Oleh Kek Atek
Ada yang bilang bahwa untuk mengenal seseorang, tidak harus bertemu langsung di dunia nyata, tetapi bisa melalui mengenal karya, termasuk puisi yang dilahirkannya. Demikian juga ketika memulai membaca Puisi besutan Penyair Sil Sila Yusuf yang tayang di Portal mbludus.com, di laman https://mbludus.com/puisi-puisi-sil-sila-yusuf/. Mesin pencari data di internet, tidak terlalu membantu untuk mengetahui lebih lanjut tentang Penyair Sil Sila Yusuf, apalagi di halaman mbludus.com yang menayangkan Puisi karyanya, tidak mencantumkan keterangan siapa Sang Penyair Sil Sila Yusuf tersebut. Sehingga decak krenyit pikir segera mencoba memprediksi perwatakan Sang Penyair: Jangan jangan bisa dikenali dari satu diantara karya puisinya.
Karya puisi Sil Sila Yusuf yang dimaksud, berjudul /Cerita Jalanan/, seperti di bawah ini [1].
Cerita Jalanan
Banyak kendaraan di jalanan
Lupa memberikan perhatian
Kepada aspal yang menutupi kerikil dengan penuh cinta
Meski terkadang mereka harus terbakar
Atau habis dikikis air hujan
Mereka tanpa keluhan
Membuat orang merasa nyaman
Hilir mudik
Membawa kenangan
Ia memang tak hafal
Langkah mereka yang memilih masa depan
Yang tertatih di trotoar
Atau yang menetap di satu jalan
Tapi kepergian selalu menjanjikan
Meski berakhir samar dan temaram
Di jalanan mereka belajar melupakan
Tangerang, 24524
Potensi mengenal Penyair lewat karya Puisinya
Puisi karya Penyair Sil Sila Yusuf yang berjudul /Cerita Jalanan/ bisa dikatakan berpotensi mengandung makna lahir dan atau batin. Hal ini jika mengacu pada pendapat para ahli bahwa setiap diksi puisi mempunyai makna lahir dan atau batin [1]. Sedangkan di dalam tulisan selain puisi, biasanya hanya ditemui arti lahir saja, bahkan tidak boleh multi tafsir, terutama untuk karya tulis ilmiah [2] atau pun tulisan berita di Koran. Kedua jenis karya tulis ini diharapkan mampu membantu pembaca untuk membedakan antara: fakta, fiksi, dan nuansa di antaranya (Westlund, 2019 dalam [3]).
Oleh karena itu kembali pada Puisi /Cerita Jalanan/, pastilah bagi sesiapa termasuk penulis sebagai penikmat puisi, akan berusaha menikmati puisi tersebut dengan terlebih dahulu mengenali makna, dan logika dari teks yang menjadi semacam tanda tanda penuangan pikir dan rasa dari Sang Penyair.
Untuk memudahkan penelusuran dalam menikmati puisi, penulis akan memberikan angka urutan bagi setiap baris, dan bait Puisi. Angka urutannya seperti di bawah ini.
Cerita Jalanan
1/
Banyak kendaraan di jalanan (1)
Lupa memberikan perhatian (2)
Kepada aspal yang menutupi kerikil dengan penuh cinta (3)
Meski terkadang mereka harus terbakar (4)
Atau habis dikikis air hujan (5)
Mereka tanpa keluhan (6)
Membuat orang merasa nyaman (7)
Hilir mudik (8)
Membawa kenangan (9)
Ia memang tak hafal (10)
Langkah mereka yang memilih masa depan (11)
Yang tertatih di trotoar (12)
Atau yang menetap di satu jalan (13)
Tapi kepergian selalu menjanjikan (14)
Meski berakhir samar dan temaram (15)
Di jalanan mereka belajar melupakan (16)
Tangerang, 24524
Puisi /Cerita Jalanan/ besutan Penyair Sil Sila Yusuf secara teks terdiri dari Satu bait, dan 16 baris sesuai nomor urutan masing-masing. Dari gaya tutur puisinya, dapat diprediksi bahwa Sang Penyair merupakan kreator puisi yang bersikap: tenang, lembut, pendiam, perenung yang mendalam, sekaligus mampu menyembuhkan luka melalui puisi. Seolah telah lama ditempa tantangan hidup dan kehidupan. Sehingga mampu menikmati keindahan secara detail, yang mungkin orang lain dengan mudah melupakannya; seperti jejak di aspal, trotoar, dan di jalanan.
Betapa tidak, hal ini terpancar dari nuansa diksi diksi yang beraroma: a). Kepekaan dan empati, seolah mampu melihat /aspal yang menutupi kerikil dengan penuh cinta/ (3) dan sempat juga memikirkan /mereka tanpa keluhan/(6). Baris baris ini mengungkapkan bahwa Penyair adalah orang yang gemar memerhatikan hal-hal kecil, yang kadang diremehkan oleh orang lain.
