Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Kritik Sastra » Menguak “Batu Malin” Ala Puisi Nana Sastrawan
    Kritik Sastra

    Menguak “Batu Malin” Ala Puisi Nana Sastrawan

    27 Desember 2024Tidak ada komentar14 Mins Read3 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Mengenal Sekilas Nana Sastrawan

    Pada sepuluh tahun terakhir ini, nama Nana Sastrawan telah berkibar sebagai Sastrawan muda Nusantara, baik sebagai: Penyair, Novelis, maupun Cerpenis; serta bergiat di banyak bidang kesasteraan, semisal: Komunitas sastra, Bimbingan teknis dalam literasi, serta Penerbitan portal online terkait sastra. Hal ini bisa diketahui tatkala kata kunci nama Nana Sastrawan diketikkan di mesin pencari di internet, seketika berita atau pun artikel tentang Nana Sastrawan tersaji lengkap beserta beberapa informasi tentang karya tulisnya.

    Satu diantara karya tulis puisinya berjudul /BATU MALIN/ telah tayang di portal online mbludus.com, di laman https://mbludus.com/puisi-puisi-nana-sastrawan/. Di laman tersebut Nana Sastrawan mengenalkan diri sebagai seorang penulis yang telah melahirkan beberapa buku puisi, di antaranya: Tergantung di Langit (2006), Nitisara (2008), Kitab hujan (2016),  Penyair Tali Pancing (2011), Kabar untuk Istana (2020), dan Jangan Kutuk Aku Jadi Penyair (2022). Ia juga pernah mendapatkan penghargaan Acarya Sastra IV dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud RI tahun 2015.

    Pada kesempatan ini Penulis sebagai penikmat puisi akan menelusuri nikmatnya misteri puisi /BATU MALIN/. Adapun Puisinya adalah [1]:

    BATU MALIN

    jika aku durhaka, menjadi batu adalah sengsara
    jika aku kaya, menjadi durhaka adalah siksa

    usahlah mencari dermaga
    perahu bergantung pada laut
    pada arah angin dan bintang
    usahlah pulang
    ombak dan badai ialah rumah
    di sini, angin dan bau garam
    menjadi pakaian untuk tubuh pengembara
    tapi alangkah malu menjadi lelaki
    jika tak berani berjalan di atas tanah
    tapi alangkah hina menjadi pria
    jika tidak berharta benda

    maka, laut ini adalah alamat tak berpintu
    menyimpan waktu yang tabu
    andai kampung halaman tidak memberiku
    kemiskinan dan kemelaratan
    biar kutanam kaki ini bersama hujan
    hutan tropis dan bau nasi bakar
    biar kucintai tanah kelahiran
    bersama darah-darah perbukitan
    yang hijau bersawah
    yang biru berombak
    yang ramai rempah

    maka, kupilih tidak kembali pada lumbung derita
    menjadi sejati di laut rantau
    maka, kupilih pulang pada gelombang
    kutinggalkan batu-batu yang diam di tepi pantai
    yang bersujud pada kesombongan
    yang tunduk pada keangkuhan

    jika aku durhaka, menjadi batu adalah sengsara
    jika aku kaya, menjadi durhaka adalah siksa

    Menelusuri Misteri Puisi /Batu Malin/

    Sebagai langkah awal penelusuran misteri puisi yang berjudul /BATU MALIN/ karya Penyair Nana Sastrawan, puisi dibuat menjadi 5 bait dengan jumlah baris berbeda. Susunan puisi mengisyaratkan potensi adanya logika rasional yang runtut, mirip sistematika penulisan karya tulis ilmiah dalam wujud puisi. Puisinya pun disusun ulang menjadi seperti di bawah ini. Hal ini untuk memudahkan dalam penelusuran misteri puisi.

