Cerbung

Menggambar Bintang : Kisah Seorang Anak Suku Asmat (1)

Jangan Lupa Di Rate Ya!
Tinggal Pilih Bintang Saja!

Bab I

Asmat –Tanah Rawa Berlumpur

Dewi Linggasari

Pagi hari, udara jernih dan berembun. Aku adalah seorang gadis kecil yang tertawa gembira di antara mama, bapa, kakak, mama tua, om, dan saudara sepupu. Kami akan pergi ke bevak rumah sementara jauh di hutan untuk memangur sagu dalam beberapa hari. Sepanjang jalan menuju tambatan perahu, setiap orang menyapa dan melambai. Bapa adalah kepala kampung, seorang yang dituakan dan berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari di tempat ini. Aku anak kelima dengan tiga kakak laki-laki, satu orang meninggal saat masih  bayi.

Jembatan papan tempat kaki menapak sudah mulai lapuk dan berlubang, aku harus hati-hati atau akan jatuh terjerembab, di bawah kolong  jembatan adalah tanah berlumpur yang akan digenangi air berwarna coklat susu saat bulan purnama, terlebih saat pergantian tahun. Pada kiri dan kanan jembatan adalah rumah panggung berdinding gaba-gaba, beratap ilalang yang segera lapuk ketika waktu serasa terbang menuju hari depan. Beragam alat penampung air, drum, ember, jerigen, loyang dan botol aqua tampak berjajar di teras-teras rumah untuk  menampung cucuran air hujan.

Hutan hujan tropis yang mengungkung perkampungan berkuasa menguapkan air, karena panas sang surya kemudian mencurahkan air dari langit sepanjang tahun, hanya jeda dua hingga tiga minggu. Hujan adalah satu-satunya sumber air bersih di tempat ini, tanah rawa berlumpur telah mewarnai air anak-anak sungai serta menutup sumber air bersih dari perut bumi. Kami hidup pada alam yang berbeda, ketika setiap manusia akan dewasa dengan cara yang berbeda pula. Pada salah satu sisi kampung berdiri jew dengan megah, ialah rumah bujang tempat bermusyawarah serta menyelenggarakan pesta adat bagi seisi kampung tanpa kecuali. Bangunan tradisional dengan satu ruang tunggal di dalamnya yang sangat lapang, sebelas pintu tanpa daun, terus menganga lebar.


Lurus dengan sebelas pintu adalah tungku api, wayir–tungku utama terletak tepat di tengah-tengah. Keseluruhan bangunan terbuat dari segala bahan yang bisa diperoleh di tengah hutan, kulit kayu, batang pohon, daun nipah serta rotan. Ukiran leluhur tampak kukuh pada tiang pancang menatap ke depan, adalah bahasa, bahwa jiwa-jiwa yang telah berpulang menuju alam  keabadian tetap  menyertai kehidupan anak cucu hingga hari ini dan esok nanti.  Ketika kematian berikutnya menyusul.

Kami, orang Asmat memandang kehidupan menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah dunia hidup atau Asmat ow capinmi, bagian kedua adalah tempat persinggahan orang-orang yang sudah meninggal dan belum memasuki tempat istirahat kekal di safar–surga—yang disebut dampu ow capinmi. Roh-roh yang tinggal di dampu ow capinmi adalah penyebab penyakit, penderitaan, gempa bumi, dan peperangan. Orang-orang yang masih hidup harus menebus roh-roh ini dengan membuat pesta-pesta dan ukiran serta memberinya nama agar mereka dapat masuk ke alam safar –yang merupakan tujuan akhir, bagian ketiga dari kehidupan orang Asmat.

Selain sebagai tujuan akhir dari kehidupan orang Asmat, safar juga diyakini sebagai tempat asal roh-roh bayi. Mereka pada mulanya masuk melalui jiwi jof, yaitu pintu tempat mereka masuk ke dunia ini. Setelah dewasa dan kemudian meninggal, maka mereka akan melaui jamir jof, yang merupakan jalan menuju dunia akhir. Anak-anak yang lahir melalui jiwi jof merupakan penjelmaan orang-orang yang sudah meninggal. Mereka adalah pribadi baru yang bernama yuwus, yang berarti “nama” yang bagi orang Asmat adalah roh dari pribadinya. Dengan memberi nama pada sebuah ukiran, berarti roh dan pribadi tersebut masuk ke dalam ukiran itu. Dengan demikian, ukiran tersebut merupakan pribadi itu sendiri. Atas dasar kepercayaan terhadap roh leluhur yang telah menetap di dampu ow capinmi, maka tangan sang wowipits –pengukir– bergerak mengikuti naluri untuk menciptakan maha karya yang menyebabkan seni ukir Asmat menjadi amat masyur.

