Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Tradisi » Tari Gandrung Banyuwangi
    Tradisi

    Tari Gandrung Banyuwangi

    6 April 2020Updated:7 April 2020Tidak ada komentar5 Mins Read521 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Tari Gandrung Banyuwangi

    Gandrung Banyuwangi adalah seni tari tradisional dari Kabupaten Banyuwangi -Jawa Timur, yang disajikan dengan iringan musik khas Gamelan Osing. Pada tahun 2.000, tari Gandrung Banyuwangi ini resmi menjadi mascot pariwisata Banyuwangi, sehingga tak heran jika Banyuwangi menjdapat julukan sebagai Kota Gandrung. Sejak tahun 2013 tarian tradisional ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Setiap tahun, Pemerintah Kabupaten selalu menggelar atraksi kolosal Festival Gandrung Sewu. Lebih dari seribu penari Gandrung mempertujukkan kebolehan mereka di tepi pantai.

    Dalam Bahasa Jawa, kata ‘Gandrung’ artinya ‘terpesona’, ‘jatuh cinta’, atau kagum. Gandrung Banyuwangi ini konon katanya bisa diartikan sebagai terpesonanya masyarakat Blambangan yang agraris kepada Dewi Sri sebagai Dewi Padi yang membawa kesejahteraan bagi masyarakat.

    [iklan]

    Tarian Gandrung Banyuwangi pada awalnya dibawakan sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat setelah masa panen selesai. Tarian dilakukan dalam bentuk berpasangan antara perempuan (Penari Gandrung) dan laki-laki (Pemaju). Tarian ini sering dipentaskan pada berbagai acara, seperti perkawinan,  khitanan, tujuh belasan dan acara-acara resmi maupun tak resmi lainnya, di wilayah Banyuwangi dan sekitarnya. Pertunjukan gandrung biasanya dimulai sekitar pukul 21.00 dan berakhir hingga menjelang subuh (sekitar pukul 04.00).

    Tari Gandrung yang awalnya hanya ada saat hajatan atau sengaja dihadirkan dengan bayaran, kini semakin berkembang dan banyak diminati. Tidak hanya sebatas pertunjukan yang hampir selalu menampilkan tari Gandrung, tarian khas Banyuwangi ini juga semakin naik pamornya setelah Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menggelar pertunjukan akbar Gandrung Sewu pada tahun 2011 hingga kini.

    Menurut catatan sejarah, gandrung pertama kalinya ditarikan oleh para lelaki yang didandani seperti perempuan. Namun, gandrung laki-laki ini lambat laun lenyap dari Banyuwangi sekitar tahun 1890an. Diduga karena ajaran Islam melarang seorang laki-laki berdandan seperti perempuan. Namun, tari gandrung laki-laki baru benar-benar lenyap pada tahun 1914, setelah kematian penari terakhirnya, yakni Marsan.

    Gandrung wanita pertama yang dikenal dalam sejarah adalah gandrung Semi, seorang anak kecil yang waktu itu masih berusia sepuluh tahun pada tahun 1895. Tradisi gandrung yang dilakukan Semi ini kemudian diikuti oleh adik-adik perempuannya dengan menggunakan nama depan Gandrung sebagai nama panggungnya. Kesenian ini kemudian terus berkembang di seantero Banyuwangi. Pada mulanya Gandrung hanya boleh ditarikan oleh para keturunan penari gandrung sebelumnya, tetapi sejak tahun 1970-an mulai banyak gadis-gadis muda yang bukan keturunan Gandrung yang mempelajari tarian ini dan menjadikannya sebagai sumber mata pencaharian.

    Tata Busana Penari
    Tata busana penari Gandrung Banyuwangi khas, dan berbeda dengan busana tarian Jawa yang lain. Ada pengaruh dari busana jaman Kerajaaan Blambangan yang terlihat. Dulu, penari gandrung biasanya membawa dua buah kipas untuk pertunjukannya. Tapi sekarang ini penari gandrung hanya membawa satu buah kipas dan hanya untuk bagian-bagian tertentu dalam pertunjukannya, khususnya dalam bagian Seblang Subuh.

    Musik Pengiring
    Musik pengiring untuk Gandrung Banyuwangi terdiri dari: kempul atau gong, kluncing (triangle), biola, dua buah kendhang, dan sepasang kethuk. Selain itu, pertunjukan tidak lengkap jika tidak diiringi panjak atau kadang-kadang disebut pengudang (pemberi semangat) yang bertugas memberi semangat dan memberi efek kocak dalam setiap pertunjukan gandrung. Peran panjak dapat diambil oleh pemain kluncing. Kadang-kadang juga iringan musiknya diselingi dengan saron Bali, angklung, rebana , dan electone sebagai bentuk kreasi.

