Cerpen

Cincin dan Celana Dalam

Jangan Lupa Di Rate Ya!
Tinggal Pilih Bintang Saja!

Cincin dan Celana Dalam

Nana Sastrawan

Lewat tengah malam aku tidak pernah bisa tertidur. Selalu terdengar desahan dan dernyit ranjang, udara juga terkadang terasa panas walaupun AC sudah menyala. Agaknya malam ini memang tidak terlalu dingin, seperti biasa aku menghidupkan notebook untuk menulis sebuah cerita pendek, mungkin sebuah cerita tentang malam ini. Tetapi, aku tak pernah menulis apa-apa. Suara-suara desahan dan dernyit ranjang semakin keras, dibarengi dengan pakaian-pakaian yang terlempar. Mula-mula kemeja, dasi, celana panjang, blouse, rok mini kemudian kutang. Hampir saja benda-benda itu mengenai wajahku, aku membuka tirai jendela dan melihat malam yang gelap, dingin dan kejam. Tiba-tiba, celana dalam terlempar mengenai wajahku. Busyeet…..

Celana dalam berukuran besar, bewarna hijau tua, dan haha! Bau. Ini celana dalam yang paling kuno yang pernah mengenai wajahku dan sudah kupastikan pemiliknya adalah orang lokal, gendut dan tentu jarang mandi. Tetapi, yang mengenai wajahku adalah celana dalam wanita, ups! Bisa dibayangkan bukan? Celana dalam merupakan pakaian pertama yang akan dipakai dan pakaian terakhir yang akan dilepaskan. Terkadang, celana dalam melambangkan akan keseksian pemakainya, terutama wanita. Oleh sebab itu banyak sekali perancang busana membuat celana dalam dengan berbagai jenis dan bentuk. Jika memikirkan celana dalam, aku jadi teringat pertama kali aku mengetahui bahwa celana dalam adalah hal yang paling rahasia dalam diri manusia, beginilah kisahnya:

Aku terima nikahnya, pulan binti pulan.
Dengan mas kawin seperangkat pakaian dalam.

Malam pertama, aku diletakan di samping foto pernikahan oleh pengantin pria itu. Tentu ini pengalaman pertamaku menjadi simbol pernikahan antara dua manusia yang saling mencintai ini. Aku juga tidak pernah tahu mengapa aku harus dilepas dari jari manis pengantin pria itu ketika ia tengah bercinta, menyesal sih tidak. Tapi, aku tak bisa ikut menikmati aroma tubuh wanita yang konon ceritanya dapat meningkatkan birahi para lelaki. Entah sengaja atau memang kebetulan, dia selalu melemparkan celana dalam wanita ke arahku ketika seluruh pakaian sudah terlepas, dan dia siap meluncurkan rudal penghacur yang katanya lebih hebat dari senjata apapun. Ups! Aku tidak pernah paham jika urusan ranjang.

Bridal set yang pertama kali terlempar mengenaiku, satu set pakaian dalam yang khusus dibuat untuk pengantin di mana terdiri dari bra, korset atau camisole, dan celana dalam yang sepadan ditambah sarung tangan. Kebanyakan warna dari pakaian dalam ini berwarna putih. Wangi dan terasa segar, mungkin karena pemakai pakaian dalam ini adalah perawan-perawan yang baru pertama kali pakaian dalamnya dilepaskan oleh pria.

“Kamu akan menjagaku seumur hidup bukan?”
“Masih belum yakin? Aku sudah berjanji akan setia seumur hidup di hari pernikahan tadi, bukan?”
“Yakin sih… tapi, yang namanya laki-laki.”
“Sudahlah, jangan terlalu sering lihat gosip selebritis.”
“Mau punya anak berapa?”
“Dua.”
“Lima deh…”
“Sakit tahu.”

Begitulah percakapan mereka pada malam pertama itu. Aku tidak menguping—mereka sendiri yang berbicara terlalu keras, mungkin akibat bosan berbisik-bisik sebelum mereka rebah kelelahan di kasur dengan keringat mengucur deras. Kata-kata yang mereka bisikan sungguh membuat iri: I love you, oh beib…. I love you very much. Diringi dengan lengkingan dan dengus napas memburu, berat. Mungkin puncak kenikmatan pada diri manusia adalah ketika mereka tak memakai celana dalam di malam hari.


