Drama

Sejarah Teater Dunia

teater
Jangan Lupa Di Rate Ya!
Tinggal Pilih Bintang Saja!

Sejarah Teater Dunia

Teater Yunani Kuno

Tempat pertunjukan teater Yunani pertama yang permanen dibangun sekitar 2300 Tahun yang lalu. Teater ini dibangun tanpa atap dalam bentuk setengah lingkaran dengan tempat duduk penonton melengkung dan berundak-undak yang disebut Amphiteater. Ribuan orang mengujungi amphiteater untuk menonton teater-teater, dan hadiah diberikan bagi teater terbaik. Naskah lakon teater  Yunani merupakan naskah lakon teater pertama yang menciptakan dialog diantara para karakternya.


Ciri-ciri khusus pertunjukan teater pada masa Yunani Kuno adalah:

  • Pertunjukan dilakukan di Amphiteater
  • Sudah menggunakan naskah lakon
  • seluruh pemainnya pria bahkan peran wanitanya dimainkan pria dan memakai topeng karena setiap pemain memerankan lebih dari satu tokoh.
  • Cerita yang dimainkan adalah tragedi yang membuat penonton tegang, takut,dan kasihan serta cerita komedi yang lucu, kasar dan sering mengeritik tokoh terkenal pada waktu itu
  • Selain pemeran utama juga ada pemain khusus untuk kelompok koor (penyanyi), penari, dan narator (pemain yang menceritakan jalannya pertunjukan).

Pengarang teater Yunani Klasik Yaitu :

  • Aeschylus(525-SM.) Dialah yang pertama kali mengenalkan tokoh prontagonis dan antagonis mampu menghidupkan peran. Karyanya yang terkenal adalah Trilogi Oresteia yang terdiri dari Agamennon , The Libatian Beavers, dan The Furies.
  • Shopocles (496-406 SM.) Karya yang terkenal adalah Oedipus The King, Oedipus at Colonus, Antigone.
  • Euripides (484-406 SM) Karya-karyanya antara lain Medea, Hyppolitus, The Troyan Woman, Cyclops.
  • Aristophanes (448-380 SM)Penulis naskah drama komedi, karyanya yang terkenal adalah Lysistrata, The Wasps, The Clouds, The Frogs, The Birds.
  • Manander (349-291 SM.) Manander menghilangkan Koor dan menggantinya dengan berbagai watak, misalnya watak orang tua yang baik, budak yang licik, anak yang jujur, pelacur yang kurang ajar, tentara yang sombong dan sebagainya. Karya Manander juga berpengaruh kuat pada jaman Romawi Klasik dan drama komedi jaman Renaisans dan Elisabethan.

Kebanyakan drama tragedi Yunani dibuat berdasarkan legenda. Drama-drama ini sering membuat penonton merasa tegang, takut, dan kasihan. Drama komedi bersifat lucu dan kasar serta sering mengolok-olok tokoh-tokoh terkenal.

Teater Romawi Klasik

Setelah tahun 200 sebelum Masehi kegiatan kesenian beralih dari Yunani ke Roma, begitu juga Teater. Namun mutu Teater Romawi tak lebih baik daripada teater Yunani. Teater Romawi menjadi penting karena pengaruhnya kelak pada zaman Renaisans. Teater pertama kali dipertunjukkan di kota Roma pada tahun 240 SM. Pertunjukan ini dikenalkan oleh Livius Andronicus, seniman Yunani. Teater Romawi merupakan hasil adaptasi bentuk teater Yunani. Hampir di setiap unsur panggungnya terdapat unsur pemanggungan teater Yunani. Namun demikian teater Romawi pun memiliki kebaruan-kebaruan  dalam penggarapan dan penikmatan yang asli dimiliki oleh masyarakat Romawi dengan ciri-ciri sebagi berikut :

  • Koor tidak lagi berfungsi mengisi setiap adegan .
  • Musik menjadi pelengkap seluruh adegan. Tidak hanya menjadi tema cerita tetapi juga menjadi ilustrasi cerita.
  • Tema berkisar pada masalah hidup kesenjangan golongan menengah.
  • Karekteristik tokoh tergantung kelas yaitu orang tua yang bermasalah dengan anak-anaknya atau kekayaan, anak muda yang melawan kekuasaan orang tua dan lain sebagainya.
  • Seluruh adegan terjadi di rumah,  di jalan dan di halaman

Teater Romawi merosot setelah bentuk Republik diganti  dengan kekaisaran dan lenyap setelah terjadi penyerangan bangsa-bangsa Barbar serta  munculnya kekuasaan gereja. Pertunjukan teater terakhir di Roma terjadi tahun 533.

Teater Abad Pertengahan

Dalam tahun 1400-an dan 1500-an, banyak kota di Eropa mementaskan drama untuk merayakan hari-hari besar umat Kristen. Drama-drama dibuat berdasarkan cerita-cerita Alkitab dan dipertunjukkan di atas kereta, yang disebut pegeant, dan ditarik keliling kota. Bahkan kini pertunjukan jalan dan prosesi penuh warna diselenggarakan diseluruh dunia untuk merayakan berbagai hari besar keagamaan. Para pemain drama pageant menggunakan tempat dibawah kereta untuk menyembunyikan peralatan. peralatan ini digunakan untuk efek tipuan, seperti menurunkan seorang aktor dari atas ke panggung.

