Oleh Dwi Scativana Isnaeni
Malam sebelum kirab terasa lebih sepi dari biasanya. Bukan karena desa benar-benar kehilangan suara. Orang-orang masih berbicara di teras rumah, masih berlalu-lalang melewati jalan kecil yang mulai gelap, masih terdengar bunyi peralatan dapur dari rumah-rumah yang sibuk mempersiapkan keperluan esok hari. Namun, semua suara itu seperti ditahan. Percakapan berhenti ketika seseorang datang, bisikan mengecil ketika ada yang mendekat, seolah ada sesuatu yang tidak boleh disebut terlalu keras.
Raras duduk di ambang pintu rumahnya. Dari kebun singkong di belakang rumah, angin membawa aroma tanah basah yang perlahan memenuhi udara malam. Ia menarik napas panjang, mencoba mengenali bau yang dulu begitu akrab baginya. Dahulu, aroma itu adalah bagian dari keseharian yang tidak pernah ia pikirkan. Namun malam itu, setelah bertahun-tahun meninggalkan desa, bau tanah tersebut justru terasa asing. Seperti sesuatu yang pernah menjadi miliknya, tetapi kini tidak lagi sepenuhnya ia kenali.
“Besok kamu harus siap.” Suara ibunya terdengar dari dapur. “Jangan bikin malu keluarga.” Raras tetap menatap halaman yang mulai tenggelam dalam gelap. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan, tetapi semuanya terasa berhenti di tenggorokan.
“Kalau aku tidak mau?” katanya pelan. Pisau di tangan ibunya berhenti. Untuk beberapa detik, hanya ada keheningan. Lalu suara mengiris kembali terdengar. Kali ini lebih cepat, lebih keras, seperti seseorang yang sedang berusaha menenggelamkan sesuatu yang tidak ingin didengar.
“Kamu sudah lama pergi,” kata ibunya akhirnya. “Jangan pulang cuma untuk melawan.” Raras menunduk.
“Aku pulang bukan untuk ini.”
“Lalu untuk apa?” Pertanyaan itu menggantung di antara mereka. Raras tidak menjawab. Bukan karena ia tidak ingin menjawab, tetapi karena ia sendiri tidak benar-benar tahu. Ia hanya tahu satu hal: kepulangannya tidak terasa seperti pulang. Ia kembali ke rumah tempat ia dibesarkan, tetapi rasanya seperti memasuki tempat yang menyimpan terlalu banyak cerita yang tidak pernah selesai.
Pagi datang terlalu cepat. Sejak subuh orang-orang sudah sibuk. Jalan dipenuhi kain warna-warni. Bau kemenyan terlalu kuat, bercampur dengan asap dapur. Di ujung jalan, gamelan dipukul lebih keras dari biasanya. Seolah ini bukan hanya kirab. Seolah ini harus berhasil. Raras berdiri di halaman, kebaya menempel di bahunya. Sanggulnya ditarik terlalu kencang sampai kulit kepalanya terasa nyeri.
“Bagus,” kata panitia sambil melihatnya dari atas ke bawah. “Pas.” Raras tidak menjawab. Di bawah pohon, Mbah Dirga duduk. Sendiri. Orang-orang lewat, tapi tidak ada yang benar-benar menyapanya. Raras mendekat. “Kamu masih mau?” tanya lelaki tua itu tanpa menoleh. “Mau apa?” “Bawa itu.” Raras menarik napas. “Aku tidak punya pilihan.” Mbah Dirga tertawa kecil. “Kamu pikir kami dulu punya?” Raras menoleh cepat. “Maksudnya?” Lelaki itu tidak langsung menjawab. Matanya tetap ke depan. “Tidak semua yang kamu lihat hari ini… dimulai sebagai pilihan.” Raras diam. “Kalau aku tidak mau?” tanyanya lagi. “Kamu akan diingat.” “Sebagai apa?” “Kamu sudah tahu jawabannya.” Sebagai yang memutus. Kata itu kembali muncul, tapi kali ini terasa lebih dekat. Ketika tandu itu dibawa keluar, kerumunan langsung bergerak.
Orang-orang maju tanpa sadar, mendorong satu sama lain. Anak-anak diangkat. Ponsel terangkat tinggi. “Cepat!” teriak seseorang. “Jangan lama!” Di atas tandu, dibungkus kain putih kusam, akar itu terbaring. Raras dipanggil. Ia melangkah maju. “Fokus ya,” bisik panitia di belakangnya. Suaranya tidak lagi ramah. “Jangan macam-macam.” Raras berlutut sedikit. Menyentuh kain itu. Dingin. Ia mengangkatnya. Beratnya tidak masuk akal. Tangannya langsung tegang. “Cepat angkat tinggi,” kata panitia. Raras menurut. Sorak kecil terdengar. “Bagus!” “Pas!” Raras menahan napas. Ia tidak merasa apa-apa selain berat.