    /BATU MALIN/

    1.

    jika aku durhaka, menjadi batu adalah sengsara (1)
    jika aku kaya, menjadi durhaka adalah siksa (2)

    2.

    usahlah mencari dermaga (1)
    perahu bergantung pada laut (2)
    pada arah angin dan bintang (3)
    usahlah pulang (4)
    ombak dan badai ialah rumah (5)
    di sini, angin dan bau garam (6)
    menjadi pakaian untuk tubuh pengembara (7)
    tapi alangkah malu menjadi lelaki (8)
    jika tak berani berjalan di atas tanah (9)
    tapi alangkah hina menjadi pria (10)
    jika tidak berharta benda (11)

    3.

    maka, laut ini adalah alamat tak berpintu (1)
    menyimpan waktu yang tabu (2)
    andai kampung halaman tidak memberiku (4)
    kemiskinan dan kemelaratan (5)
    biar kutanam kaki ini bersama hujan (6)
    hutan tropis dan bau nasi bakar (7)
    biar kucintai tanah kelahiran (8)
    bersama darah-darah perbukitan (9)
    yang hijau bersawah (10)
    yang biru berombak (11)
    yang ramai rempah (12)

    4.

    maka, kupilih tidak kembali pada lumbung derita (1)
    menjadi sejati di laut rantau (2)
    maka, kupilih pulang pada gelombang (3)
    kutinggalkan batu-batu yang diam di tepi pantai (4)
    yang bersujud pada kesombongan (5)
    yang tunduk pada keangkuhan (6)

    5.

    jika aku durhaka, menjadi batu adalah sengsara (1)
    jika aku kaya, menjadi durhaka adalah siksa (2)

    Gerbang Pembuka Misteri Puisi

    Dari karya puisi di atas, diketahui bahwa Penyair Nana Sastrawan memilih diksi /BATU MALIN/ sebagai judul puisi. Apa makna dari /Batu Malin/ ini, belum jelas benar.

    Di mesin pencari di internet, kata ini sering ditemukan bergandengan dengan diksi Kundang, dalam susunan kata Batu Malin Kundang. Diksi Malin pun juga belum penulis temukan apa maknanya. Sedangkan untuk kata Batu Malin Kundang, dari mesin pencari data di internet, didapatkan pengertian bahwa Batu Malin Kundang adalah [2]: legenda masyarakat kearifan lokal yang mengandung pembelajaran tentang pentingnya berbakti kepada orang tua, khususnya Ibu. Legenda ini berada di Kelurahan Air Manis – Kecamatan Padang Selatan – Kota Padang. Bermula Ibu Mande mempunyai putra bernama Malin Kundang yang sejak remaja mengembara memperbaiki nasib. Setelah dewasa dia mencapai kesuksesan hidup, kemudian naik kapal laut kembali ke kampung halaman bersama isteri.

    Malin Kundang dijemput ibunya yang berpenampilan kumuh di pelabuhan. Namun ternyata Malin Kundang justru durhaka pada ibunya: malu mengakui ibunya sebagai ibu kandung sendiri. Kemudian sang ibu mengutuk Malin Kundang menjadi batu, Malin Kundang pun langsung menjadi batu.

    Setelah sekilas membaca legenda Malin Kundang yang durhaka pada ibunya, kemudian kembali pada pencarian makna dari diksi di judul puisi /BATU MALIN/, lalu timbul pertanyaan:

    “Bisakah keduanya saling dikaitkan dalam hal untuk mendapatkan persamaan pesan tersembunyi yang terkandung di dalamnya?”

    Jawaban pertanyaan tersebut dapat mengacu pada dua hal, yaitu:

    1. Bisa dirasakan bahwa legenda Malin Kundang berkisah tentang anak manusia yang durhaka pada ibunya, kemudian anak tersebut dikutuk oleh ibunya menjadi batu.
    2. Diksi /durhaka/ ternyata juga terdapat pada bait 1, baris (1) di puisi yang berjudul /BATU MALIN/, yakni: /jika aku durhaka, menjadi batu adalah sengsara (1)/.

    Dari kedua hal di atas, dapat dirasakan bahwa diksi /BATU MALIN/ pada judul puisi, bisa berpotensi mempunyai semangat yang sama dengan legenda Batu Malin Kundang, yaitu semangat tentang pelajaran untuk menghindari tindak durhaka.

    Di sisi lain kemungkinan judul puisi /BATU MALIN/ dipilih atas inspirasi dari legenda Batu Malin Kundang. Selanjutnya untuk mendapatkan rasa yang semakin mantab dalam penelusuran lanjut misteri, terutama pada: potensi mempunyai semangat yang sama agar terhindar dari tindak durhaka, dan adanya kemungkinan bahwa legenda Batu Malin Kundang menjadi sumber inspirasi dari judul puisi /BATU MALIN/, maka penelusuran diteruskan pada bait (1), yakni:

    1.

    jika aku durhaka, menjadi batu adalah sengsara (1)
    jika aku kaya, menjadi durhaka adalah siksa (2)

    Bait 1 di atas terdiri dari 2 baris. Baris (1) dan baris (2) menyampaikan narasi bersyarat melalui konjungsi yang menghubungkan antara satu klausa dengan klausa yang lain [3].  Konjungsi yang digunakan adalah kata jika, di dalam narasi /jika aku durhaka/.

