Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Cerbung » Mbah Samin Ngoceh (5)
    Cerbung

    Mbah Samin Ngoceh (5)

    23 November 2021Updated:18 Februari 2022Tidak ada komentar3 Mins Read27 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Ceritanya, Mbah Samin masuk barber shop ingin cukur rambut, kumis dan jenggotnya yang hanya beberapa lembar. Kebetulan barber shop sedang sepi. Sambil dicukur, Mbah Samin dan Si Tukang Cukur ngobrol ngalor ngidul ngetan ngulon, mulai dari isu teroris, bom bunuh diri,  tabung gas meledak, jembatan rubuh, kemiskinan, sulit cari kerja, korupsi, pandemi Covid 19, mafia peradilan sampai persoalan politikus busuk dan situasi negara yang terasa makin semrawut, sampai akhirnya mentok ke urusan Tuhan.

    Tukang Cukur itu bilang, “terus terang saja, Mbah. Saya nggak yakin kalau Tuhan itu ada.”

    Mbah Samin terkejut, “Oh may gat!”

    “Sederhanya saja, Mbah,”  lanjut  Si Tukang Cukur, “coba saja sampeyan lihat ke luar sana, ternyata Tuhan itu memang benar-benar nggak ada.”

    Mbah Samin menghela nafas. Diam tanpa kata-kata.

    “Tolong jelaskan pada saya,” sambung Si Tukang Cukur itu, ”kalau memang benar Tuhan itu ada, tentunya tidak akan ada dong yang namanya kesengsaraan dan penderitaan. Tuhan apa yang membiarkan sengsara dan derita terjadi berkepanjangan di sekitar kita? Tuhan apa, Mbah? Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang?”

    Mbah Samin semakin diam. Ia tak ingin menanggapi omongan Si Tukang Cukur itu karena khawatir pembicaraan semakin jauh ngelantur dan emosinal. Selesai cukur, Mbah Samin ingin segera kabur. Tetapi ketika membuka pintu, ia melihat seseorang lewat di muka barber shop. Rambutnya panjang, kumis dan jenggotnya cukup lebat, mengesankan kalau dia sudah lama dia tidak pernah ke Tukang Cukur. Selintas timbul ide di otak Mbah Samin. Ia memanggil Si Tukang Cukur itu agar datang mendekat.

    “Saya yakin sekarang.”

    “Yakin soal apa, Mbah?”

    “Bahwa sebenarnya yang namanya Tukang Cukur itu tidak ada.”

    Si Tukang Cukur bengong sejenak. “Bagaimana mungkin Mbah bisa bilang begitu. Saya ini siapa kalau bukan Si Tukang Cukur itu?”

    Mbah Samin menggeleng, “Bukan. Kamu adalah Boneng, bukan Tukang Cukur. Tukang Cukur itu tidak ada.”

    “Tapi, Mbah…”

    “Coba sampeyan lihat orang itu,” kata Mbah Samin sambil menunjuk ke luar, “kalau memang benar tukang cukur itu ada, maka tidak akan ada orang yang rambutnya panjang acak-acakan,  kumis dan jenggotnya lebat tak terawat seperti orang itu.”

    “Itu salah dia sendiri. Tukang Cukur ada di mana-mana, mengapa dia tidak mau datang ke salon saya untuk dicukur,” kata Si Tukang Cukur memberi argumentasi.

    Mbah Samin tersenyum, “pinter juga sampeyan. Saya kasih nilai seratus untuk jawabannya.”

    Boneng Si Tukang Cukur tersenyum bangga, Mbah Samin menepuk bahunya dan berkata lagi. “Tuhan itu sesungguhnya ada. Yang terjadi pada umat manusia, termasuk sampeyan, adalah karena mereka malas, bahkan tidak mau mendatangi Tuhannya. Itulah sebabnya mengapa terlihat begitu banyak penderitaan terjadi di muka bumi ini.”

    Mbah Samin lalu melangkah keluar salon. Boneng, Si Tukang Cukur, bengong di tempat. Sampai-sampai ia lupa untuk menagih ongkos cukur yang belum dibayar oleh Mbah Samin.

     

    ***

    Dapoer Sastra Tjisaoek, 19.10.21

     

    Ocehan sebelumnya (4): https://mbludus.com/mbah-samin-ngoceh-4/
    Ocehan selanjutnya (6): https://mbludus.com/mbah-samin-ngoceh-6/

     

     

     

    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleTidak Ada Dendam Yang Benar-Benar Tertuntaskan
    Next Article Legenda Danau Kembar

    Postingan Terkait

    Ban Ben Bun : Kisah Santri Uthun Meraih Impian (3)

    5 September 2022

    Ban Ben Bun : Kisah Santri Uthun Meraih Impian (2)

    19 Juni 2022

    Mbah Samin Ngoceh (6)

    2 Februari 2022
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Puisintaksis dan Manusia Algoritma: Ketika Peluncuran Buku Menjadi Peristiwa Ontologis

    21 Februari 202687 Views

    Buku Sang Nabi

    9 Februari 202614 Views

    Hak Tubuh Istirahat

    26 Januari 202613 Views

    Zaman Apokaliptik

    4 Januari 202695 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (207)
    • Bisnis (7)
    • Buku (84)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (78)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (188)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (143)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.