Di jew atau di teras rumah acapkali tampak wowipits tengah memahat sebatang kayu menjadi satu bentuk patung. Kerap terdengar cerita pada malam buta, ketika langit malam dilumuri genangan tinta dan bungkam tanpa kata, patung yang disusupi roh leluhur dapat bersuara atau berpindah tempat. Ada pula di antara patung-patung itu yang tidak disusupi roh, tetapi dibuat untuk kepentingan seni, terlebih pada lelang Pesta Budaya bulan Oktober. Ukiran itu tampak demikian  indah dan menggetarkan, tanpa satu motif pun yang kembar.

“Tewerauta! Kemana kamu orang pergi?” seorang bocah laki-laki menegurku dari teras rumah.

Bevak, Pangur sagu.” Jawabku seraya melambaikan tangan.

Sekejap aku akan  meninggalkan kehidupan kampung, menyusup jauh ke perut alam, tempat yang tak kalah menyenangkan.

Sampai pada tambatan perahu kami menuruni tangga dengan hati-hati, menempatkan seluruh perlengkapan ke dalam ci–perahu lesung, yang terbuat dari batang kayu utuh serta cekungan di dalamnya. Pada kepala perahu adalah ukiran leluhur yang telah berpulang, ia telah tiada, kembali menjadi debu, tetapi rohnya tetap tinggal bersama, menyertai kemana kami pergi. Aku yang paling kecil duduk pada ujung perahu, terbebas dari urusan mendayung, mama, bapa serta tiga orang kakak berdiri dengan keseimbangan penuh pada badan perahu yang ramping kemudian mulai mendayung. Pada perahu yang lain keluarga mama adik melakukan hal yang sama, dengan perlahan dua perahu mulai bergerak meninggalkan perkampungan menuju dusun sagu. Desir angin teramat lembut dan bersahabat.

Sungai Fambrep adalah sudut paling mengesankan di seputar kampung ini, ialah anak sungai dengan aliran yang semakin lama terdengar kian merdu. Pada dua tepi sungai adalah pohon-pohon bakau yang menjulang terlalu tinggi menggapai biru langit hingga hijau rimbunan daun melindungi kami dari sayatan sinar mahatari. Siang paling terik sekali pun selalu sejuk di sungai ini. Pada dahan-dahan pohon tampak satwa liar beterbangan dengan suara mencecet, menjauhkan kami dari suasana perkampungan yang seringkali terpecah belah oleh suara perkelahian, orang-orang baku kejar, bahkan perkelahian kelompok.

Perahu terus melaju semakin jauh, hanya sekali atau tiga kali kami berpapasan dengan pendayung dari perahu yang sama atau pengendara speed boat, kemudian sunyi. Hanya suara alam yang  menyatu serta napas yang berat, karena gerakan tangan mengayuh dayung. Perahu berbelok menempuh anak sungai yang kian mengecil dengan dedaunan yang rindang, tak lama  kemudian tampaklah atap bevak yang menua, karena waktu, panas terik, angin serta hujan.

Tak lama ketika perahu tertambat pada sebatang batang pohon aku segera meloncat turun, menaiki tangga bevak menjadi orang pertama yang menguak daun pintu, memuaskan rindu pada ruangan hampa di dalamnya. Api tungku telah lama mati menyisakan abu yang semakin kelam, seluruh dinding papan dan gaba-gaba telah lapuk. Bapa, bapa adik, dan kakak akan memperbaiki tempat ini, maka aku akan berbaring dengan nyaman pada malam hari dengan api tungku terus menyala. Tak ada jendela atau lubang angin di bevak ini, sementara orang masih percaya, bahwa jendela serta lubang angin akan menjadi tempat lalu lalang hantu serta roh jahat yang menyebabkan penyakit serta kematian. Aku tak pernah tahu seperti apa sebenarnya bentuk roh jahat, tetapi tak juga mempertanyakannya.

