Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Perempuan Pasundan
    Puisi

    Perempuan Pasundan

    31 Januari 2021Updated:31 Januari 2021Tidak ada komentar3 Mins Read70 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Puisi yang baik sering kali dari permenungan panjang meskipun ia lahir pada ide-ide spontanitas. Itulah mengapa puisi selalu memiliki makna berbeda meskipun tema dan persitiwanya serupa dari puisi-puisi lainnya. Puisi, kerap kali hadir dengan kedekatan penyair dengan peristiwa-peristiwa di sekitarnya. Selamat membaca (redaksi)

    Epitaf

    : Sapardi Djoko Damono

    Malam menjerit
    melumat kisah-kisah sang penyair
    sajak-sajak telah ditimbun
    dalam lubang-lubang dan rahim-rahim perempuan

    Anak-anak menjelma kertas
    dan koran-koran tersebar di antara
    hari-hari yang lalu

    Di kota-kota besar
    manusia-manusia lupa akan takdir
    hidup adalah keabadian
    kematian adalah mimpi yang dilupakan

    Aku menunduk, menatap tubuhmu
    kaku, dibalut tanah dan semen
    memanggil roh ibu bapak.
    Lalu, kutorehan potret wajahmu
    di cermin yang pernah ada senyuman
    dan kanvas telah kupenuhi goresan minyak
    kenanganmu

    Karawang, Agustus 2020

    Perempuan Pasundan

    Angin ribut, datangkan para lelaki dari negeri jauh
    berburu tubuh dan lubang-lubang
    yang ditutup rapat oleh takdir dan keteguhan

    Malam telah lama melumat rahimku
    di antara gemulai tingkah, dan sorot mata bulan
    mengundang tawa para lelaki
    ke ranjang-ranjang, dan barung-barung bekas ciuman

    Pada tubuh kuning langsat
    tuhan hadir membawa para lelaki
    membuat kisah,
    dan meninggalkan bayi-bayi tanpa dosa
    di sungai-sungai kepedihan

    Aku pun lari, menjauh, dan bersembunyi
    dalam kegelapan kota
    mencari tempat-tempat nyaman.
    Tapi, malam semakin garang
    para serdadu itu
    kini, telah menelan tubuhku

    Karawang, Agustus 2020

    Tidak Ada Perahu Nuh

    /1/
    Sinar remang lumuri
    kampung asri nan sejuk
    menyentuh rumah-rumah
    atap segitiga, bilik bambu
    dan lantai-lantai tanah bercampur
    pasir sungai

    Jari-jemari mega yang lentik
    merayapi tubuh-tubuh bilik bambu
    di sudut-sudut rumah
    membangunkan kemolekan tidur warga
    kala musim penghujan

    /2/
    Keringat membasahi bumi
    di ladang mari kita tanam
    padi dan jagung
    di atas tanah sumbur nan gembur

    Tanah-tanah kini melahirkan panen limpah ruah
    warga gelar tradisi nyalin
    bukti syukur kepada Sang Hyang Kersa*
    Dewi Sri tebar keberkahan
    masyarakat patuh tradisi

    /3/
    Langit mengadu di peraduan
    seekor kancil muncul
    nyasar kesunyian
    api merajah jiwa-jiwa serakah
    tangkap, gorok, cincang kancil kecil-kecil,
    tusuk-tusuk penuh semangat
    dibakar campur bumbu kacang,
    rempah-rempah
    lalu santap diujung malam

    /4/
    Kabut gulung malam sepi
    langit tumpahkan hujan—
    tenggelamkan rumah-rumah
    seret ayam-ayam, domba-domba
    dan kenangan-kenangan
    warga menjelma kaum nuh
    ditenggelamkan semesta

    Tapi tidak ada perahu untuk ditumpangi
    atau sang nabi pembawa risalah
    warga raib—
    hanyut bersama harta benda

    Karawang, Maret 2020

    Keterangan:
    *Sang Maha Agung

    Kematian Penyair

    Waktu telah membunuhku
    menjelma mimpi buruk yang kian lebam
    kawanan kedasih berkicau
    wartakan kepulangan pada semesta

    Simbol-simbol kepayahan dipampang
    tangisan perempuan tua menggema ruangan
    manusia-manusia saleh datang, bacakan
    firman-firman tuhan yang tak pernah usang

    Anak-anak kecil nampak gembira
    menunggu bingkisan
    larik-larik puisi yang pernah hidup
    di koran-koran dan majalah

    Aku dimandikan
    disabuni oleh ustaz dengan penuh kasih
    disalatkan ribuan air mata yang kutanam
    dibopong ke liang lahat, lalu ditimbun
    bersama puisi paling sunyi

    Di liang lahat kutuliskan puisi cinta
    untuk si kembar mungkar nakir yang kesepian

    Karawang, April 2020

    Malam Paskah

    Angin berhamburan
    saat perjamuan kudus
    para abdi
    beribadah taat

    Malam ini
    kau tetap dingin
    saat ku ingin
    kamu tetap tunggal
    tertinggal

    Kamu sorga dalam hatiku
    aku neraka dalam kenangmu

    Ingin kukembali
    rajut Baju senja
    meminum susu
    dari tubuhmu

    Mira, aku akan tetap menjelma
    selimut paling hangat
    keringat paling dingin
    pada malam-malam
    saat kita berdua bergoyang
    di ranjang reyot ibumu

    Saat paskah
    dewa akan Turun
    bersama rindu
    rinduku padamu

    Karawang, Mei 2020

    Ahmad Abdul Karim, lahir di Karawang pada 30 September 1999. Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Singaperbangsa Karawang. Aktif di BEMSIKA (Bengkel Menulis & Kreativitas PBSI UNSIKA), FLP Karawang, dan UKM Teater Gabung. Peraih 10 Besar Korean Literature Essay Contest dengan tema “Apresiasi Antologi Puisi Karya Yun Dong Ju” yang diselenggarakan oleh Korean Studies Research Center (KRSC) FPBS UPI.

    Puisi Cinta puisi kehidupan puisi sastra
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleKue Serabi
    Next Article Hari-Hari Menjelang Pesta

    Postingan Terkait

    Puisi-Puisi Alfiansyah Bayu Wardhana

    12 April 2026

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 2025

    Puisi-Puisi Amanda Amalia Putri

    30 November 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Menolak Pudar: Jejak Keindahan “Situ Lengkong Panjalu” Yang Tak Lekang Oleh Waktu

    18 April 20267 Views

    Pas Lebaran 2026, Reuni SDN Jajag Lor Kali, Juga Oke…

    18 April 202661 Views

    Harga Sebuah Kicauan: Sebuah Narasi Narsisme Antroposentris

    18 April 202630 Views

    Muara Jambu Ciater Tempat Wisata dan Camping

    13 April 202613 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (79)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (189)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (155)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.