Oleh Azka Khaerunnisa Arrayyan
Di balik ketenangan azan yang berkumandang dan kesucian tempat ibadah, terdapat sebuah drama etika terselubung yang terjadi di sebuah masjid tua. Penjaga masjid, atau biasa kita sebut Marbot, menemukan kedamaian sesungguhnya dalam ramai cicit burung gereja yang sudah lama bersarang di masjid tua itu. Namun, kedamaian itu seketika sirna saat datangnya janji dana pembangunan untuk masjid dari sepasang calon gubernur. Di mata Pak Kyai, burung-burung itu hanyalah kotoran dan hambatan politik yang harus disingkirkan.
Cerita ini merupakan cerminan tajam dari Narsisme Antroposentris, sebuah paham yang menempatkan manusia sebagai pusat dan tolak ukur nilai tunggal di semesta. Dalam kisah ini, hasrat untuk mendapat dana politik serta kemewahan fisik masjid secara langsung membenarkan kekerasan ekstrem, mengubah burung-burung di masjid yang tidak berdosa dari yang tadinya penghuni menjadi hidangan pesta.
Konflik yang ada dalam cerpen ini bukanlah tentang hal baik dan hal buruk yang saling berbenturan, melainkan benturan antara dua sistem nilai yang mendasar. Di satu sisi, ada Pak Kyai dengan kepentingan spiritual dan materialnya untuk memajukan pembangunan masjid melalui dana politik. Hal ini, yang memang secara permukaan terlihat mulia, ternyata lebih didorong oleh realistis politik dan kepentingan material yang mengesampingkan nilai-nilai spiritual, kasih sayang, dan penghormatan terhadap makhluk hidup.
Tindakan Pak Kyai ini mencerminkan sistem nilai yang memprioritaskan citra dan keuntungan duniawi di atas etika dan ajaran agama tentang rahmat kepada seluruh alam. Pak Kyai menghalalkan pengorbanan makhluk hidup demi tujuan material, seperti saat ia memerintahkan Marbot untuk penangkapan burung, “Iya. Minggu depan ada pasangan calon gubernur akan meninjau masjid kita ini, dan mereka berencana akan mendanai pembangunan masjid.” Dan menegaskan kekuasaannya “Sudahlah, tugasmu hanya ikuti perintah.”
Sebaliknya, Marbot mewakili kesalehan batin yang menemukan kedamaian dalam pengabdian dan belas kasih, ia menolak untuk mengorbankan makhluk Tuhan demi kepentingan duniawi. Perlawanan hati nuraninya terlihat jelas dalam cerpen ini, “Dia masih gelisah akan nasib burung-burung gereja yang tak berdosa, pikirnya, burung-burung gereja itu masih punya hak hidup dan menghuni masjid.” dan juga, saat dihadapkan pada pilihan, Marbot memilih prinsip di atas pekerjaan, “Jika saya dianggap telah melawan perintah Pak Kyai, silakan pecat saya sebagai penjaga sekaligus pembersih masjid ini.”
Puncak dari Narsisme Antroposentris dalam cerpen ini adalah tindakan objektifikasi, dimana makhluk hidup lain diturunkan nilainya menjadi status objek, barang, bahkan sampah. Proses ini dimulai ketika Pak Kyai memerintahkan, “Kamu bisa jaring burung-burung itu?”. Bagi sang Kyai, burung gereja ini hanyalah kotoran yang mengganggu estetika masjid dan potensi keuntungan. Di akhir cerita, objektifikasi ini mencapai titik terkejamnya.
Setelah Marbot dipecat dari pekerjaannya, Pak Kyai memerintahkan para santrinya untuk melakukan perburuan massal. Burung-burung itu bukan lagi sekadar kotoran, mereka diturunkan nilai hidupnya menjadi sumber protein untuk perayaan. “Malam ini mereka akan berpesta daging burung gereja. Segala cara dihalalkan untuk menangkap burung-burung itu,…” Lalu, narasi dari sudut pandang burung gereja semakin mengukuhkan tragedi ini, “Anak-anak kami yang masih bayi ditangkap, lalu dipanggang di atas unggunan api.” Tindakan ini menunjukkan bahwa dalam kerangka antroposentris yang ekstrem, nilai esensial kehidupan sudah tidak ada lagi.
Berlawanan dengan pandangan Pak Kyai, Marbot mewakili suara ekosentris yang terpinggirkan. Hubungannya dengan burung-burung di masjid melampaui sekadar pekerjaan, melainkan sebuah hubungan spiritual dan emosional yang memberinya kedamaian. Ketika Marbot diperintah untuk menjaring burung, ia secara tanggap melakukan perlawanan yang sopan “Tapi kan.. burung itu tidak mengganggu Pak Kyai.” Ketika Marbot mendasarkan pembelaannya pada teologi, menantang antroposentrisme dalam ranah agama itu sendiri, perlawananannya semakin memuncak “Bukankah masjid adalah rumah Tuhan? Burung-burung gereja adalah makhluk Tuhan.” Dengan ini, Marbot menolak untuk mengakui manusia sebagai pemilik kuasa tertinggi, memilih untuk melindungi nilai-nilai Ilahi dan ekologis, yang ia buktikan dengan mengorbankan mata pencahariannya.
Kisah tragis dalam cerpen ini adalah contoh diagnosis penyakit masyarakat modern, Narsisme Antroposentris yang diperkuat oleh tekanan kota. Kota yang padat dan sibuk, dinilai berdasarkan kegunaannya bagi kelangsungan hidup dan ambisi manusia. Tekanan inilah yang menciptakan justifikasi untuk menyingkirkan apa pun yang dianggap menghalangi kemajuan, termasuk makhluk hidup.
Meskipun tidak secara jelas diucapkan, konteks kota yang digambarkan dalam cerpen ini menunjukkan dorongan untuk selalu bergerak dan berjuang agar tidak tertindas. “Kita hidup dalam bayang-bayang kematian, jika tidak bergerak maka pasti akan terlindas oleh roda kehidupan.” Narsisme Antroposentris kemudian menjadi kerangka berpikir yang membenarkan penindasan dan eksploitasi dalam cerpen ini. Memastikan bahwa kepentingan manusia, baik itu kekuasaan, uang atau status, selalu menjadi pemenang mutlak di atas keadilan alam semesta.
Gelapnya akhir cerpen ini menjadi pengingat yang menyakitkan. Pembantaian burung gereja bukan hanya kehilangan keanekaragaman hayati, tetapi juga simbol hilangnya rasa empati dan kekejaman yang dilegalkan atas nama kemajuan. Kemenangan mutlak yang diraih antroposentrisme ini menghasilkan kerugian moral yang tidak terhitung bagi manusia itu sendiri.
Narasi yang ditutup dengan gambaran kengerian burung, “Jiwa-jiwa mereka melayang dari unggunan, kita menyaksikan itu semua dengan hati rawan, sebab suatu saat jiwa kita akan dipanggang dalam kobaran api yang panas.” Adalah pernyataan paling kuat. Ini bukan sekadar kematian burung, ini adalah requiem (nyanyian kematian) bagi kemanusiaan, yang telah mengorbankan jiwa dan moralnya demi keuntungan yang fana.
Melihat kisah tragis dalam cerpen ini, mencegah Narsisme Antroposentris adalah tugas kita sekarang. Agar rumah Tuhan di kota tidak lagi menjadi tempat berburu yang membenarkan eksploitasi.
