Sosial Politik

Kota Kreatif dan Kreativitas Masyarakat

Jangan Lupa Di Rate Ya!
Tinggal Pilih Bintang Saja!


TANGSEL SEBAGAI KOTA KREATIF?

Fahd Pahdepie*

Sore itu saya berdiskusi dengan Hilmi Fabeta, seorang dosen seni sekaligus pegiat komunitas kreatif di Tangerang Selatan. Ia bercerita tentang bagaimana kota ini terus tumbuh dan mengokohkan jangkarnya di bidang kreatif.

This is Tangsel’ dan ‘Tangsel Creative’ merupakan dua komunitas besar yang menghimpun banyak kreator asal kota ini, juga mempersatukan sub-sub komunitas lainnya yang lebih kecil. Hilmi bersama kawan-kawan muda lainnya banyak terlibat di dalamnya, mulai dari menggelar diskusi rutin, membuat event, menyelenggarakan pameran, hingga menerbitkan buku.

Ada satu mimpi besar yang ingin diwujudkan anak-anak muda Tangsel seperti Hilmi. Mereka ingin kota ini ini menjadi ‘kota kreatif’. Kota yang didorong oleh gagasan, temuan, dan terobosan yang dilakukan oleh insan-insan kreatif yang tinggal di kota itu.

Tangsel sesungguhnya tidak kekurangan energi kreatif yang dibutuhkan untuk mewujudkan mimpi itu. Banyak anak muda hebat dengan prestasi dan reputasi tingkat dunia tinggal di kota ini—mulai dari seniman sampai ilmuwan. Modal sosialnya cukup, lebih dari 78,1% penduduknya berusia produktif. Apalagi jika kita mengingat Tangsel sebagai salah satu kota dengan pertumbuhan ekonomi daerah terbaik di Indonesia, 7,43% menurut data BPS tahun 2019, tentu menjadi magnet bagi banyak industri raksasa. Tetapi, bagaimana menyusun peta dan konsepnya?

Konsep Kota Kreatif

Istilah ‘kota kreatif’ (creative city) sebenarnya mengacu pada semangat membangun kota dengan bertumpu pada pengembangan potensi dan kreativitas warganya di berbagai bidang—terutama yang berkaitan dengan budaya dan kreativitas. Semangat tersebut membentuk semacam kepercayaan diri di tengah mereka untuk menyebut diri sebagai ‘kelas kreatif’ (creative class). Rumusnya sederhana, untuk mencapai ‘creative city’, apakah ‘creative class’ di sebuah kota sudah terkonsolidasi dengan baik? Artikel ini akan membahas jalin kelindan dari dua konsep ini.

Pakar tata kota dunia, Charles Landry, pertama kali mengemukakan konsep kota kreatif (creative city) pada tahun 1980 dalam bukunya The Creative City: A Toolkit for Urban Innovators. Gagasan utamanya adalah bahwa sebuah kota masa depan harus bisa memanfaatkan inovasi dan kreativitas untuk menyelesaikan problem-problem urban di sekelilingnya, termasuk kemiskinan, kurangnya lapangan kerja, kemacetan dan seterusnya.

Landry mendefinisakan kreativitas sebagai imajinasi yang diejawantahkan menjadi temuan, produk, atau model-model aplikatif yang membawa manfaat langsung bagi masyarakat kota tersebut (creativity as applied imagination). Dalam konsep kota kreatif, apa yang disebut sebagai kreativitas bukan hanya domain para seniman atau ‘pekerja kreatif’ saja, tetapi seluruh elemen masyarakat yang bisa memberikan kontribusi nyata bagi penyelesaian masalah kota melalui cara-cara yang bersifat temuan dan terobosan—mereka mungkin petani, pekerja sosial, pengusaha, pendidik, teknokrat atau aparatur sipil negara.

Mengacu pada gagasan ini, Richard Florida dalam bukunya berjudul The Rise of Creative Class (2002) mengemukakan bahwa kota kreatif hanya bisa diwujudkan dan dibangun selama ia memiliki ‘kelas kreatif’ yang menjadi generator gagasan sekaligus penggerak semua temuan dan terobosan yang ada.