Justru Sang Penyair mengangkatnya menjadi metafora sosok manusia yang hadir tanpa keluhan, dan ikut merasakan beban pikiran orang lain. b). Perenungan yang Filosofis, Baris /Di jalanan mereka belajar melupakan/ (16), /Tapi Kepergian selalu menjanjikan/(14), dan /meski berakhir samar dan temaram/ (15). Kedua baris ini bukan sekadar narasi berdeskripsi jalanan, tetapi lebih kepada ungkapan tentang: jalanan, kehidupan, perpisahan, dan masa depan. Ungkapan ini berhasil menggambarkan bahwa kreator puisi bertipikal sebagai perenung pikir seputar kejadian sehari hari, sambil bertanya: “ini untuk apa, dari mana, dan maknanya apa?” c). Ketabahan dan Pasrah diri, Hal ini tersirat dari diksi di tiga baris berturut turut, yaitu: Meski terkadang mereka harus terbakar (4), Atau habis dikikis air hujan (5), Mereka tanpa keluhan (6). Tiga baris ini beraroma cermin diri dari Sang Penyair, yang mungkin sudah terbiasa dengan luka bakar rasa dan pikir, tetapi tetap memilih bahwa hidup harus jalan terus; tanpa pernah mengeluh, tetap lembut, dan tangguh. d). Kesepian tanpa meninggalkan sikap bijak. Situasi dan kondisi ini tercermin jelas pada tiga baris ini: /Langkah mereka yang memilih masa depan (11)/, /Yang tertatih di trotoar (12), dan baris /Atau yang menetap di satu jalan (13)/. Sang Penyair terkesan tidak hanya bertindak sebagai pengamat, tetapi juga merasakan dan mengambil pelajaran dari semua yang terjadi di sekitar, khususnya di jalanan. e). Nuansa Nostalgia sekali gus Luka,
meski dinyatakan dalam bahasa yang samar /Meski terkadang mereka harus terbakar (4), Hilir mudik (8). /Membawa kenangan (9)/, /Ia memang tak hafal (10)/ dan /Langkah mereka yang memilih masa depan (11)/.
Di jalanan pun sang Penyair bisa belajar melupakan, dan move on dari luka bakar kehidupan. Mungkin dia pernah merasakan panasnya perpisahan, tetapi tetap sabar dan ihlas menerimanya.
Menyelami Teks Puisi dan Kata kata Penyair
Puisi tentu tidak bisa terpisah dari kata kata, baik yang berarti apa adanya, makna metafora, atau pun berupa tanda atau karakter dari papan ketik, semisal: @, -, #, dan yang semacamnya. Para ahli sastra, ada yang bilang bahwa Puisi mengandung struktur fisik dan struktur batin [4]. Struktur fisik berupa: diksi, rima, ritme, tipografi, kata konkret, imaji, dan gaya bahasa. Sedangkan struktur batin terdiri dari: tema, rasa, nada, dan amanat.
Di sisi lain Pakar sastra H.M.B. Yasssin berpendapat bahwa Puisi merupakan suatu karangan yang mengandung irama. Sedangkan Herbert Spencer mengatakan bahwa Puisi merupakan bentuk pengucapan gagasan yang bersifat emosional dengan mempertimbangkan efek keindahan. Kedua pendapat tersebut disampaikan oleh Dr. Iis Ristiani, S.Pd., M.Pd dalam materi bahan ajar Kajian dan Apresiasi Puisi dan Prosa [5].
Dari beberapa pendapat tersebut, mungkin masih punya peluang adanya potensi memperkaya aroma pemindaian adanya unsur puisi yang berupa Teks puisi dan Kata kata Penyair. Teks puisi adalah wujud fisik puisi, yang berupa aksara atau pun tanda yang tertulis di media tulis, di kertas atau pun di layar komputer. Teks puisi bisa diindra oleh panca indra. Tulisannya di media tulis terlihat mata, bisa diraba kulit, lidah pun bisa mengecapnya, jika disuarakan bisa didengar telinga, dan aroma teks di kertas juga bisa dicium oleh hidung,
Sedangkan Kata kata Penyair di puisi, itu semacam perangkat kemanusiaan yang berpotensi melekat, tidak terpisah dari penyairnya, dan substansinya pun cenderung abstrak dengan muatan bisa multi tafsir.
Hubungan keberadaan Teks puisi dan Kata kata Penyair, sejatinya bisa diidentikkan dengan hubungan keradaan Teks Puisi sebagai Perangkat keras (hardware) dan Kata kata Penyair sebagai Perangkat lunak (software) di sistem komputer, meskipun tidak tepat benar.
