Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Puisi-Puisi Nana Sastrawan
    Puisi

    Puisi-Puisi Nana Sastrawan

    22 Desember 2024Tidak ada komentar3 Mins Read118 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    BATU MALIN

    jika aku durhaka, menjadi batu adalah sengsara
    jika aku kaya, menjadi durhaka adalah siksa

    usahlah mencari dermaga
    perahu bergantung pada laut
    pada arah angin dan bintang
    usahlah pulang
    ombak dan badai ialah rumah
    di sini, angin dan bau garam
    menjadi pakaian untuk tubuh pengembara
    tapi alangkah malu menjadi lelaki
    jika tak berani berjalan di atas tanah
    tapi alangkah hina menjadi pria
    jika tidak berharta benda

    maka, laut ini adalah alamat tak berpintu
    menyimpan waktu yang tabu
    andai kampung halaman tidak memberiku
    kemiskinan dan kemelaratan
    biar kutanam kaki ini bersama hujan
    hutan tropis dan bau nasi bakar
    biar kucintai tanah kelahiran
    bersama darah-darah perbukitan
    yang hijau bersawah
    yang biru berombak
    yang ramai rempah

    maka, kupilih tidak kembali pada lumbung derita
    menjadi sejati di laut rantau
    maka, kupilih pulang pada gelombang
    kutinggalkan batu-batu yang diam di tepi pantai
    yang bersujud pada kesombongan
    yang tunduk pada keangkuhan

    jika aku durhaka, menjadi batu adalah sengsara
    jika aku kaya, menjadi durhaka adalah siksa

    DUKA BATU

    dari gunung
    kau menulis di tanah
    tentang duka batu
    yang diam
    yang gemetar
    yang terguyur hujan
    yang gigil sepanjang malam

    dari hutan
    kau mendengar erangan
    suara-suara besi
    percikan api
    menyayat tubuh-tubuh batu
    terbelah

    dari dasar gedung-gedung tinggi
    kau menangis
    tulang-tulangmu
    remuk
    menahan dosa-dosa peradaban

    BATU-BATU HITAM

    telah lama aku menunggu banjir
    mengalirkan batu-batu hitam
    dari sungai yang panjang
    dari semadi bertahun-tahun
    menuju perjalanan yang jauh

    yang jatuh di jaring kota
    yang tertanam di tanah peradaban

    batu-batu hitam membuka jawaban
    bahwa sebatang tubuh ini
    kelak berubah putih
    menempuh berkilo-kilo jarak
    seperti sebuah usia yang berjalan
    pada tali kehidupan
    kelak menjelma kewarasan

    dari hitam dosa
    dari pekat sesat

    batu-batu hitam perjalanan
    di hati diguyur hujan
    yang jatuh dari langit

    segala menjadi basah dan biru

    BANGKAI BATU

    ia temukan bangkai batu
    di tepi rumah
    terbelah berlumut
    licin berbau busuk

    sudah berpuluh tahun sekarat
    ia ditinggalkan oleh keramaian
    oleh tangan-tangan kuli bangunan
    ia melihat dirinya miskin
    dan gagal

    ia ketakutan di saat hujan
    ia kelaparan di saat kemarau
    ia tak sanggup bergerak
    berpindah dari masa ke masa lainnya

    ia menjadi tua
    tanpa melakukan sesuatu
    tanpa menjadikan dirinya
    menjelma batu-batu
    di lantai gedung-gedung
    di taman-taman kota
    di kolam hias

    ia menjadi sepi
    karena ulahnya sendiri

    ia temukan bangkai batu
    menunggu untuk dijamah

    Nana Sastrawan seorang penulis yang telah melahirkan beberapa buku puisi, di antaranya Tergantung di Langit (2006), Nitisara (2008), Kitab Hujan (2010), Penyair Tali Pancing (2011), Kabar untuk Istana (2020), Jangan Kutuk Aku Jadi Penyair (2022). Ia juga pernah mendapatkan penghargaan Acarya Sastra IV dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud RI tahun 2015.

    Nana Sastrawan Puisi Nana Sastrawan sastrawan indonesia
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleKeberanian Puisi /Doa/ Karya Amir Hamzah
    Next Article Menteri Kebudayaan Fadli Zon Menghadiri Malam Puncak Hari Puisi Indonesia 2024

    Postingan Terkait

    Puisi-Puisi Alfiansyah Bayu Wardhana

    12 April 2026

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 2025

    Burung dan Masjid—Dunia Alam dan Dunia Ibadah

    9 Desember 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Kolam Renang “Bukit Lumpang” Menjadi Destinasi Warga Lokal

    27 April 20269 Views

    Situs Ziarah KH. Abdul Hanan Babakan Ciwaringin Cirebon

    27 April 20266 Views

    Healing Murah Meriah di Pantai Kejawanan: Wajah Baru, Vibes Makin Seru!

    24 April 202612 Views

    Wisata Waterpark Tiga Bintang Firdaus Indramayu

    24 April 20267 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (79)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (189)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (162)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.