Cerbung

Menggambar Bintang: Kisah Seorang Anak Suku Asmat (6)

Senja Arafura
Jangan Lupa Di Rate Ya!
Tinggal Pilih Bintang Saja!

Bab VI

Senja Laut Arafura

Dewi Linggasari

Sejak hari pemakaman mama menjadi lebih sering diam, wajahnya sayu, seluruh tubuhnya hanya menyisakan tulang belulang sudah pasti rubuh bila sepoi angin meniupnya. Mama membakar sagu, membelah kayu bakar serta mengerjakan segala sesuatu hampir tanpa minat. Mulutnya yang bungkam menimbulkan rasa takut yang tak dapat kuatasi, aku menyerah.

“Panggil Jan pulang, sampaikan Mama sakit!”

Demikian permintaan mama dengan suara yang amat lemah, nyaris tak terdengar. Aku tahu permintaan itu tak dapat ditolak, maka aku berusaha mencari hubungan telepon, dengan satu harapan  kehadiran Jan akan memberi kesembuhan serta semangat baru bagi mama.

Dua minggu kemudian ketika Jan datang dengan seragam tentara, mama segera menghambur ke pelukannya, air mata mama bercucuran tanpa sepatah kata. Aku tak tahu apa sesungguhnya beban yang dipikul mama, mungkin rasa sakit yang semakin menggerogoti sejak kehamilan serta kelahiran bayi mungil yang berakhir dengan tiada. Jan yang gagah masih dapat menahan tangis, ia sungguh tampak dewasa dan menawan. Jauh berbeda dengan Marius dan Hengki yang berpakaian kumal serta berwajah licik. Mengapa pula harus ada tiga bersuadara dengan watak yang berbeda?

“Mama harus makan yang banyak supaya sembuh ….” Jan menyuapkan mama papeda dan ikan kuah kuning. Mama mengunyah tanpa selera, kemudian kembali berbaring memejamkan mata dengan wajah lelah, seolah usai menempuh perjalanan ke ujung jauh tak berminat meneruskan kembali perjalanan itu. Apa yang akan terjadi kemudian dengan mama setelah Jan datang?

Ketakutan kembali menyergap, kali ini tanpa perlawanan dan tanpa daya. Aku tak mampu mengucapkan atau mengartikan, hanya menunggu detik-detik yang paling  mengerikan, yang pasti meminta seluruh ketabahan. Dan aku tak akan pernah sanggup memberikan, terlebih seluruhnya.


Sore itu langit lebih muram dari mendung yang paling hitam, lewat pergantian tahun angin barat berpusing, mematahkan dahan dan ranting. Air laut mendidih pada lidah ombak yang marah, tak seorang pun berani turun ke laut dengan perahu kecil serupa daun kering pada luas samudera. Setiap orang mendambakan keselamatan, kehidupan serta usia yang panjang, akan tetapi adakah seluruh keinginan itu dapat selalu terpenuhi tanpa syarat?

Mama meregang dalam demam tinggi, karena malaria. Tablet yang diperoleh dari Pustu tak mampu menurunkan demam, terlebih penyakit yang dideritanya. Berjam-jam mama menatap makam kecil di samping rumah tanpa sepatah kata, sepasang matanya seakan lentera yang mengerjap di tengah rimba belantara, nyaris padam. Andai mama memiliki keinginan, atau alasan untuk sembuh, namun keinginan terdalam dalam diri mama tampaknya menjauh–menjauh. Mama telah melihat Jan menjadi tentara. Mungkin mama tak ingin lagi melihatku berdiri di depan kelas, mengajar sebagai ibu guru. Atau entahlah? Aku tak mampu menjawab pertanyaan dan galau yang menelan seluruh isi kepalaku.

Akhirnya mama berbaring di dekat tungku api, “Nyalakan api, saya rasa dingin….” Suara mama terbata-bata. Jan menuruti keinginan mama menyalakan api tungku, secercah api yang perlahan menjilat sebagai lidah panas, memberikan suasana hangat.

Ketika aku mencoba menyuapkan teh panas, mama menolak, “Sudahlah, tetaplah engkau sekolah supaya menjadi ibu guru.”