    Pengertian dari durhaka adalah [4]: 1. ingkar terhadap perintah (Tuhan, orang tua, dan sebagainya); 2. tidak setia kepada kekuasaan yang sah (negara).

    Dari kedua pengertian tersebut, dapat dimengerti bahwa tokoh /aku/ lirik menerima persyaratan berupa jika tokoh /aku/ lirik melakukan tindakan durhaka terhadap: Tuhan, orang tua, atau pun yang lainnya; maka sebagai akibatnya akan seperti apa, tidak jelas benar terbaca pada narasi sajak di baris (1). Sebab narasi berikutnya, masih di baris (1) bait 1, yakni klausul /menjadi batu adalah sengsara/ tidak serta merta bisa diangap sebagai akibat dari pelaksanaan sebab bersyarat, karena tokoh /aku/ lirik telah melakukan tindak durhaka.

    Itulah uniknya narasi puisi, yang dipercaya mempunyai bahasanya sendiri, meskipun bisa jadi telah melanggar sintakis pada umumnya bahasa, puisi tetaplah puisi, ia memiliki: pesan, logika, dan makna; yang kadang berbeda dengan makna di dunia nyata. Kesalahan sintaksis seringkali memang disengaja dipilih oleh Penyair, untuk mendapatkan: nilai estetika, dan seni tertentu dalam berpuisi [5]. Sehingga sebagian pembaca mungkin ada yang mampu menelusuri misteri makna dan logika puisi ini, yang masih terkait dengan semangat legenda Batu Malin Kundang, meskipun berpotensi adanya narasi tersembunyi di balik diksi. Sedangkan sebagian pembaca mungkin masih mencari jawab dari mana bisa membedah misteri puisi. Hal ini merupakan langkah biasa dalam memahami puisi: Ada yang paham, ada juga yang agak paham, atau tidak sama sekali.

    Selanjutnya untuk memahami, kadang perlu menerka kira-kira apa saja yang tersembunyi di balik diksi. Penikmat puisi dalam hal terkait dengan baris (1) di bait 1, dapat menduga bahwa baris tersebut bisa didahului oleh semacam deklarasi tersembunyi dari tokoh /aku/ lirik, misalnya berbunyi:

    “Aku tidak akan durhaka”.

    Kedua narasi itu bisa menyatu menjadi:

    “Aku tidak akan durhaka, /jika aku durhaka/, akan bagaimana?”,

    Untuk menjawab pertanyaan akan bagaimana, ternyata tidak ada informasi di narasi berikutnya, sehingga akan  timbul tanya lagi:

    “Tokoh /aku/ lirik menerima persyaratan ini, atas pemberian syarat dari siapa, dan dia pun juga sanggup berjanji tidak akan bertindak durhaka, atas sebab apa?”

    Untuk menjawabnya, perlu menelusuri narasi berikutnya, yaitu: /menjadi batu adalah sengsara/. Dari narasi ini, juga akan timbul pertanyaan, seperti:

    “Apakah jika tanpa durhaka, menjadi batu tidak sengsara?”

    Jawaban atas pertanyaan tersebut, juga memerlukan telaah lanjut yang gampang-gampang sulit, sebab untuk membedah misteri pertanyaan seperti ini, masih dirasa memerlukan bantuan logika yang lain, semisal logika matematika, melalui pendefisian dalam kaidah Jika A, maka B, atau yang semacamnya. Namun apabila mengacu pada pengertian konjungsi bahasa, kalimat yang bergandengan antara konjungsi jika – maka, seringkali akan kehilangan gagasan utama atau induk kalimat dari kalimat tersebut, apabila konjungsi jika-maka menjadi satu kalimat [6]. Oleh karena itu, mungkin karena alasan inilah, Penyair telah memilih baris (1) hanya terdiri dari satu kata konjungsi yaitu kata jika, tanpa kata maka, seperti sajak pada baris tersebut: /jika aku durhaka, menjadi batu adalah sengsara (1)/. Narasi di baris (1) ini dapat diduga berasal dari ungkapan panjang semisal dengan menambahkan kata atau kalimat dengan tulisan berhuruf tebal, menjadi ungkapan di bawah ini:

    “Aku tidak akan durhaka. /jika aku durhaka/, aku akan menjadi batu. Dan kalau aku /menjadi batu, aku pun sengsara/.”