Kirab mulai berjalan. Barisan rapi. Gamelan mengalun, tapi terlalu cepat. Seperti dikejar waktu. Di pinggir jalan, orang-orang berdesakan. Sebagian tersenyum ke arah kamera, bukan ke arah kirab. Seorang ibu menarik anaknya menjauh saat Raras lewat. “Jangan dekat-dekat,” katanya pelan. Raras mendengar. Dadanya mulai tidak enak. Lalu suara itu datang. Awalnya seperti dengung. Lalu menjadi potongan kata. Banyak. Tidak jelas. Bertumpuk. Raras sedikit goyah. “Jangan berhenti!” suara panitia langsung menekan dari belakang.
“Aku…” Raras menarik napas. “Aku dengar—” “Sudah biasa. Jalan!” Nada suaranya berubah. Tegas. Hampir kasar. Raras diam. Ia melangkah lagi. Gambar itu muncul tiba-tiba. Hutan. Tanah basah. Orang-orang berlari. Bukan berjalan. Berlari. Seorang perempuan hampir jatuh. Ia tidak berhenti. Seorang lelaki menarik anak kecil terlalu keras. “Cepat!” Api di belakang mereka. Besar. Mendekat. Raras terengah. Ini bukan kirab. Ini pelarian. Langkahnya melambat. Barisan mulai goyah. “Raras!” suara panitia kini benar-benar panik. “Jangan berhenti! Jalan!”
Pendopo sudah terlihat. Tapi justru di situ—Raras ragu. Kalau ia terus jalan, semua akan selesai. Seperti biasa. Ia bisa menyerahkan akar itu. Selesai. Ia hampir melangkah lagi. Hampir. Tangannya sedikit turun. Beban itu sudah hampir ia letakkan ke depan. Sedikit lagi. Selesai. Tinggal beberapa langkah. “Ya, begitu,” bisik panitia cepat di belakangnya. “Terus. Jangan aneh-aneh.” Raras menatap lurus. Pendopo tinggal dekat. Orang-orang menunggu. Semuanya sudah siap. Seperti tidak ada ruang untuk yang lain. Langkahnya maju satu. Lalu berhenti lagi. Suara itu kembali. Lebih jelas sekarang. Bukan hanya kata-kata. Tangisan. Teriakan. “Jangan tinggalkan—” Terputus. Raras tersentak. Tangannya mengencang. Ia tidak jadi melangkah. “Jalan!” suara panitia meninggi. Kali ini tidak disembunyikan lagi.
“Kamu mau bikin kacau, ya?” Beberapa orang mulai memperhatikan. Barisan di belakang menumpuk. “Raras!” Panitia itu sekarang berdiri di sampingnya. Tangannya terulur. “Serahkan sini. Kamu tidak kuat.” Tangannya hampir menyentuh akar itu. Refleks. Raras mundur satu langkah. “Jangan,” katanya. Tidak keras. Tapi cukup jelas. Panitia itu menatapnya tajam. “Ini bukan urusan kamu. Ini urusan desa.” “Ini juga urusanku,” jawab Raras, napasnya tidak rata. “Tidak. Kamu sudah pergi.” Kalimat itu cepat. Tajam. Lebih sakit dari yang ia kira.
Kerumunan mulai berisik. “Sudah, ambil saja!” “Ganti orang lain!” “Jangan bikin malu!” Kata itu lagi. Malu. Selalu itu. Panitia itu maju lagi. Kali ini tidak ragu. “Serahkan,” katanya pelan, tapi menekan. Tangannya hampir meraih akar itu. Raras menahan. Akar itu sedikit bergeser. Hampir jatuh. Beberapa orang berteriak. “Hati-hati!” “Jangan sampai jatuh!” Untuk sesaat, semuanya kacau. Barisan pecah. Orang-orang mundur, sebagian justru maju. Gamelan berhenti tiba-tiba. Sunyi yang aneh. Raras memeluk akar itu. Kuat.