Suara dan permintaan mama yang penghabisan, setelah itu mataku segera menjadi kubangan danau ketika tampak napas mama tersengal, sia-sia menghirup udara. Wajah itu semakin pucat tanpa cahaya kehidupan, kugenggan tangan mama erat-erat. Di dekatku, tanpa jarak bapa duduk terpaku seolah telah tahu apa yang akan terjadi pada senja yang muram ini. Jan tak berdaya, ia telah memenuhi panggilan seorang ibu kandung setelah perjalanan yang panjang dan lama. Ia  mencoba tabah pada saat terakhir ketika seorang manusia sampai pada waktu menghadap Sang Pencipta, karena panggilan-Nya.

Ketika tubuh mama tiba-tiba lunglai tanpa perlawanan, tanpa mencoba berjuang menghirup udara segar, aku tahu, saat yang paling menakutkan itu telah tiba. Aku tak memiliki pilihan, kecuali melampaui rasa takut itu.

“Mama! Mama!”

Kuguncang berulang kali tubuh rapuh itu, akan tetapi mama tak lagi dapat mendengar jeritanku, bahkan ketika raunganku memecah senja yang akan segera beralih rupa menjadi gelap dalam angin barat yang tak henti berpusing. Bapa dan Jan menjerit dengan raungan yang sama, Hengki dan Marius tergesa datang tak lama kemudian, langsung memeluk tubuh mama yang lunglai tak bergerak. Dalam jangka waktu tak terlalu lama rumah tua ini kembali menjadi rumah duka, kali ini lebih dalam dan menyakitkan, karena mamaku tercinta berpulang untuk selama-lamanya.

Pandanganku tiba-tiba berkunang-kunang, seluruh bintang di langit riuh berseliweran, amat terang dan menyilaukan, membutakan seluruh pandangan. Aku terlupa dimana kiranya kaki berpijak, aku terlupa tanggal, hari, bulan, dan tahun berapa sekarang? Segalanya sirna menjadi helai selimut maha hitam tanpa tepi yang berkuasa membentang. Aku kehilangan seluruh bobot, segalanya seringan kapas, terlalu ringan hingga akhirnya tubuhku roboh bagai lapuk pohon bakau dihempas badai.

Ketika kembali terjaga yang kurasakan adalah segala rasa sakit, karena kehilangan. Suara raungan dari seluruh kerabat terdengar seakan ribuan batang bambu yang bergesekan, mengiris. Makam adik kecil bahkan belum lagi kering, kini di samping makam kecil itu akan digali lagi kembali makam yang lebih besar, tanah lumpur yang meminta mama berbaring selama-lamanya, sementara aku tak akan pernah sanggup kehilangan. Belum lagi tumbuh rambut yang digundul, karena duka cita kehilangan seorang bayi, kini kami harus kembali menggunduli rambut, karena kematian itu.

Air mataku bukan lagi mengalir seakan Sungai Fambrep atau Sungai Siret, tetapi pecah menjadi debur ombak Laut Arafura. Air mata ini akan tetap mengalir sampai jangka waktu yang tidak akan pernah ada batasnya, setiap ingatanku kembali pada mama, air mata ini kembali menitik. Aku belum lagi berdiri di depan kelas menjadi ibu guru, belum lagi menjawab keinginan mama, kini satu-satunya perempuan yang berperan mengubah seluruh takdir hidup telah berpulang. Pernahkan aku membalas budi, ketulusan serta kekerasan hati mama supaya aku menjadi siswa yang rajin ke sekolah dan memiliki masa depan.

“Mama…”

Aku kembali meraung kemudian terguling untuk yang kedua kalinya. Waktu seakan terhenti, tak ada lagi selimut maha hitam membentang hingga batas langit terjauh, yang menggumpal kini gulungan kain kafan, semakin membesar dan terus membesar hingga akhirnya menyumbat seluruh napasku.

Ketika jenazah mama dibaringkan ke liang lahat dalam tangis duka cita, aku melumuri seluruh tubuh dengan lumpur. Akan tetapi, tangis itu tak mengubah apa pun. Tak mampu membangunkan tubuh mama yang terdiam selamanya. Roh itu telah tercabut dari badan, melayang di udara, menyaksikan tangis kesedihan serta keseluruhan pemakaman, tanpa mampu bersuara, berucap dengan yang masih berhak akan kehidupan. Tanggung jawab mama telah selesai, ia berhak menempuh istirahat panjang di alam keabadian, tak perlu memikirkan Marius dan Hengki yang terlibat kawin kecil atau aku yang belum sampai untuk menjadi ibu guru.

