Dongeng

Hikayat Ikan Surum

Jangan Lupa Di Rate Ya!
Tinggal Pilih Bintang Saja!

HIKAYAT IKAN SURUM

Kaspar Manmak

 

Dahulu kala pada salah satu kampung di wilayah Emeriw –pesisir utara– tinggallah seorang bernama Surum, seorang kepala perang yang terkenal di seluruh Emeriw, memiliki lima belas orang istri. Kabar perihal kelima belas istri Surum meluas dari daerah Emeriw hingga ke Safan bagian selatan. Di samping Surum, sebenarnya ada beberapa kepala perang yang lain, namun Surum memegang peranan yang lebih penting. Rata-rata pria di kampung lebih yakin apabila Surum yang menjadi kepala perang, karena ia memiliki siasat yang lebih baik. Apabila Surum memimpin perang, kaum laki-laki selalu pulang dengan selamat. Bila dipimpin kepala perang yang lain, banyak kaum laki-laki terluka  anak panah serta terbunuh  lawan.

Setiap pergi berperang Surum membawa pulang lawan hidup-hidup ke kampung, memerintah istri-istri beserta ibu-ibu untuk melaksanakan kewajiban terhadap lawan yang kalah dalam peperangan. Adapun Surum segera melangkah menuju jew —rumah bujang, beristirahat. Pada sore hari Surum akan mengunjungi istri-istri  kemudian kembali lagi ke jew. Pada malam hari Surum berpura-pura pergi ke tepi kali, diam-diam ia molo –jatuh ke dalam air dan segera berubah menjadi  ikan gabus. Pada pagi hari Surum kembali muncul dari dalam air, berubah menjadi manusia, si kepala perang.

Pada sebuah kampung tetangga, hiduplah beberapa pria yang membujang, tanpa seorang pun istri. Di antara mereka sering saling mengejek, dengan kata-kata, “Siapa yang berani mengambil istri Surum, si kepala perang?”

Di antara sekian banyak pemuda, kiranya ada pula yang memiliki keberanian, yaitu sepasang saudara kembar, Biwiripit dan Biwiripitakap. Tekad mereka berdua demikian kuat untuk merampas istri-istri Surum. Mereka berniat pergi menuju ke Kampung  Emeriw setelah meminta petunjuk kepada sang ibu.

“Saya anyamkan kamu berdua awer, cawat yang dibuat dari pucuk muda rumbia. Setelah dekat dengan rumah tinggal Surum, kalian berdua kenakan awer, tibalah saat untuk mengambil istri-istrinya,” demikian siasat sang ibu sambil menyelesaikan anyaman awer.


Setelah anyaman awer  selesai , mereka bertiga, ibu bersama dua anak kembar berangkat menuju ke Kampung Emeriw. Di sepanjang jalan, terdengar suara ejekan, “Kamu orang ambil sudah empat istri Surum, dua untuk kakak, dua untuk adik”.

Suara-suara itu terus bergaung, tetapi kedua saudara kembar beserta ibunda berpura-pura tidak mendengar apa-apa. Biwiripit dan Biwiripitakap terus berjalan menuju Kampung Emeriw dengan niat yang tetap. Kampung itu ternyata sangat jauh, harus ditempuh selama tiga siang, empat malam. Pada malam keempat, kedua saudara kembar sampai di tempat tujuan, perahu ditambatkan di ujung kampung dalam satu anak sungai. Saat itu seisi kampung tengah lelap tertidur, kedua saudara kembar segera menuju rumah bujang, seluruh penghuni rumah bujang tengah tertidur, kecuali seorang dengan kaki terluka, Baidosopit.

Baidosopit sangat peka dengan segala situasi, ia terlebih dahulu tahu segala sesuatu yang bakal terjadi. Ketika melihat ada tiga tamu tak dikenal datang, iapun segera bertanya, “Siapakah kamu? Darimana datang?”

“Kami tiga orang dari arah selatan,” jawab Biwiripit.

“Masuklah,” Baidosopit menyiapkan tempat untuk bersembunyi bagi dua kembar dan seorang  ibu.

“Apa tujuan datang ke kampung ini?” Baidosopit merasa kasihan.

“Kami dengar di kampung ini ada seorang bernama Surum, ia tersohor, karena kehebatan berperang dan memiliki  banyak istri, kedatangan kami adalah untuk mengambil beberapa istri surum,” jawab Biwiripit.

Baidosopit merasa sangat kasihan dan segera memberi nasehat, “Surum adalah salah seorang kepala perang yang hebat, terlalu banyak orang takut, ia tahu segala hal yang dibuat istri-istrinya, Surum sulit dikalahkan. Kalau kalian bermaksud mengambil istri-istri Surum harus memakai akal siasat yang bagus. Apabila berhasil segera menjauh dari kampung ini.”

Keesokan  hari ketika fajar menyingsing Surum muncul kembali dari permukaan air dan menjelma menjadi manusia. Surum pergi ke jew, melalui musyawarah memutuskan untuk berperang, ia perintahkan seluruh laki-laki di kampung mengangkat perahu, dikeringkan, diasap dalam pembakaran kemudian digosok kapur putih dan merah. Pada hari keempat. Menjelang sore seluruh perahu diturunkan dari tempat pembakaran, semua laki-laki diwajibkan membawa alat perang, bermalam di jew, memukul tifa hingga fajar.