Di siang hari, aku selalu rekreasi mengunjungi banyak tempat: kantor, mall, pantai, gunung dan tempat lainnya. Seringnya, aku mangkal di kantor menemaninya mengetik dan menulis catatan-catatan yang tak bisa aku baca. Wajar saja, aku tak pernah sekolah seperti para manusia, bukan? Rutinitas ini menjemukan, membuat kepalaku pusing, lelah dan mudah mengantuk. Bahkan, terkadang aku mengalami stress. Nah… dalam kondisi seperti ini aku biasanya dibawa ke sebuah kafe, untuk minum kopi dan menikmati sebatang rokok sambil mendengarkan musik Jazz. Suara-suara yang dihasilkan dari alat musik sungguh sangat unik, mereka terdengar saling bersahutan, mengungkapkan perasaan masing-masing ketika tangan manusia memainkannya. Sebab itulah Jazz sering disebut musik percakapan, komunikasi yang dihasilkan alat-alat musik menyatakan sikap, pemikiran dan perasaan. Aku merasa betah berlama-lama di tempat ini, larut dalam waktu di antara kesesakan kota dengan rutinitas yang menjemukan. Tanpa disadari, sudah dua tahun aku duduk di kafe ini hanya sekadar meminum kopi, merokok dan mendengarkan musik Jazz.

Selama dua tahun, aku mengenal seorang wanita. Maksudku, pria yang memakai aku di jari manisnya bertemu dengan seorang wanita di kafe ini. Ia muncul bagaikan peri, melangkah bagaikan peragawati, penampilan yang sempurna. Mereka saling pandang, wajah wanita itu oval, mata seperti bintang kejora dan senyum bagaikan bulan sabit. Jika aku melihat kecantikannya ada perasaan kagum yang dahsyat.

“Kamu indah.”
“Wanita mana yang tidak ingin terlihat menarik?”
“Katakan itu kepada istriku.”
“Itulah masalahnya, apakah cinta dapat diukur dengan sebuah pernikahan? Memiliki anak, dan saling mengabdi.”
“Tetapi, pada kenyataannya aku belum bertemu dengan wanita berpikir demikian. Mereka selalu takut menjadi perawan tua.”

Dan dia tertawa. Giginya putih, berjajar rapi seperti barisan awan di langit ketika musim cerah. Sering kali, aku melihat wanita yang sangat ideal dan berkeinginan untuk dijadikan pasangan: cantik, pintar, kaya dan berbudaya. Mereka juga memiliki keterampilan seperti memasak, menjahit dan berkebun. Sempurna bukan? Sayangnya aku hanya sebuah cincin kawin.

“Apa aku terlihat perawan tua?”
“Tidak sih….”
“Aku punya segalanya, uang untuk membeli kebahagiaan. Tetapi, hidupku kosong dan hampa.”
“Soal apa, dong?”
“Nanti juga kamu tahu.”

Wanita itu menyalakan rokok kemudian menghembuskan asap rokok ke atas, membentuk lingkaran, perlahan lenyap ditelan musik Jazz. Aku meminta izin untuk pergi ke toilet, dari tadi sudah menahan kencing, dan secara tidak sengaja melihat belahan dada dari balik blouse wanita itu yang sedikit terbuka, semakin ingin kencing. Di dalam toilet, aku melihat wajahku di cermin. Ketegangan terlihat, aku menduga akibat terlalu menahan air kencing. Ku basuh, terasa dingin dan segar kemudian segera kukeluarkan air seni itu sebelum menjadi penyakit, lega rasanya. Ups! Wanita itu ada di hadapanku.

“Ini toilet pria!”
“Tidak ada masalah, bukan?”
“Cepat keluar sebelum ada yang melihat!”

Dia malah mendorongku ke dalam WC. Wanita itu menekan bahuku hingga aku terduduk di atas tutup kloset. Kemudian dia duduk di pangkuanku, bibirnya menyerang bibirku. Aduh.

“Jangan dong, nanti ada yang masuk.”
“Sudah jangan berisik.”
“Jangan.”
“Sssst……”
“Jangan di sini.”
“Oke, kita ke hotel.”

