Oleh Atik Bintoro
Bisa dirasakan bahwa, hampir tidak ada orang yang mengerti persis tentang Peradaban yang telah dilahirkan oleh Nahdatul Ulama/NU selama 100 tahun pertama NU ini. Sebagian besar orang termasuk pembesar NU sekali pun, berpotensi rata rata dalam memandang NU, mirip dengan orang yang nongkrong di tepi pantai. Kemudian orang tersebut menikmati banyak peristiwa yg terjadi di permukaan air laut. Belum sampai menyelam, apalagi jalan jalan di dasar laut. Lebih jarang lagi yg bersedia membongkar gundukan pasir dan tumpukan hancuran kerang di dasar laut, untuk mengetahui ada apa di dalamnya. Dan berpotensi makin sangat sedikit lagi, yang bisa memprediksi ada apa di balik garis horison Lautan nun jauh di sana.
Oleh karena itu, hampir bisa diprediksi bahwa peradaban yg diceritakan oleh orang orang tersebut, tidak lebih dari hasil pikiran sendiri, dan tdk berakar pada peradaban warisan 100 th NU. Padahal 100 th NU ini, pastilah telah meninggalkan prestasi adi luhung yang luar biasa. Rasa ketidaktahuan tentang peradaban NU ini, bisa dinikmati ketika khotib Jum’at, atau pun penceramah agamanya dari org NU. Jarang sekali didengar dari Sang Khotib atau Penceramah tersebut menyampaikan “ngendikane” Muasis, atau pun Masayih NU.
Terkesan hampir tiada beda dengan isi khotbah atau Ceramahnya orang non-NU. Paling banter, biasanya hanya beda di muqodimah khotbah/Ceramah, dan penutup khotbah/Ceramah. Prestasi NU selama 100 tahun ini, ibarat Konstruksi Candi. Tertulis di batu batu berserakan, mulai dari ideologi NU s/d Kosmologi, dan Epistemologi ilmu ala NU.
Selama 100 tahun NU ini, juga belum ada Nahdiyyin yg berkenan untuk menyusun batu batu prestasi tersebut menjadi satu kesatuan Konstruksi ke-NU-an. Sehingga dari konstruksi tersebut akan tampak bangunan prestasi NU, mulai dari: Infrastruktur, Struktur, dan Suprastrukturnya
Karena belum tampak konstruksi NU-nya, maka yang tampak nyata hanyalah yang di permukaan, antara lain:
Potensi rebutan jabatan struktural NU, Polemik urusan jatah Tambang, Berebut menjadi Menteri, Bupati dan seterusnya, serta ada yang bingung, pingin menjadi seperti organisasi massa non-NU, dan sebagainya.
Padahal Dokumen tentang NU sudah tersimpan rapi di Gedung Arsip Nasional – ANRI di Jakarta. Tinggal datang ke ANRI, mempelajari Teks dokumen, dan melakukan riyadoh, tirakat serta ziaroh tentang teks dokumen tersebut, agar tembus bisa memahami makna di balik teks dokumen. Misalnya bisa mengambil hikmah tersembunyi dari kalam mbah Hasyim Asy’ari yang tertulis di Muqodimah Qonun Asasi, bukan hanya paham teks dokumennya saja.
Konon katanya dokumen NU yang disimpan di ANRI melebihi jumlah dan mutunya lebih baik, jika dibandingkan dengan dokumen TNI – POLRI sekali pun, yang tersimpan di ANRI. Namun demikian, masih sedikit Nadiyyin yang berkenan mempelajari dokumen tersebut. Apalagi sampai mempelajari Qonun Asasinya mbah Hasyim Asy’ari, lebih langka lagi orangnya.
Untuk membedah Qonun Asasi, sebaiknya diawali dari pertanyaan: Apa dan mengapa Mbah Hasyim Asy’ari beserta Muasis dan Masayih NU, berkenan mendirikan NU? Dari jawaban inilah, bisa mengantarkan pemahaman tentsng Muqodimah Qonun Asasi, Batang tubuh, dan Bayannya.
Maka tidak heran, jika ada yang bilang bahwa Qonun Asasi ini, mampu melahirkan semangat inspirasi untuk terbitnya UUD 1945 yang asli, mulai dari: Pembukaan UUD 1945, Batang tubuh, dan Penjelasannya, pada 18 Agustus 1945. Dari pemahaman Qonun Asasi ini, akan lahir: Konsep, Agenda, Strategik, dan Taktik ala NU.
