Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Dongeng » Legenda Danau Kembar
    Dongeng

    Legenda Danau Kembar

    27 November 2021Updated:1 Desember 2021Tidak ada komentar3 Mins Read442 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Di Kabupaten Solok, Sumatera Barat ada Danau Kembar yang dikenal juga sebagai Danau Di Atas dan Danau Di bawah. Mengenai Kedua danau ini ada cerita menarik tentang Legenda terjadinya Danau Kembar yang sudah dikenal masyarakat secara turun temurun.

    Dahulu kala ada seorang yang sudah sangat tua bernama Niniak Gadang Bahan yang badannya tinggi besar. Sehari-hari kerjanya adalah membelah kayu untuk dijadikan papan sebagai dinding rumah atau keperluan lainnya. Niniak Gadang ini makannya hanya sekali seminggu. Sekali makan kira-kira menghabiskan nasi sebakul. Setiap kali berangkat ke hutan untuk menebang pohon, ia selalu membawa kampak yang besar. Untuk mendapatkan kayu yang baik, ia harus naik menuju hutan yang ada di atas bukit. Setelah beberapa hari berada dalam hutan dia akan pulang dengan membawa beberapa helai papan yang telah jadi dan langsung membawa papan tersebut ke pasar untuk di jual. Dari hasil penjualan papan tersebut dia menghidupi keluarganya.

    Pada suatu hari ketika Niniak Gadang berangkat ke hutan, di tengah hutan tempat dia bisa lewat tertutup oleh mahluk yang menutupi jalan. Niniak Gadang kaget, mahluk apa gerangan ini yang menutupi jalannya. Niniak Gadang berusaha untuk mengusirnya. Makhluk tersebut diam saja tak bergerak, tapi tiba-tiba balik menyerang dirinya. Ternyata makhluk ini adalah seekor ular naga yang lumayan besar dan panjang. Dengan tangkas Niniak Gadang mengelak dari serangan sang Naga. Jiwa pemberaninya langsung terusik dan ingat akan petuah nenek moyang yang langsung mengalir ke seluruh tubuhnya. Dengan gagah berani ia hadapi sang Naga dengan kampak mengacung ke atas, dan katanya: “Lawan tidak di cari, kalau bertemu pantang mengelak.”

    Maka terjadilah perkelahian yang sangat dahsyat. Dengan gerakan yang lincah Niniak Gadang mengayun-ayunkan kampak besar di tangannya. Beberapa kali Sang Naga mampu mengelak dari sabetan kampak. Tapi akhirnya dengan sebuah gerak tipu yang jitu, Naga pun tidak bisa mengelak dari sabetan kapak yang tepat mengenai lehernya. Sang Naga pun menyerah tak berdaya, dan nyaris hampir mati kehabisan darah di lehernya yang nyaris hampir putus itu. Niniak Gadang segera menyingkirkan tubuh naga yang sudah tak berdaya itu agar tak menghalangi jalannya.

    Tidak berapa kemudian Niniak Gadang kaget, ternyata Sang Naga tersebut tidak mati. Dengan susah payah Sang Naga tersebut menggerakkan tubuhnya hingga menyerupai angka delapan. Kiranya Naga tersebut sedang sekarat menanti ajalnya datang. Darah Sang Naga mengalir begitu deras sehingga memerahkan daerah di sekitar tubuhnya sampai melebar cukup jauh.

    Akan halnya kejadian itu membuat masyarakat di desa sekitar kejadian tersebut tertarik dan penasaran ingin melihat ada apa sebenarnya, maka berduyun-duyunlah mereka  mendatangi tempat kejadian. Sesampainya mereka di tempat kejadian, tubuh Sang Naga telah tertimbun oleh bebatuan dan genangan air yang semakin lama membesar seperti danau. Maka jadilah danau itu dinamakan Danau di Atas dan Danau di Bawah.

    Tak jauh dari kedua danau ini, ada sebuah kawasan dinamakan Air Merah karena air di daerah tersebut berwarna merah. Dan, masyarakat percaya jika itu merupakan darah Sang Naga yang terus mengalir karena dirinya tidak mati.

    Dan ternyata, cerita tidak sampai di situ, ketika Sang Naga menyatakan takluk pada Niniak Gadang, ia melakukan perjanjian dengan Niniak Gadang. Bahwa dalam setahun sekali Sang Naga meminta tumbal tapi bukan dari keluarga Niniak Gadang. Oleh karena itu, jika setahun sekali ada pengunjung yang tenggelam di danau, kejadian tersebut merupakan bentuk tumbal yang diminta oleh Sang Naga. Begitulah kepercayaan masyarakat di sekitar Danau Kembar tersebut.

     

    Dapoer Sastra Tjisaoek, 25.11.21
    Diceritakan kembali oleh: Abah Yoyok

    cerita kabupaten Solok Cerita rakyat Sumbar legenda sumbar
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleMbah Samin Ngoceh (5)
    Next Article Buku Kumpulan Puisi mbludus.com 2020-2021

    Postingan Terkait

    Setana

    23 Januari 2025

    Legenda Batu Menangis

    13 Mei 2024

    Pohon Jati yang Lari-Lari

    23 Desember 2023
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Zaman Apokaliptik

    4 Januari 202686 Views

    Kisah Seorang Polisi di Republik Mimpi

    21 Desember 202540 Views

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 202543 Views

    Perbandingan Film Animal Farm (1954) dan Animal Farm (1999): Kajian Adaptasi dan Alih Wahana

    18 Desember 202528 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (206)
    • Bisnis (7)
    • Buku (83)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (78)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (188)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (142)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.