Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Puisi Merapal Wajah
    Puisi

    Puisi Merapal Wajah

    28 Juni 2020Updated:28 Juni 2020Tidak ada komentar4 Mins Read130 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Peristiwa dalam hidup sehari-hari yang kita baca lewat laku dan kekata, sejatinya adalah perjalanan kita yang pada akhirnya akan sampai ke titik horizontal di mata Penguasa Semesta. Dengan Bahasa Rasa-nya, Penyair mengajak kita untuk bersitatap dengan segala peristiwa, membaca dengan seksama setiap apa yang terbaca, untuk selanjutnya mengenal kehendak Sang Penguasa Semesta. Selamat menikmati. (Redaksi)

    [iklan]

    Merapal Wajah

    Tidakkah kita amati keterpesonaan pada sebingkai peristiwa yang dipajang untuk dikenang
    adalah jalan terjauh yang tak akan tersusuri
    bagaimanapun obsesi yang selalu menguasai
    sebesar azam yang membara, tentulah kita pahami, tak ada yang pasti selain kini
    berada di halaman yang telah lama dinanti atau justru tak dikehendaki.
    Membacanya seksama, deret diksi yang selayaknya kita apresiasi, selalu lekat dengan makna, lalu lahirlah persepsi; terserap di ruas-ruas jari.
    Lantas saraf-saraf kehidupan bersambut; menciptakan rasa yang bereuforia di belantara fana.

    Peristiwa yang kita baca; bersitatap lewat laku dan kekata.
    Kesengajaan, kepura-puraan, atau ketidaktahuan adalah garis vertikal; perjalanan kita yang sejatinya menghubungkan sampai ke titik horizontal; kita di Mata Penguasa Semesta. Kita baca lagi seayat kasih; mengejawantahkannya di segerak ketundukkan dan keteguhan; menadaburinya bersama.
    Dan padanya, Mahacinta membisikkan sayang; mengingat wajah; menyebut nama; menyiarkan ke seluruh penduduk alam.
    Wajah-wajah yang didudukkan di pesona; telah merapal berjuta peristiwa walau tak sempurna.

    Cirebon, 4 Juni 2020

    Gelombang Waktu

    Tiba-tiba perbincangan digulung masa
    Sekejap saja sore memulangkan kehendak untuk kembali memberi jarak
    Begitulah setiap hasrat yang berkelindan di senikmat perjumpaan
    Arus globalisasi yang memelesat—memangkas puluhan, ratusan, ribuan kilometer, seolah mendekatkan ruang-ruang keterasingan
    Bersitatap tertabir layar, dibingkai eksistensi yang mengekspresikan peristiwa
    Namun, sejumput kemayaan acapkali memanipulasi setumpuk persoalan yang kembali memendekkan persepsi
    Menanak ekspektasi dan menuangkannya dalam gelombang ambisi, seakan menuntaskan wacana yang mengalir deras tak berhulu

    Kemufakatan yang kerap diringkus argumentasi adalah sebentuk kealpaan yang patut diinsafi

    Dan kemutakhiran masa seyogyanya menuntaskan asa—membidik waktu agar detak-detik usia kian bermakna
    Benarlah, hanya seorang pejuang yang memahami perjuangan—lincah mengendarai kesempatan
    Dan pengorbanan begitu jujur sejak permulaan hingga penghujungnya
    Tersembunyi di sebalik keresahan sebuah pertanggungjawaban pada perubahan yang tak bisa diganggu gugat untuk memahamkan arti setiap peristiwa.

    Cirebon, 10 Juni 2020

    Surga Kecil

    Bukan… bukan melupakan
    Ia tak pernah hengkang dari beranda jiwa
    yang setiap petang bersua
    untuk meneguk air mata
    Tak ada rehat agar sumbu harap tetap menyala
    Hampir saja redup
    Hampir saja mati
    Lentera yang bersetia di langit-langit asa
    Di atas surga kecilnya
    Menekur saat gelegar halilintar menyambar jendela kamar
    Justru semakin membahana
    Jerit yang dibungkam
    Lantas, ia kembali menjejak surga dari mata
    perempuan muhtasyam berabad silam
    Ibu para bidadari
    Rahim suci
    Ia terguguk
    Membebat mimpi yang berkali-kali dijumpai
    Limbung
    Terbenam
    Berbenam sampai baskara melongok jendela
    Dan ia kembali mengetuk cakrawala
    Membuka lembar narasi
    Melakoni pentas di titian surga dan neraka
    Bersaksi atas segenap peristiwa
    Lalu pulang
    Padamlah lentera
    Habis ditelan masa