Lalu segalanya terasa hampa, rumah panggung ini kehilangan roh, suasana sunyi menggigit hingga nyeri di ulu hati. Suara tangisan reda berhari-hari setelah pemakaman ini, tak ada lagi yang bisa dilakukan usai pemakaman kecuali doa dan pengharapan, selebihnya diam. Aku  tak tahu berapa lama terduduk di depan makam, melupakan waktu, hari dan tanggal. Aku hanya menunggu gelap tiba, untuk turun ke lumpur menyalakan lentera supaya adik kecil dan mama tetap mendapatkan cahaya di alam sana. Alam keabadian yang menceraikan seluruh temu dan percakapan, yang menyebabkan aku kehilangan tempat bersandar,  kehilangan tempat bergantung, bagai lunglai daun kerontang ditolak dahan.

Sore itu aku masih terjerembab dalam kehilangan yang sama, ketika mendung menggantung, angin lebih dingin dari hembusan sebelumnya. Kesunyian semakin dalam, bahkan jejak kaki di atas papan seakan tanpa suara, demikian pula dengan kegembiraan kanak-kanak bermain. Aku harus menelan bulat-bulat pahit di ujung lidah hingga membenam di dasar lambung. Tak ada pilihan, tak pernah ada pilihan, kecuali menjalani takdir selaku piatu. Makam mama dan adik kecil dingin tanpa kata, setiap gelap kunyalakan lentera, sehingga tugu kematian itu sedikit dilumuri cahaya. Ketika malam jatuh mama tidak benar-benar sendiri dan gelap. Sore ini aku melakukan hal yang sama lalu duduk mematung, cahaya senja semakin luruh, menjadi temaram, rembang petang, lalu gelap. Suara burung-burung riuh kembali ke sarang seakan tak pernah kudengar, yang bergulung di telinga hanya hampa, daun gugur menuju entah, dan angin yang mati.

“Tewerauta …. Sa bawa ikan buat koe!” tiba-tiba Fransis telah berdiri sambil mengulurkan seekor ikan kakap.

Aku tak tahu mengapa ia harus datang dengan seekor ikan, aku tak sempat memikirkan untuk tahu, “Terima  kasih.” tanpa sadar aku berucap, aku tak pernah tahu bila Fransis berlama-lama menatap, aku tak perlu tahu. Pikiranku menerawang terlalu jauh pada peta tak berujung, pada alam abadi tempat mama beristirahat selama-lamanya.

“Engkau tidak pergi ke sekolah?” suara Fransis teramat pelan, teramat pelan seakan cemas bila daun-daun akan gugur bila ia sedikit bersuara lebih keras.

“Sekolah?” aku terhenyak, entah berapa hari aku melupakan kebiasaan penting ini. Adakah mama tahu bila telah cukup lama aku membolos, membuatnya kecewa? Fransis masih beberapa tabuh duduk di samping tanpa kata kecuali satu pertanyaan yang telah terucap, kami bersama dalam diam, sampai akhirnya Fransis berpamit, karena gelap benar telah datang.

Yohana, Marius punya maitua segera menyambar ikan pemberian Fransis tanpa menunggu jawaban, karena asap tungku benar harus mengepul. Aku tak menolak, tak pula mengiyakan,  membiarkan segala sesuatu terjadi seperti apa adanya. Benar, kami harus makan, bukan hanya hari ini, tetapi untuk selamanya. Kehidupan adalah suatu anugerah, bahkan ketika mama berpulang sebelum aku benar-benar menjadi dewasa. Akan tetapi, aku masih mempertanyakan satu hal yang disebut anugerah, karena kehilangan ini terlalu menyakitkan hati.

Sore berikutnya ketika cahaya matahari kemilau seakan sinar emas yang jatuh pada hijau daun, aku kembali duduk di samping rumah menatap makam yang diam membungkam. Air mata ini belum juga kering, atau tak akan pernah kering, berulang kali aku menyeka, berulang kali pula sepasang mata ini  mengembun. Aku akan tetap duduk  mematung hingga gelap turun seakan tabir misteri, akan tetapi serombongan tamu tiba-tiba hadir.