Semua beristirahat sejenak sebelum akhirnya tenggelam dalam kerja masing-masing, aku segera mengikuti mama dan mama adik menempuh langkah yang cukup jauh untuk memangur sagu. Bapa serta yang lain sibuk memperbaiki bevak supaya kami terlindungi pada malam hari, setelah bevak tampak lebih pantas, mereka sibuk memancing, membelah kayu bakar serta mencari karaka –kepiting. Aku menikmati hijau daun serta suasana alam nan rindang dengan embun  tergenang pada kelopak bunga liar yang dihinggapi kupu-kupu.

Ah, pohon pisang yang tiga bulan lalu kutinggalkan kiranya tengah berbuah lebat dengan semburat kekuningan. Kami akan menikmati hidangan lezat, adapun batang sagu yang rebah kini telah ditumbuhi ulat berwarna putih, gemuk dengan dua warna hitam pada kedua ujungnya. Ulat-ulat itu bergerak memanjang dan memendek dengan amat lucu, menandakan kehidupan, adalah campuran yang gurih bagi segenggam sagu yang dibakar di dalam daun sagu. Daun singkong tampak pula menghijau, pertanda kerja keras mama berkebun telah membuahkan hasil. Kami tak akan kelaparan dalam waktu beberapa minggu dengan persediaan makanan yang cukup.

Aku dan saudara sepupu memunguti ulat-ulat sagu dan menyimpannya di dalam ese –noken, tas. Mama dan mama adik mulai bersimbah keringat menokok sagu hingga serat putih itu hancur menjadi serpihan, merendamnya dengan air, mengendapkan beberapa lama hingga padat induk sagu yang sarat pati berwarna putih siap diisi ke dalan noken. Esok hari kami akan datang kembali memungut sagu yang telah mengendap sebagai bahan persediaan makanan. Ketika keringat mama telah menetes untuk yang penghabisan kami berkemas kembali ke bevak dengan beban masing-masing di punggung.

Di dalam bevak asap tungku tengah mengepul menembus atap nyiru pertanda suatu kehidupan tetap berlangsung. Api selalu sebagai penanda sang hidup, bergegas aku mencuci kaki yang berlepotan lumpur ke dalam air lalu bergegas menyeruak ke dalam bevak, menyambar daun sagu, menaburkan sagu yang amat putih seakan lembut kapas, menambahkan beberapa ekor ulat sagu, membungkusnya kemudian memanggangnya di atas bara. Tak berapa lama kemudian aku mengunyah rasa yang demikian nikmat ketika sadar perut telah kosong sama sekali.

Akan tetapi, dengan serakah Marius, kakak laki-laki menyambar makanan lezat ini dari tanganku kemudian berlari menjauh, mendekati tepi sungai. Lahap ia menelan sagu ulat itu dalam sekejab kemudian menceburkan diri ke dalam air sungai. Senyumnya nakal dan penuh kemenangan, aku merasakan kemarahan meleleh bagai leleran panas lava pijar, hingga seluruh wajah berubah menjadi merah darah.

“Marius! Awas koe!” jeritanku seakan terbawa angin lalu. Adalah untuk yang kesekian kali seorang laki-laki melakukan tipu daya terhadap saudara perempuan.

“Kamu orang bakar ulang sudah!” Jan, kakak laki-laki tertua menghibur.

Jan tidak sejahat Marius serta Hengki yang suka berlaku curang, ia selalu tampak dewasa. Ia bahkan membantuku membakar sagu ulat kemudian menyodorkan ke tanganku.

Air mataku hampir menitik, aku selalu kesal dengan Marius dan Hengki, mereka selalu memiliki alasan berbuat semaunya. Marius senang menjarah hak orang, sedangkan Hengki suka mengejek, karena aku seorang anak perempuan yang tidak akan pernah menang berkelahi. Di dalam hati diam-diam aku selalu membangun keyakinan, suatu saat pasti akan keluar sebagai pemenang –suatu saat. Aku mengunyah sagu bercampur ulat yang masih panas ini nyaris tanpa selera, dendamku terhadap Marius terus menyala, mengapa seorang anak perempuan harus selalu terpedaya. Bukankah bayi perempuanpun pada akhirnya akan tumbuh dewasa dan bisa bertindak apa saja. Aku melihat suster –bidan perempuan, guru perempuan, bahkan dokter perempuan, apakah perempuan yang telah memiliki pekerjaan serta menempati kedudukan sosial di dalam kehidupan masyarakat masih bisa diperdaya saudara laki-laki?

