Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Kritik Sastra » Negeri Kelana dalam Hati Seorang Introvert
    Kritik Sastra

    Negeri Kelana dalam Hati Seorang Introvert

    30 Juni 2020Updated:11 Juli 2020Tidak ada komentar12 Mins Read96 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Negeri Kelana dalam Hati Seorang Introvert

    Nana Sastrawan

    Neni Yulianti mengawali kiprah kepenyairannya tahun 2017 melalui buku puisi pertamanya ‘Sajak Tepi’. Namun, bukan berarti ia baru mengenal puisi di era milenial ini, jauh sebelumnya, Neni telah menjelma seorang deklamator puisi. Ia sering mengikuti lomba membaca puisi dari karya-karya sastrawan hebat, sekadar menyebutkan satu nama Chairil Anwar. Neni yang dulu, akrab dengan puisi-puisi penyair fenomenal itu. Seiring bergulirnya waktu, dari senang membaca puisi dari lomba dan panggung-panggung, ia pun mulai banyak membaca buku-buku puisi, hingga pada akhirnya ia berhasil menjadi penyair perempuan yang patut diperhitungkan melalui karya-karya puisinya yang telah tembus media Nasional dan ajang Asia Tenggara.

    Namun demikian, siapa sangka dibalik kata-kata yang terlahir di puisi-puisinya, Neni adalah seorang Introvert. Ia pernah kehilangan kepercayaan diri dan menjadi korban perundungan baik di dunia nyata maupun dunia maya, bahkan di berbagai komunitas yang diikuti olehnya, kerap kali Neni dikorbankan sebagai kambing hitam. Neni pernah kehilangan semangat, ia hampir putus asa dan selalu mengurung diri di dalam kamar. Dari pengurungan dirinya itu, kata-kata berjatuhan dari kepalanya ke atas kertas putih, membentuk puisi. Boleh jadi, puisi-puisinya yang dibukukan ini adalah sebagai wujud balas dendam kepada semua orang yang pernah melakukan perundungan, ia seperti sedang ingin mendobrak pintu kamar dan membangkitkan semangat pada dirinya sendiri. Ya, motivasi terbaik dalam hidup ini, sejatinya adalah diri sendiri.

    [iklan]

    Setelah buku puisi pertamanya diterbitkan, Neni semakin muncul ke permukaan, namanya cukup dikenal di kalangan para penulis dan penyair, bahkan baru-baru ini namanya tercatat dalam buku ‘Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan oleh Yayasan Hari Puisi Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

    Seorang Neni yang marah, mulai menyadari bahwa kekuatan terbesar untuk mengalahkan keterasingan adalah mengenal jati dirinya. Ia pun mulai mencari jati dirinya, mengenali siapa dirinya, untuk apa dia hidup dan di mana dia lahir. Lambat laut, Neni yang selalu gelisah tentang kerapuhan hatinya, mulai gelisah pada kulturalnya. Dan ia mulai sadar untuk memanfaatkan kekayaan kulturalnya sebagai ekspresi dalam puisi-puisinya. Ia mulai mencari data dan narasumber yang menurutnya tepat untuk eksperimen karya puisinya setelah buku puisi pertamanya lahir.

    Terbukti, Juni 2020 buku kumpulan puisi keduanya bernapas dan mulai merangkak, tertatih-tatih dalam dunia kesusastraan Indonesia. Buku puisinya kali ini memang sangat berbeda dengan buku puisi sebelumnya. Jika buku puisi ‘Sajak Tepi’ banyak puisi-puisi kamar tercipta, di buku puisi keduanya yang berjudul ‘Kelana’ Neni telah menjelma seorang perempuan yang ekstrovert, dia tidak merasa terkurung atau tersisihkan, justru dia mulai menjelajah ke berbagai dimensi waktu, jauh ke sejarah masa lalu. Ia menyadari bahwa tanah di mana ia menjadi besar memiliki nilai-nilai puitik yang perlu disampaikan ke semua orang, sehingga tanah kelahirannya menjadi tempat yang pada akhirnya dikenal oleh banyak orang, ia ingin menghidupkan kejayaan masa silam di masa sekarang, seolah sedang mencoba membangkitkan jiwanya yang gagah di atas panggung berdeklamasi di masa silam ke masa sekarang.

