Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Buku » Rumah di Atas Batu; Biografi Perasaan Seorang Perempuan
    Buku

    Rumah di Atas Batu; Biografi Perasaan Seorang Perempuan

    1 April 2023Tidak ada komentar5 Mins Read14 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Penerbit Buku Hyang Pustaka
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Oleh Juli Prasetya

    Kumpulan Puisi  Rumah di Atas Batu karya Yanwi Mudrikah menurut saya merupakan pembacaan terhadap biografi dan evolusi perasaan dan hidup dari si penyair itu sendiri. Sebagai pribadi saya mengenal Yanwi Mudrikah sebagai seorang perempuan yang baik, tangguh, mandiri, berprinsip, dan sangat menyayangi keluarga. Yanwi sendiri sebenarnya telah melahirkan 4 karya kumpulan puisinya, dan keempat karya ini sebenarnya saling berkesinambungan jika kita melihatnya dari perspektif kekaryaan,  sebagai sebuah proses kreatif dalam berkarya. Dengan kekonsistenannya dalam berkarya itulah saya dengan nada setengah bercanda dan serius seringkali menobatkan Yanwi Mudrikah sebagai Penyair Perempuan Banyumas yang konsisten di jalan ninja kepenyairannya, yang terus bersetia pada proses kreatifnya. Ini adalah hal yang mengagumkan dan patut dibanggakan, karena sebenarnya jarang saya temukan khususnya di Banyumas seorang penyair perempuan sekaligus ibu yang konsisten dalam berkarya.

    Puisi-puisi Yanwi selalu berkutat kepada pelbagai macam tema, dan kebanyakan tentu saja tentang seluk beluk perempuan. Hanya saja kekentalan Yanwi Mudrikah mengangkat isu feminisme utamanya, menurut saya masih amat kurang. Namun keempat karyanya sebenarnya mewakili suaranya sendiri sebagai seorang perempuan, dan bagaimana pandangan dia terhadap perempuan.

    Semisal kumpulan puisinya Rahim Embun, saya anggap sebagai karya pertama Yanwi yang melahirkannya kembali sebagai dirinya sendiri sebagai seorang perempuan sekaligus sebagai seorang penyair, kemudian kumpulan puisi keduanya Menjadi Tulang Rusukmu adalah kumpulan puisinya yang menegaskan seluk beluk perasaan perempuan dan apa yang sebenarnya kurang dari diri si perempuan dan apa yang sebenarnya ia cari, sehingga ia berkesimpulan bahwa ia harus kembali menjadi tulang rusuk seorang lelaki yang ia cintai dan mencintainya. Kemudian kumpulan puisi ketiganya Menjadi Ibu ini lebih kepada Yanwi kembali mengenang, mengingat masa kanak-kanaknya sebelum ia meyakinkan diri dan bersiap untuk menjadi  ibu,  sekaligus menjadi bagian dari masyarakatnya yang mesti terikat dengan norma adat istiadat, budaya dan kehidupan sosial di dalamnya. Tanpa Yanwi harus kehilangan ruang kreatifnya, sebagaimana yang dikemukakan oleh Virginia Woolf bahwa perempuan harus memiliki ruang privasi di dalam dirinya untuk tetap berkarya dan menjadi dirinya sendiri yang otentik, dan Yanwi sebagai perempuan, sebagai ibu, sekaligus sebagai penyair tidak kehilangan ruang privasi itu, ruang kreatif itu.  Ini dibuktikan dengan buku kumpulan puisi keempatnya yakni Rumah di Atas Batu. Dan kumpulan puisi inilah yang akan sedikit saya bahas lebih lanjut.

    Rumah di Atas Batu, saya melihatnya sebagai sebuah katarsis dari pengendapan selama bertahun-tahun akan pandangan Yanwi terhadap perempuan, terhadap dirinya dan kaumnya sendiri, bagaimana ia melihat perempuan-perempuan di desanya dengan segala romantisme, heroisme, dan suka dukanya. Fenomena fenomena tentang perempuan di sekitarnya ia angkat menjadi sebuah tema yang nyaris utuh, kenapa saya mengatakan nyaris? Karena sayangnya dia tidak menyusun dan menggarap tema-tema ini dengan baik. Yanwi tidak mengemas tema ibu dan perempuan menjadi sebuah bahan yang saling bertaut dan mandiri, dan buku puisi ini masih disusupi dengan lain-lain hal yang tak berkaitan antara tema satu dengan yang lain.