“Makanlah Tewerauta!” Bapa menghibur, ia tahu kegundahan hatiku.

Namaku sebenarnya Magdalena, tetapi mama dan bapa selalu memanggilku Tewerauta yang artinya perempuan cantik, maka demikianlah aku dipanggil sehari-hari. Seorang gadis kecil yang cantik dan selalu dibuat geram saudara laki-laki, dan sebenarnya anak laki-laki di lingkungan kampung yang kenakalannya melebihi preman jahanam. Aku belum lagi mampu berkelahi, tetapi jauh di dalam hati aku menyusun keberanian untuk dapat berkelahi dengan siapa pun suatu saat.

Sagu ulat ini tak kuhabiskan, tiba-tiba keseluruhan hari menjadi retak, aku selalu tak nyaman dengan Marius. Ia dapat merampas segala hal yang kumiliki sekaligus memamerkan dengan licik hal-hal yang tak pernah kumiliki. Tanpa terasa tubuhku yang mungil rebah di atas tapin –tikar, sepasang mata seakan digayuti bilah besi, embun seakan menitik perlahan-lahan, kabut melilit seisi bevak, lalu aku melupakan semuanya, terlelap dalam tidur yang melenakan.

Tampaklah langit yang maha biru, menjadi kelam, karena mendung, menjadi tembaga, karena cahaya senja, dan menjadi hitam, karena malam. Perlahan tampak cahaya yang teramat lembut, adalah ribuan kunang-kunang yang berpesta pada gelap nuansa, langit tampak seakan kanvas yang teramat dekat dapat tersentuh. Kuraih pensil warna, seakan ada kekuatan yang mendorong di luar kemauan, maka tanganku terus bergerak, kugambar bintang, semula hanya satu – dua – tiga. Akhirnya langit menjadi gemerlap oleh cahaya yang tak terkira.

Hangat api tungku membangunkanku, cahaya itu kiranya lampu petromax yang telah menyala dan tergantung di langit-langit bevak. Di luar malam telah turun bagai tirai maha hitam yang berkuasa terbentang tanpa satu tangan yang dapat menghentikan. Waktu kembali terbang meninggalkan satu hari dengan suka duka cerita yang membekas. Dari balik bulu mata aku dapat melihat Marius tengah rakus mengunyah pisang bakar, sekilas matanya melirikku tanpa bersahabat. Adapun Hengki tengah mulai menghisap batang rokok, ia meringis ketika bapa merampas batang rokok itu kemudian menampar mulutnya. “

Plak!

Rasakan, bisikku dalam hati. Perangai Hengki tak jauh berbeda dengan Marius, aku menganggap kedua orang itu onak dalam setiap hari. Suara tamparan itu membuatku agak terhibur, meski aku pura-pura diam tanpa kata. Aku tak hendak memulai permusuhan dengan Hengki, karena tangannya akan dengan mudah melayang, sedangkan mulutnya terlalu cepat menucapkan kata-kata keji.

“Tewe bangunlah,” suara mama terdengar merdu, tangannya yang legam menyorongkan sesisir pisang bakar.

Tiba-tiba aku merasa amat lapar, tanpa berucap kusambar pisang itu kukunyah dan kutelan dengan lahap. Jerih payah mama menanam pisang kini membuahkan hasil, ketika sesisir pisang telah tandas, aku kembali melahap sagu, makan sekenyang kenyangnya hingga perutku yang kecil tak lagi menampung apa-apa.

“Nanti pulang dari bevak kamu harus kembali ke sekolah Jan, bawa serta Marius dan Hengki. Jangan kamu kasih biar dorang dua pergi manyari, bermain kacau-kacau,” mama kembali bersuara.

“Cukup sudah orang tua pergi pangur sagu ke hutan buat makan semua-semua, kamu orang anak-anak harus hidup lebih baik dari orang tua. Gerald kamu orang punya sepupu sudah jadi polisi, kamu Jan harus bisa jadi tentara. Atau kamu orang ingin selamanya menjaring ikan?” sepasang  mata mama menatap Jan lekat-lekat seolah ingin menjenguk isi terdalam hati anak itu.

Hening.