    Pada puisi berjudul ‘Panji’ sebagai puisi pembuka buku ini, seolah Neni tengah memberikan isyarat bahwa dirinya terlahir kembali sebagai deklamator melalui sejarah masa silam di kotanya, yaitu Cirebon.

    Cahaya berenang di wajah itu, sungguh membelah
    dada yang memandang
    putih, suci, dan selembut bayi. Sejumput bayang
    membentang
    peluh pewaris cerita di garis puyang
    tentang tiga pendekar sakti: Sunan Gunung Jati,
    Sunan Kalijaga
    dan Pangeran Welang berebut pedang Curug Sewu
    bermata rembulan
    Diletakan adeg-adeg sekokoh gunung
    biji-biji kesumat terpanggang dalam tungku api
    kilat pedang berdesing, kaki menghentak ke bumi,
    dan waktu semakin beringsut
    menunggu pengorbanan paling agung turun dari
    punggung
    kaki-kaki hujan menyentuh bumi, terurai sulur siar kalbu
    dan segalanya menjadi teduh, angkara murka luruh,
    nasib mengelupas dari tubuh.
    Alunan gamelan berdentam. Senyum menyusuri
    kelok mata
    orang-orang terkesiap menyaksikan dalang
    memainkan kedok bermata sipit dan berselendang
    mayang
    putri Nyi Mas Gandasari meneteskan embun pada
    jantung pangeran
    awan menunduk, daun-daun luruh melayang.
    “Di taman keputren itu apakah kau masih mendengar?”
    Suara-suara roh Arjuna keluar dari seruling serdam
    menggerakkan angin kasmaran
    kembang sungsang, oet-oetan, dan pamindo deder
    menghayutkan jantung
    hingga berdenyut di kantung wajah
    yang semerbak mengeluarkan aroma sejarah

    Realitas sejarah, khususnya Cirebon yang digunakan oleh Neni boleh jadi hanya sebagai alat untuk menyampaikan pikiran, perasaan dan tanggapannya. Itu semua dapat ditemukan pada larik-larik puisi ‘Hikayat Sang Cipta Rasa’. Meskipun narasi yang dihadirkan pada puisi tersebut adalah peristiwa sejarah, akan tetapi sinyal puisi itu menghadirkan sosok perempuan yang boleh jadi, sosok itu menjadi seperti hidup dalam diri penyair.

    Hati siapa yang tidak berkabut ketika orang terkasih
    terpaut maut
    hujan berkerudung panas abu meluruhkan daun-daun
    air mata
    pada langit menghujamkan lara. Di dalam kemelut
    perang,
    dua perempuan menjadi tumbal malapetaka. Sebab
    Menjangan Wulung
    mengadu sakti. “Siapa berani menghadapi
    kesaktianku ini akan mati!” katanya
    dengan mulut berdesis dan mata nyalang
     
    Di ujung keganasan ombak, lambung kapal limbung.
    Lidah pahit menyembur racun
    Pada punggung Cirebon yang biru. Telah tertambat
    nasib pada titik nadir
    perempuan berhati terang, Nyimas Kadilangu dan
    Nyimas Pakungwati
    Menamatkan sujud terakhir
     
    Tak ada upacara kematian, hanya bibir maut
    mengecup lembut raga yang dikorbankan
    roh-roh terlepas bersama zikir yang dilantunkan jamaah
    malam menjadi anyir, memolo terbang ke arah barat,
    dan tubuh hancur berkeping-keping.
     
    Azan pitu bersaksi dalam istilah panjang sang ratu
    langit mengheningkan cipta
    orang-orang melabur kenang pada kening moyang
    yang terdedah dari hikayat Sang Cipta Rasa.
    Melegenda.

    Kemudian, Neni mulai mengembara lebih jauh ke masa silam. Ia ingin menjadi seorang perempuan yang tidak mati suri. Ia menyadari bahwa mengetahui asal-usul adalah jalan pembuka untuk menemukan jati diri yang pada akhirnya identitas itu sebagai kultur kemandirian. Sayangnya, pencarian Neni masih terlalu umum, ia mengambil jalan lurus. Seperti puisi ‘Babad Cirebon’ Neni ikut menyepakati muasal nama Cirebon dan lahir kotanya dari cerita-cerita yang sudah berkembang di masyarakat, dari mitos-mitos yang selalu didongengkan dari zaman ke zaman. Ia tidak melakukan pencarian pada jalur yang lain. Sehingga puisinya pun terkesan hanya mengulang apa yang sudah dituliskan oleh kebanyakan orang.

