Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Cerbung » Mbah Samin Ngoceh (4)
    Cerbung

    Mbah Samin Ngoceh (4)

    7 November 2021Updated:23 November 20211 Komentar3 Mins Read31 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Ocehan 4

    Dasar orang kampung, ndeso! MBah Samin berdiri terbengong-bengong memandangi Tugu Monas yang sudah berkali-kali menggodanya dalam mimpi dan baru sekarang ini bisa dilihatnya. Sambil menggeleng-gelengkan kepala, mulutnya tak henti-hentinya berdecak tanda kagum.

    “Ada apa, Mbah?” tanya Fulan bermaksud untuk menggoda.

    “Fulan, logam warna kuning yang ada di puncak itu emas betulan, ya?”

    “Ya iya lah. Logam kuning yang bentuknya seperti lidah api itu melambangkan semangat juang bangsa Indonesia yang menyala-nyala. Tingginya 14 meter, terbuat dari logam perungu seberat 14,5 ton yang dilapis emas seberat 50 Kg.”

    “Ck..ck..ck.. orang Jakarta memang kaya raya. Hebat. Gedung-gedungnya tinggi, mobilnya banyak. Sampai-sampai jalan rayanya nggak cukup untuk menampung. Hmmm… emas 50 Kg hanya jadi tontonan. Mubazir!”

    Nah lo, mulai kumat dah samin-nya si Mbah. Apa hubungannya Monas dengan orang Jakarta, gedung tinggi dan mobil-mobil?

    “Yang bikin Monas itu bukan orang Jakarta tapi Pemerintah, Mbah.”

    “Berarti Pemerintah kita kaya raya, dong?”

    “Ya iya lah. Tanah air kita kan memang kaya raya. Subur makmur gemah ripah loh jinawi.”

    “Tapi mengapa masih banyak orang miskin, pengangguran, maling, copet, rampok, korupsi, anak putus sekolah, kekurangan gizi, kerusuhan dan… “

    “Tau ah gelap!” Segera Fulan memotong celoteh Mbah Samin. Tugu Monas itu mulai dibangun tanggal 17 Agustus 1961 selesai tanggal 12 Juli 1975. Tugu melambangkan Lingga-Yoni atau Alu dan Lesung sebagai simbol kesuburan. Tingginya 132 meter atau 433 kaki. Arsiteknya adalah bangsa kita sendiri yaitu Frederich Silaban dan RM Soedharsono.”

    Mbah Samin memandang Fulan dengan serius. Seperti ada yang ingin dia tanyakan.

    “Jadi Tugu Monas itu tingginya mencapai 132 meter? Apa benar yang bikin tugu itu asli orang Indonesia?”

    “Apa ada orang Belanda yang namanya Silaban atau orang Amerika namanya Soedharsono?” jawab Fulan agak sewot.

    “He he he… Fulan ndagel. Saya mah nggak percaya kalau Silaban dan Soedharsono itu orang Indonesia.”

    “Koq bisa?”

    “Ya iya lah. Tinggi orang Indonesia itu paling banter rata-rata 1,70 meter. Nggak sampai 2 meter.  Mana mungkin bisa membangun Tugu Monas yang tingginya hampir 100 kali tinggi tubuhnya. Gimana caranya bisa memasang lidah api dari emas di puncaknya. He he he… “

    Sembari tolak pinggang sebelah tangan, Mbah Samin menyalakan rokoknya yang tinggal separuh dan sejak tadi nyelip di bibirnya.  Setelah memasukkan korek api gas ke saku celana komprang motif batiknya, ia manggut-manggut memandangi puncak Monas.

    “Jadi Mbah belum tahu ya, bagaimana proses pembuatan Tugu Monas itu?”

    “Memangnya kamu tahu?”

    “Bapak saya dulu ikut bekerja sebagai kuli bangunan. Waktu itu umur saya 7 tahun.  Dengan mata kepala sendiri saya melihat bagaimana caranya monas didirikan.”

    “Caranya gimana?”

    “Rokok dulu sebatang. He he he…”

    Mbah Samin mengeluarkan bungkusan rokok dan menyerahkan pada Fulan.

    ”Ambil buat kamu semua,” katanya.  Dia kelihatan begitu antusias untuk mendengarkan cerita Fulan. Maka Fulan pun mulai membual.

    ”Begini ceritanya, Mbah…”

    ”Gimana?”

    “Sebelum berdiri tegak seperti sekarang ini, tugu Monas itu sebenarnya membuatnya di bawah. Ditidurkan dulu di atas tanah. Baru setelah selesai, tugu itu diberdirikan ramai-ramai. Begitu caranya, Mbah Samiiin… Paham?”

    Mbah Samin hanya manggut-manggut.  Dari mulutnya selain keluar asap juga keluar suara.

    ”Ooo, gitu ya caranya?”

    Dalam hati Fulan berkata. Lu yang bego apa gue yang sableng. He he he…

     

    ***

     

    Dapoer Sastra Tjisaoek, Okt. 2021.

    Ocehan sebelumnya (3): https://mbludus.com/mbah-samin-ngoceh-3/
    Ocehan Berikutnya (5): https://mbludus.com/mbah-samin-ngoceh-5/

     

    Cerpen Asal Gobleg cerpen komedi Cerpen Religi
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleTuyul Pikmars (Piknik Ke Mars) Naik Ufo
    Next Article Si Jawer Kotok

    Postingan Terkait

    Ban Ben Bun : Kisah Santri Uthun Meraih Impian (3)

    5 September 2022

    Jalan Hidayah

    26 Juni 2022

    Ban Ben Bun : Kisah Santri Uthun Meraih Impian (2)

    19 Juni 2022

    1 Komentar

    1. Pingback: Mbah Samin Ngoceh (3) - Mbludus.com

    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Kolam Renang “Bukit Lumpang” Menjadi Destinasi Warga Lokal

    27 April 20266 Views

    Situs Ziarah KH. Abdul Hanan Babakan Ciwaringin Cirebon

    27 April 20264 Views

    Healing Murah Meriah di Pantai Kejawanan: Wajah Baru, Vibes Makin Seru!

    24 April 202612 Views

    Wisata Waterpark Tiga Bintang Firdaus Indramayu

    24 April 20266 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (79)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (189)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (162)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.