Bustier merupakan bra strapless yang panjang turun sampai pinggang dengan kaitan sebagai kancingnya. Penampilan tipe lingerie ini sangat eksotik dan dapat dipakai tanpa celana dalam. Tetapi dia sepertinya menggabungkan dengan Thongs, adalah celana dalam yang hanya menutup bagian depan; miss V. Sehingga pantat dibiarkan terbuka, terlihat utuh. Terbuat dari bahan stretchable yang dapat meregang. Aku sedikit berpikir ketika semua pakaian dalam itu menimpa wajahku, seperti biasa. Tetapi, aku tidak berada di samping sebuah foto pernikahan melainkan di samping sebotol vodka dalam kamar hotel. Sungguh sempurna memiliki wanita itu, apalagi dia terlihat modern dan menyukai keseksian, unik dan eksentrik.

“Jadi soal ini?”
“Iya.”
“Kamu tidak mencari lelaki yang bisa menikahimu?”
“Tidak mau.”
“Mengapa?”
“Kamu tahu cincin dan celana dalam?”
“Maksudmu?”

“Orang-orang membeli cincin pernikahan dengan berbagai model dan mereka mengukirnya agar terlihat indah. Begitu juga dengan celana dalam bukan? Hanya saja, cincin melambangkan sebuah ikatan cinta. Tetapi, celana dalam? Hanya orang-orang yang sudah bernafsu yang dapat membukanya.”

Begitulah percakapan mereka kali ini. Mereka tidak membicarakan tentang keluarga dan masa depan, dan memang sedikit sekali perbincangan yang terjadi. Mereka lebih sering mendesah dan saling peluk.

***

Baby Doll merupakan pakaian dalam wanita yang memiliki dua bagian. Bagian atas berbentuk jubah yang menutupi dada hingga ke pinggul. Bahannya sangat lembut dan longgar. Sedangkan sebagian lagi merupakan sebagai bawahan berbentuk celana dengan warna senada. Pakaian dalam ini sangat anggun, wanita yang memakainya terlihat seperti boneka: imut dan mempesona. Aku berkenalan dengannya di tepi kolam renang dengan matahari cerah, angin terbang menerpa kaca-kaca di sekeliling, lalu menembus ventilasi yang sengaja dibiarkan terbuka. Tempat ini menghadap ke sebuah pantai, sungguh manusia memang sangat kreatif dan inovatif menciptakan kesenangan.

“Kamu sudah lama mengikutinya?”
“Baru beberapa tahun.”
“Pasti sudah banyak celana dalam yang kamu jumpai.”
“Hanya beberapa. Kamu?”
“Baru kali ini aku bertemu dengan sebuah cincin kawin.”
“Loh, memang biasanya bertemu siapa?”
“Uang.”

Eits! Ini bukan percakapan tentang bisnis, yang terjadi di meja-meja rapat. Memang sih, masalah duit adalah hal yang paling penting di dunia ini, tak ada yang dapat mengalahkan kehebatan duit. Ya, duit, duit, duit. Jika aku diperbolehkan memakai gaya bahasa hiperbola bahwa duit kehebatannya melebihi kekuatan Tuhan. Ups! Aku ini bukan seorang Atheis, tetapi memang kenyataan bukan? Manusia lebih menyukai kehilangan iman daripada kehilangan banyak duit. Baby Doll tersenyum. Senyumnya tipis, bibirnya merah seperti irisan pepaya. Rambutnya jatuh, hitam dan lebat, semakin terlihat anggun.

“Berapa banyak uang yang kamu temui?”
“Aku lupa, tapi ini yang paling spesial. Tiga Puluh Juta semalam, dengan tips sepasang anting.”
“Enak dong?”
“Enak nggak enak sih, tapi ini jalan hidupku. Aku sudah memilihnya, buat apa kita mencintai tanpa memiliki. Hampa bukan?”
“Itu seperti kebanyakan orang bilang!”
“Kedengaran bodoh jika mencintai tanpa memiliki sama saja tak punya apa-apa. Mencintai tentu harus memiliki pasangannya, mobilnya, rumahnya dan uangnya. Jika tak ada apa-apa, nggak usah dicintai dong, cari yang lain.”