Suasana di dalam bevak tiba-tiba menjadi diam, lidah api tungku terus menjilat menebarkan hangat. Bulan Agustus udara di bevak  ini atau di bevak yang manapun beku bagai dihembus dari suatu tempat yang dipenuhi gumpalan es. Konon, di belahan bumi selatan salju tengah turun, posisi Papua, terlebih Merauke dan Asmat yang berdekatan dengan Australia, tempat Suku Aborigin menjadi lebih dingin bila dibanding dengan bulan Desember ketika matahari berada di pada 23,5 derajat garis balik selatan dan Australi mengalami siang yang selama-lamanya.

“Baik mama. Semoga suatu saat saya akan bisa menjadi tentara,” sebuah jawaban Jan yang membuat wajah mama tampak tenang.

“Mama sudah rasakan hidup susah, kamu tidak perlu merasakan apa yang harus mama rasakan. Kamu juga harus sekolah Tewe!” sekali lagi mama  menegaskan. Sepasang mata mama giliran menatapku, aku merasakan sebuah permintaan serta tekanan yang tak mampu kutolak.

“Sekolah?” aku balik bertanya.

“Tewe masih terlalu kecil untuk sekolah.” bapa menjawah, ia menyadari kebimbanganku.

“Tewe su tua, cukup bermain lumpur. Kamu akan menjadi ibu guru.” mama terus bersuara.

“Ibu guru?” kujawab keinginan mama dengan ngeri.

Bagaimana mungkin aku seorang bocah yang tumbuh di bevak akan dapat berdiri dengan kukuh untuk  mengajar di depan  kelas? Kupejamkan mata, aku merasa diriku terlalu kecil, tersisih dari dunia maha luas yang belum mampu kujenguk seluruh isinya. Apa sebenarnya isi dunia ini?

“Ya, kamu orang harus jadi ibu guru. Atau mau kawin kecil, beranak pinak pada usia bocah, pergi pangur sagu, menjaring ikan sampai tua bangka?” sepasang mata mama menatapku bagai kilatan mata pisau, ia tidak nyaman dengan keraguanku.

“Ursula….tidak usah engkau terlalu keras dengan anak-anak!” bapa mencoba mengamankan keadaan, meski ia tahu tak akan pernah menang bersilat lidah dengan mama.

Mamaku Ursula adalah anak kepala perang, ketika menikah dengan mama, bapa tahu ia tak akan pernah dapat memukul mama atau berkehendak semau-maunya seperti yang terbiasa terjadi. Kekerasan keluarga di kampung ini menjadi suatu hal yang lumrah, perkelahian suami istri, karena ketiadaan sagu atau rokok. Akan tetapi bapaku, Anselmus tak pernah berani bertindak kekerasan dengan mama, atau sebenarnya ia takut dengan sikap tegas mama, karena menyadari ketegasan mama benar adanya.

“Saya memang harus keras, atau anak-anakku akan menjadi tukang mabuk di jalanan. Marius dan Hengki sudah coba-coba minum sopi, satu kali saya akan rotan kamu orang.” sepasang mata mama berubah seakan bola api ketika menatap Marius dan Hengki.

Mama tahu kenakalan kedua anak itu, Marius dan Hengki suka pergi acara, berpesta dan menari-nari hingga pagi lalu coba-coba minum sopi, minuman beralkohol buatan lokal. Mama tahu anak-anak yang sudah mencoba minum dari kecil mungil tak akan pernah menjadi manusia kecuali permabuk, kawin kecil, dan membuat onar di sepanjang hidup.

Wajah Marius dan Hengki perlahan memucat dan menunduk, ia tahu mama pernah memukulnya dengan kayu bakar tanpa ampun, karena kenakalan yang berlebihan. Hukuman itu kiranya tetap menunggu kesempatan tepat untuk jangka waktu yang tak ada batasnya. Wajah menunduk dan memucat itu membuatku merasa terhibur, aku tak bisa menyatakan keberatan, karena Marius merampas sagu ulat yang lezat dan hangat, kini mama menegurnya dengan alasan lain. Malam terasa hangat di dekat nyala api tungku meski udara semakin menggigit pori-pori, sekejab aku membuka pintu bevak  menghirup udara segar.

