Sinematografi

Film Gundala, Superhero Indonesia

Jangan Lupa Di Rate Ya!
Tinggal Pilih Bintang Saja!

Sebuah Catatan Saya : Gundala Joko Anwar Bedakah Dengan Gundala Putera Petir?

Dwi Klik Santoso

“Gundala Putera Petir” saya berpikir begitu akan menjadi judul dari film besutan Joko Anwar yang saya tonton 29 Agustus yang lalu. Film ini saya tunggu untuk saya penthelengi, menunggunya semenjak tahun lalu barangkali terdengar kabar akan diproduksi. Ternyata setelah siap edar dan muncul beberapa poster di medsos hingga kemudian benar tayang di bioskop hanya “Gundala” saja menjadi judulnya.

Kenapa hanya “Gundala” saja? Ya, mungkin ada pertimbangan tertentu dan bagi yang suka uthak-uthik-gathuk ihwal yang begini-begini, termasuk saya, pastilah ada hal yang fundamental melatarinya. Bukankah Joko Anwar adalah kreator yang intelektual; yang berpikir dan bekerja penuh perhitungan tentunya. Pastilah sangat berhitung dengan kemunculan sebuah judul.

Dari poster-poster yang beredar pra film “Gundala” tayang di bioskop-bioskop, bagi yang selama ini mengikuti komik aslinya dari sang pencipta yaitu Hasmi, barangkali akan kaget. Lohhh .. kok begitu? Ada apa ini dengan Gundala? Bahkan ini Gundala yang mana?


Setelah saya menonton “Gundala” barulah saya tahu. O, begitu. Kenapa kostum Gundala jadi begitu. Kiranya Gundala dalam lakon film besutan Joko Anwar ini seperti ingin menempuh sendiri jalannya. Mungkin benar menjadi sebuah karya adaptasi. Tapi bisa jadi sesuatu perbincangan atau diskusi tersendiri tentunya.

Saya tak hendak mempersoalkan terkait dengan logika yang begitu. Tapi berikut memang sering mengganggu pikiran. Setidaknya sebagai orang yang ngaku pecinta komik dan film saya pernah memikirkan ihwal yang begitu. Sebagai misal film Spiderman. Dalam edisi “The Amazing Spider-Man” yang disutradarai Marc Webb, betapa Peter Parker yang dibintangi Andrew Garfield menampakkan sosok Spiderman yang superhero tapi diperankan dengan penggambaran sebagai seorang remaja yang kalem. Sangat berbeda jika ingin dibandingkan dengan peran “Spider-Man : Far From Home” yang disutradarai Jon Watts. Betapa Peter Parker yang remaja itu dibintangi Tom Holland dengan tipikal urakan (tengil). Bukankah kedua film Spiderman itu sama-sama diadaptasi dari karya komik Stan Lee dan Steve Diko?

Kenapa saya mengambil Spiderman seperti fakta di atas sebagai contoh? Ya, boleh-boleh saja bukan, kreatif itu menempuh jalan yang sedemikian rupa. Kiranya Stan Lee dan Steve Diko sendiri sebagai kreator tidak berkeberatan karyanya diadaptasi dalam bentuk karya film dengan pendekatan penggarapan yang sedemikian rupa. Lalu apa kaitannya dengan “Gundala”?

Jika harus menelisik dari kedua karya film Spiderman sebagai contoh pemikiran ala saya tersebut. Nama asli Spider-Man adalah Peter Parker. Ia tinggal bersama paman dan bibinya di sebuah apartemen di Queens, Manhattan. Sejak kecil ia sudah menyukai tetangganya yang bernama Mary Jane Watson. Awal mula ia menjadi Spider-Man ialah ketika ia mengunjungi sebuah lembaga atau institusi milik Norman Osborn. Sebuah laba-laba beradioaktif menggigitnya yang kemudian membuat Peter memiliki kekuatan laba-laba super. Nah, sejak itu Peter menjadi Spiderman.