“Magdalena!”

“Magda!”

“Hello, Selamat sore.”

Aku terhenyak, ketika Nurul, Ibu Guru Ambar, Fransis, dan Diana, ketua kelas telah berdiri di ambang pintu dengan kantung berisi, teh, gula, kopi, biskuit, dan entah apa lagi. Kehadiran itu memberi kesadaran, bahwa telah cukup lama aku menjauhkan diri dari kehidupan yang membawa langkah amat jauh menuju pintu masa depan. Aku menyendiri di tempat yang kelam, tak menghiraukan kehadiran siapa-siapa, seolah waktu terhenti pada hari ini.

“Kami semua ikut berduka cinta atas kepergian mamanda tercinta,” suara Ibu Guru Ambar merdu seakan nyanyian biduan ternama.

Kupandang satu demi satu wajah yang teramat dekat pada hari-hari sekolah, wajah yang nyaris kulupakan dan kini hadir tanpa undangan. Tiba-tiba aku merindukan kebersamaan ini. Aku terlalu hanyut dengan duka hati, melupakan yang sangat penting dalam hidup, melupakan Nurul, Fransis, Diana, dan Ibu Guru Ambar yang sehari-hari mengajar Bahasa Inggris.

“Terlalu lama engkau meninggalkan pelajaran di sekolah. Setiap orang boleh berduka, boleh kehilangan, akan tetapi setiap cucuran air mata ada batasnya. Tuhan memberi kemudian memintanya kembali, Ia berkuasa. Manusia hanya pelaku, harus merelakan segala sesuatu yang tidak akan pernah kembali sekalipun.” Ibu Guru Ambar selalu pandai menyusun kata-kata, suara serta perangainya lembut. Aku tahu mengapa mama ingin sekali aku menjadi ibu guru, kiranya seorang guru bukan hanya mengajar di depan kelas, tetapi mendorong seorang siswa yang kehilangan semangat.

Sekali lagi kutatap wajah-wajah tulus yang rela berjalan kaki menuju rumah tua dengan kantung penuh bahan makanan sebagai ungkapan duka cita. Senyum di bibir Ibu Guru Ambar teramat tulus, aku kembali meraung menjatuhkan diri di pangkuannya. Mengapa seorang ibu guru yang piawai berbahasa Inggris mesti bersusah payah mendatangi seorang siswa, seorang gadis rimba? Ibu Guru Ambar tampak menahan isak tangis, demikian juga Nurul serta Diana. Fransis lebih kuat, ia telah tahu sehari-hariku di kampung ini. Ibu guru membiarkan tangisku hingga mereda.

“Kutunggu kehadiranmu di sekolah pada kesempatan pertama, mamanda tidak akan tenang di alam sana, bila engkau tidak berlaku seperti yang dikehendaki. Mama ingin anak-anaknya memiliki pendidikan cukup untuk masa depan yang lebih baik.” Ibu Guru Ambar masih terus memberikan dukungan.

“Tanpa engkau di kelas, sekolah sunyi.” Nurul menggenggam tanganku, aku tak pernah ragu dengan ketulusan itu.

“Besok engkau harus kembali masuk sekolah!” Diana menegaskan, ia menunjukkan tanggung jawab sebagai ketua kelas. Seorang siswa tidak boleh membolos berlama-lama, apapun masalahnya, disiplin amat penting bagi siswa bersangkutan, juga seorang Teweraut yang tengah dirundung duka.

Tanpa sadar aku mengangguk, kuakui kelalaian ini. Kami masih bercakap-cakap beberapa saat, satu pertemuan singkat yang menyebabkan aku tahu, bukan kehilangan ini kutanggung seorang diri. Bahkan seorang ibu guru yang kukenal pada jam pelajaran bisa pula merasakan kehilangan ini. Tak ada seorang yang benar-benar sebatangkara, tanpa kepedulian siapa-siapa, kehadiran ibu guru dan kawan-kawan inilah buktinya. Ibu Guru, Fransis, Nurul, dan Diana akhirnya berpamit setelah memelukku satu demi satu. Kali ini aku merasa damai, menjadi bagian dari yang lain, aku melambai melepaskan langkah kembali empat orang itu hingga bayang-bayangnya menghilang  jauh dari batas pandang.