Suasana di sekitar adalah kegelapan, ricik air kali, lalu daun-daun yang kehilangan warna. Kucoba mencari bintang-bintang yang sekejap hadir dalam impian, tetapi langit sama gelap dengan jelaga, mendung tengah menggantung bagai duka seribu bidadari maya yang bersiap mengisak mencurahkan air mata. Ketika perlahan terdengar suara gerimis menitik, aku merasa seakan mendengar nyanyian alam nan merdu. Hujan selalu turun sepanjang tahun, adalah kerarifan alam yang mendukung kelangsungan hidup di kampung ini. Andai hujan turun dalam enam bulan terakhir dalam kurun waktu satu tahun, kehidupan di kampung ini pasti sudah lama berakhir. Mungkin orang di wilayah lain tak akan pernah mempercayai kehadiran air hujan di tempat ini kecuali datang untuk menyaksikan sendiri. Aku masih ingin berlama-lama menyatu dengan hitam malam, tetapi suara hujan semakin keras bahkan mengerikan.

Di bevak sebelah tempat mama adik tinggal terjadi kesibukan serupa, ketika satu keluarga tengah duduk bersama membakar sagu dan ikan untuk mencukupi kebutuhan makan hari ini. Aku dapat mendengar suara orang bercakap meski tak pernah tahu hal apa yang dibicarakan hingga suara gemuruh hujan mengubah kesibukan menjadi kegembiraan menampung air hujan. Suasana berubah dengan cepat dari panas terik dan biru langit nan membentang, menjadi langit merah, hitam, dan kini hujan deras yang meruapkan udara dingin.

Tergesa mama menempatkan loyang, ember, jerigen, apapun yang berguna untuk menampung air. Kami harus minum, satu-satunya sumber air bersih adalah hujan, ketika siang mama basah kuyup keringat, kini mama basah kuyup air hujan. Sementara tubuhku mulai menggigil, suara hujan berubah seakan raungan alam yang marah, karena satu dan lain hal. Air tercurah dari langit mencabik-cabik hening, mengusir bintang, menyatu dengan angin kencang seakan berniat membawa bevak ini terbang melayang menuju peta teramat jauh, tak bertuan. Beberapa bagian atap bocor, mama segera menadahnya dengan ember. Aku mendekatkan diri pada nyala api tungku, bapa meletakkan batang-batang kayu di atas para-para, bila kayu tetap basah, esok tungku api tak akan pernah menyala, tak ada sagu atau ikan bakar. Segalanya akan terhenti.

Kuharap hujan reda dalam beberapa saat, akan tetapi langit malam terbelah oleh suara guntur, halilintar yang menggelegar, kilat nan menyambar. Selebihnya air yang tertumpah tanpa kenal ampun seakan tangisan beribu peri, karena pedih serta duka hati. Suara itu menimbulkan rasa takut, kukatupkan mata untuk melupakan segala suara, kubayangkan tentang gemerlap cahaya bintang pada indah langit malam di bawah cerlang cahaya bulan. Lalu tubuhku yang rapuh melayang terbang menempuh cahaya, meninggalkan bevak yang basah kuyup, meninggalkan rasa takut, meninggalkan dendamku pada Marius serta permintaan mama untuk pergi sekolah. Aku berada di antara lembut cahaya kunang-kunang yang dengan menakjubkan berubah menjadi bintang timur, menjadi beribu bintang. Tubuhku terus melayang, melayang hingga aku tak mendengar apa-apa, tak merasakan apa-apa. Di luar malam terjebak dalam curahan hujan lebat serta maha warna hitam yang kukuh membentang tanpa berkesudahan.

Kemudian, pagi terjaga dengan udara yang terlalu dingin menikam pori-pori, ketika membuka mata suasana di dalam bevak telah sunyi. Di luar terdengar suara orang membelah kayu bakar, Marius tergelak bersama Hengki dengan segala kesombongan. Di mana mama?

Ia pasti tengah menyusup ke dalam hutan untuk kembali memangur sagu. Aku merasa menjadi orang yang paling malas, terbangun dengan enggan. Betapa nyaman berbaring di balik sehelai kain usang, kelambu serta api tungku yang belum sepenuhnya padam. Aku masih ingin bermalas-malasan, tetapi Hengki tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam bevak, mengejek.

“Dasar perempuan pemalas!”

Wajahnya menatapku geram, ia menyeringai dengan deretan gigi yang tampak buruk kemudian berlalu keluar setelah menyambar sebatang pisang bakar.