    Adalah akar sejarah merambat di antara belukar
    alang-alang
    pepohonan merunduk, juga mata cahaya berkilau
    di lautan
    sebagai ladang mimpi petani dan nelayan
    tempat bermukim alam perawan, belum tersentuh
    kejahilan tangan
    yang menodai ladang kehidupan.
     
    Batang sungai hidup, perkawinan sakral ikan-ikan
    dengan rembulan
    juga kelahiran anak-anak rebon dari rahim laut
    lumbung pangan tak pernah surut ditikam angin kemarau
    berdendang hujan melagukan puji syukur kepada Tuhan.
     
    Dari kejauhan terdengar orang-orang menumbuk alu
    “Creb! Creb! Creb!”
    Udang, ikan, rebon, ditumbuk menjadi satu dalam
    lumpang batu
    lalu direbahkan di Lemahwungkuk
    ampas ikan dan rebon dikeringkan matahari jadi terasi
    air sari jadi petis yang menghiasi nasi
     
    “Hai orang muda, masakan apa ini? Rasanya enak
    sekali!” tanya utusan Rajagaluh
    kepada Pangeran Walangsungsang
    Inilah kampung kami, tanah pesisir beradat Keraton
    berasal dari cai rebon. Sebuah kampung tak pernah
    hilang jejaknya
    dari peta ingatan para pendatang

    Perjalanan kelana Neni pun beranjak menyusuri setiap sudut kota Cirebon di mana ia dibesarkan. Ia menjelma perempuan yang mencintai keramaian, menemukan keindahan dan semangat baru. Puisi-puisi pun lahir dari pengembaraannya itu, seperti ‘Di Stasiun Kejaksan’ hatinya mulai terbuka, pada larik Kaulah lelaki itu, berdiri di depan pintu keluar stasiun/ dan matahari mencuri senyum dari bibirmu/ jalan lengang, kita saling melempar percakapan/ dan susupkan tawa pada lipatan waktu/ seperti angin menebar ingin/ menampung tetes jam di tubuh/ agar beku di ingatan.

    Lalu pada puisi ‘Sega Jamblang’ Neni berhasil membawa dirinya sembuh dari ketakutan-ketakutan, kecemasan yang berlebihan sehingga merasa terkurung. Puisi, ternyata dapat mengubah seseorang, tidak hanya kata-kata yang menghipnotis pembacanya, tetapi proses pencarian penyair untuk menciptakan puisi pun dapat membangkitkan jiwa penyairnya. Simak larik puisi Sega Jamblang yang menumbuhkan semangat, Daun jati yang mengenalkan jati diri/ pada lembar hidup/ telah mengajarkan aku/ bangkit dari kemarau yang tajam.

    Seperti juga para penyair lainnya, Neni pun tentu saja seperti memperoleh panggilan jiwa. Tetapi, lebih daripada itu, puisilah saluran yang paling dekat dengan suasana batinnya. Maka, tidak mengherankan jika akhir-akhir ini, puisi-puisinya menemukan jalan yang pas. Ia tidak sekadar untuk ekspresi, mengungkapkan suasana batinnya itu, tetapi juga untuk mewartakan kegelisahan atas berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar seperti memaksanya untuk bersikap. Ia ingin bernostalgia dengan masa silam, atau paling tidak membuat perenungan dalam puisi-puisinya.

    Simak puisi ‘Menjahit Bibir Mei’, pada puisi ini Neni seolah sedang memberitakan kembali sebuah peristiwa sejarah kala itu. Pada larik Kau tidak bersamaku/ sejak tahun 1998 lidah api menyala di punggungmu/ yang biru / ada lubang nganga berwarna hitam/ bekas gigitan anjing-anjing gila yang menghilang dari / kandang / mungkin, hitamnya melaburkan ingatan penguasa/ yang enggan meninggalkan kursinya pada masa itu. Neni, telah menjelma penyair perempuan yang tertata dalam kepribadian dan kepekaannya pada situasi sekitarnya.

