Puisi

Gamelan Tahun Baru

Jangan Lupa Di Rate Ya!
Tinggal Pilih Bintang Saja!

Gusfahri begitulah Penyair yang satu ini biasa dikenal. Dari olah pikir, logika dan rasa terlahir Puisi yang serasa mampu menembus ruang dan waktu, bahkan kesakralan pun bisa diungkapkan dengan jenaka, meski masih tersembunyi misteri makna sejatinya.

Kata para pakar sastra: Puisi mempunyai bahasanya sendiri, tidak seperti Novel atau pun Cerpen yang cenderung menyampaikan pesan melalui bahasa yang hampir sama pengertiannya antara Pengarang dengan Pembaca.

Puisi memang mempunyai bahasanya sendiri, terkadang penyairnya pun tidak mengerti apa yang terjadi ketika menulis Puisi. Semacam ombak di samudra kata, membawa si Penyair mabuk.  Tahu tahu Puisinya sudah lahir dan terkirim ke media penerbitan dan terbit di media semacam di Jurnal, Sosmed, atau pun di media cetak. Seolah ada yang berbisik harus menulis Puisi, tanpa kuasa mengendalikan rasa dan pikir.

Suasana kebatinan seperti itulah yang sering kali menjadi misteri tersendiri, demikian juga Puisi puisi besutan Penyair dari tanah Madura ini, sehingga lahir estetika unik, makna misteri, dan logika jungkir balik yang mampu menertawakan para pengusung rasional di jalan jalan ilmiah. Rasa, makna, dan logika kadang perlu dijelahi lewat Puisi. Selamat menikmati puisi puisi Gusfahri. (redaksi)


Gamelan Tahun Baru

Salam kepada bunyi terompet yang meneriakkan doa kami.
Dosa merekah pada warna-warni kembang api,
Dikota di setiap kata dalam dua belas bulan silam.
Kedunguan kami terus menertawakan hujan yang meneteskan kabar,
Seakan kaki kami satu jiwa dengan jalan raya.
Bising klakson dan gertakan knalpot bodong mengunyah renyah rasa
Resah bapak ibu, yang meratap bayang kami di atas ranjang.

Mungkin akan terkenang menjadi bunga atau belati,
Setelah pukul dua puluh tiga lima puluh sembilan menit lima puluh sembilan detik:
Sisa tawa kami yang jatuh dalam sebotol arak
Atau jalinan kasih yang menyelimuti kamar kos dan hotel-hotel,
Sehingga mata hati kami tak lagi mampu menjangkau panggilan surau.

Sungguh kami Bermimpi di putaran kesatu matahari,
Derasnya pengampunan masikah seperti sungai
Yang membawa dosa kami ke hilir?
Atau bisakah kami sadar bahwa di kaki ibu masih menyimpan surga!

Merayakan Bakal Ajal

Setiap tanggal lahir
Kau mengucapkan sayonara kepada dunia
Meniup sebatang lilin yang merupakan tubuh sendiri,
Memotong dan menyantap kenangan
Dari sepotong kue dengan bermacam warna
Kehidupan sebelumnya.

Sanak keluarga maupun teman
Baik dari hati atau bukan. Telah mengisyaratkan
Kematian engkau “selamat ulang tahun maut!
Semoga kau berkah umur”. Malah kau balas kebahagiaan.

Pernakah tergenang dalam kepalamu:
Ketakwaan pada tuhan yang terkadang larut
Saat kita di kecam kenyamanan,
Keharibaan tercinta kau tinggal di sekujur tanggal,
Atau air mata yang enggan jatuh di kaki ibumu.

Sungguh kau terlena adat barat
Meniup api yang entah
Apakah kelak bakal membakarmu?

Lima sajak tentang ibu

1)
Tiada selimut terhangat
Sehangat pelukan ibu:
Membasmi kedinginan
Ketika malam adalah raja.

2)
Tiada sungai terderas
Sederas keringat ibu:
Tak menjumpai hilir
Mengaliri langkah ini.

3)
Tiada cinta yang nyata
Kecuali kemarahan ibu:
Mendidik buah hati
Tetap seperti manusia.

4)
Tiada surga terindah
Seindah senyuman ibu:
Nikmat tersaji saban waktu
Suka atau luka.

5)
Tiada doa bertuah
Seperti keramat lisan ibu:
Telah menjadi surga
Untuk kita semua.

Surga mati di bumi

Masihkah senyum dapat kucitrakan di puisi ini
Senyampang dunia kerap laksa air mata.
Kota besar serempak mati
Saban jejak meregut korban dan nyawa.
Kini pelajar menggergaji bangku mereka
Menggelimuti tugas pada smartphone
Di tiap-tiap bilik.
Rumah ibadah di blokade
Kita tak bisa memujuk doa
Menunggu tuhan di rumah saja.

Layaknya cita-cita di ambang mimpi
Kecerlangan bumi telah ayal
Surga adalah hayal yang mencekal.
Ketakutan menangis, mencari tuhan:
Lawan, tidak, lawan, tidak
Semua bermunajat

Gusfahri (Gusti Fahriansyah),asal desa Torbang Batuan Sumenep yang bermigrasi ke annuqayah dan mengeram di Majlis Sastra Mata Pena, SMA Annuqayah, persatuan santri Lenteng (Persal), komunitas Tumpah pena, serta Sanggar Gemilang. Pernah di muat di beberapa media seperti Takanta, Kawaca, Jawa post, dan lainnya.

Leave a Comment