Kusambar pecahan kayu bakar kulempar ke punggungnya, dengan gesit Hengki mengelak sambil menjulurkan lidahnya, lalu ia menggoyang-goyangkan pantat kemudian menghilang dari balik pintu. Demi Tuhan aku ingin Hengki pergi untuk selamanya, aku tak ingin berjumpa dengan wajahnya yang sungguh buruk di rupa. Akan tetapi, takdir menghendaki lain, aku masih akan tetap bersama Hengki dan bedebah Marius untuk jangka waktu yang sangat panjang. Bahkan kedua sosok itu betapa pun menjengkelkan tak akan pernah menghilang dari ingatan.

Beberapa tabuh setelah terbangun aku segera membakar sagu ulat, menikmati makanan adat tanpa kehadiran Marius si penjarah hingga perut menjadi kenyang. Seterusnya aku mengejar mama yang tengah bersimbah peluh memangur sagu di tengah hutan. Mama masih bekerja keras memangur sagu kemudian memikulnya di punggung berulang kali ke dalam bevak. Wajah mama tampak demikian penat, tetapi aneh ia tak pernah sekali pun mengeluh. Ketika akhirnya mama menyudahi kerja keras memangur serta memikul sagu di bevak senja telah tiba dalam cahaya emas yang menakjubkan. Hijau daun tampak gemilang di bawah cahaya kekuningan, suara kicau burung, ricik air serta ranting kering patah menjadi bagian sehari-hari tak terpisahkan.

Sejenak aku terduduk pada sebuah cabang kayu, di atas aliran air sungai, menyatu dalam cahaya lembayung dan hijau daun, satu kenangan masa kecil yang terekam kuat pada ingatan terdalam kemudian selalu terbawa sejauh apapun kaki melangkah. Aku menjerit ketika tiba-tiba ada tangan kuat mendorongku terjatuh dari cabang pohon. Sekejap ku telah tercebur, basah kuyup ke dalam air. Darahku mendidih oleh suara tergelak Marius. Si bedebah kembali berbuat ulah. Dengan gesit aku beranjak ke tepian kugenggam lumpur, kukejar Marius dan kuoleskan hitam lumpur pada mukanya yang legam. Kemudian aku berlari menceburkan diri ke dalam aliran sungai. Dengan geram Marius berniat mengejarku, tetapi Jan segela menahan langkah dengan mejegalnya, sehingga ia jatuh terjerembab ke atas lumpur. Marius berniat melawan Jan, tetapi kakak tertuaku berdiri dengan gagah tanpa rasa takut.

“Berani kau melawanku? Kau mendorong anak kecil ke dalam air, cukup sudah!”

Jan menatap Marius penuh teguran. Ketika Marius melayangkan tangan dengan sigap Jan menangkap, mendorong tubuh Marius jauh ke belakang.

“Jangan kira aku takut menghajarmu.” Jan menyambar sebatang kayu, maka Marius segera tertunduk, membuang pandang kemudian menjauh.

Aku menatap adegan itu dengan penuh kemenangan, aku masih terlalu rapuh untuk berkelahi dengan Marius. Akan tetapi, apakah seorang bocah kecil akan rapuh seterusnya? Diam-diam aku tersenyum, lalu menenggelamkan diri ke dalam air, berenang pada aliran sungai secoklat kopi susu selalu menyenangkan. Aku terus berenang menyeberang dari satu tepi menuju ke tepi sungai hingga tiba-tiba udara berubah menjadi sangat dingin, bila terus bermain air bibirku akan biru dan seluruh badan akan ngilu.

“Teweraut, bareo, pulang. Su gelap ini, nanti roh jahat datang mengambil anak kecil pergi jauh!” Mama berteriak dari bevak.

Suasana gelap selalu memanggil roh jahat datang, anak kecil harus kembali ke orang tua untuk menghangatkan diri di depan api tungku.

“Tungguo…. Asyik ini!” Aku mencoba melawan, tetapi air sungai terasa semakin dingin, akhirnya aku menyerah, menghambur ke pelukan mama dalam keadaan basah kuyup.

“Kamu orang gilakah?” Mama menepuk pantatku kemudian melucuti seluruh pakaian yang basah kuyup, mengganti dengan pakaian baru.

Sehelai pakaian tua yang cukup kiranya untuk melawan dingin. Mama memeras pakaianku yang basah kuyup kemudian menjemurnya di teras bevak, esok pakaian itu akan kering sebagai pengganti.

