Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Puisi : Ibuku Penjahit
    Puisi

    Puisi : Ibuku Penjahit

    7 Juni 2020Tidak ada komentar4 Mins Read507 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Menulis puisi memang tidak seperti menulis karya sastra lainnya. Puisi, yang memiliki ruang sempit sebagai tulisan tetapi luas secara pemaknaan menjadikannya karya sastra yang spesial. Meskipun puisi sudah berkembang menjadi narasi populer sekarang ini, akan tetapi perlu kiranya penyair memerhatikan diksi, gaya bahasa dan lainnya agar puisi menjadi sangat hidup. Ya, walaupun demikian penyair bebas menentukan sikap. (Redaksi)

    [iklan]

    Ibuku Penjahit

    Lebih sering, di suatu ruang yang sempit. Aku melihat ibu menjahit. Mesin jahit tua itu berderit, menanggung potongan kain melilit. Sesekali ibu menguap, bila kantuk menyerang sengit, ia teguk secangkir kopi pahit sedikit demi sedikit. Sekian kali, sebab duduk dan menunduk puluhan menit, leher dan punggungnya mulai menjerit. Sakit. Kadang matanya sayu, jemarinya kaku, barangkali juga ingin mengadu. Namun kehendaknya lebih menggebu. Lebih lantang berseru.

    Ibuku penjahit. Di tangannya, dengan benang ketabahan ribuan mimpi kami terjahit. Dalam keyakinannya, doa dan harapan kami melangit. Setiap waktu, aku tahu bersama takdir ibu sedang saling lempar dadu. Di ruang yang lain, menyaksikan pengorbanannya yang semeru aku hanya mampu terharu dan tergugu.

    Totosan, 01 Mei 2020

    Kepada Tuhan, Aku Malu

                _Sejak masa covid 19

    Kepada Tuhan, aku malu
    Karena Dia telah tahu
    Bahwa aku tak punya cukup nyali
    Untuk mengakui
    Bahwa telah kutumpahkan sepi ke dalam diri
    Yang pekat seperti kopi
    Sehingga ramai di luar yang tetiba sunyi,
    Sejak corona menyebar
    Membuatku gusar

    Kepada Tuhan, aku malu
    Karena Dia telah tahu
    Bahwa aku tak percaya diri
    Untuk mengakui
    WujudNya tak hanya,
    dapat kujumpai di masjid-masjid, yang kini tanpa suara
    sebab Dia dimana-dimana
    Bahwa Dia tak hanya datang saat aku sembahyang
    Namun setiap kali aku undang dengan tenang

    Kepada Tuhan, aku malu
    Karena Dia telah tahu
    Bahwa aku gugup
    Menyaksikan ribuan paru-paru kehilangan degup
    Bahwa aku gemetaran
    Di tengah kerumunan, merasa diintai kematian
    Tetapi aku masih keluyuran
    Karena tak sanggup kehilangan banyak kesempatan
    Bukan membenahi isi hati dan muatan pikiran

    Kepada Tuhan, aku malu
    Karena Dia telah tahu
    Bahwa aku resah
    Menunda aktivitas di luar, dan diam di rumah
    Aku enggan mengakui
    309 tahun Ashabul Kahfi
    Dalam gua, lebih rapat dari ruang yang aku huni
    Dengan tabah dan pasrah, tanpa keluh kesah
    Yang dikisahkan-Nya melalui ayat-ayat al-Quran sebagai hikmah

    Kepada Tuhan, aku malu
    Karena Dia telah tahu
    Bahwa aku sebagai yang tua dan muda
    Yang miskin dan kaya
    Yang awam dan cendekia
    Terlalu memuja yang sia-sia
    Bukan merawat iman dan taqwa
    Dan bijaksana dalam berprasangka

    Sumenep, April-Mei 2020

    Mungkin

    Bumi menjerit, sakit. Sebab kedamainnya kita curi demi hidup bergengsi. Kita tak peduli.
    Bumi terpuruk. Kekayaannya terus menerus kita keruk. Kita mabuk.
    Bumi terluka. Kita semakin sering mencipta polusi udara dan polusi cahaya. Kita buta.
    Barangkali bumi hanya telah terlalu lelah. Memanggul ambisi kita yang penuh serakah.
    Barangkali ia ingin pulih, setelah hampir tiap waktu menyaksikan kita berselisih.
    Barangkali ia juga telah terlalu penat dan barang sejenak hendak beristirahat.
    Sehingga satu wabah menjadikan kita begitu gelisah, padahal selama ini kita tenang meski bumi diam-diam terguncang.
    Selama ini kita terlalu sibuk berkeliaran di jalan-jalan dengan rekayasa tujuan, kita terlalu khusyuk bersantai dan beramai-ramai di kedai-kedai, dan terlalu asyik mengobral pencitraan.
    Kemudian microba bernama corona mendera dunia, memulangkan beribu nyawa pada baka. Mata berkaca-kaca. Padahal bumi gelora dalam derita, entah berapa lama. Kita hanya menonton tanpa mimik muka.
    Kini, setiap waktu kita diburu kegetiran. Terbirit-birit mencari pelarian.
    Sementara kita terkurung peraturan dan anjuran, sementara kita merapal bermacam keluhan.
    Sementara pabrik-pabrik tidak dioperasikan, sementara lorong-lorong tanpa asap kendaraan.
    Sebagaimana pesakitan, pelan-pelan bumi melakukan rawat jalan.
    Bersiap menyambut kebangkitan.
    Apakah kita akhirnya sampai pada derajat kesadaran?

    Pamekasan, Maret-April 2020

    Safrina Muzdhalifah. Suka menulis fiksi dan non-fiksi, tapi lebih suka menulis puisi dan mendiami sepi. Beberapa puisinya dimuat di media cetak dan daring serta dimuat dalam beberapa antologi kolektif. Antologi solo perdananya diterbitkan secara gratis oleh FAM Publishing akhir 2019 lalu, berjudul ‘JEJAK’

    penyair milenial puisi narasi sastra puisi
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleLegenda Ular Ndaung
    Next Article Isyarat dari Sepotong Surat

    Postingan Terkait

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 2025

    Puisi yang Segar untuk Mesin-Mesin Lapar

    3 Desember 2025

    Puisi-Puisi Amanda Amalia Putri

    30 November 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Keliling Dunia Hanya di Majalengka

    4 April 202632 Views

    Puisi dan Cerpen Terpilih mbludus.com Tahun 2026

    29 Maret 202685 Views

    Puisintaksis dan Manusia Algoritma: Ketika Peluncuran Buku Menjadi Peristiwa Ontologis

    21 Februari 202690 Views

    Buku Sang Nabi

    9 Februari 202615 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (208)
    • Bisnis (7)
    • Buku (84)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (78)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (188)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (144)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.