    Cirebon, 11 Februari 2020

    Asmarandana

    Ia melantunkan syair paling syahdu
    saat hening menjadi satu-satunya suara yang terdengar
    Di ujung masa, saat bumantara menggulung baskara
    dan mega kehilangan kilau binar, sajadah kembali digelar.
    Lantas, ayat-ayat malam menetes di telapak
    dalam semarak khalwat.
    Cericit burung selalu mengirim risalah lewat jendela
    yang mempertontonkan pagelaran suci saat kepulangan.
    Hatinya basah kuyup
    mendapatkan sajak-sajak paling harum yang dikecup
    ketika tak ada batas antara bumi dan arasy.
    Ia berceloteh saja
    seumpama anak emas yang ditimang bidadarinya
    Rapalan dilipatnya menjadi kuntum
    yang kelak ranum
    Membiarkan masa becerita
    tentang rahasia langit pada bumi
    Lewat tragedi, burung-burung meriwayatkan
    asmarandana yang menyusup di hatinya.

    Cirebon, 6 Februari 2020

    Perjalanan Pulang

    Diam-diam aku mengantungi lirik
    untuk kunyanyikan sebelum perpulangan
    menyematkan pesan-pesan sebagai teman perjalanan
    menyambangi halaman demi halaman
    menonton para pelaku mimpi
    dan kureduplikasi di tiap tangga-tangga usia
    jauh di relung, ketar-ketir mengintip Izrail mengetuk-ngetuk bangsal, merayu ajal,
    bahkan tak jarang mencabik nyawa

    Ngilu… bulir keringat jatuh di pelipis
    dan napas putus-putus mencari sekantung udara
    bukan permata, bukan takhta, bukan wanita
    bisikkan talkin merayu takdir agar didekap husnulkhatimah
    Laa ilaa ha illa Allah…
    sebaris senyum tersungging
    dan berkas cahaya memancar dari jiwa yang tenang

    Sembilu… mata gusar meletup-letup mencari yang didamba
    tubuh terkoyak sebelum ditinggalkan jiwa
    Kering-kerontang seumpama Sahara
    dahaga yang mencekik detik-detik kepulangan
    o… mata cinta telah sirna
    redup ditelan fatamorgana
    tak kembali… kehilangan semesta, kehilangan diri, diseret-seret ke liang petaka

    Aku beringsut mencari pelabuhan
    menutup pintu rapat-rapat
    namun ajal semakin mendekat
    kurayu agar ia tak mendekat untuk beberapa saat
    hati masih berkarat perlu disikat
    jasad penuh debu pekat
    jiwa yang tertawan neraka
    dan mendamba surga
    tengah menyipkan kafan yang dibeli saat di perjalanan
    ***

    Cirebon, 11 Juni 2020

    Nur Zulfiani Imamah yang memiliki nama pena Nurul Mahabbah. Ia merupakan anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Cirebon. Aktivitasnya sekarang menjadi guru bahasa Indonesia di SMP IT Al-Muqoddas Sumber Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Pembaca dapat mengontak penulis di sur-el: nurzulfiani.imamah@gmail.com, Facebook Nur Zulfiani Imamah, dan Instagram @nurzulfiani.imamah.

    Puisi Cinta puisi kehidupan sastra puisi
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleSendal Ajaib Anti Susah
    Next Article Bidadari Masehi

    Postingan Terkait

    Puisi-Puisi Alfiansyah Bayu Wardhana

    12 April 2026

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 2025

    Puisi yang Segar untuk Mesin-Mesin Lapar

    3 Desember 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Menolak Pudar: Jejak Keindahan “Situ Lengkong Panjalu” Yang Tak Lekang Oleh Waktu

    18 April 20269 Views

    Pas Lebaran 2026, Reuni SDN Jajag Lor Kali, Juga Oke…

    18 April 202661 Views

    Harga Sebuah Kicauan: Sebuah Narasi Narsisme Antroposentris

    18 April 202631 Views

    Muara Jambu Ciater Tempat Wisata dan Camping

    13 April 202613 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (79)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (189)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (155)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.