Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Pada Sebuah Akhir Pekan
    Puisi

    Pada Sebuah Akhir Pekan

    25 Agustus 2019Updated:15 November 2019Tidak ada komentar3 Mins Read149 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Kata-kata melipat jarak dan waktu. Menggulung permadani yang memisahkan kisah masa kini dan lalu. Menjangkau sekaligus peristiwa-peristiwa yang tak terhitung warsa. Mendekatkan tempat demi tempat yang tak cukup dijangkau sekali lompat. Seruni Sekar memaparkan peristiwa masa Kolonia, juga menjamah berbagai kekayaan Indonesia dengan puisi. Membacanya, kita dilibatkan turut larut dalam negeri yang karut-marut, juga adegan demi adegan luka. Selamat menyelami puisinya. (Redaksi)

    [iklan]

    Puisi-Puisi Laras Sekar Seruni

    Kematian Batavia

    /I/
    Di samping Ciliwung–ketika itu senja belum lagi beranak pinak, dan perahu layar tersibak di naungan mambang–Coen baru saja merapalkan nama sejarah, Batavia.

    /II/
    Namun, sayang, saat itu Batavia mengeras dalam tanah yang memerah. Ia menjumput di sumur belakang rumah kita, mendendangkan suara-suara rakyat yang dilesapkan zaman. Mereka merdeka dalam kebidaban, namun air matanya pecah mengguyur pelabuhan yang temaram. Sayang, sayang, di sinikah kita kian menanam anak-anak hujan yang menuangkan rindu dan derita?

    /III/
    Oh, sayang disayang, Batavia lumpuh dan ruh berganti. Berganti. Berganti. Mati. Mati? Anak-anak kita menjelajah tubuh Batavia. Sebuah tubuh dengan ruh yang menjajal khatulistiwa.

    /IV/
    Di samping Ciliwung–ketika itu senja telah memanen kata demi kata yang tumpah di kakinya, dan perahu layar sudah berhenti bersauh sejak Coen menanggalkan lencananya. Kini Batavia hanyalah sebuah nama–abad silih berganti dan ia mati dalam singgasananya yang patuh pada waktu.

    /V/
    Oh, sayang disayang, sisa-sisa nisan kita ditunggangi sebuah nama yang menjadi tonggak negara. Luruhlah, kita semakin lindap, dan tanah kita menjadi setiap yang membawa harap pada tubuhnya.

    (*) Manggarai, Juni 2019

    Anyer; Sebuah Peristiwa

    Anyer–bukankah Krakatau selalu mengeja namamu setiap petang yang mambang? Tubuhmu putih disapih pasir-pasir ibunda, pipimu merona dihampar gelombang yang dihinggapi camar.

    Anyer, kau mengantarkan ruh-ruh pada sepasang malaikat malam itu. Malam yang begitu rembang disiram cahaya rembulan. Rambutmu liar menjerat sulur-sulur kehidupan.

    Pulanglah, Anyer. temui Tuhanmu di setiap hela detik yang kau sisakan untuk kami. Riuhmu tidak kami rindukan, namun irama anginmu yang asin selalu kami gambarkan pada kening waktu.

    (*) Pamulang, 2018

    Pada Sebuah Akhir Pekan

    Dia lesap pagi itu di wajah Agustus. Dunia masih sama, masih menawarkan sejarah di kolom koran Minggu.
    Revolusi yang pernah terjadi mengingatkanya pada kersik-kersik di sawah yang pecah dan menanam air mata tanpa nama.

    Meja judi, botol bir, dan gelas-gelas kopi tumpah bersama huruf dan tanda tanya yang sawang, bercerita tentang Lebak menambah mata pencaharian di akhir pekan.

    (*) Pamulang, Agustus 2018

    Denpasar di Kaki Malam

    Dan malam kian mengeja cangkir kopi yang lesap dengan memorimu.
    Setelah senja, di rendaman butir-butir pasir Kuta, kau tanamkan cerita dewata.

    Kamu, masihkah sama seperti satu daswarsa lalu?
    Atau Denpasar telah mengubahmu menjadi wajah ibu separuh waktu, separuh masa lalu?

    (*) Pamulang, Agustus 2018

    Merapi

    Merapi—sebuah saksi yang dirambati jutaan kenangan,
    dengan sisa-sia ranting patah, warna tanah, dan
    udara pagi yang lesap bersama tubuh kita
    di pinggir cangkir kopi.

    Kita—sepasang mata kata yang enggan terjalin,
    namun selalu berpilin. Kata yang saling menebak,
    merebakkan deburan kuasa atas takdir-Nya.

    sampai Merapi terpejam,
    mengamini kepergian kita menuju tembaga waktu,
    memeluk telaga batu.

    (*) Merapi, 2018

    Laras Sekar Seruni, bergiat di Komunitas Sastra Rusabesi. Buku puisi tunggal pertamanya Solilokui terbit tahun 2018.

    puisi indoensia puisi kemerdekaan Puisi sejarah
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleRoti Jahe Papa Roti
    Next Article Cincin dan Celana Dalam

    Postingan Terkait

    Puisi-Puisi Alfiansyah Bayu Wardhana

    12 April 2026

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 2025

    Puisi-Puisi Amanda Amalia Putri

    30 November 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Healing Murah Meriah di Pantai Kejawanan: Wajah Baru, Vibes Makin Seru!

    24 April 202611 Views

    Wisata Waterpark Tiga Bintang Firdaus Indramayu

    24 April 20266 Views

    Wisata Modern Pantai Kesambi

    24 April 20267 Views

    Pesona Kolam Renang Cikomboy

    24 April 202611 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (79)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (189)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (160)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.