Malam ini aku berbaring pada bilik yang sempit dengan remang cahaya lentera, aku telah meluangkan cukup panjang waktu untuk mengaduh. Apakah seorang harus terus menjerit, karena kehilangan dan ditinggalkan? Kutarik napas panjang berulang-ulang, ada tanggung jawab lebih besar, meneruskan pendidikan untuk suatu masa yang pasti akan datang. Kutatap tua langit-langit di atas bilik, wajah bersahaja mama kembali membayang, wajah yang semakin pias dan pucat, mengabur semakin jauh, menghilang dari batas pandang berganti dengan ribuan kerdip lembut cahaya kunang-kunang. Cahaya itu riuh berseliweran dalam gerak zig zag, berubah menjadi kerdip bintang, lalu mataku mengatup,  memejam, lelap dalam tidur panjang.

Aku terbangun dalam keadaan lebih baik, berusaha menjadi kuat, membereskan seisi bilik yang kusut masai, membersihkan diri, mengenakan pakaian seragam, meraih tas kemudian melangkah dengan perlahan menuju ke sekolah. Sekilas kutatap makam mama dan adik kecil, ingin rasanya mengaduh dan mengurungkan niat pergi ke sekolah, akan tetapi hati baikku melarang. Aku terus melangkah, kesunyian terasa panjang dan dalam, bahkan hembusan angin seakan mati.

“Tewerauta ….” Suara Fransis bergaung memecah hening, ia telah bersiap pula dengan seragam abu-abu putih serta tas punggung. Sekilas ia tersenyum, setengah berlari ia menyamai langkahku, maka kami berjalan bersisihan.

“Fransiso!” Suara lain kembali bergaung, adalah Lauren kawan satu kelas Fransis, ia pun bergabung untuk menempuh langkah yang cukup jauh ke sekolah.

Jembatan papan semakin tua dan lapuk, ada kalanya kami harus melangkah dengan hati-hati supaya tidak terperosok ke dalam lubang. Pada dua tepi jalan adalah rumah panggung, kios serta beragam bangunan fisik yang dinaungi hijau pohon bakau. Tak sepatah kata pun terucap, Fransis dan Lauren tahu suasana hatiku, keduanya tak banyak berucap hingga kami sampai di pintu gerbang sekolah.

“Magdalena!” Nurul nyaris menjerit, ia memelukku, tak sabar menggandeng tanganku menuju ruang kelas yang mulai dipenuhi siswa dan siswi.

Hari-hari sekolah berlanjut tanpa kehadiran mama, aku tak akan pernah meninggalkan hari-hari itu, hingga masa berakhir dan sehelai ijazah akan tergenggam di tangan. Akan tetapi, di rumah bapa memiliki persoalan berbeda,  karena kematian itu. Dan aku harus melakukan sesuatu.

Makam mama dan adik kecil di samping rumah semakin diam, air pasang pada pergantian tahun akan menggenangi tugu kematian itu, membenamkannya dalam air kecoklatan, membuat setiap yang ditinggalkan semakin tak berdaya. Suasana rumah tak kalah diam dengan kematian itu sendiri, Marius dan Hengki bergantian pergi ke bevak atau menjaring–bila sedang berbaik hati, maka asap tungku masih menyeruak lewat celah atap rumah, sebagai penanda masih ada kehidupan di tempat ini. Akan tetapi, tak jarang keduanya pulang dalam keadaan mabuk, mencercau, kemudian tertidur di teras rumah dan tak hendak terbangun dalam sehari atau dua hari. Bapa telah menegur berulang kali, tetapi telinga Hengki dan Marius seakan telinga panci, tak pernah mendengar teguran itu. Betapa beda keduanya dengan Jan. Aku memasang jarak sejauh mungkin dengan Marius serta Hengki, tak hendak terlibat dalam pertikaian yang tidak menghasilkan apa-apa.

