Apakah Cinta Masid Dipercaya?

    Hai Maha Wai
    Apakah cinta masih dipercaya?

    Aku telah menurunkan kalender dari dinding
    Menyimpan ingin dan ingatanku
    Dalam laci kapadihan
    Takdir memang bukan milikku
    Tak dapat dikalahkan dengan kata-kata
    Walau tetap tersisa mimpi
    Tapi pesona hidup, puisi, dan juga misteri
    Membeku bersama waktu
    Sesekali ketika makan siang
    Aku kembali menyaksikannya berdenyar
    Di kilatan mata seekor arwana

    (bait pertama)

    Jika kita cermati temanya, puisi-puisi Rida dalam Hai Maha Wai  sebagian sangat religius, dan bahkan kadang agamis. Puisi-puisi yang dikutip di atas menampakkan religiusitas yang kental itu. Puisi-puisi yang bernuansa sosial, dan politik, juga menjadi religius, terutama yang diawali dengan frasa puitik “Hai Maha Wai”.

    Sedangkan yang tidak diawali dengan frasa puitik itu, dan hanya mendapat sub judul Hai Maha Wai, religiusitas itu tampak hilang, berganti dengan nuansa humanis, dan kadang bernuansa historis. Mirip perempuan memakai jilbab. Dilihat sepintas tampak religius. Sementara, bagian bawahnya memakai jean atau rok. Coba kita simak kutipan-kutipan puisi berikut:

    Hai Maha Wai (12)

    : Mengenang SDD

    Hai Maha Wai
    Apakah makna kehilangan wahai aduhai?

    Kehilangan adalah hujan
    Yang menulis puisi di jalan-jalan
    Tidak hanya di bulan Juli
    Hujan telah berubah jadi duka
    Mengekalkan pedihnya di semua celah waktu

    Kehilangan adalah puisi
    Yang tak pernah selesai ditulis
    Seperti hari yang tak bisa menunda hujan
    Meski mendung diusir angin
    Tapi luka yang membumbung bersama kata-kata
    Tak bisa menjadi garam waktu
    Mencairkan duka kembali menulis puisi
    Di jalan-jalan

    (Bait pertama – ketiga)

    Hai Maha Wai (15)

    : Bung, Hari Ini Enam Juni

    Bung, hari ini enam Juni
    Kami masih mengingatmu
    Meski kepalamu telah lunglai
    Di rumah tua
    Di runtuhkan kekuasaan
    Yang menempatkan
    Bayonet di semua lantai

    Adakah kau tahu
    Dulu, di bangku sekolah
    Kekanak dipaksa menghapus namamu
    Dari buku sejarah
    Para lurah menurunkan foto-fotomu
    Dari dinding kantor dan rumah warga
    Wakil-wakil rakyat mengetuk pintu
    Menyingkirkan jejakmu dari peta sejarah

    ….

    (Bait pertama dan kedua)

    Begitulah gambaran sepintas sajak-sajak Rida K. Liamsi yang terkumpul dalam Hai Maha Wai. Puisi-puisi religius, puisi-puisi humanis, dan puisi-puisi historis, dibingkai menjadi satu keutuhan dalam sub judul Hai Mahai Wai. Frasa puitik ini sekaligus mengangkat ungkapan-ungkapan yang sederhana menjadi berbobot estetik dan menggoda pembaca untuk menikmatinya.

    Pamulang, 1 Maret 2023

    Makalah ini telah dibacakan 4 Maret 2023 pada peluncuran buku Hai Maha Wai di PDS HB Jassin, TIM. 

    Dokumentasi foto: Herman Syahara 

     

    buku puisi Hai Maha Wai Rida K Liamsi
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleAnugerah Gelar Sutan untuk Ustad Daden Sukendar
    Next Article Peluncuran Buku Hai Maha Wai karya Rida K Liamsi

    Postingan Terkait

    Harga Sebuah Kicauan: Sebuah Narasi Narsisme Antroposentris

    18 April 2026

    Diksi Unik di Puisi Emha Ainun Nadjib “Doa Terampun Ampun”

    12 Desember 2025

    Burung dan Masjid—Dunia Alam dan Dunia Ibadah

    9 Desember 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Kolam Renang “Bukit Lumpang” Menjadi Destinasi Warga Lokal

    27 April 20269 Views

    Situs Ziarah KH. Abdul Hanan Babakan Ciwaringin Cirebon

    27 April 20266 Views

    Healing Murah Meriah di Pantai Kejawanan: Wajah Baru, Vibes Makin Seru!

    24 April 202612 Views

    Wisata Waterpark Tiga Bintang Firdaus Indramayu

    24 April 20267 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (79)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (189)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (162)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.