Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Melepaskan Deras
    Puisi

    Melepaskan Deras

    26 April 2021Updated:30 April 2021Tidak ada komentar3 Mins Read126 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Zuhal Zurrfiki Hakim, bisa dipanggil Zuhal atau kalau di Jogja orang memanggilnya Hakim. Begitulah penyair pembesut puisi-puisi yang tayang kali ini, memperkenalkan diri. Puisi memang mempunyai bahasanya sendiri, demikianlah kata sementara kritikus Puisi. Sehingga tidak heran jika terkadang pembaca menemukan kata yang sama sekali penuh misteri: apa sesungguhnya arti dari kata-kata di dalam puisi, hampir tanpa kata kunci yang bisa digunakan untuk memindai arti dari bait ke bait.

    Meskipun demikian, ada satu di antara pembaca dengan senang hati tetap menelusuri kata demi kata, bahkan huruf demi huruf di dalam puisi.
    Terkesan begitu misterinya, dan mampu menarik keingintahuan pembaca akan makna yang terkandung di dalam puisi. Seolah senapas dengan gaya panggil nama.

    Puisi-puisinya pun serasa memberi kebebasan pada pembaca untuk mengaduk-aduk makna yang tersurat dan atau pun arti yang tersirat. Puisi-puisi Pria kelahiran Sorong ini, yang kemudian hijrah ke Ngawi, terus ke Tangsel, kemudian ke Solo, dan kuliah di Jogja, memang mempunyai daya pikat yang sulit untuk dijelaskan dengan kata, hanya bisa dirasakan saja.

    Lihat saja beberapa baitnya: / Wajah pun jadi biru
    Bukan pilu/ Teman untuk taman yang mati/ Saling balas, istilahnya/Baik pun benar/

    Ibarat kopi yang terhidang, tinggal teguk saja, diseruput pelan, rasakan sampai tetes akhir sang kopi. Tak perlu memperdebatkan dari mana buah kopi dipetik, dan bagaimana bisa sampai di meja serta dihidangkan bersama makanan ringan malam hari. Teguk saja, dan rasakan sensasinya… (redaksi).

     

    MELEPAS DERAS
    Jadilah ia serupa cemara perbukitan
    Jadilah ia serupa belantara pegunungan
    Jadilah ia serupa nirwana
    Jadilah ia serupa kelana
    Jadilah ia serupa telaga

    Seumpama ia hanyut
    Jelaga tertawan lalu terjerat
    Hal-hal begitu rumit
    Rangkul tangannya erat
    Setumpahnya ia,
    Seluruhnya ia

    Selesainya ia membasahi diri
    Sedang matahari sembunyi
    Sesekali mengintip malu-malu
    Wajah pun jadi biru
    Bukan pilu

    Segera usap bahunya yang mengeras
    Selesainya ia menjadi deras

     

    HARI DUDUK UNTUK BERDIRI
    Taman untuk teman yang sepi
    Teman untuk taman yang mati
    Sepi untuk yang mati
    Mati untuk yang menyepi

    Membungkus sekarung sepi
    Lalu membawanya pergi
    Menjauh dari sisi ramai
    Agar tak ada lagi yang menghampiri

     

    ABADI
    Nama yang abadi sekiranya dipertukarkan
    Menepati janji demi janji

    Saling balas, istilahnya
    Baik pun benar

    Jangan lupakan seremoni
    Kalau ingin terus abadi
    Jangan lupa potret
    Kalau ingin terus awet

    Zuhal Zurrfiki Hakim, bisa dipanggil Zuhal atau kalau di Jogja orang memanggilnya Hakim. Lahir di Sorong September 1996. SD di Ngawi, SMP di Tangsel, SMA di Solo, sempat berkuliah di Jogja, Fakultas Hukum tepatnya. Tapi tak kunjung selesai, dan akhirnya “transfer” kampus di Tangerang. Menyukai puisi semenjak hal-hal yang telah lewat tak kunjung usai. Berbagai tulisan menyebar di sekian banyaknya platform menulis. Ada di IG, Wattpad, Tumblr, Medium, dan juga blog pribadi. Sedang mengumpulkan tulisan dan menyuntingnya untuk diterbitkan menjadi buku.

    puisi kehidupan puisi mahasiswa sastra puisi
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticlePeluncuran Buku Sastra Timur Karya Abdul Hadi WM
    Next Article Sebatas Jejak

    Postingan Terkait

    Puisi-Puisi Alfiansyah Bayu Wardhana

    12 April 2026

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 2025

    Puisi yang Segar untuk Mesin-Mesin Lapar

    3 Desember 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Menolak Pudar: Jejak Keindahan “Situ Lengkong Panjalu” Yang Tak Lekang Oleh Waktu

    18 April 20267 Views

    Pas Lebaran 2026, Reuni SDN Jajag Lor Kali, Juga Oke…

    18 April 202661 Views

    Harga Sebuah Kicauan: Sebuah Narasi Narsisme Antroposentris

    18 April 202630 Views

    Muara Jambu Ciater Tempat Wisata dan Camping

    13 April 202613 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (79)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (189)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (155)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.