Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Kritik Sastra » Menempuh Jalan Penyair
    Kritik Sastra

    Menempuh Jalan Penyair

    24 Mei 2019Updated:13 November 2019Tidak ada komentar6 Mins Read165 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Menempuh Jalan Penyair

    Nana Sastrawan

    Puisi yang baik kerap lahir dari penyair sejati. Ya, penyair sejati. Ia tidak akan terburu-buru menuangkan gagasan dan pemikirannya dalam puisi. Setiap objek yang dilihat, dirasa, dijalani, diketahui masuk ke ruang pikir yang dalam, lalu, diramu hingga mencapai titik maksimal. Jadilah puisi yang sebenar-benarnya puisi: menggugah dan inspiratif. Kesejatian yang mengalir dalam tubuh penyair pun tidak bisa dikatakan mudah didapat. Sebut saja Chairil Anwar dan Rendra, sekadar merujuk dua nama. Bagaimana perjalanan kepenyairannya membentuk sikap yang sejati, sehingga karya-karyanya berkualitas dan fenomenal.

    [iklan]

    Suatu ketika saya pernah berbincang dengan penyair-penyair yang buku puisinya terpilih sebagai pemenang dalam lomba atau sayembara, sebut saja Anugerah Hari Puisi Indonesia, Kusala Award dan lainnya. Tentu saja, perbincangan itu mengarah kepada proses kreatif penyair dalam menulis puisi. Ya, selain media, ajang perlombaan memang bukan satu-satunya alat ukur bahwa puisi tersebut bagus atau tidak. Namun, boleh kita jadikan satu rujukan untuk menilai puisi itu berbobot atau tidak di tengah semarak penerbitan buku puisi yang membludak.

    Dalam fungsinya puisi bisa dikatakan sebagai alat penyampai apa pun yang menjadi kegelisahan atau kecamuk pikiran. Apa yang dirasa, dilihat, didengar bisa menjadi pintu keluar untuk menghasilkan puisi. Jadi, puisi bisa lahir dari berbagai peristiwa, bisa peristiwa remeh-temeh atau peristiwa luar biasa. Yang penting, bagaimana fakta itu menjadi fiksi, diperlukan sentuhan imajinasi, asosiasi sampai pada perkara metafora. Perangkat itulah yang membedakan puisi (sastra) dengan berita atau sejarah. Selalu, peristiwa dalam puisi berfungsi menghidupkan imajinasi dan asosiasi pembaca. Teks (puisi) jadinya punya cantelan konteks. Itulah yang mungkin hendak dituangkan oleh Salman Alfarisi dalam buku kumpulan puisi ini, meskipun agaknya terlalu terburu-buru puisi-puisinya untuk diperkenalkan ke publik sastra.

    Mari kita simak puisi ‘Jalan Pejalan’, di sini Salman hendak mewartakan suatu peristiwa yang mungkin berkaitan dengan dirinya sendiri atau orang lain. Meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa puisi tetap merujuk pada pengalaman penyairnya.

    Lantas kulepas napas yang panas
    Bergegas melangkah bebas
    Mengikuti jejak jejak unggas
    Nyata terbang menuju ahlunnafs
     
    Di belakang burung Sulaiman
    Melayang melepas perbendaharaan
    Melintas batas melepas jubah kebesaran
    Menanggalkan nilainilai kehormatan
     
    Lantas lekas tubuhku menggigil malu
    Tak ada penutup atau bulubulu
    Sayap sayapku patah!
    Hampir jatuh aku pasrah
     
    Di belakang burung-burung Tuhan
    Hud Hud juga Simurgh yang sopan
    Aku belajar terbang
    Dari merekalah aku mengerti sembahyang
    Aku belajar kasih sayang
    Dari merekalah aku mengerti jalan pulang

    Ya, pengalaman batin penyair memang kerap memengaruhi puisi. Pengalaman itu bisa saja ilmu pengetahuan yang diperoleh dari membaca, sekolah atau berdiskusi di seminar-seminar. Pada puisi di atas jelas ada suatu ikatan emosi penyair dengan hikayat yang bersumber dari buku lain, sehingga penyair menemukan keyakinan dalam dirinya untuk memilih jalan yang akan menuju ke arah pulang. Namun, puisi tersebut seolah terbelenggu oleh rima, bunyi sehingga pencariannya tak menemukan suatu puisi yang berkarakter, puisi yang memang dimiliki oleh penyairnya sendiri.

    Pada puisi ‘Hua’ juga terasa kental bayang-bayang pantun dan syair memengaruhi daya ungkap Salman dalam berproses menuju kiprah kepenyairannya.

    Ketika pertanyaan pertanyan pecah
    Pada benda pada bentuk pada bayang berhamburan
    Melukislah pada kesunyian
    Dengan paruh sesak lagi resah
     
    Menepilah akal sulung pada sudut
    Gelombang merayap cepat terpaut
    Hua, menyambut!
    Debar seluruh derap jantung
    Ampun, sungguh beri aku untung
    Hua, yang menjawab atas segala
     
    Lantas seketika terhenti seluruh prasangka
    Dangkal dengan apa oleh siapa aku punya Tanya

    Salman masih mencari bentuk untuk menuangkan gagasan, pengalaman dan pemikirannya pada puisi. Misalnya, puisi ‘A’ yang dituliskan seolah terpengaruh oleh mantra yang dipopulerkan Sutardji di era perpuisian modern.