    Hal lain yang penting dibincangkan dari sejumlah besar puisi Neni Yulianti adalah kemampuannya mengemas puisi dengan bahasa sederhana dan secara tekstual mudah ditangkap maknanya, tanpa perlu mengernyitkan dahi. Mungkin ini yang sering disebutkan Clenth Brooks, the language of paradox dalam The Well Wrought Urn (1947). Maman S Mahayana pun memperkuatkannya dalam buku Kitab Kritik Sastra (2015), bahwa di balik segala pilihan kata dan majas yang tampaknya sederhana itu, ada kualitas lain yang mesti ditarik ke dalam konteks sosio-kultural. Puisi itu tidak berhenti hanya pada makna tekstual (denotatif), melainkan melayang jauh pada makna kontekstual (konotatif). Dari situ, dapat dipastikan puisi ditentukan dengan kualitas penyair dalam memilih kata, yang maknanya sama antara denotatif dan makna konotatif.

    Simak potongan larik puisi ‘Tumbuh’ dari karya Neni yang memberi sinyal pada konteks tersebut. Ada yang tumbuh di jantungmu/ berdetak/ mengikuti darah yang berjalan di suatu pagi dengan/ banyak tanya/ “Apakah Tuhan sudah menghidupkan semua pohon di tubuh?” atau Ada yang tumbuh di kakimu/ berjalan mengikuti desir angin/ terkadang pincang/ hanya mengandalkan awan. Apa maknanya? Dan apa yang tumbuh pada jantung? Detak?  Dan apa yang tumbuh pada kaki? Langkah? Di sini, bahasa tampak sederhana, memiliki makna denotatif namun mempunyai kesamaan makna dengan konotatif.

    Pengembaraan Neni pun ternyata bukan sekadar menjelajah kampung halamannya, yaitu Cirebon. Neni seperti tidak puas, ia dendam pada kesendirian, sehingga ia langsung melesat keluar dari kamar dan menyusuri daerah-daerah lainnya. Setiap daerah yang disinggahi olehnya, selalu memberikan kesan yang dalam. Seperti pada puisi ‘Getah yang Meneteskan Sejarah’ Neni mewartakan suatu perjalanannya di kota yang lain.

    Apa yang membawamu ke sini?
    “Aroma surga yang tercium dari kedalaman tubuh
    Lampung,” katamu
    pada bentangan permadani hijau
    yang bertabur serbuk cahaya di ujung selatan
    Sumatera.
     
    Adalah tetes-tetes sejarah—bermukim pada pohon
    Bergetah
    merangkum kisah belasa kepampang bercabang
    dua getah yang disucikan anakanak Tumi
    sebagai penebar racun dan penawar segala luka
     
    Adakah debar liar di dadamu
    ketika menyelami hari, menyaksikan rohroh leluhur
    melekat dalam dada
    batubatu mengucurkan darah, ritual sesaji menebar
    resah
    hingga mata buta dan hati telah goyah
    seperti proyektor menata gerakan yang terhisap
    di lorong sejarah
    khusuk menabur karangan bunga sepanjang trotoar
    ziarah
     
    Adakah kau tahu
    bau mistis yang mengoyak lampau
    tentang pohon menangkup azimat
    cabang sebukau yang dilumuri racun
    dan cabang nangka yang berkhasiat obat mujarab
     
    Lalu, ditebang kayu bercabang menjelma Pepadun
    Tempat Saibatin Raja Paksi Pak singgah
    di peraduan dengan gagah
    membaca lembaran silsilah beraksara kaganga
    kekuasaan Sekerumong terguling di medan perang
    melawan empat Umpu Nyerupa, dan Umpu Pernong
    serta Si Bulan yang jelita, sebagai cikal bakal Paksi
    Sekala Brak beraksara had
    dan cahaya Islam mengelupaskan akar
    animisme dan dinamisme pada nadi puyang
     
    Getah yang menetes sejarah pada pohonpohon, goa,
    batubatu megalitik,
    legenda Tulang Bawang, hingga si Pahit Lidah
    meninggalkan jejak yang lengket pada tanah keramat
    untuk disusuri dan ditaburi oleh gadis dan bujang
    yang menyulam malam dengan doadoa
     
