Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Aku dan Daun-Daun Berwarna Lembayung
    Puisi

    Aku dan Daun-Daun Berwarna Lembayung

    18 Agustus 2019Updated:15 November 20191 Komentar3 Mins Read45 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Puisi sering menjadi ekspresi ungkapan kegundahan hati. Dia menjadi penyampai yang unik. Setiap kata dan larik menjadi simbol yang halus. Ya, kegundahan hati selalu dirasakan oleh setiap orang, mereka terkadang memiliki kegundahan yang sama, seperti kesendirian, kesepian, kerinduan, kemarahan, kebencian dan lain-lain. Puisi-Puisi Windhihati Mazhaya ini seolah tengah menggambarkan kegundahan-kegudahan itu sehingga larik-larik puisiya dapat dirasakan oleh setiap orang. (Redaksi).
    [iklan]
    Puisi-Puisi Windhihati Mazhaya
    Suatu hari di Bulan Mei
    Sisa hujan menetes dari ujung rambutmu
    Dan angin diam-diam menjadi penyampai sebaris kata dari puisiku
    Ketika engkau menjadi arahku memandang
    Mengarungi kenangan, menjelajahi senyap
    Menemukan hatimu yang menjadi dermaga
    Tempat aku berpijar di antara bintang-bintang yang kau sisipkan
    Langit nampak semakin luas
    Aku di matamu
    Kau di mataku
    Lalu kita jatuh tenggelam
    Mengayun mimpi dalam genggaman
    :dahaga yang tuntas
    2019
    Sunyi, Hanya itu Yang Abadi
    di belantara kata-kata,
    kupetik sepi menjadi secarik puisi
    kekosongan mencair kesenyapan mengalir
    merayakan kerinduan merapal permohonan
    menulis kisah tanpa tamat
    mencari engkau pada selembar kertas
    berharap pertemuan akan menyembuhkan sebuah retakan kecil di hati
    cangkir yang kosong,
    kerjap mata yang basah
    dan waktu yang terus beranjak menggapai sendu
    :aku masih tanpamu
    2019
    Aku Menunggumu 
    Aku menunggu,
    Di bangku kayu yang lembab
    Di bawah pohon akasia yang basah
    Seusai hujan menyisakan butir air di ujung-ujung ranting
    Aku menunggu,
    Di sudut taman ketika orang-orang berlalu memagut udara pagi setengah tergesa
    Menuju kisah lain memulai perjalanan
    Atau mungkin masih mengulang kenyataan
    Aku menunggu,
    Setelah secangkir teh yang pekat tandas kuteguk
    Saat hati semakin gigil mendekam dalam dua jam empat puluh lima menit berlalu
    Harapan itu begitu tipis
    Aku semakin mencemaskan waktu
    Aku menunggu,
    Menatap sunyi mengulang doa
    Hatiku semakin temaram
    2019
    Ketika Hujan
    Ah,
    hujan selalu saja menyertakan bulir-bulir  rindu di setiap tetesnya
    mengantarkan getir angin di sela jemari yang kosong
    dingin menjalar
    beku menghuni
    bila saja hujan juga dapat menghanyutkan lengang yang tak ingin kusambangi
    tentulah hanya senyummu yang ingin kutemui
    tak perlu lagi kutulis puisi dengan tinta dari tumpahan air mata
    tentangmu,
    kian menggenang di pelataran.
    2019
    Aku dan Daun-Daun Berwarna Lembayung
    Langit begitu abu-abu,
    gerimis di ujung mata menerbitkan muram.
    Kulihat daun-daun berwarna lembayung mengikuti angin,
    jatuh perlahan menyelimuti kesedihanku.
    Aku duduk sendiri dengan hening di hati meski di tengah keriuhan orang-orang yang berlalu lalang,
    sendiri merangkai kegetiran.
    Bayanganmu berkelebat memecah ingatan
    Seketika aku dicengkram rindu.
    Daun-daun berwarna lembayung telah hadir mengirim isyarat
    Tak perlu lagi ucapan selamat tinggal
    Tak ada lagi masa bernama masa depan bersamamu.
    2019

    Lahir di bandung 1 Maret. Sarjana ekonomi ini telah menulis puisi dengan judul Kembang Ronce (2015), dan Istana Pasir (2016). Puisi-puisnya juga tergabung dalam buku antologi Dongeng Sebelum Tidur (2014) dan 1000 Haiku (2015).

     

    Puisi Cinta Puisi kesedihan puisi liris puisi rindu Puisi Romantis
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleMandalika
    Next Article Wayang Kulit Lakon Kresno Sayemboro

    Postingan Terkait

    Puisi-Puisi Alfiansyah Bayu Wardhana

    12 April 2026

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 2025

    Puisi-Puisi Amanda Amalia Putri

    30 November 2025

    1 Komentar

    1. saad fauzi on 21 Agustus 2019 2:21 pm

      widiiih….
      teh windhi partisipasi juga di mbludus….
      slamet ye… bagus2 puisi nye…
      kirim lg ya teh…

      Reply
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Menolak Pudar: Jejak Keindahan “Situ Lengkong Panjalu” Yang Tak Lekang Oleh Waktu

    18 April 20267 Views

    Pas Lebaran 2026, Reuni SDN Jajag Lor Kali, Juga Oke…

    18 April 202661 Views

    Harga Sebuah Kicauan: Sebuah Narasi Narsisme Antroposentris

    18 April 202630 Views

    Muara Jambu Ciater Tempat Wisata dan Camping

    13 April 202613 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (79)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (189)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (155)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.