    Tahapan-Tahapan Pertunjukan
    Rangkaian pertunjukan Gandrung yang asli terbagi atas tiga bagian, yaitu:

    1. Jejer
      Adalah pembuka dari seluruh pertunjukan Gandrung. Pada bagian ini, penari menyanyikan beberapa lagu dan menari secara solo, sendiri. Para tamu yang umumnya laki-laki hanya menyaksikan saja.
    2. Maju atau Ngibing
      Setelah Jejer selesai, sang penari mulai memberikan selendang-selendang kepada tamu. Tamu-tamu pentinglah yang terlebih dahulu mendapat kesempatan menari bersama-sama. Biasanya para tamu terdiri dari empat orang, membentuk bujur sangkar dengan penari berada di tengah. Sang Gandrung akan mendatangi para tamu yang menari dengannya satu persatu, dengan gerakan-gerakan yang menggoda, dan itulah esensi dari tari gandrung, yakni tergila-gila. Setelah selesai, si penari akan mendatang rombongan penonton, dan meminta salah satu penonton untuk memilihkan lagu yang akan dibawakan. Acara ini diselang-seling antara maju dan repèn (nyanyian yang tidak ditarikan), dan berlangsung sepanjang malam hingga menjelang subuh. Kadang-kadang dalam pertunjukan ini menghadapi kekacauan, yang disebabkan oleh para penonton yang tak sabar menunggu giliran atau mabuk, sehingga perkelahian tak bisa dielakkan lagi.
    3. Seblang Subuh
      Bagian ini merupakan penutup dari seluruh rangkaian pertunjukan Gandrung Banyuwangi. Setelah selesai melakukan babak maju/ngibing dan beristirahat sejenak, dimulailah bagian Seblang Subuh. Dimulai dengan gerakan penari yang perlahan dan penuh penghayatan, kadang sambil membawa kipas yang dikibas-kibaskan menurut irama atau tanpa membawa kipas sama sekali sambil menyanyikan lagu-lagu bertema sedih seperti misalnya Seblang Lokento. Suasana mistis terasa pada saat bagian Seblang Subuh ini, karena masih terhubung erat dengan ritual seblang, suatu ritual penyembuhan atau penyucian dan masih dilakukan (meski sulit dijumpai) oleh penari-penari wanita usia lanjut. Pada masa sekarang ini, bagian Seblang Subuh sering dihilangkan walaupun sebenarnya bagian ini menjadi penutup sebuah pertunjukan pentas Gandrung.

    Perkembangan terakhir
    Kesenian Gandrung Banyuwangi masih tegar dalam menghadapi gempuran arus globalisasi, yang dipopulerkan melalui media elektronik dan media cetak. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi bahkan mulai mewajibkan setiap siswanya dari SD sampai SMA untuk mengikuti ekstrakurikuler kesenian Banyuwangi. Salah satu di antaranya adalah diwajibkan mempelajari  Tari Jejer yang merupakan bagian dari pertunjukan Gandrung Banyuwangi. Itu merupakan salah satu wujud perhatian Pemerintah setempat terhadap seni budaya lokal yang sebenarnya sudah mulai terdesak oleh pentas-pentas populer lain seperti dangdut dan campursari.

    Tari Gandrung yang awalnya merupakan identitas masyarakat Banyuwangi yang menggambarkan rasa syukur setelah musim panen selesai, kini mulai meluas. Apalagi setelah digelarnya tarian massal yang telah menjadikan Gandrung Sewu sebagai acara rutin setiap tahun pada pagelaran Festival Gandrung Sewu. (AY)

    Referensi:
    https://id.wikipedia.org/wiki/Gandrung_Banyuwangi
    https://www.voaindonesia.com
    https://www.banyuwangikab.go.id

    banyuwangi Tari tradisi banyuwangi Tarian banyuwangi Tarian Jawa Timur
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleNegeri Puisi
    Next Article Denda 100 Juta Bagi Tidak Taat PSBB di Jakarta

    Postingan Terkait

    Tradisi Potong Jari, Papua

    17 Mei 2024

    Tradisi dan Riwayat Ketupat

    25 April 2024

    Perayaan Cap Go Meh

    7 Maret 2024
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Zaman Apokaliptik

    4 Januari 202686 Views

    Kisah Seorang Polisi di Republik Mimpi

    21 Desember 202540 Views

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 202543 Views

    Perbandingan Film Animal Farm (1954) dan Animal Farm (1999): Kajian Adaptasi dan Alih Wahana

    18 Desember 202528 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (206)
    • Bisnis (7)
    • Buku (83)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (78)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (188)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (142)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.