    Tak ada kau aku pun aku
    Tanpa kau aku pun apa
    pun kau
    Aku itu kita
    pun kau
    Tak ada pun tak apa
    Tanpa ada aku tak aku
    pun kau
    Kita itu
    Cinta

     Keberhasilan dia mengolah kata menjadi larik-larik puisi yang memiliki unsur bunyi memang layak diapresiasikan. Akan tetapi, apakah Salman memahami bahwa kata sesuatu yang misteri. Kata, dapat menciptakan realitas, begitupun sebaliknya. Kata dalam puisi berdiri sendiri, memiliki makna tersendiri. Itu sebabnya, penyair mengalami perenungan panjang untuk memilih kata pada setiap lariknya.

    Pada puisi ‘Bahtera Usang’, Salman memilih gaya ucap berbeda. Walaupun demikian, dia tetap belum merdeka dalam mengolah tema, memilih kata, membuat kalimat.

    Mengenang kembali bayang bahtera usang
    Teringat kenangan perahu tuan
    Karam di tengah samudera
    Tumpah bersama kecewa
    Tenggelam memendam dendam
                            Meski badai berlalu sudah
     
    Saat carut marutnya menahan gelombang
    Seisi laut seakan begitu saja dengan keadaan
    Adakah si Rijal menyelamatkan,
    Atau siapa saja yang berniat baik,
                            Tuan
                                        Samudera itu,
    Tetap menyimpan misteri kenangan
    Namun apakah perahu karam masih bisa dihidupkan
    Masih mampukah untuk kembali berlayar
    Mencoba kembali tuk taklukan ombak dan batu-batu
                                                                -karang?!
     
    Memang dahsyat, tuan
    Berlayar sendirian di samudera kasih sayang
    Memahami segala hal dengan sikap pula mental,
    banyak aral, godaan selalu menerjang
    Meski badai berlalu sudah, tuan
    Samudera tetap menyimpan banyak misteri kenangan
     
    Pada puisi itu, Salman bereksperimen dengan tipografi atau pewajahan, enjambemen. Simbol-simbol yang dimunculkan mulai merangsang untuk ditafsirkan sebagai kekuatan pada puisi. Itulah mengapa begitu komplek. Penyair akan mengisi ruang padat dalam puisi yang bisa menimbulkan pemaknaan yang luas. Perlu diperhatikan lagi, penyair mesti mengenal fungsi latar dalam puisi, yang sejauh ini kerap diabaikan. Padahal persoalan itu penting artinya untuk membangun kesatuan estetik. Dalam puisi, latar sama pentinganya dengan latar dalam drama atau novel. Latar dalam puisi berhubungan dengan penyebutan nama tempat, tarih, suasana dan situasi sosial tertentu. Artinya, ada sesuatu yang sengaja hendak disampaikan penyair.

    Puisi tidak hanya menjadi sarana untuk pelampiasan penyair dalam menuangkan kegelisahannya. Dibutuhkan proses yang panjang, bacaan yang memadai dan tentu saja pengolahan batin yang terasah. Peka terhadap segala hal. Menjadi penyair, mungkin bisa saja seperti Nabi. Tapi, Nabi diberikan keistimewaan yang lain dari Tuhan. Sedangkan menjadi penyiar, mesti sanggup hidup dalam kesendirian dan keterasingan.

    Mari kita curigai sedikit di puisi ‘(Ejaku)lasi Diri’, Salman seakan memberikan isyarat untuk semua puisinya sebagai pemuas dahaga pikiran yang karut marut, atau semacam obsesi untuk mencapai sesuatu. Padahal, berpuisi semestinya seperti menjalani kehidupan sehari-hari, puisi tersebar sepanjang mata memandang, telinga mendengar, hati bergetar merasa.

    Pada angka terekam rencana
    Pada nuansa pelipur dan pandu jiwa
    Pada pantulan cahaya raga mengada
    Pada puasa ragam benda mewujud mulia
     
    Di bilangan mana, aku bisa ada
    Pada berapa nun mampu nyata
    Dari eka lanjut memakan usia
    Apa kiranya sudah merdeka
     
    Semoga pun tanpa patah asa!

    Akan tetapi, jika kita perhatikan puisi-puisi Salman secara keseluruhan mempunyai kekuatan pada tema yang diusungnya. Bisa jadi, pergaulannya di dunia pesantren membentuk pola pikir yang matang dalam memandang kehidupan. Bahwa ada sesuatu yang lain dari kehidupan ini yang wajib diwaspadai, yaitu alam abadi. Siapapun menginginkan kehidupan yang indah, penuh kenikmatan di kehidupan abadi. Proses kepenyairannya, menjadi tanda pengingat untuk kita semua agar menjalani hidup ini dengan penuh syukur, dan berusaha berada pada jalan yang lurus, bercahaya. Selamat menempuh!

    Januari 2019

    buku puisi kritik puisi penyair
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleGadis yang Berlari dari dalam Angkot
    Next Article Sains dan Teknologi untuk Kita

    Postingan Terkait

    Harga Sebuah Kicauan: Sebuah Narasi Narsisme Antroposentris

    18 April 2026

    Diksi Unik di Puisi Emha Ainun Nadjib “Doa Terampun Ampun”

    12 Desember 2025

    Burung dan Masjid—Dunia Alam dan Dunia Ibadah

    9 Desember 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Menolak Pudar: Jejak Keindahan “Situ Lengkong Panjalu” Yang Tak Lekang Oleh Waktu

    18 April 20267 Views

    Pas Lebaran 2026, Reuni SDN Jajag Lor Kali, Juga Oke…

    18 April 202661 Views

    Harga Sebuah Kicauan: Sebuah Narasi Narsisme Antroposentris

    18 April 202630 Views

    Muara Jambu Ciater Tempat Wisata dan Camping

    13 April 202613 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (79)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (189)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (155)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.