Setelah itu kami berpisah, aku tak pernah tahu dia akan pergi ke mana dan sepertinya dia juga tak ingin tahu aku akan pergi ke mana, segalanya terasa sangat singkat, tak ada rasa cinta, rindu apalagi kasih dan sayang. Sangat sebentar, seperti orang yang kebelet kencing kemudian mampir ke toilet setelah itu bayar dan melupakan.

***

Wow! G-String merupakan celana dalam paling tipis dibanding semua model celana dalam wanita. Bagian belakanganya hanya berbentuk seutas tali sehingga cocok digunakan dengan bawahan yang sangat tipis atau agak tembus pandang. Kali ini, aku diletakan di atasnya sehingga dapat memeriksa seluruh jahitan dan lekuk-lekuknya, Fantastik! Celana dalam ini mungkin bagiku paling sempurna di antara yang lainnya, dia memiliki kekuatan magis yang dahsyat sehingga siapa saja yang memandang celana dalam ini akan mudah jatuh hati, apalagi pemiliknya seorang wanita yang rupawan, sensual dan menghayutkan.

Malam bertambah malam. Akan segera pagi, petualangan ini belum berakhir semakin menantang dan tak pernah terduga apa yang terjadi, seakan dunia hanyalah selembar daun yang dapat digenggam ataupun dirobek. Sudah berhari-hari, berminggu-minggu dan berbulan-berbulan aku menikmati celana dalam ini, tetapi tak pernah rasanya membosankan di dekatnya. Siapa pun orangnya pasti akan melakukan apa saja untuk selalu bersama celana dalam ini, mereka juga rela kehilangan segalanya: uang, cinta dan pekerjaan. Kuperhatikan dia. Aku tidak percaya. Dia dapat menghipnotis seluruh kehebatanku, bahkan bisa jadi aku dilempar ke luar jendela oleh kekuatannya. Dan itu terjadi—aku dibanting, jatuh berdenting ke kolong ranjang. Tak bisa aku melihat dia lagi hanya ranjang ini terus saja bergoyang-goyang. Setelah itu terdengar teriakan, bukan desahan.

“Jangan pergi. Jangan tinggalkan aku!”
“Tak ada yang harus dipertahankan, aku tak pernah menganggapmu ada.”
“Aku sudah berikan semuanya, bukan?”
“Maka, aku mengambilnya. Terima kasih.”
“Jangan pergi. Jangan pergi. Jangan pergi…!!!”

Blam! Pintu tertutup. Tangis kesedihan. Ratapan. Kehidupan yang serba indah dan nikmat menjadi muram. Apakah sesal? Apakah dosa? Tak ada yang tahu sepenuhnya makna pertanyaan itu, barangkali harus ada yang dilupakan. Kehancuran perasaan akan sangat menyakitkan dibandingkan kehilangan harta benda, tiada yang dapat mengobati kehancuran itu selain seorang wanita yang mencintai seumur hidup dengan setulus-tulusnya. Ada tangan merayap di kolong ranjang. Meraba-raba dan menarik aku, kemudian dia memakai kembali di jari manisnya. Kuperhatikan, wajahnya kusut, lesu dan tanpa tenaga. Melangkah meninggalkan kehancuran dirinya sendiri di kamar ini. Berjalan gontai dengan jaket menggantung di bahu kanannya menuju rumah.

“Pah, Kenapa pulang jalan kaki? Di mana mobil?”
“Hilang.”
“Mamah, siang ini ke Bank, tak ada tabungan, tak ada uang sama sekali.”
“Hilang.”

Seolah semuanya telah dimengerti, bahwa seorang laki-laki membutuhkan sentuhan wanita ketika kacau.

“Ya sudah, tak apa. Mari kita ke kamar!”

Lampu redup, samar aku melihat wanita gemuk setengah telanjang dan memakai celana dalam berwarna hijau tua. Ah, lebih baik aku menulis sebuah cerpen. Keadaannya sungguh mendukung, dan aku akan menulis tentang celana dalam. Tiba-tiba, pluk! Busyeet……bau apek.

2012

Leave a Comment