    Namun dengan segala kekurangannya, di sini Yanwi begitu lugas dan sederhana dalam membangun diksi dan garis puisinya sendiri. Yanwi tidak memberikan sayap pada kata-katanya, Yanwi berjalan dengan begitu lembut dan sederhana, dan puisi-puisi Yanwi ini sangat bisa dipahami oleh orang yang paling awam  sekalipun. Hanya  orang bebal yang tak bisa meraba dan menangkap apa yang ingin disampaikan puisi-puisi Yanwi yang gamblang dan lugas itu. Namun tentu saja segala pemaknaan mesti dilempar ke pembaca, karena penyair telah ‘mati’ ketika puisi-puisinya telah dilempar ke pembaca, pembaca yang mau memahami dan masuk lebih jauh ke dalam puisi, maka ia akan menemukan apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh puisi, apa sebenarnya makna yang tengah ia cari, dan begitulah kemudian cara menikmati puisi. Rumah di Atas Batu jika dilihat dari kacamata penderitaan  memang sudah sangat kompleks mengandung kenelangsaan semenjak proses penciptaannya sampai dengan proses cetaknya, ini bisa kita lihat secara tersirat dan tersurat dari kata pengantar yang diutarakan Yanwi.

    Setiap pembaca pasti memiliki satu atau dua puisi yang menjadi favorit, tak terkecuali saya sendiri juga demikian. Ada satu puisi di dalam Rumah di Atas Batu yang membuat saya begitu menikmati dan terbawa perasaan sendiri, kalau kata anak era kiwari disebut baper. Sebenarnya puisi ini sederhana, sangat amat sederhana. Puisi ini menceritakan tentang Yanwi sebagai seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya yang rewel, anak pertamanya yang bernama Tan,

    Tan Kecil

    Dongeng-dongeng belum kelar sayang…
    Kau menangis
    Minta ini
    Minta itu

    Kau menangis
    Kau merengek
    Kau menatap penuh tanda
    Ibu sayang (kamu), Tan…

    Di sini jelas, Yanwi sebagai seorang perempuan dan seorang ibu sekaligus seorang penyair ingin menyimpan memori tentang anaknya di dalam puisinya. Sebagai seorang ibu, ia telah terlengkapi dengan kehadiran sang buah hati, Tan. Dan betapa besarnya kasih sayang seorang ibu itu meskipun anaknya seringkali menangis, merengek, meraung, minta ini, minta (Aerox sambil menendang daun pintu) itu, rewel, nakal, banyak tanya seperti filsuf, dan kadang tak jelas. Akan tetapi Yanwi jelas pada posisinya sebagai seorang perempuan dengan evolusi perasaannya sekaligus sebagai seorang ibu pada akhirnya. “Ibu sayang (kamu) Tan” itulah keindahan hubungan dan ikatan batin antara ibu dan anak. Keindahan-keindahan sederhana, bersahaja, dan lugas seperti inilah yang menjadi kekuatan puisi-puisi Yanwi. Puisi yang bisa dipahami, dinikmati, dan menggetarkan hati, tanpa harus kita mengernyitkan dahi. Jadi, selamat membaca keindahan sederhana yang haru, selamat membaca Rumah di Atas Batu. Tabik.

    Tulisan ini telah dimuat di sastramedia, edisi 26 Maret 2023

    buku puisi Penerbit Hyang Pustaka Penyair Banyumas
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticlePuisi-Puisi Beti Novianti
    Next Article Kisah Cinta Inem

    Postingan Terkait

    Idealisme, Sastra, dan Rasa dalam Perjalanan Cinta Penyair Kampus

    7 April 2026

    Buku Sang Nabi

    9 Februari 2026

    Puisi yang Segar untuk Mesin-Mesin Lapar

    3 Desember 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Muara Jambu Ciater Tempat Wisata dan Camping

    13 April 202611 Views

    Objek Wisata Djoyland Haurgeulis

    13 April 202617 Views

    Puisi-Puisi Alfiansyah Bayu Wardhana

    12 April 202664 Views

    Sensasi Wahana Banana Boat di Kuningan Jawa Barat

    12 April 202616 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (208)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (78)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (189)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (154)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.