Radio Yang Sibuk Bekerja
:1998
Di kemarau yang panjang ini
Radio tetap saja sibuk melakukan pekerjaannya:
Duduk di atap meja
Sambil menjual makanan pada pendengar
Demi satu suapan nasi untuk istri cantiknya
Namun dengan bodohnya, ia selalu saja menjual makanan
Yang sudah biasa dimakan
Seperti pemerkosaan, semisal
Atau penjarahan
Atau penculikan
Siapa yang ingin membeli produk pasaran itu?
Tiba gerhana menembakkan cahaya kepada wajahnya
Yang termangu .Dan ia pun pulang menyisakan isak
di dalam map coklat, karena ia berjualan tak pernah laku
Bersamaan juga dengan suratnya yang sunyi dari mata pemburu
Ia pun sama ingin mencicipi makanan baru
Cirebon, 2025
Tentang Hari Ini
Ketika ia menulis tentang hari ini, kalimat-kalimat yang ditulisnya
Selalu saja berdentingan dari atas meja. Berserakan
Tak ada yang mampu mengeja. Dan dibiarkan begitu saja
Hari ini
Lengan-lengan manusia memang diciptakan lebih pendek dari sebelumnya
Kalimat-kalimat yang baru saja lahir tak ada yang mampu memungut
tubuh-tubuhnya. Mereka dibiarkan tumbuh dewasa tanpa adanya keluarga
Mungkin saat mereka dewasa akan mejadi kalimat yang penuh kata amarah
Atau mungkin akan menjadi kalimat-kalimat yang penuh kata tabah
Hari ini
Di tanah yang kaya akan bahasa manusia hidup tanpa kalimat
Manusia hanya berbicara dengan tanda tanya lalu dijawabnya dengan tanda seru
Cirebon, 2025
Anak Wajah Asing
:14 Mei 1998
Bu…
Aku lihat di wajah jendela—ada yang lamat-lamat menyala
di deratan jalan, sewaktu kita dan Bapak menikmati keindahan cinta
Apakah di luar itu senja?
Atau kembang api milik rakyat asli yang bangga atas Negerinya, Bu?
Mengapa kita tak ikut serta atas pesta poraknya, Bu?
Wajah-wajah mereka merekah seperti bunga kamboja
Yang aku petik minggu lalu di pusara Bapak
Pula derap langkah mereka bergetar-getar
Bagai tapal kereta kencana di dalam seremonial kerajaan
Kian mereka mulai berdatangan dan berderet di halaman kita, Bu
Mungkin ingin mengajak kita bersulang segelas kopi
Atau mungkin sekedar mengajak kita menonton kembang api
Bu…
Mengapa mereka tidak menegtuk pintu?
“Tetaplah di balik jendela, Nak
Atau bersembunyi di balik pelukan ibu.”
Cirebon, 2025
M. Febriansyah, lahir pada 28 Februari 2004 di kota Cirebon provinsi Jawa Barat. Ia seorang mahasiswa prodi Tasawuf dan Psikoterapi di Univesitas Muhammadiyah Cirebon. Dan menyantri di pondok Buntet Pesantren Cirebon. Beberapa puisinya sudah ada yang terpilih dan dimuat di sayembara buku-buku antologi puisi dan media online di Indonesia.
