Menolak Pulang
Sandal kiri di bawah kursi
masih menyimpan debu jalan;
solnya miring sedikit,
seperti menunggu kaki yang ragu.
Gelas plastik dekat jendela
menahan sisa manis.
Semut datang berbaris
lebih tertib daripada kabar rumah.
Kancing di dasar laci
tidak lagi mencari baju.
Ia hanya berputar kecil
setiap laci dibuka terlalu cepat.
Struk belanja pudar tintanya,
tetapi harga tetap tinggal:
angka-angka tipis
yang menempel di belakang kepala.
Kunci tanpa gantungan
dingin di telapak tangan;
ia tak lagi yakin
pintu mana yang pernah percaya.
Foto keluarga terlipat sudutnya;
satu wajah tampak separuh terang,
separuh lagi tenggelam
di putih kilat kamera.
Di balik kalender lama, tertulis:
beli beras, bayar listrik,
angkat jemuran,
jangan lupa biasa saja.
Sendok kecil di rak belakang
berbunyi sebelum disentuh,
seolah dapur punya cara
memanggil yang tidak lapar.
Malam bergerak pelan di rumah.
Benda-benda itu tidak hilang;
mereka hanya berpindah
ke tempat yang sulit ditanya.
Di lantai, sandal kiri
tetap menghadap pintu,
sementara debu baru
mulai menutup namanya
Memakai Hari Senin
Kenakan Senin
seperti kemeja lama;
periksa dulu kerahnya,
barangkali ada lelah yang mengeras.
Jangan kancingkan terlalu rapat.
Dada perlu sedikit udara
untuk menyimpan bunyi
yang belum mau disebut sakit.
Di saku kirinya,
selipkan uang kecil,
tiket bus,
dan wajah yang bisa dipinjam.
Di saku kanan,
lipat marah pelan-pelan;
jangan sampai ujungnya keluar
saat namamu dipanggil.
Jika ada noda kopi,
biarkan saja.
Tidak semua pagi
harus tampak bersih.
Setrika senyum seperlunya.
Rapikan hanya bagian luar;
orang-orang jarang memeriksa
jahitan di dalam tubuh.
Menjelang sore,
Senin mulai longgar
di bagian bahu.
Benangnya tertarik
dari arah pulang.
Jangan dilipat rapi
ketika malam tiba.
Gantungkan saja di belakang pintu,
masih dengan hangat tubuhmu.
Besok pagi,
barangkali kemeja itu
akan turun sendiri
sebelum kau bangun.
Pesan Tertahan
I
Bu, aku hampir menelepon.
Di ujung jari, tombol hijau
berubah menjadi pintu
yang enggan kubuka.
Aku takut suaramu
sedang mengangkat pagi
dari lantai rumah
sebelum siapa pun bangun.
Maka kurekam napas:
tiga detik, lima detik,
garis suaraku bergetar,
lalu kuhapus.
II
Aku ingin bilang
hari ini tidak terlalu baik,
tetapi kalimat itu membesar
di layar yang kecil.
Kau bertanya, “sudah makan?”
kalimat pendek
yang selalu menemukan cara
menjadi tangan.
Di belakangku, kipas berputar.
Di depanku, namamu menyala.
Suaraku berhenti
sebelum menjadi gelombang.
III
Kalau aku jarang pulang,
jangan cari salah
di gagang pintu
atau sandal depan rumah.
Kadang aku hanya perlu
menjauh sebentar
dari kalimat yang datang
dengan telunjuk.
Rekaman terakhir
berhenti pukul 23.17.
Tidak kukirim.
Namamu tetap menyala.
Dinda Fatimah Zahra Syam Alfauzan, pemilik nama pena Faqod Faaz, lahir di penghujung tahun 2001. Ia merupakan mahasiswa Sosiologi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia yang masih belajar membaca hidup melalui puisi. Beberapa puisinya pernah meraih penghargaan dalam lomba kepenulisan tingkat nasional. Kini, ia terus menanam jejak di media daring.