Ketika Melani dan Adriani mengandung dalam kurun waktu yang sama, perilaku Hengki dan Marius nyaris tak berubah. Pulang larut dalam keadaan mabuk, meracau, bahkan melempar barang atau membenturkan tubuh ke dinding. Entah apa sesungguhnya yang ingin dicapai dua bersaudara itu, begitu dekat jarak antara kami, tetapi betapa tidak pernah terhubung antara yang satu dengan yang lain. Bahkan, aku seakan tak pernah mengenal keduanya. Belas kasihanku terjatuh pada Melani dan Adriani yang harus memikul beban rumah tangga dalam keadaan mengandung pada usia muda, keduanya telah menjatuhkan pilihan kemudian menanggung akibat seumur hidupnya. Beruntung, aku telah memenuhi tuntutan mama untuk pergi ke sekolah sekaligus, menghindari perkawinan dini yang berakibat fatal.

Penampilan Melani dan Adriani mendadak berubah menjadi tua, keduanya harus tetap merawat tanaman, memangur sagu ke hutan, menjaring, membelah  kayu bakar dalam keadaan mengandung. Di luar jam sekolah aku membantu menyelesaikan pekerjaan itu, demikian juga ketika  kandungan keduanya semakin membesar kemudian melahirkan dalam rentang jarak yang tidak terlalu panjang. Aku ikut membantu memandikan dan menjaga dua bayi mungil yang tidak bersalah  itu, kehilanganku akan kematian adik kecil yang belum mendapatkan nama terobati. Aku mulai dapat tersenyum, ketika ranting kering patah, maka tunas-tunas muda tumbuh bersemi.

Akan tetapi, harus kuterima kenyataan, betapa makin diam sikap bapa, ia kehilangan belahan jiwa, seorang perempuan yang telah berbagi sekian lama hingga Jan tumbuh menjadi tentara. Setelah raungan pada hari pemakaman bapa tak  pernah mencucurkan air mata, tak ada tangis, tetapi sikap diam ternyata lebih mengerikan dari tangisan. Wajah muram itu menyebabkan ulu hati nyeri seakan teriris belati, aku tahu apa yang harus kuucap.

“Bapa, Mama telah menjadi tanah. Betapa pun kita menyayangi, mama tak akan pernah bangkit lagi. Bapa masih bisa menikah lagi,” suatu hari aku memberanikan diri berucap di depan api tungku, kutatap wajah muram bapa. Betapa tidak mudah ditinggalkan belahan jiwa? Dan betapa berat meneruskan hidup seorang diri.

Tak ada jawaban. Pandangan bapa menerawang jauh pada suatu tempat yang tak dapat dikunjungi, bahkan aku Teweraut anak gadis kesayangannya. Sepasang mata bapa yang sayu akan berubah menjadi genangan telaga, tetapi ia masih cukup mampu membendung kubangan air supaya tidak menjadi isak tangis. Suatu hal yang tidak mudah, melupakan seorang perempuan yang telah tiada kemudian menempatkan perempuan lain di relung hati. Kenangan akan diri mama tak akan pernah pudar, sungguh pun mama telah menyatu menjadi tanah.

Berhari-hari setelah percakapan itu bapa masih tetap diam, maka suatu senja ketika sinar matahari condong di langit sebelah barat, sekuning semburat emas yang terjatuh pada dedaunan, aku kembali mengulang penawaran.

“Kehidupan Bapa masih sangat panjang, tidak salah andai ada maitua lain di rumah ini, tanggung jawab Mama sudah selesai. Saya akan menerima siapa pun perempuan pilihan Bapa, akan menyebutnya Mama.”

“Tewerauta….” Bapa memelukku sambal menghela napas berulang kali, kurasakan pergolakan batin yang sangat dahsyat, bahkan hingga beberapa minggu ke depan, ketika akhirnya bapa membawa seorang perempuan ke dalam rumah untuk membakar sagu.

Bapa telah menentukan pilihan hidup. Antonia, perempuan itu masih terlalu muda untuk kupanggil mama, tetapi aku menepati janji, kuberikan senyum dan persahabatan, kubela saat Marius dan Hengki menatapnya dengan benci. Bapa tampak lebih bersemangat, wajahnya yang muram tampak lebih bersinar, ia memiliki seorang yang dapat pergi mendayung bersama untuk memangur sagu atau menjaring ikan, juga tempat berbagi dalam suka dan duka.

Bersambung …

Leave a Comment