Florida membagi kelas kreatif menjadi dua kategori. Kelompok pertama, ‘super-creative core’, yakni masyarakat yang bersentuhan langsung dengan dan bekerja di bidang-bidang kreatif, seperti seniman, aktor, desainer, musisi, dan lainnya. Kelompok kedua, ‘creative professionals’, yakni anggota masyarakat yang bekerja di berbagai bidang umum—termasuk guru, tenaga kesehatan, buruh, dan lainnya.

Namun demikian, kelas kreatif sebetulnya tidak hanya terbatas pada dua pengelompokan itu. Anggota masyarakat biasa, yang tidak termasuk dalam kategori profesional, tetap bisa masuk dalam kategori kelas kreatif selama mereka mampu memberikan gagasan yang bermanfaat bagi masyarakatnya—lebih-lebih gagasan tersebut bisa dieksekusi menjadi sesuatu yang nyata. Saya akan memberikan contoh bagaimana kontribusi dalam bentuk kreativitas dan inovasi bisa diberikan oleh siapa saja, termasuk para pelajar dan mahasiswa.

Kreativitas Sebagai Jalan Keluar

November tahun 2013 saya berkesempatan mendengarkan presentasi Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Surabaya yang mengusulkan pengolahan kompos sebagai penyelesaian konflik antar desa yang terjadi di Mojokerto. Ketika itu saya menjadi juri tamu dalam pemilihan proposal kreatif penyelesaian konflik kota yang diselenggarakan oleh International Center for Islam and Pluralism (ICIP).

Waktu itu proposal IPM Surabaya keluar sebagai pemenang dalam ajang tersebut karena gagasan kreatif yang ditawarkannya: Jika di perbatasan desa-desa yang berseteru dibangun tempat pengolahan kompos, maka warga masing-masing desa yang kebanyakan petani dan peternak akan memiliki ruang bersama untuk saling berinteraksi. Di sanalah bina damai bisa dimulai dan ketegangan antar warga bisa diurai. Inilah contoh ‘kreativitas’ dalam konsep kota kreatif yang dimaksudkan Landry.

Dengan kerangka berpikir bahwa kreativitas dan inovasi bisa muncul dari semua kalangan, selanjutnya Landry mensyaratkan dua hal yang harus dimiliki oleh sebuah kota kreatif.

Pertama, kota tersebut harus memiliki budaya kreatif yang ditumbuhkan di setiap lapisan masyarakat. Di sini, pemerintah kota perlu memiliki sejumlah program yang mendukung ‘lingkungan kreatif’ atau ‘creative milieu’ sejak di level RT/RW, desa, kelurahan, kecamatan, dan juga sekolah maupun perguruan tinggi. Kepemimpinan kreatif menjadi kunci untuk mewujudkannya.

Kedua, kota tersebut harus memiliki infrastruktur yang memungkinkan kreativitas dan inovasi terus muncul—infrstruktur ini bukan hanya yang bersifat fisik seperti bangunan atau fasilitas umum, tetapi juga infrastruktur non-fisik termasuk mindset kota tersebut; bagaimana ia mendekati semua peluang dan tantangan; atmosfer, insentif serta perangkat rezim pengambilan keputusan yang menyertainya.

Ada banyak permasalahan di Tangsel, tentu saja. Mulai dari jalan yang macet hingga sampah kota. Visi kota kreatif bisa mulai diwujudkan dari memberikan tantangan pada insan-insan kreatif kota ini untuk membantu pemerintah menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut. Misalnya, bisakah insan dan komunitas kreatif memberi masukan pada Pemkot untuk menyelesaikan ruwetnya macet di pasar Ciputat? Bisakah mereka ikut terlibat memberi sentuhan pada ‘tragedi’ tugu pamulang yang tak sesuai desain perencanaannya?

Hanya dengan visi dan peta berpikir yang lebih baik kota ini bisa mewujudkan impiannya untuk menjadi kota kreatif. Tentu saja, kreativitas bukan sekadar pameran atau acara-acara yang penuh warna. Kreativitas adalah soal gagasan, temuan dan terobosan.

Tabik!

Link: http://fahdpahdepie.com/detail/blog/tangsel-sebagai-kota-kreatif

Leave a Comment