Nah, bagaimana dengan Gundala dalam versi aslinya Hasmi dan realitas dalam logika asal-usul menurut film “Gundala” besutan Joko Anwar? Soal asal-usul yang berbeda logika tentunya akan membawa pula perbedaan karakter. Sancaka dalam komik Hasmi adalah seorang pemuda yang tampan, tegap dan ilmuwan. Seorang yang getol mengadakan penelitian di laboratorium untuk mendapatkan serum anoda anti petir, sehingga diharapkan dengan adanya penemuan itu banyak orang akan terselamatkan dari sambaran petir.

Menjadi ihwal yang dramatik ketika dalam waktu yang bersamaam, Narti, kekasih yang dicintainya merasa ditelantarkan hanya karena Sancaka terlampau getol bekerja jadi lupa kalau harus memerhatikan kekasihnya. Terputuslah cinta Sancaka dan Narti, dan menyebabkan Sancaka menyalahkan dirinya. Dalam keadaan galau, di suatu padang yang luas Sancaka tersambar petir. Petir itu sambung menyambung dan membawanya kemudian ke Kerajaan Petir. Singkat cerita, Sancaka diangkat anak oleh Kaisar Crons sang raja Kerajaan Petir. Dan karenanya sebagai putera petir, Sancaka dianugerahi busana yang tercipta dari liontin kalung. Dan dari keajaiban liontin itu, terkandung dalam kostum pusat jaring-jaring penangkap perasaan yang terdapat dalam kedua belah telapak tangannya. Bisa lari secepat petir menyambar dan dapat mengeluarkan petir dari kedua telapak tangannya, sehingga semenjak itu kemudian Sancaka diberikan nama Gundala oleh Kaisar Crons, dijadikan panglima Kerajaan Petir.

Sedangkan Gundala dalam alur film besutan Joko Anwar itu digambarkan sebagai Sancaka yang sedari bocah terkena semacam gejala yang harus bersentuhan dengan petir. Menjadi anak dari seorang aktivis pabrik, melihat dengan matanya sendiri keganjilan, ketimpangan dan kejahatan yang menyebabkan bapaknya mati, ibunya harus pergi dan ketika dewasa tumbuh kepekaan itu sehingga punya kepantasan secara psikologi menjadi sosok seorang hero. Tapi naas, sebagai manusia biasa sekalipun pernah berlatih bela-diri, bahkan hanya seorang sekuriti dari sebuah perusahaan media yang tak punya kekuatan sakti, digambarkan ia mati (atau belum, ya) dilemparkan para preman itu dari ketinggian gedung bertingkat. Tubuhnya tengkurap dan mati kiranya, betapa tidak? Tergenang air hujan dan … Duaaaarr! Tersambar petir, kemudian malah hidup. Semenjak itu, Sancaka berkekuatan petir dan punya keajaiban imun terhadap hal yang melukai tubuh.

Apa yang baku dan sama dari Sancaka sebagai sosok Gundala dalam karya Hasmi dan Joko Anwar ini? Tentu, sebagai superhero yang berjiwa pembela dan berbudi halus, saya menangkapnya identik, sebagaimana Peter Parker dalam sentuhan sutradara Marc Webb dan Jon Watts. Tapi jadi pentingkah merenungkan asal-usul atau logika darimana muasal Sancaka dan kesaktian yang menjadikannya superhero? Kenapa bisa dibuat beda? Bukankah, sekalipun dengan dibuat beda karakternya, toh, Peter Parker dalam besutan Marc Webb dan Jon Watts tidak membuatnya beda dalam klausul asal usul.

Saya sendiri sejujurnya, mencurigai Joko Anwar dalam gaya penyutradaraan dengan skenario yang seperti itu. Kiranya teringat saya dengan edisi Batman : The Darknight Rises garapan Christoper Nolan. Mungkinkah film itu menjadi inspirasinya? Bagaimana sebagai superhero, Bruce Wayne sebagai Batman dalam kostum superhero digambarkan seakan-akan atawa ibaratnya manusia biasa saja. Sehingga dalam sebuah adegan ketika tersekap di dalam sumur itu, hanya untuk keluar dari sumur saja, ia harus berlatih dari awal yaitu mengenali kesejatian jatidirinya, mengenali sejatinya kekuatan manusia yang logis yakni keajaiban yang bersumber dari semangat hidupnya. Dengan semangat itu, Bruce kemudian melatih diri; berlatih dan berlatih untuk menjangkau bibir sumur, hingga pada akhirnya mampu keluar dan kemudian seperti menjadi manusia baru yang muncul dengan keyakinan penuh sebagai dirinya sendiri. Sehingga karena keyakinannya itu Bruce menjalani takdirnya sebagai pahlawan.