    Ungkapan panjang tersebut kemudian dipadatkan maknanya, dan ditimbulkan rasa seni estetikanya dalam ungkapan seperti di baris (1). Demikian juga baris (2) mempunyai keserupaan logika, dan rasa yang hampir sama dengan baris (1).

    Adapun baris (2) berupa narasi /jika aku kaya, menjadi durhaka adalah siksa (2)/. Narasi sajak ini juga bisa diduga berasal dari ungkapan yang panjang semacam:

    “Aku takut menjadi kaya, /jika aku kaya/, aku akan /menjadi durhaka/. Dan kalau aku durhaka aku pun tersiksa“

    Dari uraian di atas dapat dirasakan bahwa tafsir sederhana dari baris (1), dan baris (2) berupa ungkapan panjang yang berpotensi menjadi asal dari kedua baris tersebut, yaitu:

    baris (1)

    “Aku tidak akan durhaka. /jika aku durhaka/, aku akan menjadi batu. Dan kalau aku /menjadi batu, aku pun sengsara/.”

    baris (2)

    “Aku takut menjadi kaya, /jika aku kaya/, aku akan /menjadi durhaka/. Dan kalau aku durhaka aku pun tersiksa“

    Seperti telah disinggung dalam pembukaan di Sub-bab Menelusuri Misteri Puisi /BATU MALIN/ di atas bahwa susunan isi puisinya mirip dengan sistematika penulisan karya ilmiah. Ibarat karya tulis ilmiah [7], bait 1 di atas, berisi: Pembukaan pikir tentang: Latar belakang masalah berupa deklarasi bahwa aku tidak akan durhaka, dan takut kaya; Bertujuan agar tidak melakukan tindak durhaka, dan Metode penyelesaiannya dengan cara menghindarkan diri agar tidak menjadi batu, serta memandang bahwa durhaka itu tersiksa.

    Misteri Batang Tubuh Puisi /Batu Malin/

    Dari uraian di atas diketahui bahwa ibarat karya tulis ilmiah, bait 1 puisi /BATU MALIN/ merupakan bagian pembukaan Puisi. Maka bait 2, 3, dan 4 berpotensi menjadi batang tubuh puisi. Sedangkan bait 5 menjadi konklusi puisi. Sebagai batang tubuh, tentu isinya cenderung penuh dengan pernyataan dan argumentasi mengapa pernyataan tersebut disampaikan.  Selanjutnya tidak menutup kemungkinan akan timbulnya tanda tanya seperti:

    “Apakah isinya mendukung tujuan atau tidak?”,
    “Apakah penyelesaiannya sudah sesuai dengan latar belakang masalah, atau bagaimana?”.

    Agar bisa menjawab pertanyaan di atas atau semacamnya, memerlukan penelusuran lanjut di bait-bait tersebut, misalnya bait 3 diberi sisipan kata atau pun kalimat pada sesudah atau sebelum baris-baris yang ada di bait puisi. Hal ini untuk memudahkan kemungkinan lahirnya tafsir misteri atas sajak di dalam baitnya, dengan cara mengubah sajak tesebut menjadi kalimat prosa yang mudah dipahami [8]. Adapun kata atau pun kalimat sisipannya ditulis dengan huruf tebal seperti di bawah ini:

    usahlah mencari dermaga (1), karena perahu bergantung pada laut (2) dan tergantung pada arah angin dan bintang (3)/

    usahlah pulang (4), karena ombak dan badai ialah rumah (5),

    di sini, angin dan bau garam (6) telah menjadi pakaian untuk tubuh pengembara (7),

    di sini rumah para lelaki, tapi alangkah malu menjadi lelaki (8) jika tak berani berjalan di atas tanah (9), tapi alangkah hina menjadi pria (10) jika tidak berharta benda (11).