    Lereng Pesagi yang di tubuhnya tumbuh rempah lada
    dan harum robusta, membisikkan semilir angin paling
    purba
    ada sejuta pesona penuh warna melaburi pelabuhan
    Bakauheni
    Menara Siger, Nuwo Sesat, Anak Krakatau,
    Pantaipantai di tepi pulau, dan mulimuli berkain tapis
    Menarikan sigeh pengunten, cangget, atau melinting
    hingga lidah tak mampu meludah
    dari nikmatnya lapis legit, tempoyak, juga seruit
    yang tergenang di kolam ingatan
     
    Seketika, bergemetarlah ingatanmu
    menyaksikan kecantikan Sang Bumi Ruwai Jurai
    berhias Piil Pesenggiri
    oh, Ulun Lampung halus budi pekerti
     
    Dan dari pucuk bibirmu merekah salam:
    “Tabik. Salam tabik para puyang!”

    Puisi-puisi senada juga hidup pada Tamasya di Kedalaman Rahim Padang Panjang, Diorama Lembah Ijen, Kirab Ancak dimana Neni menangkap lanskap peristiwa dari tempat-tempat yang disinggahi.

    Jika diyakini bahwa sastra sebagai potret sosial, representasi kultural maka Neni bisa dikatakan berhasil membawa dirinya yang terbiasa terasing dalam kesendirian berada di tengah hiruk-pikuk peristiwa-peristiwa. Kesendiriannya telah membawa hatinya kepada kepekaan, sehingga ia telah menjelma penyair. Ya, sejatinya penyair perlu mengasah indera untuk menangkap ide dan makna yang berseliweran. Meskipun Neni, pada puisi-puisinya di dalam buku ini hendak menempatkan diri sebagai penonton, ia memang tidak terlibat dalam segala peristiwa-peristiwa sejarah, tetapi penyair mewartakan sesuatu tentang suasana hati atau kegelisahannya, tentang zamannya atau evaluasi atas kondisi sosial budaya. Nah, di situlah kehadiran penyair penting. Setidaknya, penyair konsisten memberitakan suara hati, atau sekadar mengusung peradaban, bersiteguh membela kemanusiaan.

    Neni hidup pada zaman yang berbeda dari puisi-puisi pengembaraan ke peristiwa sejarah, tetapi ia pun sanggup membawa dirinya berada pada zaman yang tengah dijalaninya dengan puisi-puisi. Di samping itu, secara pribadi Neni berhasil mengubah sikapnya yang penyendiri menjadi sikap yang kritis, toleransi, berkemanusiaan.

    Neni seolah menyakini, bahwa puisi adalah jalan terbaik menuju cahaya dalam hidupnya, simak puisi ‘Hidup’.

    Di tubuhnya sungai terbaring
    bersama angin menghitung usia kian merambat
    di antara rimbunan puisi-tak pernah mati
    hidup pada akar hayat, sekedar pengelana
    sejenak singgah dan khusuk pada kembara
    menunggu pagi terbit
    juga senja berwarna saga
    saling membagikan potongan kisah
    dalam cangkir tualang paling tabah

    Akhir kata, selamat menempuh perjalanan di dunia sastra, memilih jalan kepenyairan bukan berarti hidup dalam dunia imajinasi. Sebab puisi selalu berada pada dunia nyata di kehidupan sehari-hari.

    Juni 2020

    KLIK WAWANCARA KHUSUS BERSAMA PENULISNYA DI SINI
    https://www.youtube.com/watch?v=Zfg2Ml4im_I

    Nana Sastrawan, Peraih Penghargaan Acarya Sastra IV Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI 2015.

    bedah karya puisi kritik puisi kritik sastra
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticlePletokan – Senapan Bambu
    Next Article Anthurium, Riwayatmu Kini.

    Postingan Terkait

    Diksi Unik di Puisi Emha Ainun Nadjib “Doa Terampun Ampun”

    12 Desember 2025

    Burung dan Masjid—Dunia Alam dan Dunia Ibadah

    9 Desember 2025

    Puisi yang Segar untuk Mesin-Mesin Lapar

    3 Desember 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Zaman Apokaliptik

    4 Januari 202686 Views

    Kisah Seorang Polisi di Republik Mimpi

    21 Desember 202540 Views

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 202543 Views

    Perbandingan Film Animal Farm (1954) dan Animal Farm (1999): Kajian Adaptasi dan Alih Wahana

    18 Desember 202529 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (206)
    • Bisnis (7)
    • Buku (83)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (78)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (188)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (142)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.