Dingin yang tadi menusuk berubah. Tidak hangat sepenuhnya. Tapi tidak lagi asing. Suara di kepalanya berhenti. Sunyi. “Ini bukan sekadar benda,” kata Raras. Suaranya tidak stabil. Tapi cukup keras untuk terdengar. “Ini bukan hiasan.” Tidak ada yang bergerak. Panitia itu masih berdiri di depannya. Menatap, tapi tidak lagi maju. “Kita bilang ini asal-usul kita,” lanjut Raras, “tapi kita cuma ambil bagian yang enak.” Ia menatap kerumunan. “Yang lain kita simpan. Kita rapikan. Biar bagus dilihat.” Beberapa orang menunduk. Beberapa menatap tajam. Beberapa tetap mengangkat ponsel—ragu, tapi tidak menurunkannya. Ibunya terlihat di antara kerumunan.
“Raras…” suaranya pecah. “Sudah. Cukup.” Raras menatapnya. “Cukup untuk siapa, Bu?” Ibunya tidak langsung menjawab. Air matanya jatuh. “Tidak semua hal harus dibuka.” Kalimat itu pelan. Tapi berat. Raras menarik napas. “Kalau terus ditutup… kita cuma mengulang. Tanpa tahu kenapa kita mulai.” Ia melangkah maju. Sendiri. Tidak ada lagi barisan. Tidak ada lagi iringan. Orang-orang membuka jalan, tapi ragu. Seperti tidak yakin ini masih bagian dari acara atau bukan.
Di depan pendopo, semuanya sudah disiapkan. Terlalu rapi. Kain putih, bunga, sesajen—semua menunggu. Seperti tidak ada kemungkinan lain. Raras berhenti. Melihatnya sebentar. Lalu berlutut. Tangannya langsung menyentuh tanah. Lembap. Dingin. Ia mengeruk sedikit. Tanah menempel di jarinya. Di belakang, suara-suara mulai naik lagi. “Jangan di situ!” “Itu bukan tempatnya!” Panitia itu bergerak maju lagi. “Raras, cukup!” Tapi kali ini ia tidak berhenti.
Akar itu ia letakkan langsung di tanah. Bukan di atas. Bukan di tempat yang disediakan. Sunyi. Benar-benar sunyi. Lalu—“Ini salah!” seseorang berteriak dari kerumunan. “Ini melanggar!” Suara lain menyusul. “Kita bisa kena!” Tidak lagi bisik-bisik. Sekarang jelas. Terbuka. Raras berdiri. Tangannya masih kotor tanah. Ia melihat sekeliling. Wajah-wajah itu tidak lagi sama. Ada yang marah. Ada yang takut. Ada yang bingung.
Di bawah pohon, Mbah Dirga berdiri sekarang. Tidak tersenyum. Hanya melihat. Lama. Seperti sedang menimbang sesuatu. Ibunya masih di tempat yang sama. Menangis. Tapi kali ini tidak memanggilnya. Itu justru lebih berat. Angin lewat lagi. Membawa bau tanah. Sekarang lebih jelas. Lebih dekat.
Di belakangnya, seseorang bertepuk tangan. Sekali. Pelan. Lalu berhenti. Tidak ada yang mengikuti. Tapi juga tidak ada yang bergerak mengambil akar itu. Seperti semua orang tiba-tiba tidak yakin harus berbuat apa. Raras menatap akar itu, yang sekarang setengah tertanam. Tidak tinggi. Tidak dipajang. Tapi ada. Nyata. Ia berbalik dan mulai berjalan. Beberapa orang bergeser, memberi jalan. Namun tidak ada yang benar-benar melepas. Tatapan mengikuti. Berat. Di belakangnya, suara kembali muncul. Bukan dari akar. Dari orang-orang. “Ini tidak bisa dibiarkan…” “Harus dibicarakan…” “Ini keterlaluan…” Kalimat-kalimat itu mulai menyatu. Tumbuh. Raras tidak menoleh. Ia tahu—ini belum selesai. Ini baru mulai.
Banjarnegara, 2026
Dwi Scativana Isnaeni adalah Ahli Madya Pengelolaan Sumberdaya Perikanan dan Kelautan dan Sarjana Pendidikan Seni Pertunjukan. Penulis merupakan seorang pendidik dan penulis yang aktif mengangkat tema-tema keislaman, isu-isu pendidikan,seni dan budaya masyarakat serta kajian ilmiah. Penulis aktif menulis di berbagai media digital, pernah menjuarai beberapa lomba esai dan opini, serta menulis beberapa buku. Salah satu buku yang telah terbit berjudul “Industrialisasi Budaya: Budaya Massa, Pop Art, Pop Culture, dan Perubahan Budaya Menuju Peradaban Algoritmik”. Buku Novel Terbarunya “Oyot Toya Wingit” memenangkan Bilfest Award 2026 dan dalam proses penerbitan.