Apakah benar begitu? Sehingga pada akhirnya, judul film pun tidak berbunyi “Gundala Putera Petir” dan entah Gundala itu bersumber dari logika yang bagaimana. Karena nama itu muncul sekali di ending atau akhir film sebagai tambahan untuk memanas-manasi penonton kiranya film ini akan berseri dengan memunculkan tokoh antagonis yang serem bak Thanos dalam seri Marvel yaitu Ki Wilawuk. Disebutkan oleh seorang makelar kejahatan dalam film itu yang menyimpan mimpi ingin menjadi megalomaniak yaitu menjadi reretu jagad yang bersimaharaja tentunya menebar teror kejahatan yang merugikan bumi kemanusiaan.

Terlepas dari berpikir menyoal ihwal yang semacam itu, sejujurnya seusai menonton film “Gundala” terbit perasaan saya yang senang. Sebagai penikmat film saya menganggap “Gundala” besutan Joko Anwar adalah film bagus. Ciri lain yang menandai film itu secara umum dianggap bagus, adalah ketika usai, terdengar tepuk tangan yang meriah dari penonton di Studio 1, XXI Bintaro Exchange yang waktu itu saya nonton. Saya hitung ada sekitar 270-an kursi terisi dan ketika akan keluar dari bioskop itu banyak orang mengantri di lorong itu ingin segera memasuki ruang studio 1. Sejauh yang saya alami, jarang sekali ada tepuk tangan seperti itu ketika menonton di bioskop. Tentunya ini bisa ditengarai artinya, bukan?

Sebagai penikmat film, tentu saya punya catatan. Secara skenario, cukup bagus. Durasi yang panjang sekitar 2,5 jam memberi gambaran bahwa banyak yang harus dijelaskan untuk memenuhi keutuhan cerita secara alur. Perealisasian setting atau latar belakang film juga cukup bagus. Meski juga cukup mengganjal kiranya jika harus diulik. Itu peristiwa terjadi di Jakarta atau kota fiktif semacam kota Gotham dalam cerita Batman? Mungkin saya perlu nonton lagi untuk memastikan, benar ndak sih, itu simbol-simbol Jakarta seperti prasangka saya. Padahal habitat kehidupan Sancaka seperti setting Gundala dalam karya Hasmi berada di Yogyakarta.

Casting para pemain secara umum juga menurut saya cukup bagus. Abimana sebagai Sancaka cukup mirip dengan Sancaka dalam gambaran komik Hasmi. Hanya saja memang, perlu sedikit dipoles dengan latihan berduel yang cukup meyakinkan (atau karena faktor montase filmnya ya, yang kurang secara teknis). Karena bagaimana pun ia superhero. Gambaran saya, ya, boleh dong membayangkannya sebagaimana gerak dan gestur Thor yang diperankan Chris Hemsworth dan atau Kapten Amerika yang diperankan Chris Evan, misalnya.

Sebagai akhir dari catatan saya. Tentunya saya berpikir : pastilah Joko Anwar punya perhitungan dan alasan yang masuk akal untuk menjelaskan Gundala sebagaimana logika dalam karya film besutannya. Apakah penjelasan itu akan diterangkan secara terbuka dan umum dalam sebuah diskusi atau seminar bahkan? Atau malah lebih jauh akan dijelaskan dengan lebih terbuka dengan hadirnya film Gundala pada seri berikutnya? Bukankah kehadiran Ki Wilawuk yang diperankan oleh Mbah Presiden Jancuker di akhir film seperti menjanjikan adanya itikad itu.

Leave a Comment