Dari sinilah akan timbul harapan lahirnya Peradaban berkelanjutan NU, untuk menyongsong 100 tahun ke depan, yang bergaya Religius ke-NU-an (Aswaja An-Nahdiyah), Cinta Tanah air (Hubbul waton minal iman), dan bersifat Populis (Manfaat dan berkah keumatan).
Jika tdk ada pemahaman terhadap Qonun Asasi, bisa berpotensi hanya menjalankan:
Konsep orang lain,
Agenda orang lain,
Strategik orang lain, dan
Langkah Taktik & Praktisnya dari pihak lain.
Kasaran kata, Orang lain dan atau pihak lain, bisa berkata: NU Itu boleh ada, tetapi cukuplah hanya bergiat di: Tahlilan, Hadrohan, dan giat keagamaan yg bermakna sempit sempit saja. Jangan masuk ke ranah pelaksanaan program pokok utama, sesuai dengan semangat Qonun Asasinya mbah Hasyim Asy’ari.
Qonun Asasi
Untuk bisa memahami Qonun Asasi-nya mbah Hasyim Asy’ari, satu diantaranya melalui pemahaman tentang latar belakang berdirinya NU.
Pendirian NU merupakan respon mbah Hasyim Asy’ari bersama Muasis & Masayih NU terhadap keadaan jaman ketika itu, yang ditandai dengan masa:
- Perang dunia/PD 1 berakhir di th.1918.
- Th.1924 Turki Usmani runtuh.
- 1926, berdiri kerajaan Hijaz & Nejd, sebg cikal bakal Kerajaan Arab Saudi 1936, yang ketika itu berhaluan Wahabi, dan cenderung memusuhi Aswaja berbasis Abu Hasan Al-Asy’ari.
- Liga Bangsa Bangsa tidak berjalan efektif.
- Mulai timbul gejala aliansi negara negara menuju PD 2.
- Ada prediksi jika PD 2 benar benar terjadi, pasti peperangan tidak akan selamanya. Seperti halnya PD 1, juga berakhir.
- Penjajahan antar bangsa diprediksi segera berhenti.
- Berpotensi akan muncul Negara negara baru di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
- Timbul pertanyaan: pada kondisi seperti itu dan seterusnya, Siapa yang akan menyelamatkan Aswaja versi Abu Hasan Al-Asy’ari?
- Penyelamatan terhadap Aswaja versi Abu Hasan Al-Asy’ari tidak bisa dilakukan sendiri sendiri, karena akan begitu mudah dibubarkan, seperti di luar Nusantara.
Maka penyelamatannya wajib melalui Jam’iyah dan Jama’ah.
Idealnya
Selama 100 th NU ini, sudah sepantasnya telah melahirkan Musonnif/Inovator tentang review/sarah Qonun Asasi mbah Hasyim Ast’ari di bidang Ipoleksosbudhankam saintek bisnis dan industri ala ke-NU-an, dari level: Skripsi, Thesis, Disertasi, Orasi Professor, sampai amaliah praktek kehidupan sehari hari.
Dari sinilah Peradaban ala NU, bisa berpotensi menjadi Peradaban alternatif dunia, jika suatu ketika: USA, Eropa, Cina, Jepang, dan Timur tengah; mulai berangkat menuju senja maghrib kan tiba di ujung Barat.
NU bisa menyodorkan peradaban alternatif fajar masriq dari Timur: NUSANTARA An-Nahdiah.
Akhir kata, Di Muktamar NU pada 27 – 31 Agustus Th. 2026 di Jombang, Jawa Timur, Semoga terpilih AHWA dan atau forum musyawarah kasepuhan Kiyai kiyai NU, yg mempunyai semangat kembali ke Qonun Asasi. Sehingga bisa melahirkan Pemimpin beserta anggota dari jajaran: Mustasyar, Suriah, dan Tanfidiyah, sampai ke Banom, beserta Lembaga; Yang paham, atau minimal berkenan berusaha memahami Qonun Asasi, dan mau melaksanakannya. Aamiin.
SELAMAT BERMUKTAMAR NU.
Semoga tambah Barokah, Sehat, dan Sukses lahir batin.
Aamiin.
Rumpin,
25 Agustus 2026
Penulis:
Atik Bintoro, biasa dipanggil sebagai Kek Atek, tinggal di Rumpin, Kab. Bogor
Jawa Barat, Indonesia
Instruktur Nasional Akademi Kepemimpinan Dipantara