    Dari narasi baris-baris puisi yang sudah diberi sisipan kata atau pun kalimat, mulai terasa terbuka misterinya, bahwa tokoh /lelaki/ lirik di bait 2 merupakan personifikasi dari tokoh /aku/ lirik di bait 1. Semangat yang ada di bait 2 menjadi penegasan dari bait 1, yakni agar tokoh /aku/ lirik dalam hal ini tokoh /lelaki/ lirik tidak melakukan tindak durhaka yang bisa bikin malu diri sendiri, yakni berupa tindakan tidak berani berjalan di atas tanah, dan tidak berharta benda. Tekad menghindari tindak durhaka ini, mewujud dalam semangat sebagai tokoh /lelaki/ lirik yang merupakan personifikasi dari tokoh /aku/ lirik, yakni berupa tekad  agar berani, dan tidak takut lagi berjalan di atas tanah, dan berani menjadi orang yang memiliki harta benda.

    Di sisi lain pemilihan diksi /usahlah/, akan berpotensi agak kontroversi, sebab menurut KBBI, arti dari kata usah adalah [9]: a. perlu; b. tidak usah = jangan. Sedangkan menurut  kamus online sinonim kata usah sama artinya dengan kata: mesti, perlu, jangan, dan tidak [10].

    Jika arti menurut KBBI, dan atau kamus online sinonim digunakan untuk memahami diksi /usahlah/ akan menjadi seperti di bawah ini:

    1. Menurut arti di KBBI

    /usahlah mencari dermaga/ = perlu mencari dermaga

    1. Menurut arti di kamus online Sinonim

    /usahlah mencari dermaga/ = jangan mencari dermaga

    Arti dari diksi /usahlah/ yang lebih mendekati rasa kebatinan ungkapan di bait 2, adalah arti yang disampaikan di kamus online Sinonim dari pada arti menurut KBBI. Hal ini sejalan dengan logika dan rasa bahasa pada narasi di baris yang mengikuti diksi /usahlah/ tersebut.

    Melalui metode mirip dengan yang telah disampaikan, yakni memberikan sisipan kata dan atau kalimat pada baris, untuk membuka kepahaman misteri puisi, selanjutnya sajak-sajak di bait 3 dan 4 juga diperlakukan demikian, sehingga menjadi prosa seperti berikut ini.

    3.

    maka, laut ini adalah alamat tak berpintu (1). Di sini menyimpan waktu yang tabu (2).
    andai kampung halaman tidak memberiku (4) kemiskinan dan kemelaratan (5),
    maka
    biar kutanam kaki ini bersama hujan (6) hutan tropis dan bau nasi bakar (7),
    dan
    biar kucintai tanah kelahiran (8) bersama darah-darah perbukitan (9).

    Perbukitan yang hijau bersawah (10), yang biru berombak (11),

    dan yang ramai rempah (12)

    4.

    maka, kupilih tidak kembali pada lumbung derita (1), agar aku menjadi sejati di laut rantau (2). maka, kupilih pulang pada gelombang (3), dan kutinggalkan batu-batu yang diam di tepi pantai (4. Serta kutinggalkan terutama bagi yang bersujud pada kesombongan (5), dan yang tunduk pada keangkuhan (6).

    Sisipan kata dan atau kalimat pada baris di bait 4 dan 5, berpotensi memberikan sedikit penafsiran tentang misteri: rasa, logika, dan makna; yakni selalu kembali pada semangat semula agar terhindar dari tindak durhaka, khususnya bagi diri sendiri.

    Aroma semangat di bait 4 dan 5 juga masih sejalan dengan aroma semangat di bait 1, yang akhirnya oleh Penyair, narasinya juga dijadikan konklusi di bait 5, persis sama dengan bait 1.

    5.

    jika aku durhaka, menjadi batu adalah sengsara (1)
    jika aku kaya, menjadi durhaka adalah siksa (2)

    Akhirnya, selesai sudah penelurusan rasa, logika, dan makna puisi /BATU MALIN/ besutan Penyair Nana Sastrawan, di etape ini, dalam pemahaman terkait misteri puisi. Misterinya seolah berpesan:

    Sebagai lelaki perlu bertekad agar berani, dan tidak takut lagi berjalan di atas tanah, dan berani menjadi orang yang memiliki harta benda agar tidak durhaka pada diri sendiri dan orang lain.