Di dalam bevak api tungku telah menyala, asapnya mengepul, meliuk-liuk seakan ular patola, beranjak menuju atap kemudian menembus celah-celahnya. Mama kini membakar sagu bola serta ikan yang berhasil ditangkap di sungai, menu makanan sehari-hari yang nyaris tak berubah. Bapa tengah asyik menghisak rokok lampion, rokok kelinting yang beraroma tajam menusuk, anak-anak selalu melihat orang tuanya menghisap rokok kemudian menirunya. Sering tampak anak-anak usia belia telah pandai mengisap rokok serta mengunyah pinang. Akan tetapi, dalam hal ini mama dan bapa selalu memberikan teguran kepada anak-anak.

Aku meringkuk dalam pelukan bapa, bila hati tengah senang bapa suka bercerita, sebuah dongeng yang memicu pikiranku untuk menatap semakin jauh tanpa batas.

“Bapa ayo cerita ….” Aku mulai merengek.

Bapak tak segera menjawab, ia masih sibuk menikmati rokok linting, seolah tak ada yang lebih menarik dalam hidupnya kecuali memainkan asap dari mulutnya.

“Bapa …. Ayo….” Aku terus merengek, maka mulailah terdengar sebuah cerita, asal mula Kali Yombot, adalah kali yang terletak di kampung Yombot di tepi sungai setelah mendayung menyusur pantai dari tempat tinggalku.

“Syahdan, pada masa yang sangat lampau di Kampung Yombot tersebutlah seorang mama beserta anak gadisnya yang cantik. Suatu sore tanpa sepengetahuannya kedua mama dan anak itu menebang pucuk sagu, kemudian tertegun ketika seorang mengingatkan, bahwa pucuk sagu itu adalah tempat tinggal ular bindiw. Sang ular akan marah, karena tempat tinggalnya terusik. Benar, kemarahan si bindiw, karena pada malam hari ular itu mendatangi rumahnya menuntut bayar, supaya sang ibu menyerahkan anak gadisnya sebagai istri.”

“Hihh … menjadi istri ular?” Sepasang mataku terbelalak lebar, betapa menakutkan.

“Iya, tetapi mama mana yang mengizinkan anaknya menikah dengan ular? Sang ibu dan anak menolak, maka ular bindiw menggigitnya kemudian pergi. Malam berikut bindiw kembali datang untuk menuntut perkawinan, sang mama terus menolaknya. Bindiw pun kembali menggigitnya, sang mama dan anak ketakutan kemudian mencari akal. Pada malam berikut ketika ular bindiw datang sang mama menerima lamaran itu dengan syarat meminta mas kawin seekor babi. Bindiw mengikutinya, maka ia pun pergi ke hutan untuk mencari seekor babi.”

Sejenak bapa terdiam.

“Terus?” Aku sungguh penasaran dengan dongeng itu.

“Sementara ular bindiw pergi mencari babi, sang mama membakar sebutir batu di dalam tungku. Malam berikutnya ketika bindiw datang dengan seekor babi. Sang mama meminta bindiw membuka mulut supaya ia melihat taringnya yang tajam. Bindiw yang tak pernah tahu maksud hati seorang mama membuka mulutnya. Secepat kilat sang mama memungut batu yang telah panas bagai bara kemudian memasukkan batu itu ke mulut bindiw, maka sang ular kesakitan berlari meninggalkan rumah sambil menjerit di sepanjang jalan. Jalan  yang dilaluinya menjadi jejak yang terus memanjang hingga ke muara. Kemudian hujan turun dengan lebat, maka jejak ular bindiw menjadi sungai yang disebut dengan sungai Yombot.” Bapa mengakhiri cerita, kemudian sepasang mataku menjadi merah.

Tanpa bertanya kembali, aku langsung rebah tertidur.

Kami masih  melakukan hal serupa di dalam bevak di tengah hutan selama beberapa hari hingga bevak ini penuh dengan bernoken-noken sagu, kemampuan perahu untuk memuat seluruh sagu terbatas. Akhirnya bapa memutuskan untuk kembali ke kampung, kembali menjadi kepala kampung dengan segala rencana bagi anak-anaknya. Aku menikmati perjalanan pulang dengan melewati Kali Fambrep, melintasi batang-batang pohon yang menjulang tinggi menggapai langit, hijau daun yang melingkupi seluruh tepian sungai serta suara marga satwa yang merdu bagai lembut nyanyian sorga.

Bersambung ….

Klik di sini https://mbludus.com/menggambar-bintang-kisah-seorang-anak-suku-asmat-2/

Leave a Comment