Dongeng

Abu Nawas Mengangkat Masjid

Jangan Lupa Di Rate Ya!
Tinggal Pilih Bintang Saja!

Ceritanya, Abu Nawas yang cerdik, kocak dan bijaksana dipanggil oleh raja Harun Al Rasyid untuk dimintai nasehatnya. Raja Harun Al Rasyid ingin memperluas bangunan istana, tapi terhalang oleh masjid yang mau tak mau harus dibongkar, sementara sang raja merasa sayang kalau mesjid tersebut dibongkar atau dirubuhkan. Baginda ingin masjid itu dipindahkan saja ke tempat lain di sekitar istana.

Kemudian dalam bincang-bincang di beranda masjid istana, Baginda Raja meminta saran kepada Abu Nawas. “Bagaimana menurut pendapatmu, hai Abu Nawas. Bagaimana caranya memindahkan masjid ini, tapi jangan sampai masjid ini rusak karena saya suka akan keindahan masjid ini,”  kata Baginda Raja.


Abu Nawas berpikir sejenak, lalu berkata. “Gampang, baginda raja,” katanya santai.

“Caranya?” tanya baginda raja penasaran. Abu Nawas langsung menjelaskan idenya. “Begini Baginda raja, bagaimana kalau  baginda raja membuat sayembara saja. Isi sayembara itu adalah: “barang siapa yang bisa memindahkan masjid ini akan mendapat hadiah yang besar.” Begitu saran Abu Nawas.

Baginda raja mikir sejenak, kemudian langsung menyatakan setuju dengan saran Abu Nawas. Karena itu berkatalah baginda raja: “Baiklah kalau begitu, segera umumkan kepada rakyat, barangsiapa yang dapat memindahkan masjid tanpa ada kerusakan sedkitpun maka akan kuberi hadian unta sebanyak 50 ekor.”

Maka diumumkanlah sayembara Baginda Raja ini ke masyarakat. Seketika masyarakat menjadi heboh menanggapi sayembara raja tersebut. Banyak kelompok rakyat yang mendaftar ikut sayembara dengan variasi jumlah anggota yang jumlahnya berbeda-beda.  Ketika kemudian sampai pada hari yang telah ditentukan maka seluruh rakyat berkumpul didepan masjid yang akan dipindahkan.

Di hadapan rakyat dan para peserta sayembara, baginda raja berkata: “Wahai rakyatku yang kucintai, aku ingin membuat sebuah istana yang lebih megah dari yang sudah ada supaya bangsa lain akan lebih hormat kepada negara kita. Nah, barangsiapa yang mampu memindahkan masjid ini maka saya akan berikan kepadanya 50 ekor unta yang gemuk-gemuk. Apabila masjid bisa dipindahkan secara utuh tanpa cacat, akan kutambah hadiahnya dengan 50 keping uang emas.”

Rakyat bersorak-soray, menyambut dengan gembira dengan tepuk tangan. Samyembara pun segera dimulai, namun sayang seribu kali sayang, dari para peserta yang mendaftar ini tidak ada satu pun yang sanggup memindahkannya. Baginda Raja Harun Al Rasyid jadi bingung, mengapa dari para kelompok peserta sayembara yang jumlahnya ratusan orang tersebut tidak ada satu kelompok pun yang mampu mengerjakannya.

Ketika melihat Baginda Raja nampak gundah gulana dan kecewa, maka majulah Abu nawas menghadap Baginda, ujarnya dengan penuh rasa hormat: “ Yang Mulia Bagina Raja, karena para peserta sudah tidak ada yang sanggup, ijinkaniah hamba yang melaksanakan tugas ini sendirian.”

“Sendiri?” tanya Baginda Raja penasaran.
“Iya Baginda!” jawab Abu Nawas santai tapi meyakinkan.
“Apa kamu sanggup?” tanya Baginda dengan hati tambah penasaran.
“Hamba sanggup Baginda, tapi ada syaratnya!” jelas Abu Nawas.
“Apa pun syaratnya, pasti akan kupenuhi!” kata Baginda dengan penuh semangat.
“Benarkah Baginda akan memenuhi syarat saya!” tanya  Abu Nawas memastikan.
“Aku seorang raja, pantang bagiku untuk menjilat ludah kembali. Ayo, katakan! Apa syarat yang kau inginkan!” kata Baginda tak sabaran.

Sembari tersenyum Abu Nawas lalu menyampaikan syarat yang diinginkan. Katanya: “Masjid ini akan hamba pikul sendirian asalkan ada yang mau meletakkannya di atas pundak hamba, Baginda Raja!”

Raja pun segera mikir bagaimana caranya meletakkan masjid diatas pundak Abu Nawas, sedangkan peserta yang ratusan orang saja tidak ada yang sanggup menggeser sedikit pun masjid ini. Oleh karena itu, maka berkata Baginda Raja kepada Abu nawas.

“Sebenarnya apa maksudmu Abu Nawas?” tanya Baginda Raja Harun Al Rayid.

“Yang mulia Baginda Raja, sesunggunya sebesar dan seberat masjid itulah beban yang ada di pundak Baginda untuk memakmurkan rakyat, dibandingkan hanya memikirkan keindahan istana raja yang tidak begitu penting. Karena itu, utamakanlah kemakmuran rakyat terlebih dahulu, ketimbang harus membangun istana yang megah.” kata Abu Nawas dengan penuh hormat.

Mendengar perkataan Abu Nawas tersebut, Baginda Raja Harun Al Rasyid tersentak hatinya dan menyadari akan kekeliruaanya. Beliau mengerti maksud dari ucapan Abu Nawas yang bijaksana itu.

“Terima kasih, Abu Nawas,” katanya, “Engkau telah mengingatkan aku untuk lebih arif dalam memimpin kerajaan ini.”

Kemudian atas perintah raja segera diadakanlah pesta untuk rakyat. Semua biaya ditanggung oleh Baginda Raja.

***

Dapoer Sastra Tjisaoek Juli 2020
Diceritakan kembali oleh: Abah Yoyok

Leave a Comment