     “Aku tidak akan durhaka. Jika aku durhaka, aku akan menjadi batu. Dan kalau aku menjadi batu, aku pun sengsara.”

     “Aku takut menjadi kaya, jika aku kaya, aku akan menjadi durhaka. Dan kalau aku durhaka aku pun tersiksa“

    Sedangkan penelusuran rasa di etape berikutnya, terserah pembaca untuk melanjutkan. Silakan…

    Daftar Pustaka

    1. —, 2024, Puisi-Puisi Nana Sastrawan,  mbludus.com https://mbludus.com/puisi-puisi-nana-sastrawan/
    2. Hasyimsyah Nasution, Salahuddin Harahap, Elpi Sukriah, 2022, Unsur Kearifan Lokal dalam Legenda “Malin Kundang”, Tudia Sosia Religia. Volume 5 Nomor 1, Januari-Juni 2022, E-ISSN: 2622-2019 http://jurnal.uinsu.ac.id/index.php/ssr
    3. la Nafilah, Reni Rokhayati, Yulia Agustin, 2023, Kelas Tertutup Konjungsi pada Antologi Puisi Sebatas Angan Rindu Karya Fina Af’idatussofa dan Upik Lestari, Jurnal Bahasa, Sastra, Budaya, dan Pengajarannya (Protasis) – Amik Veteran Porwokerto, DOI : https://doi.org/10.55606/protasis.v2i1.80
    4. —. Arti kata durhaka, Kamus Besar Bahasa Indonesia, https://kbbi.web.id/durhaka
    5. Ahmad Jauhari Umar, Muhammad Tamrin, Ahmad Maskur Subaweh, 2024, Kesalahan Sintaksis Pada Puisi “Untukmu” Karya Fiersa Besari, Jejak Pembelajaran: Jurnal Pengembangan Pendidikan Vol. 8No. 6(Juni, 2024)
    6. Risen Dhawuh Abdullah, 2002, Penulisan Kata “Jika” dan “Maka” Tidak Boleh dalam Satu kalimat, Mengapa?, Jejak Pustaka https://jejakpustaka.com/bagaimana-penulisan-kata-sambung-jika-dan-maka-yang-benar/
    7. Wasmana, S.Pd., M.Pd., tanpa tahun, Modul Penulisan Karya Ilmiah, Program Studi Bimbingan Dan Konseling-Sekolah Tinggi Dan Ilmu Kependidikan Siliwangi
    8. Nabil Adlanin, 2022, Langkah-Langkah Menafsirkan Teks Puisi, Materi Bahasa Indonesia Kelas 11 Kurikulum Merdeka, adjar.grid.id https://adjar.grid.id/read/543542581/langkah-langkah-menafsirkan-teks-puisi-materi-bahasa-indonesia-kelas-11-kurikulum-merdeka?page=all
    9. —. Arti kata usah, Kamus Besar Bahasa Indonesia, https://kbbi.web.id/usah
    10. —, usah, sinonim, Tesaurus Bahasa Indonesia, sinonimkata.com https://www.sinonimkata.com/sinonim-148149-usah.html

    Rumpin, Desember 2024

    Penulis: Atik Bintoro, atau dikenal juga sebagai Kek Atek. Penikmat Puisi tinggal di Rumpin, Kab. Bogor, Jawa Barat, Indonesia. Pegiat Komunitas Dapoer Sastra Tjisaoek

     

    Buku Puisi Nana Sastrawan Puisi Nana Sastrawan sastrawan indonesia
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleWakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan membaca puisi ‘Ibu’
    Next Article Perpanjang Masa Bonus Demografi Melalui Pemanfaatan Teknologi

    Postingan Terkait

    Diksi Unik di Puisi Emha Ainun Nadjib “Doa Terampun Ampun”

    12 Desember 2025

    Burung dan Masjid—Dunia Alam dan Dunia Ibadah

    9 Desember 2025

    Puisi yang Segar untuk Mesin-Mesin Lapar

    3 Desember 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Zaman Apokaliptik

    4 Januari 202681 Views

    Kisah Seorang Polisi di Republik Mimpi

    21 Desember 202539 Views

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 202543 Views

    Perbandingan Film Animal Farm (1954) dan Animal Farm (1999): Kajian Adaptasi dan Alih Wahana

    18 Desember 202528 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (206)
    • Bisnis (7)
    • Buku (83)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (78)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (188)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (142)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.