Para pemain pegeant memainkan satu adegan dari kisah dalam Alkitab, lalu berjalan lagi. Pegeant lain dari aktor-aktor lain untuk adegan berikutnya, menggantikannya. Aktor-aktor pegeant seringkali adalah para perajin setempat yang memainkan adegan yag menunjukan keahlian mereka.Orang berkerumun untuk menyaksikan drama pegeant religius di Eropa. drama ini populer karena pemainnya berbicara dalam bahasa sehari-hari, bukan bahasa Latin yang merupakan bahasa resmi gereja-gereja Kristen.

Ciri-ciri  teater abad Pertengahan adalah sebagai berikut:

  • Drama dimainkan oleh aktor-aktor yang belajar di universitas sehingga dikaitkan dengan masalah filsafat dan agama.
  • Aktor bermain di panggung di atas kereta yang bisa dibawa berkeliling  menyusuri jalanan
  • Lirik-lirik dialog drama menggunakan dialek atau bahasa
  • Drama banyak disispi cerita kepahlawanan yang dibumbui cerita percintaan.
  • Drama diaminkan di tempat umum dengan memeungut bayaran.
  • Drama tidak memiliki nama pengarang

Teater Zaman Italia

Selama abad ke-17, Italia berusaha mempertahankan bentuk Commedia dell’arte yang bersumber dari komedi Yunani. Pada tahun 1575 bentuk ini sudah populer di Italia. Kemudian menyebar luas di Eropa dan mempengaruhi semua bentuk komedi yang diciptakan pada tahun 1600. Ciri Khas Commedia Dell’arte adalah:

  • Menggunakan naskah lakon yang berisi garis besar cerita.
  • Para pemain dibebaskan berimprovisasi mengikuti jalannya cerita dan dituntut memilikik pengetahuan luas yang dapat mendukung permainan
  • Cerita yang dimainkan bersumber pada cerita yang diceritakan secara turun menurun.
  • Cerita terdiri dari tiga babak didahului prolog panjang.
  • Plot cerita berlangsung dalam suasana adegan lucu.
  • Peristiwa cerita berlangsung dan berpindah secara cepat .
  • Terdapat tiga tokoh  yang selalu muncul, yaitu tokoh penguasa, tokoh penggoda, dan tokoh pembantu.
  • Tempat pertunjukannya di lapangan kota dan panggung-panggung sederhana.
  • Setting panggung sederhana yaitu; rumah, jalan, dan lapangan.

Teater Modern

Teater modern pada dasarnya merupakan proses lanjutan dari kejayaan pementasan drama sebelumnya yang dimulai sejak zaman Yunani. Perubahan yang nampak terdapat pada hampir seluruh unsur drama pentas. Berbagai karakter tokoh di atas pentas diekspresikan dengan konsep pementasan modern yang memiliki efek-efek khusus dan teknologi baru dalam unsur musik, dekorasi, tata cahaya, dan efek elektronik. Gaya permainannya pun cenderung didominasi realistis hingga mengalami kejenuhan dan lebih menjurus pada gaya permainan yang eksperimental.

Perkembangan gaya eksperimental ditandai dengan banyaknya gaya baru yang lahir baik dari sudut pandang pengarang, sutradara, aktor ataupun penata artistik. Tidak jarang usaha para dramawan berhasil dan mampu memberikan pengaruh seperti gaya; Simbolisme, Surealisme, Epik, dan Absurd. Tetapi tidak jarang pula usaha mereka berhenti pada produksi pertama. Lepas dari hal itu, usaha pencarian kaidah artistik yang dilakukan oleh seniman drama modern patut diacungi jempol karena usaha-usaha tersebut mengantarkan kita pada keberagaman bentuk ekspresi dan makna keindahan.

Selain konsep dan bentuk pementasan yang modern, perkembangan drama modern dunia juga ditandai dengan munculnya beberapa dramawan yang namanya mendunia seperti:

  1. Henrik Ibsen (1828-1906) dari Norwegia dengan karyanya seperti Nora, Love’s Comedy, Brand and Peer Gynt, A Doll’s House, An Enemy of the People, The Wild Duck, Hedda Gabler, dan Rosmershom.
  2. Augst Strindberg (1849-1912) dari Swedia dengan karyanya seperti Saga of the Folkung, Miss Julia, The Father, A Dream Play, The Dance of Death, dan The Spook Sonata.
  3. George Bernard Shaw (1856-1950) dari Inggris dengan karyanya seperti Man and Superman, Arms and The Man, Major Barbara, Saint Joan, The Devil’s Disciple, dan Caesar and Cleopatra.
  4. William Butler Yeats (1884) dari Irlandia dengan karyanya seperti The Shadow of a Gunman, Juno and the Paycock, The Plough and the Stars, The Silver Tassie, Within the Gates, dan The Star Turns Red.
  5. Emile Zola (1840-1902) dari Prancis dengan karya drama terkenalnya yaitu Therese Raquin. Selain Zola, dramawan Prancis lainnya yang terkenal adalah Jean paul Sartre (1905-….) dengan karyanya seperti Huis Clos dan Les Mouches.
  6. Bertolt Bercht (1898-1956) dari Jerman dengan karyanya seperti Threepenny Opera, Mother Courage, dan The Good Woman of Setzuan. (11/01/2020)s

Leave a Comment