Akhirnya seluruh laki-laki berangkat ke tempat tujuan, ke arah selatan. Di dalam jew kini hanya tinggal Baidosopit, Biwiripit, Biwiripitakap, dan sang ibu. Baidosopit membangunkan ketiga orang itu di tempat persembunyian kemudian menyarankan menemui istri surum di semak-semak di belakang rumah. Istri Surum tengah duduk ketika tiba-tiba melihat seorang tanpa suara tengah di semak-semak. “Siapa namamu? Untuk apa datang ke tempat ini?”

“Saya Teweraut,” jawab Biwiripit berbohong, mengaku sebagai perempuan. “Saya datang dari arah selatan, berniat menjadi istri Bapak Surum. Saya telah  mendengar tentang ketangkasannya dalam berperang, saya sungguh jatuh hati.”

Sementara di balik semak-semak Biwiripitakap dan ibunda masih tetap bersembunyi. Istri Surum pun mengantar Biwiripit yang mengganti nama menjadi Teweraut ke rumah kemudian memperkenalkan kepada semua yang tinggal. Mereka hanya dapat melihat rumah Surum Si Kepala Perang dari luar, tak seorang pun berani mendekat.

Menjelang sore, Surum bersama semua laki-laki kembali dari medan perang dengan selamat, membawa pulang kepala manusia hasil mengayau dalam jumlah cukup banyak, menuju jew  untuk beristirahat sambal menikmati hasil perang.  Ketika kembali ke rumah untuk mengunjungi istri-istri, ia mendapat kabar, bahwa ada seorang Teweraut, seorang nona manis yang berniat pula menjadi istri. Surum pun mendekati Teweraut untuk bermalam bersama, namun Teweraut merasa takut, memohon maaf kepada Kepala Perang Surum, “Kalau engkau hendak bermalam dengan saya, carikan musuh, tangkap hidup-hidup, saya sendiri yang akan memenggal kepalanya.”

Surum mengurungkan niat untuk bermalam dengan Teweraut –yang sebenarnya adalah Biwiripit  setelah mendengar permintaan itu. Iapun pergi ke kali, molo –tenggelam ke dalam air menjadi ikan surum dan muncul Kembali keesokan hari sebagai manusia. Ia menuju jew dan memberi perintah kepada semua laki-laki, menaikkan perahu untuk diasap dan dihias.

“Lusa kita akan pergi berperang pada kampung sebelah barat,” demikian kepala perang berkata.

Hari kedua seisi kampung mengasap perahu kemudian memulas warna bi –kapur putih dan wase –kapur merah. Pagi berikutnya tifa dipukul, suaranya bergaung membelah sesisi kampung dalam dentuman yang merdu. Surum menyuruh semua istri-istri menghidangkan sagu pada acara pukul tifa , sebagai suatu ritual dalam meminta pertolongan, perlindungan, dan kekuatan dalam hal baik.

Istri-istri Surum, termasuk Teweraut, ikut pula menghidangkan sagu di jew hingga sore hari. Semua orang dapat melihat Teweraut, istri baru kepala perang kemudian berkata-kata. “Istri muda kepala perang memang yang paling cantik.”

Ada pula yang berucap, “Dia laki-laki atau perempuan?”

“Teweraut jangan dekati Bapak Surum.”

Pada malam hari semua laki-laki bersama Surum berangkat mendayung perahu menuju ke arah barat untuk berperang di kampung sebelah. Setelah rombongan itu berangkat, Biwiripit yang menyamar selaku Teweraut segera mengambil empat orang istri muda Surum, membawa pergi ke arah selatan. Mereka memerlukan waktu tiga hari untuk sampai kembali ke kampung asal. Seisi kampung menjadi kagum atas keberanian Biwiripit. Empat orang istri surum akhirnya menjadi istri dari dua kakak beradik. Dua istri Biwiripit dan dua istri Biwiripitakap.

Adapun Surum, si kepala perang ia kembali dari mengayau, membawa hasil pengayauan ke dalam jew , sedangkan Sebagian yang lain dibawa pulang ke rumah untuk diberikan kepada istri yang baru. Akan tetapi, surum menjadi amat kecewa ketika sesampai di rumah istri tua berkata, “Teweraut, nona yang baru datang itu ternyata bukan perempuan, ia laki-laki bernama Biwiripit, ia telah membawa empat istri muda sebagai istri.”

Kata-kata itu menyebabkan Surum tahu apa yang harus dilakukan, ia seorang kepala perang terkuat, akan tetapi tertipu dengan mudah oleh seorang laki-laki yang menyamar sebagai perempuan. Kekecewaan teramat dalam menyebabkan Surum segera turun ke kali, membenamkan diri ke dalam air, menjadi ikan Surum. Keesokan harinya Surum tak pernah muncul lagi, ia memutuskan untuk menjadi ikan Surum selama-lamanya.

Leave a Comment