Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Halaik
    Puisi

    Halaik

    19 April 2020Updated:19 April 2020Tidak ada komentar3 Mins Read31 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Sastra memiliki tempat penting dalam sejarah peradaban Islam. Sejarah sastra islam dan sastra islami tak lepas dari perkembangan sastra Arab, tampil dalam beragam bentuk prosa, fiksi, drama dan puisi. Peradaban sastra islam pun sampai ke bumi Nusantara, yang hampir karya sastranya bertemakan keagamaan dan nasihat-nasihat. Eksplorasi puisi-puisi di bawah ini tentu saja patut diacungkan jempol dalam menggali khasanah kesustraan islam di Indonesia. Selamat Membaca. (Redaksi).

    [iklan]

    Tarekat

    Agama kami kertas terbakar
    berisi puisi-puisi.

    Asapnya rawat kerikil,
    anak dari zamrud dan yakut.

    Seratus tahun dari sekarang,
    ia bara. Seperti nyala raba jiwa.
    Seperti bunyi hadrah di jantung bayi.
    Tiap tabuhannya darah,

    di atas lembar suci kitab.

    (2019)

    Hakikat Hayat

    Wallahi. Seperti pelangi ganda patah dua,
    keluar kristal dari jarinya. Alhamdulillah.
    Setelah hajat di luar martabat, sebentuk
    alur tabiat ayat.

    Wallahi. Seperti pelangi ganda patah dua,
    keluar kristal dari jarinya. Alhamdulillah.
    Sayap-sayapnya mekar
    berkat bunga-bunga terbakar.

    Dunianya hanya kaca.
    Dadanya jendela surga.
    Ruhnya meruak, bak ekor merak
    penuh kristal.

    Sejenak sinar terpantul, di kotak benak
    kanaknya. Untuk kemudian— meledak:
    .
    Wallahu a’lam bishawab.

    (2019-2020)

     Halaik

    “Sekembalinya kami, layak disembah.

    Kami tak janji, seperti arloji; semurni doa
    yang kalian lontar ke arah taji.
    Memang sering kalian kaji ini, di muka
    tameng anti api. Milik seorang haji.

    Kami terbagi. Setengah putih,
    setengahnya lagi agak putih.

    Tunjukkanlah kusta kalian, perbanyaklah
    dusta kalian. Demi lidah kami, yang halus
    seluas ketujuh langit. Dan demi bukti, ada bakti.

    Sekembalinya kami, layak disembah.

    Sungguh, kami ada agar kalian tak ada.
    Tapi diamlah, barang sebentar. Sekarang,
    janji kami serupa gravitasi, di luar bumi.
    Di luar area radar nalar, sebentuk magnet murni.

    Maka tolong, diamlah, barang sebentar.
    Beberapa detik lagi, galaksi kalian akan jadi.
    Agar bergetah betah, gerah di bawah kubah ibadah.”

    “Apakah sudah bicaranya? Kami telah lelah telaah.
    Mana jubah, mana air bah. Tubuh kami terbuat dari
    sisa-sisa bahtera. Di luar kesia-siaan lentera gunung

    di puncak hati kami yang berpasak. Menyaksikan
    samar meteor, membombardir atmosfer kami.”

    “Jalan kami jalan lurus. Terus, tanpa putus, tembus ke arah iblis.”

    (2019)

    Bala Baka

    Sepotong pohon kering duduk di kursi, terbungkuk, hendak terbang, setelah gosong terpanggang. Arangnya coreng segala muka. Muka yang tampak bak bala baka.

    Ia kiai. Pengirim doa. Ia tahu siapa yang zalim. Saat seekor keledai datang, tak mampu sebut seseorang di seberang. Juga doa yang telah terkirim, tak kuasa ia renggut.

    Di langit, doa rampung diantar. Tapi malaikat dengar lagi doa serupa, diralat, untuk si khianat. Tuhan tertawa, tapi ia mahaterima. Rencananya putih, penuh suara warna.

    (2019)

    Halaik lahir di Ampenan, Lombok, 29 Februari 1996.  Mahasiswa semester akhir di Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Mataram. Jamaah di Majelis Sholawat Wasilatul Musthofa Lombok. Serta bergiat di Komunitas Akarpohon Mataram, NTB.

    puisi islami puisi santri sastra islami sastra pesantren
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticlePerempuan yang Menjadi Kupu-Kupu
    Next Article Aku, Tuhan dan Corona

    Postingan Terkait

    Puisi-Puisi Alfiansyah Bayu Wardhana

    12 April 2026

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 2025

    Puisi-Puisi Amanda Amalia Putri

    30 November 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Kolam Renang “Bukit Lumpang” Menjadi Destinasi Warga Lokal

    27 April 20269 Views

    Situs Ziarah KH. Abdul Hanan Babakan Ciwaringin Cirebon

    27 April 20266 Views

    Healing Murah Meriah di Pantai Kejawanan: Wajah Baru, Vibes Makin Seru!

    24 April 202612 Views

    Wisata Waterpark Tiga Bintang Firdaus Indramayu

    24 April 20267 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (79)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (189)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (162)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.