Keduanya saling ketergantungan satu sama lain. Teks puisi saja tanpa Penyair, hanyalah berupa kumpulan aksara, angka atau tanda, mungkin akan tanpa makna dan tanpa rasa. Penyair saja tanpa Teks: gagasan, rasa, dan logika bahasanya akan tetap mengendap di pikiran atau pun perasaan; tanpa ada orang lain yang bisa mengindranya.
Di perangkat keras hampir semua org punya kesempatan membaca dan menikmati Teks puisi, karena kasat mata dan mudah diindra. Sedangkan kandungan perangkat lunak tidak semua orang dapat menikmatiknya, bahkan mungkin tidak bisa mengakses membuka kunci rahasianya, karena dipenuhi oleh password kunci pembuka, karena untuk membukanya berpotensi memerlukan logika tersendiri, makna asing, bahkan rasa yang unik dari kata katanya.
Demikian juga, jika nuansa pikir tentang Teks puisi dan Kata kata Penyair ini diterapkan untuk menikmati Puisi /Cerita Jalanan/ guritan Penyair Sil Sila Yusuf, maka dari sisi Teks puisinya, bisa berupa batang tubuh puisi, dan ciri fisik hardware puisi yang tampak, yaitu:
- Bentuknya: 16 baris bebas, tak terikat rima. Panjang-pendek, Ada baris 2 kata: `Hilir mudik`
- Jeda & irama: bisa dibaca pelan pelan, mirip pejalan kaki di trotoar menikmati suasana.
- Settingnya konkret, yaitu: jalanan, aspal, kerikil, trotoar, kendaraan, dan air hujan.
- Tanggal & tempat: Tertulis Tangerang, 24524, sebagai bukti bahwa puisinya lahir di waktu dan tempat nyata, di Tangerang.
Pastilah masih banyak lagi ciri fisik dari teks puisi yang bisa dinikmati melalui panca indra. Semua bisa jadi tergantung pada fokus dan persepsi si penikmat puisi, dari sisi fisik bagian mana yang memungkinkan untuk dinikmati. Sedangkan Kata kata Penyair yang berpotensi sebagai perangkat kemanusiaan atau software puisi, sebagian telah disampaikan di uraian di atas, ketika si penikmat puisi mencoba memprediksi sikap, pikiran, dan kebijakan Penyair dalam merespon fenomena yang terjadi di sekeitarnya. Hal ini diantaranya bisa memungkinkan untuk mengenal sang Penyair melalui karya puisi, khususnya puisi yang berjudul /Cerita Jalanan/.
Tentu maksud dari pengayaan penikmatan puisi melalui jalur Teks puisi dan Kata kata Penyair, boleh jadi tidak bermakna apa apa bagi puisi, bagi pembaca, atau bahkan bagi penyair sendiri.
Semua dikembalikan pada diri masing masing, khususnya bagi penikmat puisi. Selamat berpuisi, dan teruslah berpuisi, wahai Penyair!
Daftar Pustaka
- Budi Setia Pribadi, Dida Firmansya, 2019, Analisis Semiotika Pada Puisi “Barangkali Karena Bulan” karya WS. Rendra, Parole (Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia), Volume 2 Nomor 2, Maret 2019.
- Pengasuh Rubrik Sains, 2022, Belajar Menulis Karya Tulis Ilmiah, mbludus.com https://mbludus.com/belajar-menulis-karya-tulis-ilmiah/
- Dr. Hj. Mulharnetti Syas, M.S., Dr. Mas’ud Muhammadiah, M.Si., Dr. Main Sufanti, M. Hum., Dr. Nurhasanah Haspiaini, M.Si., Dr. Mulyanti Syas M.Si., Dr. Yuri Alfrin Aladdin, M,Si., M.A., M.I.Kom., Dr. Dwi Purbaningrum, M.Si., 2025, PENULISAN BERITA, CV BRAVO PRESS INDONESIA, ota Pekanbaru, Riau.
- Siti Sarah, Teti Sobari, Heri Isnaini, 2021, ANALISIS UNSUR-UNSUR FISIK DAN UNSUR-UNSUR BATIN DALAM PUISI “ISYARAT” KUNTOWIJOYO, Parole (Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia), Volume 4 Nomor 1, Januari 2021.
- Iis Ristiani, S.Pd., M.Pd, 2012, Kajian dan Apresiasi Puisi dan Prosa, Aswaja Presindo, Jogyakarta, http://eprints.unsur.ac.id/271/1/Iis-Ristiani-Buku-Kajian-Puisi-dan-Prosa-Fiksi-1%20(1).pdf
Penulis:
Kek Atek atau Kakek Atek, biasa dikenal juga sebagai Atik Bintoro
Penikmat Puisi tinggal di Rumpin, Bogor, Jawa Barat – Indonesia
Pegiat Komunitas Dapoer Sastra Tjisaoek
